
Dia mengatakan hal itu dengan senyum polosnya.
"A-apa maksudmu, Nona Guerra?"
Erish berdiri dan pindah ke tempat duduk lain. Lebih tepatnya dia berada tepat di belakangku.
Apa alasan dia membenciku? Aku hanya tiga kali bertemu dengannya, dan aku juga tak melakukan hal yang membuatnya marah. Tunggu, apa mungkin karena aku menandai dua temannya itu? Aku harus meminta maaf.
Aku berbalik ke arahnya. "No--"
*Tuk
Guru Siscia mengetuk meja dengan jarinya.
"Baiklah, hari ini aku akan menjelaskan pada kalian tentang Double Spell Caster,"
Sepertinya bukan waktu yang tepat.
"Mungkin Double Spell Caster sudah sangat familiar di telinga kalian, dan kalian juga sudah menguasainya, benar, 'kan? Seperti yang kalian ketahui, Double Spell Caster merupakan kemampuan yang bisa mengeluarkan dua sihir dari satu lingkaran sihir saja,"
Aku sudah mengetahui hal itu, dan saat ini aku sudah mencapai tahap Triple Spell Caster. Sedangkan Ibu menguasai Sextuple Spell Caster (6), hal yang sangat jarang dimiliki Magic Caster lainnya.
"Apa kalian merapal kedua sihir jika menggunakan Double Spell Caster?"
"Ya, Guru."
"Ini merupakan kelemahan fatal yang dimiliki oleh Magic Caster yang memiliki Spell lebih dari satu. Apa kalian tahu sesuatu tentang rapalan cepat? Atau sesuatu yang terlihat seperti tanpa rapalan?"
Mendengar hal itu aku langsung teringat dengan Erish saat melakukan rapalan cepat waktu itu.
"Fufufu ... kalian sangat penasaran? Aku akan menunjukannya pada kalian. Yah, aku akan menggunakan sihir dasar untuk contoh."
Rapalan cepat Erish setara dengan rapalan cepat milik Ibu, dan sekarang Guru Siscia menunjukan rapalan cepat yang belum pernah dia tunjukan pada kami sebelumnya.
Aura biru keluar dari tubuh Guru Siscia.
Dia sudah bersiap-siap.
Huh?
Guru Siscia menghilangkan aura di tubuhnya. Ia terlihat terkejut akan sesuatu.
"Guru, apa yang terjadi?"
"Kelas dibatalkan, ada hal penting yang harus kulakukan." Guru Siscia langsung berlari keluar dari ruangan.
Apa yang terjadi?
Ah, waktunya bebicara dengan Erish.
"No--"
Erish langsung berlari menuju jendela kelas. Ia terlihat sedang memeriksa situasi di luar.
"Nona Guerra, apa ada hal yang menganggumu?"
"Ada sekelompok orang mengenakan jubah merah terlihat berkumpul di bagian luar akademi,"
"Juba merah ... huh?! Jangan-jangan, itu mereka!"
"Apa maksudmu?"
Tidak salah lagi, itu mereka!
"Karina, Gargan, Theo, Nina, Ard, bentuk tim kalian masing-masing dan perketat penjagaan! Aku akan melapor ke Kepala Akademi!"
"Baik, Ketua!"
Aku harus membawa Erish juga, dia bisa menemukan mereka yang mana aku sendiri pun tak merasakan kehadiran mereka. Kecocokanku dengan alam masih sangat rendah.
"Nona Guerra, apa kau bisa ikut denganku?"
Erish menganggukan kepalanya.
Kami pergi menuju ruang Kepala Akademi.
Jarak dari kelas ke ruang kepala cukup jauh, letaknya berada di sisi gedung lainnya, dan berada di lantai dua. Aku menuju ke tanah lapang.
"Fl--"
Erish menahan tanganku.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Mereka semua bersiap menyerang jika kau terbang,"
Apa?
"Ini bahaya, semua murid dalam bahaya!"
"Tenanglah, para murid masih dalam jam pelajaran, jika kau pintar, semua guru di sini sudah menyadari itu semua."
"M-maksudmu, aku bodoh?!"
"Tenanglah!"
Sial, aku terbawa suasana. Berkatnya, aku kembali tenang. Mereka ....
"Apa kau tahu siapa mereka?"
Apa dia membaca pikiranku?
"Mereka merupakan murid-murid yang dikeluarkan dari akademi. Mereka bersatu untuk membalas dendam pada akademi,"
Erish terdiam sejenak.
Para berandalan itu cukup terorganisir, biasanya mereka selalu menyerang secara membabi-buta walau akhirnya selalu gagal.
"Menarik." Erish tersenyum kecil. "Theresia, apa kau ingin bekerja sama denganku?"
"Untuk apa?"
"Kita bisa menghabisi mereka,"
"K-kau gila?! Mereka lumayan kuat, lho!"
"Tapi, aku tak masalah, tuh,"
Gadis ini sedikit menyebalkan. Sebelumnya dia bilang sangat membenciku, sekarang sikapnya berbeda dari sebelumnya.
"Baiklah, aku akan ikut bersamaku."
Aku melihat beberapa guru yang mulai bergerak menuju dinding pembatas akademi. Mereka telah mengetahui lokasi musuh. Dan juga, beberapa guru lainnya mengalihkan perhatian murid dengan membawa mereka ke arena pertandingan di bawah tanah.
"Kita tidak akan mengikuti para guru itu,"
"Apa maksudmu?"
"Itu artinya ...."
"Kita pergi ke kota sekarang."
Dari mana dia bisa mengetahui lokasi pemimpin mereka? Ini mencurigakan, lebih baik aku mengikutinya terlebih dahulu.
--------------------------
Kami berlari sampai ke tengah-tengah kota. Tempat ini begitu ramai.
Tubuhku tak kuat jika terus berlari seperti ini. Kekuatan fisik kami para Elf memang jauh di bawah Manusia dan yang lainnya, karena kami fokus mengembangkan sihir.
Erish terlihat tidak kelelahan sama sekali. Jika dia benar-benar berasal dari hutan, maka itu menjawab beberapa pertanyaanku tentangnya.
Jalan yang kami ambil semakin sempit dan sepi. Kami berlari menyusuri lorong yang bau. Aku melihat sebuah cahaya di ujun lorong.
Erish berhenti sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.
Aku paham dengan kode yang dia berikan.
Cahaya itu merujuk pada suatu tempat. Aku harus mempertajam koneksiku dengan alam agar bisa melihat ini.
"Di sana ada sebuah air mancur di tempat kosong yang dikelilingi oleh bangunan. Hanya memiliki luas sekitar 10 meter."
Dia bisa mendeskripsikan dengan detail, gadis ini memang berasal dari hutan.
"Kita keluar pelan-pelan."
Kami berjalan pelan keluar dari lorong. Energi sihir mulai terasa dari tempat itu.
Beberapa orang berjubah merah telah menunggu kami di tempat itu.
Mereka menunggu seolah-olah tahu kami akan ke sini. Erish, apa kau bagian dari mereka?
Jumlah mereka ada lima orang, jika dilihat-lihat, kekuatan mereka setingkat Gold ke atas.
"Nona Guerra, aku akan mengatasi mereka,"
"Baiklah."
Akan kutunjukan padamu kekuatanku.
"Hei, bukannya kau Ketua Murid saat ini? Wah, kita dapat tangkapan besar, nih," ucap salah satu dari mereka.
"Water Fall, Shock Wave!"
Aku menurunkan air bah dari atas tempat mereka berdiri.
Mereka menghindari seranganku.
Tidak semudah itu.
*Bzzt!
Tubuh mereka tersengat aliran listrik.
"Agh!" Mereka semua jatuh satu per-satu.
"Seharusnya kalian menghalau air itu, jangan biarkan tubuh kalian terkena percikan air. Aku menggunakan Double Spell Caster, lho."
Mereka sama sekali tidak bisa bergerak.
Aku mendekati mereka sambil menyiapkan sihir serangan di tanganku.
"K-kau tidak akan keluar dengan aman dari sini! Tuan Rayden tak akan melepaskanmu!"
Rayden?
*Bruk!
Seseorang mendarat hingga dataran yang diinjaknya hancur.
"Telingaku sakit jika ada yang menyebut namaku," ucap orang itu.
"T-tuan Rayden, selamatkan kami!"
*Crack!
Ia menghabisi rekan-rekannya hanya dengan sekali serang menggunakan tangan.
Orang itu memiliki tubuh yang kekar, dengan kulit berwarna merah. Dilihat dari penampilannya, dia sama sekali bukan seorang penyihir.
"Mundur, Theresia!" teriak Erish dari kejauhan.
"Ke mana kau melihat?"
Dia berada tepat di depanku.
Aku tidak sempat merapal--
*Bugh!
Uh?
Seseorang dengan cepat memukul mundur Rayden.
Siapa?
"Apa kau baik-baik saja?"
"N-nona Guerra ...."
"Kelihatannya dia seorang Warrior tangguh. Theresia, apa kau ingin bekerja sama denganku?"
Tanpa pikir panjang, aku langsung menganggukan kepalaku.
"Hoh, kau terlihat seperti Warrior, tapi tubuhmu dipenuhi energi sihir." Rayden menyipitkan matanya. "Jadi begitu, ini kesempatan yang langka."
Apa yang dia maksud?
"Theresia, ayo!"
Kami berdua berlari ke arah Rayden.
"Bagus, majulah, kalian berdua!"
Bersambung ....
Sekarang kalian bisa bergabung di grup chat novel ini. Kalian bisa memberi masukan untuk novel ini agar lebih baik ke depannya. Caranya, buka halaman novel ini, dan klik tombol "Ayo Chat" seperti gambar di bawah.
Terima kasih!
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!