The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Dimulainya Perubahan



Juan mulai tak bisa merasakan tubuhnya, akar berduri yang menusuk dadanya telah mengembang menjadi duri yang besar. Mustahil mengeluarkannya tanpa menambah bekas luka, justru akan sangat fatal jika duri itu ditarik.


Aku benar-benar akan mati kali ini.


Penglihatan Juan mulai kabur, ia melihat ke arah Alissa yang terkejut melihat tindakannya.


[Terkejut melihat kebodohan Anda, ingin cepat pergi dari tempat ini.]


Juan menyeringai setelah membaca informasi itu.


Haha, dasar kemampuan terkutuk. Mungkin hidupku akan damai jika kutukan ini tidak ada.


Perasaan nyaman seketika menyelimuti Juan, kehangatan keluarga, serta hubungan baik dengan saudaranya terus terjalin.


*Bruk!


Juan terjatuh dalam keadaan telungkup, dadanya hancur ketika tubuhnya menghantam lantai.


Akar berduri itu tiba-tiba terpotong. Orang yang memotongnya adalah Danny Hart. Gerakannya sangat cepat sampai Rose yang berada di tempat itu hampir tak bisa mengikutinya.


"Sial! Sihir Verena sangat sulit dideteksi, aku benar-benar membenci kemampuan wanita itu," celetuk Danny dengan raut wajah kesal.


Rose juga merasakan hal yang sama. Sangat sulit mendeteksi di mana akar berduri itu akan muncul. Tapi, maid itu masih bingung kenapa Juan menyelamatkannya.


Aura mengerikan seketika menyebar ke seluruh arena. Ketiga calon penerus langsung bertekuk lutut karena tak bisa mengendalikan tubuh mereka.


"Memalukan!" teriak Karman dengan suara yang bergema.


Maximus Hart tampak kesal karena dirinya tak terlibat namun juga terkena dampaknya.


"Ini benar-benar mencoreng nama baik Keluarga Hart," ucap Alissa yang masih memeluk Rose.


Verena terus melihat ke arah Rose dengan ekspresi kesal, namun ia mencoba menahan emosi yang sudah memuncak.


"Maaf atas ketidaksopanan anak-anakku, Nona Alissa." Karman berdiri dan langsung menundukkan kepalanya.


Semua orang terkejut melihat Karman merendahkan dirinya sendiri.


Verena mendecik, ia menyiapkan lingkaran sihir di bawah kakinya. Itu adalah sihir yang mirip seperti teleportasi, namun hanya bisa mengirimnya dalam jarak tertentu.


"Creeping Roots." Itulah nama sihirnya.


Beberapa saat setelahnya, Verena menyeringai bersamaan dengan tubuh yang mulai masuk ke dalam lingkaran sihir.


Aku tak perlu mengotori tanganku hanya untuk maid rendahan. Akan kuberi kau lawan yang sepadan, tunggu saja.


Verena meninggalkan tempat itu.


"Nona Alissa, aku akan membayar untuk insiden ini, terutama kejadian barusan. Putriku memang tak bisa berpikir jernih."


Perkataan Karman berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikirannya.


Aku tak ingin ikut campur, tiga calon penerusku sepertinya menemukan cara untuk menaikkan nilai mereka di hadapanku.


Karman mengangkat jari telunjuknya sedikit, tak lama kemudian Kevin Hart, sang butler muncul di sebelahnya sembari membawa kotak kecil.


Kevin Hart turun ke arena atas perintah Karman. Ia menyerahkan kotak kecil itu pada mereka. Rose bangkit dari dekapan Alissa dan langsung menerimanya.


"Itu adalah barang terbaik yang kumiliki. Kuharap kau menyukainya." Setelah berbicara, Karman melirik pedang yang sedang Danny gunakan.


Dia sedikit terkejut melihat Danny menggunakan pedang yang merupakan pusaka keluarga.


Danny orang yang sangat perhitungan, dia tak akan mengeluarkan pedang itu jika keadaan tidak mengancamnya. Kemungkinan terbesarnya adalah menunggu pertarungan besar.


Karena kekacauan, ujian seleksi ditunda. Karman berjalan kembali meninggalkan arena itu. Ia tampak senang karena hasil yang didapat tak jauh dari perkiraannya.


Danny mendekat ke Alissa, namun Rose menghalanginya.


"Cukup sampai di situ, Tuan Danny, aku tak akan membiarkan kalian mendekati Perdana Menteri."


Danny tampak kesal melihat Rose, namun ia mencoba menahan perasaan itu.


Dia benar-benar maid kurang ajar.


Untuk sesaat, dia setuju dengan Verena.


Berbagai cara harus dilakukan agar mendapatkan kepercayaan dari Rose. Alissa terlihat tak mempermasalahkan hal itu, namun tugas Rose adalah untuk menjaganya. Danny berpikir bahwa Alissa sendiri sengaja membiarkan Rose bersikap keras.


Untuk meredakan suasana, Danny menancapkan pedangnya. Dan cara itu berhasil, Rose sedikit mengendorkan penjagaannya.


"Aku tak akan melakukan hal yang mencurigakan."


Rose menatap tajam Danny. Ia memang sudah menurunkan penjagaan, itu percobaan untuk mengintimidasinya, namun ia tahu bahwa Danny tak akan terpengaruh.


Danny mengulurkan tangan kanannya pada Alissa. Tak ada keraguan di wajahnya, ia sangat percaya diri berbicara dengan wanita itu.


"Biarkan dia, Rose." Alissa dengan kharismanya berjalan ke arah Danny. "Tak ada yang lebih penting selain kesepakatan."


Danny tersenyum sembari mendorong bagian tengah kacamatanya. "Aku senang dengan dirimu yang terus terang."


Walau Danny yang paling mencurigakan di antara mereka bertiga, Rose tetap menghargai niatnya karena berani maju menawarkan kesepakatan pada Alissa.


Huh?


Rose merasakan aliran Mana asing yang mencoba masuk ke tubuhnya. Ia berniat menolaknya, namun aliran Mana ini tak sedikit pun mengandung sihir atau sesuatu yang berbahaya. Dalam beberapa kejadian, ini digunakan sebagai permintaan untuk transmisi pikiran.


Mencoba berbicara melalui pikiran padaku, dia pasti memiliki item itu.


[Berhati-hatilah terhadapnya.] Suara itu terdengar sedikit serak dan berat, namun tak terdengar seperti Karman Hart.


Perhatian Rose langsung tertuju pada pria bertubuh besar yang berjalan meninggalkan arena sesaat setelah komunikasi terputus.


"Sejujurnya, ini bukanlah kesepakatan yang menguntungkan bagimu," ungkap Danny.


Alissa menyipitkan matanya, menatap dengan ekspresi kecewa. Namun, ia tetap ingin mendengarkan penjelasan Danny. Wanita itu mengangguk untuk mempersilahkan Danny berbicara.


"Aku tahu tentang penyerangan Kaisar Annatasya yang sudah berjalan saat ini."


*Crack!


Benang magis langsung melilit leher Danny hingga kulitnya mengkerut.


"Kepalamu akan hilang jika kau bertindak lebih jauh." Rose terlihat sangat marah dengan niat membunuh yang sangat luar biasa.


Danny sedikit terkejut dengan taring kecil yang terlihat dari sela bibir wanita itu. Ia tersenyum kecil setelah menyimpulkan alasan maid ini menjadi kuat.


"Luar biasa." Ekspresi Alissa berubah, ia tertarik dengan perkataan Danny.


"Aku punya kemampuan lain yang disebut The Marionette. Dengan itu aku bisa mengendalikan seseorang dan melihat melalui matanya."


Danny tak memberitahu skill utama yang memicu The Marionette untuk aktif.


Alissa tersenyum, terkesan dengan kemampuan Danny. "Bahkan kami tak bisa mendeteksi seorang penyusup, aku terkesan dengan skill milikmu." Alissa mengangkat rendah tangannya dan memerintahkan Rose untuk melepaskan jeratan di leher Danny.


"Nona Alissa, aku akan melakukan apa pun keinginanmu, tapi, tolong lindungi aku dari calon pewaris lainnya," pinta Danny yang juga menundukkan kepalanya.


Dengan kemampuan Danny saat ini, ia tak bisa unggul dalam hal kekuatan dari dua lainnya. Bahkan kemampuan utamanya tak bisa berbuat banyak, teknik pedangnya tidak berkembang, ia berada pada titik kecil di antara dua genangan air.


Karena itu ia memanfaatkan kemampuannya untuk membawa orang-orang ke sisinya. Dia unggul dalam hal relasi.


"Apa kau tak punya keinginan untuk menjadi Kepala Keluarga?" tanya Alissa.


Danny menjawab, "Aku sangat ingin meraih posisi itu. Namun, ini sangat berat dengan kekuatanku sekarang."


"Bagaimana dengan Karman Hart?"


Danny sedikit ragu ditanya soal Ayahnya. Dalam aturan tak tertulis, mereka yang berhasil memenangkan perebutan tersebut, maka Kepala Keluarga saat ini akan menjadi lawan terakhirnya.


Karena ini tak resmi, menang atau kalah pemenang tetap akan menjadi Kepala Keluarga selanjutnya. Namun, pengakuan tak akan didapat jika kalah melawan Kepala Keluarga sebelumnya.


"Bahkan aku tak yakin bisa menang melawan Karman Hart," lanjut Alissa.


"Untuk itu kita harus menyatukan seluruh kekuatan." Danny masih terlihat tak percaya diri dengan ucapannya.


"Itu hanya menambah korban dari pihak kami. Karman sangat kuat, aku merasakan dengan jelas kekuatannya."


Mendengar Alissa Hart yang berkata seperti itu, Danny merasa kesal, seakan-akan mustahil untuk menjadikannya Kepala Keluarga selanjutnya.


"Tapi, aku tak bilang kita tidak bisa mengalahkannya, bukan?"


Danny menemukan secercah harapan dari pernyataan Alissa tersebut.


Alissa mengangkat jari telunjuk ke arah Danny, dan lanjut berkata, "Kau harus membuktikan kelayakanmu, Danny Hart."


"Kelayakan?"


Salah seorang prajurit datang dengan tergesa-gesa. Danny terlihat kesal karena prajurit itu datang pada momen yang tidak sesuai.


"Darurat! Prajurit Kekaisaran sudah mengepung kediaman ini!" teriak prajurit itu.


"Secepat ini?" Danny terlihat sedikit terkejut.


Pilihan Danny akan menentukan nasibnya di masa depan. Namun, apa pun pilihannya, ia bersiap dengan segala risiko, karena kartu truf ada di tangannya.


Mata pria itu terus melirik pedang yang ia tancapkan sebelumnya.


Bersambung ....