
Delila bangkit dan kembali menyerang Keres dengan Gate Punch. Keres lagi-lagi membatalkan portal kecil yang hendak menyerapnya. Sampai akhirnya Delila lengah sehingga Keres menemukan celah dan langsung mencekiknya dengan tangan kanannya.
Cengkramannya begitu kuat, sampai membuat Delila kehabisan napas. Karena Keres mampu membatalkan kemampuan utama Delila (portal), hal itu membuat Delila tidak bisa berbuat banyak.
Delila berusaha memukul-mukul tangan yang mencekik lehernya, ia terus meronta-ronta dengan air mata yang mulai menetes.
"I ... bu."
Sejenak mata Keres melebar setelah Delila memanggilnya Ibu, cengkraman di leher Delila perlahan melemah.
Keres menggelengkan kepalanya, cengkramannya kembali menguat. Delila sudah berada di ambang batasnya, ia langsung membuka lebar mata kanannya. Di saat yang bersamaan Keres mengangkat tangan kirinya ke depan dan langsung menusuk dada Delila.
*Crack!
Seketika darah mengucur deras melewati tangannya.
Delila tidak bergerak sama sekali, ia langsung mati seketika. Namun ....
Abigail sudah bersiap di belakang Keres dengan pedang Triad di tangannya. Sebelumnya Delila menyadari Abigail yang sudah pulih, ia langsung mengirim pedang Triad dengan portal di sebelah Abigail.
Triad bersinat terang ketika Abigail hendak menebas Keres.
"Hiyaaakk!" Abigail langsung mengarahkan pedangnya ke leher Keres.
*Ting!
Lagi-lagi Keres menahannya. Ia melepas cengkramannya pada leher Delila dan langsung menangkis pedang dari Abigail.
Seketika darah Delila membasahi pedang itu.
Tak sampai di situ, Abigail meledakkan kembali Triad sehingga membuat jarak pandang Keres tertutupi oleh kepulan asap. Abigail melebarkan sayapnya, kedua sayapnya membentang dengan panjang lima belas meter.
Dengan sayap hitam itu Abigail menembakkan ribuan bulu hitam ke arah Keres, bulu hitam ini memiliki efek menahan gerakan ketika menusuk targetnya, dan beberapa efek kecil seperti menghisap Mana.
Abigail terus menembakkan ribuan bulu hitam itu ke dalam kepulan asap, berharap bisa menusuk tubuh Keres walau hanya satu.
Aku tahu ini semua hanya buang-buang waktu, tapi aku harus berusaha semampuku.
*Bush!
Keres terbang keluar dari kepulan asap. Tak ada satu pun bulu yang bisa menembus kulitnya. Dengan cepat ia mendekati Abigail.
Abigail hendak mengecilkan sayapnya, namun semua sudah terlambat ketika Keres mencapai tempatnya.
*Crack!
Keres menebas sayap kiri Abigail hingga patah.
"Huwaaaaaaaaaaaak!" Abigail berteriak kesakitan. Pada dasarnya, sayap adalah bagian yang sangat sensitif dari tubuh Malaikat. Tidak masalah dengan serangan kecil, namun jika menerima serangan sihir tingkat tinggi ke atas, maka Abigail akan merasa kesakitan.
Abigail langsung terjatuh ke bawah. Tubuhnya tidak bisa bergerak karena kehabisan banyak darah, tak ada yang bisa ia lakukan lagi.
Keres datang menghampirinya, ia hendak mengakhiri Abigail segera. Abigail melihat samar-samar bayangan Keres, ia menghela napas dan berkata, "Hidup, Yang Mulia."
Sesuatu menutup mata Keres, tangan seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang. Orang itu langsung mendekap kepala Keres dari belakang, kedua tangannya memancarkan energi sihir berwarna biru.
Di saat yang sama Keres mendadak tenang tak memberikan perlawanan pada orang itu.
"Setelah sekian lama, akhirnya Saya bisa melihat Anda, Yang Mulia," ucap orang itu. Suaranya sedikit berat, wujudnya perlahan terlihat.
Seorang pria mengenakan setelan jas berwarna putih, celana hitam panjang. Gaya berpakaian yang tidak lazim untuk dunia ini. Dia adalah Ard Degan, ahli manipulasi pikiran, manusia buatan.
Keres perlahan terduduk lemas.
"Benar, Anda harus tenang, Yang Mulia. Ini Saya, ciptaan Anda, Ard Degan." Ard perlahan membaringkan Keres, namun tangannya masih menutup mata Keres.
"Sialan, kenapa kau sangat lama?"
"Maaf. Aku tidak bisa langsung keluar begitu saja dari kapsul itu, kau tahu alasannya, 'kan?"
"Tapi, kenapa kau memilih kemampuan payah ini?"
"Beliau tidak terluka bahkan jika kita menggunakan serangan terkuat, aku pikir cara ini akan berhasil, sihir yang mempengaruhi pikiran dan mental."
"Aku paham. Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?"
Manipulasi pikiran milik Ard masih belum bisa masuk lebih jauh ke dalam pikiran Keres, Abigail tahu betul tentang itu.
"Huh? Aku kira kau bekerja sama dengan gadis tadi."
"Tidak, dia hanya memberiku Triad melalui portal."
Tangan Ard hancur meleleh dan Keres terlepas dari sihir manipulasi pikiran. Karena perbedaan kekuatan yang besar, Ard tak mampu menenangkan Keres, dan kini tangan mekaniknya hancur terbakar.
"Ah, sial. Maafkan aku, Abigail. Aku tak bisa berbuat banyak." Ard melihat ke arah Keres. "Yang Mulia, Saya akan menemui Anda segera dengan tubuh utama."
*Duar!
Tubuh Ard meledak. Potongan logam bertebaran di mana-mana.
Keres kembali bangkit di hadapan Abigail.
Abigail sangat tertekan, ketakutannya akan kematian benar-benar besar. Ia berusaha untuk melawan rasa takutnya, sampai akhirnya dia menyadari sesuatu.
Ini sedikit aneh. Dengan kemampuannya yang seperti itu, Beliau bisa dengan mudah menghabisi kami semua di sini. Ini seperti Beliau sengaja mengulur waktu.
"A ... Bigail." Keres tiba-tiba memanggilnya.
"Y-yang Mulia?"
Air mata Ketes keluar, jika dilihat dari jauh, air matanya tidak akan terlihat karena tersamarkan oleh warna mata yang merah menyala.
Kesadarannya masih ada!
Abigail melihat celah besar, namun dia sama sekali tidak bisa bergerak sekarang.
"Terimakasih sudah mengulur waktu, Abigail." Suara seorang wanita terdengar dari atas mereka.
Keduanya menoleh ke sumber suara.
"Kau ...?" Abigail terkejut melihat sosok itu.
"Dimensional Eater." Orang itu adalah Delila.
Harusnya dia sudah mati, 'kan?
Abigail melihat ke tempat Keres membunuh Delila sebelumnya. Tak ada siapa pun di sana, hanya ada darah Delila yang masih kental menggenangi tempat itu.
Namun, kondisi Delila baik-baik saja, tak ada luka, bahkan lubang di dadanya menghilang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tiba-tiba lingkungan berubah menjadi hitam, kota menghilang, Daisy dan lainnya juga tidak ada.
Delila perlahan turun ke bawah. Di saat yang sama Keres langsung mencoba menyerangnya dengan pedang milik Abigail.
Namun pedang itu langsung lenyap begitu saja dari tangan Keres. Tak sampai di situ, Keres menembakkan laser dari armornya, namun lagi-lagi laser itu langsung menghilang.
"Inilah kekuatanku yang sesungguhnya." Delila mengangkat tangannya ke depan.
Keres langsung tertarik ke arahnya. Sebenarnya Delila hendak mencekiknya, namun reaksi tangan Keres begitu cepat sehinggah kedua tangan mereka saat ini saling mendorong.
Apa ini sebenarnya? Mungkinkah ini ruang dimensi?
Sayap Abigail yang patah secara mengejutkan kembali tumbuh. Bahkan rasa sakit di tubuhnya menghilang.
"Ini mustahil."
Delila dan Keres masih beradu kekuatan, Keres terdorong walau sudah mengerahkan segalanya. Delila sama sekali tidak bergerak.
Abigail teringat sesuatu.
Ruang dimensi ini terlihat tidak asing. Itu benar! Saat pertama kali aku bertemu mereka berenam, wanita itu pernah melakukan hal yang sama untuk melerai kami.
Ini merujuk pada saat pertemuan Keres pertama kali dengan Abigail, ketika Raja Iblis dan Abigail beradu argumen, Delila menahan mereka dengan sihir ini.
Delila mengangkat Keres dan membantingnya ke bawah. Di saat yang sama sebuah rantai muncul mengikat kedua tangan dan kaki Keres.
"Ini duniaku, tak ada tempat untukmu melakukan apa pun. Akan kutarik kau keluar dari tubuh Ibuku," ucap Delila dengan nada kesal.
Keadaan sekarang berbalik, Keres tidak bisa bergerak sedikit pun.
"Wanita itu ... apa dia seorang Dewa?" tanya Abigail dengan penuh penasaran.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA! TONTON IKLAN DI HADIAH JUGA
BONUS : Keres Vasilissa (AI model)