
Chapter 16 : Perang Kata-kata
Satu minggu setelah serangan Naga Hitam. Kondisi Ibukota sudah mulai stabil. Pembangunan di tempat bekas serangan terakhir Naga Hitam sudah mulai dikerjakan. Aku mengakui kalau Kerajaan Rexist itu sangat kaya, buktinya ada pada cepat tanggapnya mereka dalam mengatasi persoalan seperti ini. Hampir semua Pemilik Wilayah mengelola wilayahnya dengan baik, terutama Bangsawan kelas atas, mereka tidak memiliki hasrat untuk melakukan korupsi. Namun, tindakan itu tidak diikuti oleh para Bangsawan kelas menengah ke bawah, sudah banyak dari mereka yang telah dihukum karena melakukan beberapa kejahatan yang berhubungan dengan uang.
Huuuh ... aku sering keluar rumah akhir-akhir ini karena Nona Hart ada di rumahku. Aku sangat canggung. Nona Hart masih menjalani perawatan, Makia juga sesekali memeriksa kondisi Nona Hart jika berada di sekitaran rumahku. Saat aku memeriksa stat milik Nona Hart, semua berjalan dengan lambat, apa itu efek lain yang diterima? Walau begitu, Nona Hart sudah bisa melakukan aktifitas fisik seperti biasanya.
Saat ini, aku berada di tempat perawatan para korban dari insiden Naga Hitam.
Aku baru sekali menjenguk Lucas, itu karena kondisinya yang masih parah, jadi kunjungan ke tempat Lucas dibatasi. Makia bilang kondisinya saat ini sudah mulai membaik.
----------------------------------
*Kreek
Aku masuk ke kamar pasien tempat Lucas berada.
"Yooo, Zain." Suara yang tak asing terdengar olehku.
Dia sudah bisa berbicara, ya? Terakhir kali aku menjenguknya, dia dalam kondisi koma.
"Bagaimana kondisimu, Sobat?"
"Aku sudah pulih total, ayo kita pergi ke Dungeon,"
"Huuh ... kau tidak berubah sama sekali walau hampir mati sekali pun,"
Lucas tersenyum.
Pandanganku teralihkan pada pedang milik Lucas.
Sebelumnya, Lucas seperti ingin memberikan pedang itu padaku. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan.
"Zain,"
Aku kembali menoleh ke arah Lucas.
"Ambilah pedang itu," ucapnya.
Sekali lagi, perkataannya membuatku terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Huuuh ... Zain, kesempatanku sudah habis, lihatlah diriku sekarang,"
Aku hanya terdiam mendengar perkataannya.
Kondisinya memang tidak memungkinkan untuk kembali bertarung. Hampir seluruh tubuhnya tidak bisa digerakan, beruntung bagian dada hingga kepalanya tidak terkena efek penghancur jiwa.
"Sial, cepat ambilah!"
"Huuuh ... baiklah,"
Pedang ini sangat misterius. Aku ingin segera mencobanya.
"Zain,"
Aku masih asyik dengan pedang yang diberikan Lucas
"Dasar sialan,"
"Tenanglah, ada apa?"
"Bagaimana kau bisa selamat dari serangan itu?"
Huh ... itu pertanyaan yang wajar, dia pasti juga sangat penasaran tentang itu.
"Aku benar-benar tidak mengetahuinya, anggap saja aku sedang beruntung saat itu,"
"Apa itu ada hubungannya dengan skill milikmu?"
"Skill? Sepertinya bukan karena skill, tubuhku sudah tidak kuat untuk menggunakan Patience Skill waktu itu,"
"Begitu, ya ... Zain, apa Nona Hart bersamamu saat ini?"
Bagaimana dia bisa tahu?!
"Eheem ... i-iya, Nona Hart tinggal di rumahku sampai acara kehormatan di istana besok,"
"Sebenarnya, Nona Hart yang memberikanku pedang itu, aku tidak tahu bagaimana reaksinya jika pedang itu berada di tanganmu,"
Nona Hart yang memberikannya?!
"Dia bilang itu sebagai ganti rugi karena pedangku sebelumnya dihancurkan olehnya,"
Jadi begitu.
"Aku rasa Nona Hart tidak akan mempermasalahkan itu," sambungku.
"Aku sangat penasaran dengan pertarungan Nona Hart melawan Naga itu,"
"Kita juga sedang kesulitan waktu itu, 'kan?"
"Huuuh ...." Kami berdua menghela napas.
"Zain, untuk acara besok, tolong lindungi Nona Hart,"
"Sudah pasti,"
"Dan juga, waspadalah terhadap Pangeran Mahkota,"
Mataku langsung melebar mendengar perkataan Lucas.
Pangeran Mahkota, dikenal sebagai Swordmaster terkuat di Kerajaan Rexist yang bahkan bisa mengimbangi Saint Suci. Kenapa dia tidak ikut bertarung bersama kami? Apa yang dia rencanakan? Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Aku juga tidak terlalu menyukai sifatnya yang dingin dan arogan itu. Levelnya sedikit lebih tinggi dibandingkan levelku. Kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya juga jauh lebih tinggi dibandingkan diriku.
Aku harap dia tidak bersikap kurang ajar terhadap Nona Hart.
"Zain?"
"Ah, baiklah,
"Ke mana kau setelah ini?"
"Pulang,"
-------------------------
Aku kembali ke rumahku. Sepertinya Nona Hart sudah bersiap-siap untuk acara besok. Rasa canggung ini selalu menghampiriku setiap kali berada di rumah.
Aku memasuki rumah.
Aku tidak merasakan hawa apa pun. Di mana Nona Hart?
"Huh?!" Aku terkejut oleh suara yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Ada apa denganmu?"
Itu Nona Hart.
"No-nona Hart,"
Nona Hart terus melirikku dengan tajam, sampai di mana pandangannya mengarah pada pedang yang diberikan oleh Lucas tadi.
Nona Hart hanya terdiam melihat pedang ini.
"No-nona Hart, apa kau sudah mempersiapkan semua untuk acara besok?"
"Sudah,"
"Begit-"
"Pahlawan." Nona Hart langsung memotong perkataanku. "Kenapa kau menghindariku selama ini?"
"I-itu ka-karena ...."
"Sudahlah, aku juga akan pergi sekarang,"
Heh?
"Bukankah sebaiknya kau menunggu di sini sampai besok?"
"Apa kau memaksaku?"
"Ti-tidak, Nona Hart,"
Nona Hart tersenyum padaku. "Baiklah, aku paham rasanya hidup sendirian,"
"Eh?!"
Apa dia ....
Kami melanjutkan perbincangan ringan ini tanpa ada satu pun informasi yang bisa aku dapatkan dari Nona Hart. Aku tidak menyangka Nona Hart memiliki sifat yang seperti ini, seperti memiliki dua sisi yang berbeda. Aku menyukai sisi yang saat ini berbicara denganku. Tunggu ... suka? Apa yang kupikirkan?!
------------------------
Pagi yang cerah. Suara riuk warga Ibukota meramaikan Acara Kehormatan yang diadakan di Istana Kerajaan. Acara yang dilakukan dengan memberikan penghargaan kepada Prajurit yang berjuang melawan pasuka Dragonewt.
Pemberian penghargaan kepada Prajurit biasa dilakukan di depan umum sebagai formalitas untuk ditunjukan kepada masyarakat Ibukota. Dan pemberian penghargaan yang sebenarnya dilakukan di ruang takhta. Hanya ada aku, Nona Hart, Nona Emina, dan Nona Licia, serta beberapa Ksatria dari unit khusus. Sebenarnya, Lucas juga akan diberikan penghargaan serupa.
Pemberian penghargaan kepada Ksatria unit khusus telah selesai. Kini giliranku dan yang lainnya.
*Tak Tak Tak
Aku berjalan mendekati singgahsana.
Raja Hentrick mengarahkan tongkatnya ke pundakku.
"Zain Aither, dengan ini Saya memberikanmu gelar kehormatan sebagai Sun-Blessed Knight,"
Raja memberikanku sebuah lencana kecil berwarna emas.
Aku merasakan Mana dari lencana ini, sepertinya ini adalah item, aku akan mengeceknya nanti.
Nona Emina dan Nona Licia juga mendapatkan lencana yang sama. Dan orang yang terakhir adalah ....
"Alissa Hart,"
Nona Hart maju dengan tangan kanan yang diperban.
Kondisi seperti itu sangatlah tidak nyaman. Tangan yang bahkan tidak bisa digerakan sama sekali. Aku akan melindunginya.
"Pangeran Mahkota memasuki ruangan!" Seorang pelayan istana berteriak.
Akhirnya, Pangeran Mahkota.
Pangeran Mahkota duduk di sebelah Raja. Saat ini, hanya Pangeran Mahkota dan Raja yang ada di depan. Ratu dan Yang Mulia Putri tidak muncul.
Acara dilanjutkan kembali.
"Alissa Hart, dikatakan bahwa kamu tidak ingin menerima hadiah dalam bentuk barang maupun koin emas, tapi, kamu hanya ingin meminta satu bayaran berupa persyaratan, apa itu benar?" tanya Raja.
"Benar, Yang Mulia,"
"Katakan,"
Nona Hart mengangkat wajahnya ke arah Raja.
"Saya akan memperkenalkan diri sekali lagi, nama Saya Alissa Hart, dan Saya berasal dari Kerajaan Penyihir Maphas,"
Semua orang terkejut dengan perkataan Nona Hart, tak terkecuali aku.
Kerajaan Penyihir Maphas? Aku baru pertama kali mendengarnya.
Raja mengangkat tangannya agar para Bangsawan tenang.
"Jadi informasi itu benar,"
"Apa maksudmu, Ayah?" tanya Pangeran.
"Ada sebuah Kerajaan baru yang langsung memiliki dua negara bawahan, yaitu Kekaisaran dan Kerajaan Elf Tharasia,"
Sekali lagi, semua orang terkejut.
"Ternyata Anda mengetahuinya, Yang Mulia," ucap Nona Hart.
"Jadi kau ingin Kerajaan Rexist bergabung dengan dua negara bahawan itu?"
Semua orang menatap Nona Hart dengan tatapan penuh amarah.
Nona Hart tersenyum.
*Swing!
Seluruh Ksatria Kerajaan mengarahkan senjata mereka pada Nona Hart.
Bersambung ....
PEDANG MILIK LUCAS
*JADILAH PENULIS JUJUR DAN KREATIF.