The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Pernyataan



Situasi semakin memanas. Karena permintaan Nona Hart membuat semua orang dari Kerajaan Rexist marah. Aku tak tahu harus berbuat apa. Hal ini di luar perkiraanku, aku tidak menyangka Nona Hart meminta hal seperti ini.


Seluruh Ksatria Kerajaan masih mengarahkan pedang mereka pada Nona Hart.


"Alissa Hart, aku tidak habis pikir bahwa kau mengatakan hal itu di sini," ucap Raja.


Sepertinya Raja juga sudah yakin ingin menghukumnya.


"Yang Mulia, Saya tidak pernah meminta Kerajaan Rexist menjadi bawahan Kerajaan Penyihir Maphas,"


Itu benar, mereka semua hanya berasumsi dari senyuman Nona Hart sebelumnya.


"Apa maumu?"


"Saya belum mengatakannya, jadi akan Saya katakan. Sebagai utusan dari Kerajaan Penyihir Maphas, Saya meminta agar Kerajaan Rexist bersedia melakukan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Penyihir Maphas,"


Menggandeng Kerajaan Rexist sebagai sekutu? Apa mereka ingin perang dengan negara lain?


"Bagaimana jika aku menolak?"


".... Saya akan pergi sekarang, dan mengatakan pada dunia bahwa Kerajaan Rexist tidak konsisten dengan-"


*Bum!


Aura membunuh yang sangat besar! Aura ini sengaja dilepaskan ke segala arah. Tapi ... siapa?!


Pusat aura itu berasal dari seseorang yang duduk di sebelah Raja.


Pangeran Mahkota?


"Putraku, tenanglah,"


"Ayah, boleh aku ambil alih ini?"


"Huuh ... terserahlah,"


Apa hal itu diperbolehkan? Apa-apaan Raja Hentrick ini?!


Auranya semakin tipis, apa dia sudah menurunkan auranya? Tunggu! Dia hanya memfokuskan auranya pada Nona Hart. Kondisi Nona Hart yang sekarang sepertinya tidak akan mampu menahan intimidasi seperti itu.


"Alissa Hart, aku tidak tahu siapa dirimu, tapi, kau sangat berani meminta hal seperti itu di sini." Pangeran menyipitkan matanya.


"Saya hanya meminta hal yang sudah seharusnya Saya dapatkan, Pangeran,"


"Apa kau tidak takut mati?"


Sial! Aku harus menyelamatkan Nona Hart dari orang gila itu. Tapi ... bagaimana?


Nona Hart hanya terdiam dan menatap Pangeran dengan tatapan tajam.


"Atau ... aku bisa mengabulkan permintaanmu, tapi, ada persyaratan dariku, apa kau tertarik, Alissa Hart?"


Apa tujuan orang ini sebenarnya?


"Itu bukanlah hal yang aku inginkan, Pangeran." Nona Hart sedikit membungkukkan badannya. "Saya izin pergi meninggalkan Kerajaan ini, Yang Mulia,"


Pangeran Mahkota mengeluarkan pedang dari pinggang seorang pengawal di sebelahnya.


*Swush!


Dia melemparkannya ke arah Nona Hart.


Apa yang dia lakukan?!


*Bum!


Nona Hart mengeluarkan sedikit auranya.


Pedang yang dilempat Pangeran langsung terhempas karena aura Nona Hart.


"Apa ini balasan kalian atas apa yang sudah Saya lakukan?" Nona Hart melebarkan matanya.


"Hooh ... menarik sekali, mari kita selesaikan kesepakatan ini terlebih dahulu, Alissa Hart,"


Nona Hart kembali ke posisinya semula.


"Apa penawaran Anda, Pangeran?"


"Sebelum itu, apa keuntungan yang kami dapatkan?"


Nona Hart hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Pangeran.


Itu benar, jika hubungan ini tidak memiliki keuntungan bagi Kerajaan Rexist, itu hanya akan menjadi keuntungan sepihak untuk Kerajaan Penyihir Maphas.


"Apa yang ingin kalian lakukan dengan dua negara bawahan itu? Apa kalian ingin melawan Federasi?" tanya Pangeran.


Federasi? Setahuku Federasi itu terdiri dari beberapa negara yang memiliki tujuan untuk melindungi umat manusia dari para iblis. Aku tidak yakin jika tujuan itu adalah alasan Federasi dibentuk, pasti ada tujuan lain di sana. Kerajaan Rexist termasuk salah satu dari Federasi itu. Aku tidak tahu negara mana lagi yang menjadi anggota Federasi, karena keanggotaan mereka dirahasiakan.


"Jika aku berkata 'Iya', apa yang akan Anda lakukan, Pangeran?"


"Putraku, apa yang kau rencanakan?" tanya Raja.


"Hahahaha ...." Pangeran tertawa sambil memegang perutnya. "Menarik! Kau memang orang yang sangat menarik! Huh ... Tawaranku sederhana, akan lebih baik jika kedua Kerajaan memiliki hubungan yang lebih dari sekedar sekutu,"


"Apa maksud Anda?"


"Aku yakin kau adalah orang dengan kedudukan tinggi di sana, apa aku salah? Mungkin ini adalah kesempatan bagus untuk mempererat hubungan antar negara,"


Jangan-jangan?!


"Dengan siapa?" Nona Hart bertanya langsung ke intinya.


"Kau terlihat tidak keberatan sama sekali,"


"Jika itu demi Kerajaanku, aku tidak keberatan,"


"Denganku,"


Perasaanku seperti tercabik-cabik mendengar perkataan itu. Aku juga tidak tahu mengapa


"Baik-"


"Tunggu!" Aku berteriak secara spontan. "Huuh ... huuh ... huuh ...." Napasku terengah-engah.


"Ada apa, Pahlawan?" Pangeran memandangku dengan sangat rendah.


Apa yang harus kukatakan? Aku sudah terlanjur memotong pembicaraan mereka.


"Ini tidak benar,"


"Diam dan pergilah dengan permainan kepahlawananmu itu," sindir Pangeran.


Bajingan ini!


Semua orang yang ada di ruang takhta mulai berbisik-bisik satu sama lain.


Mereka membicarakanku? Bangsawan yang ada di sini adalah para Bangsawan yang tidak senang dengan Duke Aither, karena itu aku jadi terseret dalam permasalahan mereka.


Raja mengangkat tangannya.


"Diamlah, kalian semua." Raja menatapku dengan tajam. "Apa yang membuatmu keberatan, Zain?"


Dia menyebut namaku?


"Tindakan ini tidak benar, Yang Mulia, Kerajaan sudah menjanjikan persyaratan yang diajukan Nona Hart sebelumnya, terlebih lagi ini adalah ajakan untuk bersekutu dengan Kerajaan yang sudah pasti sangat kuat,"


"Kita tidak tahu tujuan mereka, Zain,"


Pangeran mengangkat tangannya. "Ayah, maaf memotong. Pahlawan, apa kau tuli? Aku bahkan menawarkan sebuah hubungan yang mendalam antar dua Kerajaan, bukannya itu malah lebih baik?"


"Apanya yang lebih baik!" Tanpa sadar, aku meninggikan suaraku yang mana itu membuat semua orang terkejut.


"Apa kau ingin mengetes kesabaranku, Pahlawan? Kenapa kau sangat gigih melindungi wanita itu?"


"Itu karen-"


"Kau menyukainya?" lanjut Pangeran.


"Benar!"


Lagi-lagi kata-kata yang ada dipikiranku terucap dengan spontan.


Semua orang lebih terkejut dibandingkan sebelumnya.


Aku melihat ke arah Nona Hart.



Nona Hart juga terkejut mendengar perkataanku.


Ekspresi terkejutnya itu seolah mengatakan "Apa-apaan orang ini?!" Sial! Ini sangat memalukan!


Pangeran Mahkota hanya terdiam.


Raja memegang keningnya.


"Zain, apa kau sadar tentang apa yang kau ucapkan tadi?" tanya Raja.


"Yan-" Di saat aku ingin menjawab pertanyaan Raja, tiba-tiba aku merasakan kekuatan suci yang menyelimuti ruangan ini.


Semua orang juga merasakan hal yang serupa. Jadi ini sengaja disebarkan begitu saja?


Pintu ruangan terbuka secara perlahan.


Seseorang masuk.


Seorang wanita yang terlihat tidak asing muncul dari pintu itu.


Itu ... Makia?


Diikuti oleh beberapa orang berjubah putih.


Semua orang terkejut dengan sosok yang datang tersebut, tak terkecuali aku.


Aku pernah bertemu dengannya sekali saat beberapa hari setelah aku dipanggil ke dunia ini. Waktu itu Gereja Suci mengundangku datang ke wilayah mereka untuk mengecek stat yang aku miliki. Di situlah aku bertemu dengannya. Uskup Agung, pemimpin dari Wilayah Gereja Suci.


"Anda ... Uskup Agung," ucap salah satu Bangsawan.


Raja berdiri dan memberi hormat kepada Uskup Agung.


"Salam hormat kepada Uskup Agung,"


Uskup Agung menganggukkan kepalanya.


Pandangan Uskup Agung tertuju pada Nona Hart.


"Uskup Agung, silahkan duduk," ucap salah satu pengawal Kerajaan.


Uskup Agung menuju tempat duduk yang berada di dekat singgahsana.


Aku masih penasaran dengan sikap Pangeran yang tidak memperdulikan keberadaan Uskup Agung serta bawahannya. Dia sepertinya memang tidak pernah menaruh hormat kepada Gereja Suci. Itu tidak penting sekarang, sepertinya akan ada masalah baru yang menimpa Nona Hart.


Bersambung ....


Jangan lupa like dan komen, ya!


Ngomong-ngomong, kalau novel ini semakin ramai, Saya akan usahakan untuk sering menambahkan gambar ilustrasi seperti pada episode kali ini, jadi dukung terus, ya! 😄✨