
Duke Hart pernah mengumpulkan seluruh keluarga cabang Hart di seluruh penjuru Kekaisaran hanya untuk mencari Alissa Hart. Namun, tak ada satu pun dari keluarga cabang yang memiliki hubungan dengan Alissa Hart.
Alasan ketertarikan Duke Hart tidak lain adalah Alissa Hart seorang Perdana Menteri Kerajaan Penyihir Maphas. Kerajaan yang membuat Kekaisaran bertekuk lutut. Memang terdengar aneh melihat Kekaisaran absolut tunduk pada sebuah kerajaan.
Sepertinya ia ingin menjilat kaki wanita itu untuk memantapkan posisinya agar lebih tinggi lagi. Hubungan Keluarga Hart dan Kekaisaran sedikit renggang, apalagi setelah diangkatnya Kaisar baru.
Alissia, apa ini sebuah kebetulan atau tidak, aku harus menyelidikinya pelan-pelan.
"Mereka belum kembali, apa aku cari saja mereka, ya?"
*Tok Tok
Mereka sudah datang!
Aku langsung membuka pintu kamarku.
"Kalian sudah sele--"
"Maaf membuatmu kecewa." Seorang wanita berada di hadapanku.
D-dia?
"Sepertinya anak-anak itu berhasil memisahkanmu dari mereka." Dia menarik tanganku. "Ikut aku."
Aku hanya bisa menuruti perkataannya. Bahkan aku tak sempat mengambil tongkatku.
---------------------------
Mereka membawaku menuju area belakang akademi. Sebuah pepohonan rimbun dekat taman. Orang yang membawaku merupakan peringkat tiga tingkat Gold, Rem Florence. Dia kelas dua, sama sepertiku, hanya saja tingkatan kami berbeda. Jika dia bisa bertahan di tiga besar, dia akan naik ke tingkat Diamond tahun depan dengan bertanding melawan peringkat satu dan dua.
Florence membawa beberapa anak laki-laki yang telah menunggu di luar asrama sebelumnya.
Kami mulai memasuki area pepohonan.
Jantungku berdegup kencang.
Florence terkenal sebagai perundung yang paling ditakuti. Dia menggunakan cara licik agar para Dewan Murid tidak mengetahui tindakannya.
"Agh!"
Salah satu bawahan Florence mendorongku.
Aku jatuh tersungkur ke depan.
"Huh?"
Tanganku menyentuh kaki seseorang.
"Akhirnya aku bisa membawamu ke sini. Terima kasih, Nona Rem, aku akan membayarnya nanti,"
"Terserahmu. Ngomong-ngomong, apa yang akan kau lakukan padanya?"
Laki-laki itu ... dia orang yang diusir oleh Nona Lexi waktu di arena bawah tanah, namanya Erick, tingkat Gold.
"Nona Rem, tolong berbaliklah, dan kalian semua juga berbaliklah. Aku perintahkan kalian menjaga seluruh area ini dengan benar." Erick membuka kancing bajunya.
"A-apa yang ingin kau lakukan?!"
*Plak!
Erick menampar pipiku.
Aku tak bisa menggunakan sihir tanpa tongkat.
"Diamlah! Kau harus merasakan pembalasan atas penghinaan tadi,"
"A-aku tidak pernah menyinggungmu!"
Erick mendekap mulutku dan menindihku.
"Erick, kau benar-benar pria bajingan, aku akan tutup mata, ini demi uang yang kau janjikan,"
"Tenanglah, Nona Rem,"
Aku tidak percaya ini, Rem Florence yang merupakan tiga besar tingkat Gold luluh terhadap uang.
"Baiklah, dari mana aku harus memulainya?" Erick mendekatkan wajahnya ke leherku.
Tubuhku tak bisa bergerak karena efek sebelumnya. Aku harus mencari cara!
Aku terus memberontak.
"Shock Wave."
Tubuhku tersengat oleh sihir listrik milik Erick. Aku sama sekali tak bisa bergerak sekarang.
Erick mulai melepas seragam luarku.
"Ini luar biasa. Aku tidak menyangka bahwa kau si Bronze rendahan memiliki tubuh yang bagus,"
Aku hanya bisa diam sambil melihatnya dengan tatapan kebencian.
Dia mulai membuka kemeja putihku.
Tubuhku terasa seperti tersengat ketika tangannya menyentuh kulitku.
Mungkin ini hukuman yang harus kuterima karena keegoisanku. Aku membantah perintah orangtuaku demi egoku.
Erick mulai mengendus tubuhku. Sesuatu yang panas menyentuhku.
Tolong aku, Kakak ....
*Duar!
Sesuatu meledak dari kejauhan.
"Huh ... apa itu?" Erick melepas dekapannya dari mulutku.
"Erick! Salah satu dari Dewan Murid menuju ke sini!"
"Siapa dia?!"
"Theo!"
Erick langsung mengangkat tubuhku. "Aku tak rela jika kau dikorbankan dalam keadaan masih belum tersentuh."
Korban?
"Fly."
Erick terbang membawaku.
Tubuhku sama sekali belum bisa bergerak.
Dia bisa menggunakan sihir terbang, ini mengejutkanku.
Kami semakin menjauh dari daratan.
"Livia!"
Aku mendengar seseorang berteriak memanggil namaku.
Suaranya terdengar tidak asing, aku tak tahu siapa itu karena suara itu berasal dari bawah sana.
"Lepaskan ... aku," pintaku dengan suara pelan.
"Aku akan melepaskanmu dari sini,"
"Lebih, baik, aku, mati."
*Plak!
Erick menamparku.
"Hentikan omong kosongmu, aku akan membawamu ke suatu tempat sebelum menyerahkanmu."
Rintik hujan mulai berjatuhan, dan semakin deras.
"Cih! Hujan sialan!"
Air mataku tersamakarkan oleh air hujan yang berjatuhan.
Kami sudah jauh meninggalkan akademi.
"Berhenti!' teriak seseorang dari belakang.
"Siapa itu?"
Seorang wanita mengejar kami, ia tampak tak asing bagiku.
Nona Lexi?
Erick turun ke sebuah lorong sempit. Nona Lexi mengikutinya.
"Erick, turunkan dia!"
"Wah, wah, Nona Lexi, sepertinya aku tak perlu memancingmu lagi, kau bahkan datang sendiri ke sini, hahaha!"
Nona Lexi sontak terkejut melihat penampilanku. "Apa yang sudah kau lakukan pada Livia?! Dasar bajingan mesum!"
Erick menyandarkanku ke dinding.
"Aku akan membalas penghinaan yang kau lakukan sebelumnya,"
"Kau masih membahas itu?! Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menghinamu! Kaulah yang memulai perundungan itu!"
"Diam!"
Beberapa orang muncul dari atap bangunan. Mereka mengenakan jubah berwarna merah.
"Jubah merah itu ... Erick! kau bersekongkol dengan para penjahat ini?!"
"Tangkap dia."
Para penjahat itu melompat turun. Bilah pisau keluar dari jubah mereka.
Orang-orang ini bukan penyihir, di mana para pemberonrak yang berisi penyihir?
Jumlah mereka ada sepuluh, lima dari mereka berada di dinding. Gerak-gerik mereka seperti seorang Assasin. Nona Lexi dalam masalah.
Lima orang di bawah mengelilingi Nona Lexi.
"Kalian meremehkanku, bajingan."
Cahaya biru menyebar. Air hujan di sekitar mereka berhenti.
"Water Bullet : Spread!"
*Crack!
Ribuan tetesan air itu menyebar menembus tubuh para penjahat itu.
"Serang dia, bodoh!"
Lima orang yang masih berada di dinding mulai meluncur ke arah Nona Lexi.
Nona Lexi mengangkat tangan kanannya ke atas. "Sink!"
Air hujan langsung berkumpul jadi satu, kemudian gumpalan air tersebut memakan lima penjahat itu dalam satu tempat.
Nona Lexi mengepalkan tangannya.
*Crack!
Tubuh mereka hancur berkeping-keping karena tekanan tinggi dari air yang menyelimuti mereka.
"S-siapa kau?!" Erick terlihat panik.
Aku juga terkejut melihat kemampuan Nona Lexi, dia membunuh tanpa ragu-ragu.
Nona Lexi tersenyum menyeringai.
"A-apa yang lucu?!"
"Sebuah kejutan kau bekerja sama dengan mereka,"
Sikap Nona Lexi berubah 180° dari sebelumnya. Dia terlihat seperti seorang yang menikmati pembunuhan.
"Agh!"
Erick mencekikku. "Jangan mendekat! Atau kubunuh dia!"
Nona Lexi mengangkat tangannya ke depan. "Water Cutter."
*Crack!
"Huwaaaaa!"
Tangan Erick yang digunakan untuk mencekikku tiba-tiba terpotong.
"Aku sudah menahan diri ketika melihat kelakuan kalian."
Nona Lexi berjala mendekatiku.
Bayangan hitam terlihat menuju ke arah sini dengan kecepatan tinggi.
Dalam sekejap, bayangan hitam itu membawaku dan Erick.
"Livia!"
Kami terbang menjauh dari tempat itu.
Aku benar-benar orang paling tidak beruntung di dunia ini.
"Wanita j*l*ng itu, aku akan membalasnya!"
"Diamlah, dasar bodoh!"
*Brak!
Kami menabrak sesuatu.
Sebuah tembok air raksasa menghadang kami.
"Livia!"
Nona Lexi terbang dengan cepat menuju ke arah sini.
"Sialan!"
*Wush!
Mereka melemparku ke arah Nona Lexi.
Nona Lexi langsung menangkapku, namun para penjahat itu kabur.
Sepertinya ini sudah berakhir.
"Ugh."
Kepalaku pusing.
"Tidurlah, Livia, kau sudah melewati hal berat."
"N-nona, Lex--"
Bersambung ....
Sekarang kalian bisa bergabung di grup chat novel ini. Kalian bisa memberi masukan untuk novel ini agar lebih baik ke depannya. Caranya, buka halaman novel ini, dan klik tombol "Ayo Chat" seperti gambar di bawah.
Terima kasih!
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.