
Seketika darah keluar dari mayat para vampir dan ksatria, darah itu terangkat layaknya dinding yang terbuat dari darah. Dinding darah itu menutupi Raja Drac hingga keberadaannya seakan lenyap dari tempat itu.
Bilah cahaya milik Pahlawan tidak bisa menembus dinding darah yang terdiri dari banyak lapisan.
Darah yang diambil dari ratusan ribu mayat prajurit, menciptakan pertahanan mutlak yang terdiri dari ribuan lapis dinding darah. Situasi berpihak pada Raja Drac untuk sementara. Pahlawan harus menebasnya dengan kekuatan penuh.
Pahlawan mengambil ancang-ancang untuk menyerang, menarik pedangnya sedikit ke belakang. Cahaya pada Pedang Suci perlahan menjadi semakin terang.
Mengubah Mana di sekitar menjadi energi suci, ini benar-benar kemampuan yang luar biasa. Hanya saja kemampuan itu tidak bisa dipergunakan terlalu sering, efeknya akan terasa di masa depan.
Kecuali ....
Tubuh Pahlawan mengeluarkan cahaya. Ada sedikit perubahan yang terjadi di saat yang sama.
Dugaanku benar, kekurangan itu bisa ditutupi dengan buff yang sepadan.
Aku melihat ke layar tempat Uskup Agung berada.
Uskup Agung tidak melakukan sesuatu seperti merapal sihir buff. Saint wanita di sebelahnya juga tidak melakukan pergerakan aneh. Dan juga itu bukan berasal dari para priest.
"Sihir pendukung dari Dewi," ucap Hela sembari melirikku.
Kenapa dia? Lupakan. Itu akan masuk akal jika Dewi yang memberinya buff. Setidaknya buff itu setidaknya dua tingkat di bawah buff milik Elina, aku tidak yakin jika buff yang dia miliki hanya ini. Apa dia menyesuaikan dengan kondisi Pahlawan?
"Dia tidak bisa memberikan buff pada orang yang tidak mempercayainya. Hasilnya sudah jelas, Pahlawan akan menang," lanjut Hela.
Pahlawan menebas pedangnya ke arah tempat Raja Drac terlihat terakhir kali. Bilah cahaya raksasa melesat menebas lapisan dinding darah di hadapannya. Tak ada yang tersisa, dinding darah yang ada di depan Pahlawan telah lenyap.
Kekuatannya meningkat berkali-kali lipat. Namun, itu belum cukup untuk mengalahkan Raja Drac.
Raja Drac tidak ada di balik dinding darah itu. Sepertinya dia berpindah ke dinding-dinding darah lainnya. Pahlawan tidak bisa semaunya asal memebas dinding-dinding darah itu.
Salah satu dinding darah memunculkan dibuan duri yang berasal dari darah yang dikeraskan. Duri-duri itu muncul melalui lapisan dinding.
Secara bersamaan duri-duri itu ditembak ke arah Pahlawan.
Ini baru satu dinding darah, bagaimana jika semuanya melakukan hal yang sama? Jika Pahlawan mati, ini menjadi tidak menarik! Sepertinya Dewi juga tidak bisa membantunya lagi secara langsung.
Aku menyimpulkan beberapa cerita tentang Dewi, dimulai saat aku tiba di Desa Liche pertama kalinya, sebuah cerita dari Tetua Desa Liche sebelumnya, si Nenek Tua. Kejadian saat Uskup Agung menyerang Daisy di Kerajaan Rexist, hingga perjanjian 2 tahun lalu.
Seperti kata Hela sebelumnya, Dewi tak bisa memberi sihir dukungan pada orang yang tidak mempercayainya. Serta cerita Tetua Liche sebelumnya mengenai Dewi yang menjadikan Raja Iblis dan Pahlawan sebagai boneka untuk menyegel Keres karena tidak bisa ikut campur secara langsung. Kesimpulannya, orang itu belum menguasai dunia ini. Mungkin hanya para Dewa dan Dewi tidak bisa menggunakan sihir secara bebas di dunia yang tidak mereka kuasai, karena akan memakan banyak energi. Itu akan masuk akal jika Alam Dewa berada di dimensi lain.
Aku teringat akan sesuatu.
Maksud perkataan Keres dan Hela tentang Delila ternyata berhubungan dengan hal ini. Delila bisa dengan leluasa menggunakan sihir dengan energi yang besar di dimensi lain. Mereka menganggap Delila merupakan makhluk langka. Namun, kenapa Keres bisa menggunakan sihir tanpa memikirkan jumlah energi sihir yang dia gunakan? Dia "Kakak" dari Dewi, seharusnya dia ras Dewa juga, 'kan?
Lagipula ini hanya asumsi liarku saja. Aku akan bertanya banyak hal padanya nanti.
Kembali ke pertarungan!
Dengan tebasan yang serupa, Pahlawan berhasil melenyapkan duri-duri itu. Namun, bilah yang dihasilkan sedikit lebih kecil dari sebelumnya.
Pedang Suci secara perlahan memulihkan kondisi Pahlawan.
"Apa kau hanya bisa menebas secara sembrono seperti itu, Pahlawan?!" Terdengar suara Raja Drac dari setiap dinding darah yang ada.
Tak diketahui pasti di mana tubuh Raja Drac sekarang. Ada banyak dinding darah yang mengelilingi Pahlawan.
Pahlawan berlari ke sisi kosong tempat dinding darah yang ia lenyapkan dengan bilah cahaya. Di tengah-tengah tempat itu, dinding darah yang berada di sekitarnya langsung berusaha menutup jalur dari belakang.
Pergerakan dinding terlihat lambat, Pahlawan dengan mudah kabur sembari menebas dinding-dinding darah yang ada di depannya.
Sayang sekali, dia tidak bisa terbang.
Dinding darah perlahan runtuh, menciptakan gelombang besar. Pahlawan menekan kakinya dan mendorong tubuhnya ke depan dengan kecepatan tinggi. Dia membelah ombak dengan kecepatannya.
Keputusan yang tepat, karena darah itu tidak padat seperti saat menjadi dinding darah sebelumnya, sekarang hanya sebuah cairan biasa.
Dengan kecepatan yang luar biasa itu, Pahlawan berhasil keluar dari ombak darah itu.
Mereka menarik mundur para Priest dan Magic Caster yang tersisa sebelum Raja Drac menggunakan sihir darah itu.
Pahlawan sudah keluar dari kepungan ombak darah, jika itu aku, aku akan langsung membuat beberapa pijakan dan berlari ke tempat Raja Drac.
Di sisi lain. Ombak darah hampir menabrak dinding kota.
Huh?
Saint wanita yang sebelumnya hanya berdiri di atas dinding, kini mulai bergerak. Dia turun ke dasar dengan Pedang Ilahi di tangan kanannya dan tongkat di tangan kirinya.
Melihat tongkat itu, aku teringat dengan senjata milik Raja Iblis. Apa fungsinya juga sama?
Saint wanita memutar-mutar tongkatnya, putarannya semakin cepat hingga menimbulkan pusaran angin yang mengarah ke ombak darah.
Raja Drac terlihat, dia berada di udara dengan kedua tangan yang bergerak-gerak mengendalikan ombak darah.
Pusaran angin raksasa milik Saint wanita memecah ombak darah, hal itu membuat wilayah di sekitar mengalami hujan darah.
Raja Drac meluncur ke arah Saint wanita yang sibuk memutar-mutar tongkatnya dengan satu tangan.
Aku tak tahu apa yang akan dilakukan wanita itu, mungkin Uskup Agung memberi sihir pelindung padanya. Tapi, kelihatannya Uskup Agung hanya fokus melindungi kota dari hujan darah dengan sihir pelindung cahaya. Darah-darah yang berjatuhan langsung menguap ketika menyentuh pelindung cahaya.
Tak ada tanda-tanda sihir pelindung di sekitar Saint wanita.
Raja Drac mengarahkan cakar panjangnya lurus ke arah Saint wanita.
Di saat yang bersamaan sesuatu keluar dari tubuh Saint wanita. Bentuknya seperti gumpalan energi, namun perlahan berubah bentuk menjadi manusia. Lebih jelasnya, energinya mengambil bentuk tubuh wanita itu sendiri.
Apa dia membelah diri? Tidak, aku tak melihat tanda-tanda di tubuh wanita itu, tak ada tanda tubuh yang mulai melemah.
Salinan tubuhnya langsung mengambil Pedang Ilahi dari tangannya dan langsung melompat ke arah Raja Drac.
*Duar!
Ledakan besar terjadi saat keduanya saling membenturkan senjata.
Keduanya saling menyerang dengan sengit. Terutama Raja Drac, dia dengan leluasa menyerang dengan kedua cakar di kedua tangannya. Benturan ke Pedang Ilahi membuat suara dengungan aneh. Aku yang mendengarnya dari sini bahkan merasa tidak nyaman dengan suaranya.
Salinan tubuh Saint tidak melakukan pertahanan, melainkan juga menyerang Raja Drac. Kecepatan tangannya bisa menghalau dua serangan dari Raja Drac sekaligus. Seolah-olah satu tangannya setara dengan dua tangan Raja Drac.
Dia cukup kuat untuk pengguna pedang dan bela diri. Setidaknya sebanding dengan Glenn, tidak, wanita ini lebih kuat. Sepertinya tak ada yang menyamainya. NPC memang jauh lebih kuat, tapi di sini aku berbicara tentang bawahanku di sana, tidak termasuk Raja Iblis dan asistennya ... Maryna. Aku masih ragu dengan mereka.
Raja Drac menarik genangan darah di bawahnya untuk menyerang. Darah itu mengeras langsung menusuk salinan tubuh dari belakang.
*Bush!
Seketika darah itu lenyap karena serangan dari bilah cahaya.
Pahlawan berada tepat di bawah mereka, dialah yang melepas serangan tadi.
Perhatian Raja Drac teralihkan karena Pahlawan, salinan tubuh langsung menendang Raja Drac ke bawah.
*Brak!
Tubuhnya dengan keras menghantam tanah hingga menimbulkan kerusakan di sekitarnya.
Salinan tubuh mendarat di sebelah Pahlawan. Saint wanita juga menyusul dan berdiri di sebelahnya. Ini menjadi pertarungan 3 lawan 1.
Raja Drac bangkit dengan beberapa bagian tubuh yang rusak. Tangannya terbalik, kakinya patah, dan tulang punggung yang keluar dari kulitnya.
Tendangan tadi membuat tubuhnya seperti itu. Kekuatan fisik Saint wanita berada di atasnya.
"Dasar manusia-manusia sialan!" teriak Raja Drac dengan darah yang keluar dari wajahnya.
Bersambung ....
Ada info di komentar.