The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Detak Jantung



Hela terbangun di dalam gua.


Ia terus memegangi kepalanya yang terasa berat. "Ugh! Kepalaku sakit."


Udara di dalam gua sangat dingin, cahaya hanya bisa masuk melalui lubang di langit gua.


"Ini ... gua bawah tanah?"


Bagaimana bisa aku berada di tempat ini? Harusnya aku berada di tengah hutan.


Hela berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi terakhir kali. Namun, ia hanya mengingat dirinya yang pingsan di tengah hutan.


"Pasti terjadi sesuatu saat aku pingsan."


Hela mencoba bangkit berdiri.


"Huh?"


Tubuhnya terasa ringan, ia merasakan banyak energi di sekitarnya.


Hela mencium bau yang familiar.


Bau ini ... aku pernah mencium bau seperti ini, tapi di mana? Dan juga, ada aura yang tidak asing walau hanya sedikit, aku bisa merasakannya.


Bau dan aura yang pernah Hela rasakan sebelumnya.


Hela berusaha keras mengingatnya, namun semua sia-sia.


"Aku tidak mengerti ini. Sekarang yang terpenting ialah kembali ke rumah."


Hela memanjat dinding untuk keluar melalui cahaya di langit gua. Secara harfiah ini adalah gua di bawah tanah.


"Wind Blast!"


Gumpalan udara yang diselimuti sihir berkumpul di telapak tangannya, kemudian Hela menembakkan gumpalan udara itu ke arah langit gua.


*Brak!


Hela mengancurkan langit-langit gua dengan sihirnya.


Kekuatanku sepertinya bertambah. Aku hanya menggunakan sedikit energi Mana, namun sihir yang keluar sangat besar.


Hela tak ambil pusing, ia langsung bergegas meninggalkan tempat itu.


 -----------------------------


9 bulan kemudian.


Raja Iblis semakin melebarkan wilayah kekuasaannya. Hanya Wilayah Menara Sihir yang belum tersentuh karena kekuatan absolut dari para penyihir menara. Namun, itu tak bertahan lama. Kegaduhan terjadi dari dalam Wilayah Menara, perlahan Wilayah Menara mengecil, para monster berhasil menembus penghalang, tempat paling aman hanyalah pusat Wilayah Menara Sihir.


Orang-orang yang berada di luar pusat Wilayah Menara hanya bisa bersembunyi untuk bertahan hidup. Ancaman datang dari monster dan para bandit. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan membunuh.


Hela, Naura, dan Legarde bersembunyi di gua bawah tanah, ini gua yang ditemukan Hela sebelumnya. Namun, ada yang berbeda dengan kondisi mereka saat ini. Legarde lebih aktif berburu sendirian, sedangkan Hela menjaga gua bahwa tanah dan melingungi Naura.


Penyebabnya adalah Naura yang sedang hamil. Pertama kali Hela mendengar kabar ini yaitu pada saat 2 minggu setelah ia tersesat di hutan 9 bulan lalu. Hela terkejut dan mencoba membunuh orang yang menghamili Naura. Namun, Naura menjelaskan bahwa Legarde yang melakukannya, hubungan antara mereka atas dasar saling menyukai. Hela sedikit lega mendengarnya, tetap saja ia kesal melihat Naura yang tidak berdaya seperti sekarang.


Seiring berjalannya waktu, Hela mulai menerima keadaan Naura, ia akan berusaha keras untuk melindungi Naura dan anaknya. Hela sudah bisa berpikir secara rasional, tak seperti anak seusianya.


"Hela." Naura memanggilnya sembari berbaring dengan perut yang besar.


Hela mendekatinya, senyumnya begitu natural, menunjukan betapa ia sangat menyayangi Naura.


"Mendekatlah." Naura menarik tangan Hela ke perutnya.


Hela merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam, tangannya seperti sedang bersentuhan dengan tangan lain dari dalam perut.


"B-bayinya menyentuhku!" Hela sangat antusias dengan momen ini.


Naura sangat senang bisa melihat kembali Hela yang polos seperti dulu, seperti anak-anak pada umumnya.


"Sekarang, tempelkan telingamu."


Hela mendekatkan kepalanya ke perut Naura. Ia membenamkan wajahnya kemudian mengendusnya.


Aroma ini ... aku menyukainya.


Ia menempelkan telinganya.


Terdengar suara dua detak jantung dari dalam perut Naura. Indera Hela meningkat seiring bertambahnya kemampuan fisik. Ia bisa dengan mudah mendengar apa yang ada di dalam perut Naura.


Ini artinya ... aku punya dua keponakan?!


Hela tampak gembira mengetahui hal ini.


Melihat Naura yang kebingungan, Hela berpikir bahwa Naura belum mengetahui hal ini.


"Kau mendengar dua detak jantung juga?" tanya Naura.


Hela terkejut. "B-bagaimana bisa?"


*Plak


Naura menepuk kening Hela.


"Itu karena aku yang mengandung mereka. Terkadang, detak jantung mereka terdengar olehku di waktu tertentu,"


"Naura, kau luar biasa!"


Naura tersenyum sambil mengelus kepala Hela.


"Hela,"


"...."


"Kalian adalah orang terpenting dalam hidupku, setelah perang ini selesai, siapa pun pemenangnya, tetap tak ada yang bisa memisahkan kita semua."


Mendengar itu, air mata Hela perlahan keluar, dadanya terasak sesak, ia tak bisa membendungnya.


"Naura." Hela memuluk lembut Naura.


"Iya, aku di sini, Hela,"


"Naura ...."


"Kita akan selamanya bersama."


Momen itu terasa indah, hubungan keduanya semakin dalam sampai tak akan pernah bisa dijangkau oleh siapa pun.


Setiap tempat yang disinari oleh matahari, pasti akan ada badai yang mengikutinya.


 -----------------------------


Markas utama Red Heart.


Ada sebuah kelompok yang sedang melihat kondisi Markas Utama Red Heart. Kelompok itu bersembunyi di pepohonan dan semak-semak. Kelompok itu terlihat bersiap-siap untuk menyerbu markas utama Red Heat.


Legarde adalah salah satu dari kelompok itu. Ini merupakan kelompok yang terdiri dari Guild Bebas, guild yang pernah menjalin hubungan dengan Naura, serta para pejuang dari desa-desa di Wilayah Menara Sihir. Tujuan mereka hanya satu, yaitu kehancuran Red Heart.


Legarde begitu yakin bisa membalaskan dendamnya, matanya berapi-api melihat musuh di depan mata. Kepergian Legarde tanpa sepengetahuan Hela dan Naura. Jika ia memberitahunya, kedua orang itu tidak akan mengizinkannya.


Markas musuh terlalu tenang, tak ada penjaga maupun orang di sekitarnya, apa yang terjadi?


Secara bersamaan, keraguan muncul dalam hatinya. Legarde segera menuju ke pemimpin kelompok, Andre. Ia merupakan Warrior yang menggunakan sarung tangan besi.


"Tuan Andre, apa kau tak merasakan keanehan?"


"Kau benar, firasatku tidak enak,"


"Apa rencan kita?"


Andre berdiri dan mengangkat tangannya, kemudian ia berteriak, "Maju!'


"Huwaaaa!" Teriakan dari ratusan orang terdengar sangat keras.


Mereka berlari menuju markas utama. Legarde terbang sambil melihat situasi.


Bentuk markas mereka persegi panjang, namun memiliki 3 lantai. Aku tak merasakan tanda-tanda keberadaan musuh.


Legarde mendekat ke bagian atas bangunan.


Seluruh orang dari kelompok telah menerobos masuk ke dalam markas Red Heart. Sedangkan Legarde mulai menyusuri bagian atas sambil mendeteksi keberadaan yang mencurigakan.


Aku tidak yakin, tapi firasatku mengatakan jika sebentar lagi akan terjadi hal yang buruk.


Legarde mulai cemas. Ia terus mengaktifkan sihir deteksinya.


"Huh?!" Legarde merasakan aura mengerikan yang menusuk ke tubuhnya.


Tidak mungkin! Kenapa tiba-tiba muncul?!


Legarde langsung bergegas menuju ke depan bangunan untuk memperingatkan mereka yang ada di dalam.


"Berhati-ha--"


*Duuuuuuuuar!


Bangunan itu meledak.


"Agh!" Legarde terhampas ke dalam hutan.


Tubuhnya menghancurkan pohon-pohon hingga meninggalkan bekas bentuk jalan lurus.


Puing-puing bangunan berterbangan di mana-mana. Ledakan itu meninggalkan lubang besar sedalam 5 meter.


Legarde tergeletak, tubuhnya penuh dengan luka gores karena ranting pohon. Fisiknya tidak sekuat Hela dan Naura, ini adalah kelemahan terbesar Legarde.


*Bush!


Hembusan angin yang cukup kuat dari tempat ledakan.


Legarde bangkit dengan tubuh penuh luka. Organ dalam, tulang, semuanya rusak akibat benturan keras langsung ke pohon-pohon.


*Bruk!


Legarde tersungkur, tubuhnya tak sanggup berdiri.


"Heal."


Tak bisa berdiri, ia merangkak. Rasa penasaran memenuhi kepalanya, bahkan jika dia mati pun akan terasa sia-sia jika tidak melihat apa yang ada di bekas ledakan itu.


Aku yakin, mereka semua telah mati akibat ledakan itu.


Legarde terus merangkak hingga akhirnya sampai di tempat ledakan. Tak ada yang tersisa, hanya lubang dan tumpukan mayat di mana-mana.


"Ini ... sangat mengerikan." Legarde tak sanggup menahan mual ketika melihat potongan tubuh yang berserakan di mana-mana.


Kekuatan mengerikan seperti apa yang sedang kami hadapi sebenarnya?


"Wah, wah, ada satu semut yang selamat." Terdengar suara seorang pria dari belakang Legarde.


Aura mengerikan langsung menekan tubuhnya. Ia sama sekali tidak bisa bergerak, bahkan menoleh ke belakang pun tak bisa.


"Apa kau orang yang terbang tadi? Kau sangat beruntung bisa melihat kematian rekan-rekanmu,"


"S-siapa kau?!" Legarde ketakutan, namun ia tetap mencoba untuk melawan rasa takutnya.


"Sayang sekali, kau tidak bisa menyaksikan kematian orang-orangmu di perbatasan,"


Apa? Perbatasan?


Legarde langsung teringat dengan dua orang yang disayanginya.


"A-apa maksudmu, sialan!"


*Crack!


Tiga bilah besi panjang menembus perutnya.


Cakar? Hanya ada satu orang yang menggunakan cakar sebagai senjatanya. Tidak mungkin ....


"K-kau ...?"


"Kelonpok Red Heart telah terlebih dahulu pergi, kalian terlalu lemah dan bodoh."


Kesadaran Legarde mulai menghilang, rasa sakit di perutnya pun juga menghilang.


Aku ... akan mati di sini?


"Huh ... jangan bercanda kau, bajingan." Legarde menyeringai.


Tubuhnya diselimuti oleh energi sihir.


Orang misterius itu mencoba menarik senjatanya dari perut Legarde, namun Legarde menahannya.


"Kita berdua akan mati di sini!"


"Bajingan ini benar-benar gila!"


"Self Blast!" Legarde berteriak sekencang-kencangnya.


*Duuuuuuar!


Ledakan besar terjadi, kedua orang itu terjebak di dalam ledakan itu.


Sepintas Legarde mengingat Hela dan Naura.


Naura, Hela ... dan anakku ... aku minta maaf.


Legarde gugur dan meninggalkan keluarga kecilnya untuk selama-lamanya.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!