The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Kaisar Yang Bimbang



Ruangan di dalam istana.


Glenn membawa Alissa menemui Anna yang sudah menunggu di ruangan. Tentu Rose juga termasuk dalam daftar. Anna sudah menunggu di dalam ruangan dengan menundukkan kepalanya.


Dia adalah Kaisar Annatasya El-Zalbary?


Ini pertama kalinya Rose melihat wajah Anna sejak kematian Kaisar terdahulu. Dulu Rose pernah berkerja dengan Kaisar sebelumnya walau berjalan singkat.


"Selamat datang, Yang Mulia," sambut Anna.


Anna menuntun Alissa ke tempat duduk yang telah disediakan. Sebuah kursi mewah yang terlihat seperti singgahsana dengan meja, dan dua kursi biasa di hadapannya.


Alissa duduk di kursi mewah itu dengan elegan, sedangkan Glenn dan Anna duduk di kursi biasa di hadapannya. Rose berdiri di sebelah Alissa, hal itu membuatnya sedikit tertekan karena tatapan tajam dari kedua pasangan itu.


"Kalian melakukannya dengan baik, Glenn, Anna," ucap Alissa.


"Terima kasih, Yang Mulia." Keduanya kembali menundukkan kepala.


Informasi baru masuk ke dalam otak Rose. Posisi Alissa benar-benar di luar dari yang ia perkirakan. Semakin lama ia berada di sisi wanita itu, semakin banyak yang ia pahami.


"Apa ada pergerakan mencurigakan dari mereka?" tanya Alissa.


"Berkat bantuan Anda, semua berjalan dengan lancar," jawab Glenn.


Alissa menyeringai. "Walau kau melarangnya, aku tak bisa membiarkanmu melakukannya sendiri, kekuatanmu belum boleh diungkapkan."


Glenn terlihat sedikit terkejut. "J-jadi begitu, maafkan pola pikir Saya yang pendek ini, Yang Mulia. Tapi, Yang Mulia, tolong serahkan urusan ini pada kami."


Alissa melirik tajam ke arah Anna. Namun, Anna tak bergeming sedikit pun.


"Bicaralah, Anna. Aku ingin mendengar langsung darimu."


Anna terlihat gugup ingin mencurahkan pemikirannya. Di sisi lain, Glenn menggenggam tangannya dengan lembut.


Kaisar Muda itu melirik Glenn. Hal itu kembali mengembalikan kepercayaan dirinya.


"Yang Mulia, seperti yang Anda tahu, Kekaisaran saat ini dalam situasi yang sulit. Dari luar, mungkin akan terlihat baik-baik saja, tapi semua berbeda dengan apa yang terjadi di dalamnya."


Rose mengerti maksud Anna, ini tentang beberapa hal yang ia lihat tentang prilaku bangsawan tadi. Mereka adalah oposisi.


"Sepertinya Saya harus menceritakan sedikit tentang masalah ini," lanjut Anna.


Sejak kepemimpinan Ayah Anna, yaitu Kaisar Marcelio El-Zalbary, ia merupakan Kaisar yang naif dan mudah diperdaya oleh para bangsawan. Mereka bersikap seperti anjing yang menjilat kaki tuannya, kemudian mendengkur hingga sang tuan terpengaruh olehnya.


Pajak kerajaan meningkat, penduduk miskin semakin bertambah, dan korupsi di kalangan elit kerajaan. Kaisar mempercayai mereka begitu saja tanpa curiga.


Hal itu merusak pola pikir Kaisar. Sampai pada obsesinya pada Hutan Hijau yang penuh sumber daya, namun tak memiliki keberanian untuk menguasai mereka. Para bangsawan terus menekan secara halus, hingga muncul keberanian dan bekerja sama dengan Kerajaan Elf Tharasia.


Hingga Anna menjadi Kaisar, perubahan mulai terlihat, itu semua berkat teknologi dari Kerajaan Penyihir Maphas. Namun, di sisi lain para bangsawan tak menyukai Anna, karena tak bisa memperalatnya.


"Padahal dulu dia hanyalah gadis lugu penggila Pahlawan!"


"Ini semua karena kerajaan undead itu."


Begitulah para bangsawan yang mulai terancam posisinya saat ini. Sebagian besar bangsawan kekaisaran ingin Anna lengser sebagai Kaisar dan segera melalukan kudeta.


"Bangsawan yang menjadi otak dari semuanya, sudah pasti Keluarga Hart." Alissa menyimpulkan setelah mendengar cerita Anna.


"Benar, Yang Mulia."


"Tanpa bantuanku, apa kau yakin bisa mengalahkan mereka semua?" tanya Alissa dengan sedikit menekan nada di bagian akhir kalimat.


Rose yakin, walau Anna terlihat tak menunjukkan ekspresi secara langsung, ia tahu bahwa Anna tak yakin dengan jawaban yang ingin dia sampaikan.


"Anna, Glenn, kalian adalah pengikutku yang setia, apa pantas bagiku membiarkan pengikutku menghadapi masalah seperti ini?" tanya Alissa lagi dengan semakin menekankan suaranya.


"Kami minta maaf, Yang Mulia." Anna menundukkan kepalanya.


"Aku akan membantumu, tapi, aku benar-benar tersentuh dengan sikapmu sebagai seorang pemimpin yang ingin menyelesaikan segalanya dengan tanganmu sendiri."


Kebijaksanaan yang jarang sekali Beliau tunjukkan, kami memang tak pantas menerimanya.


Anna mulai paham dengan apa yang ia rasakan dari Alissa. Pada akhirnya ia menerima apa yang sepantasnya diterima seorang pengikut.


"Jika ingin melakukan serangan akhir, kau harus menyiapkan bukti kuat. Tentang informasi yang kuterima, sepertinya mereka mulai melakukan serangan halus," lanjut Alissa.


Serangan halus bukanlah sebuah serangan fisik, lebih tepat menyebutnya sebagai membangun kepercayaan publik.


"Penduduk sejati Kekaisaran tak akan termakan oleh omong kosong seperti itu. Para penghianat akan menunjukkannya sendiri di hadapan para penduduk." Anna terlihat kembali dengan kepercayaan dirinya.


Anna terkejut mendengar Alissa memanggil dengan gelarnya sebagai Kaisar.


"Jadi, apa yang Anda rencanakan, Yang Mulia?" tanya Glenn.


"Dengarkan baik-baik."


Malam itu berjalan cukup panjang. Alih-alih menikmati pesta, mereka berdiskusi panjang tentang rencana. Anna dan Glenn terlihat sangat serius.


Di sisi lain, Rose hanya mendengarkan semua percakapan mereka. Ia terkejut dengan kesigapan Alissa dalam mengatur rencana.


Beliau menjelaskannya dengan rinci, benar-benar luar biasa. Entah sosok seperti apa orang yang kulayani ini, tapi aku sekarang adalah pengikutnya. Seluruh tubuh ini, aku bersedia menyerahkannya.


"Rose?" Alissa memanggil Rose sembari menunjukkan ekspresi bingung.


Tanpa disadari, Rose berekspresi aneh sembari memikirkan hal itu.


Dengan sigap Rose kembali ke sedia kala. "A-ah, apa Anda memerlukan sesuatu, Nyonya?"


Di tempat lain, para tamu telah meninggalkan pesta. Itu menjadi pesta yang kurang berkesan karena Tuan Rumah tak sepenuhnya berada di lokasi. Beberapa menganggap itu tak sopan, sebagian lainnya menganggap ini adalah sikap yang harus diambil Kaisar selaku bawahan Kerajaan Penyihir Maphas.


"Ayah, apa Kakak akan segera keluar?" tanya seorang gadis muda dengan nada penasaran.


Sang Ayah yang terlihat khawatir pun menjawab, "Kakakmu sudah menjadi orang yang sangat berpengaruh, bahkan aku sendiri tak bisa menyentuhnya. Dia akan segera keluar."


Mereka adalah keluarga Duke Aleister. Sang Duke, Magnan Aleister, dan putrinya, Clara Aleister. Keduanya merupakan ayah dan adik Glenn.


Duke memikirkan kesalahannya di masa lalu, ketika Glenn pergi dan meninggalkan segalanya, bahkan menanggalkan nama keluarganya. Mereka semua terpukul dengan keputusan Glenn, bahkan Clara sampai kehilangan semangatnya selama bertahun-tahun.


Jauh hari sebelum pesta pernikahan. Kediaman Duke Aleister.


Kediaman normal seperti biasanya, para pelayan bekerja, Duke Magnan memeriksa dokumen, dan Clara yang tak diketahui sekarang ada di mana.


Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Duke yang sedang memilah dokumen merasakan sesuatu dari luar rumah, sedangkan siluet gadis muda juga menunjukkan reaksi serupa.


Seorang pria berdiri di depan rumah dengan sengaja melepaskan auranya. Magnan melihatnya dari jendela kantor, sorot matanya sangat tajam, orang yang melakukan itu tak lain adalah putranya sendiri, Glenn Aleister.


Glenn memperhatikan kediaman yang telah ia tinggalkan selama bertahun-tahun.


Tak ada yang berubah, apa mereka benar-benar mengharap aku kembali?


Pria itu mulai melangkahkan kakinya masuk ke kediaman Duke Aleister. Namun, baru sampai pada langkah pertama, sesuatu muncul.


"Itu?" Glenn melihat ke arah depan.


Lima anak panah yang sepenuhnya terbuat dari api mengarah tepat ke arahnya dengan sangat cepat. Glenn menghindari semua anak panah itu dengan gerakan yang luar biasa, bahkan ada momentum yang seharusnya mustahil untuk menghindarinya.


"Wah, seperti yang diharapkan dari Kakak." Muncul bayangan dari dalam rumah. Siluet seorang wanita yang berjalan perlahan keluar. "Kenapa kau kembali?"


Glenn sedikit terkejut melihat siapa sosok itu. Hanya satu pertanyaan yang ia lontarkan, "Apakah itu kau, Clara?"


Rambut hitam panjang yang dibiarkan terkibar, ekspresi dingin yang ditunjukkan, semuanya sangat berdeda. Glenn sama sekali tak mengira perubahannya sangat signifikan.


"Tak akan kubiarkan kau masuk ke sini." Clara menyiapkan empat lingkaran sihir dengan warna yang berbeda-beda dalam waktu bersamaan.


"Quadruple Spell Caster?"


Sebuah kemampuan untuk menggunakan empat sihir berbeda dalam waktu bersamaan. Ada dua jenis penyihir dalam menggunakan rapalan ganda. Penyihir yang bisa menggunakan rapalan ganda hanya dengan satu lingkaran sihir, mereka merupakan penyihir expert. Sedangkan satu lagi adalah penyihir seperti Clara yang menggunakan banyak lingkaran sihir tergantung jumlah spell gandanya.


Tetap saja, Clara masih muda, dan dia sudah bisa menggunakan rapalan ganda.


Glenn tersenyum seakan tak percaya melihat apa yang ada di depannya.


Gadis yang dulunya periang, kini diselimuti kegelapan, bahkan kemampuan sihir yang luar biasa. Apa dia benar-benar adikku?


Glenn berlari ke arah Clara tanpa menggunakan senjata. Ia bertujuan untuk membatalkan rapalan sihir Clara, karena Glenn tak berpikir untuk menghancurkan kediamannya.


Empat lingkaran sihir tiba-tiba menghilang, secara mengejutkan Clara melompat ke arah Glenn dengan memunculkan pedang yang diselimuti api dari tangannya.


Jaraknya sudah sangat dekat, Glenn tak mengira Adiknya akan melakukan serangan tipuan.


Jadi begitu, ya?


"Carla, seorang Magic Combat."


Bersambung ....