The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Pulang



Beberapa jam kemudian.


Aku dan keenam bersaudari terbang dengan kecepatan penuh. Seharusnya aku sudah muntah jika terbang dengan tubuh selemah ini, namun Elina merapalkan sihir penguat tubuh secara berkala padaku.


Irene membawaku dengan monster panggilan miliknya, King Wyvern. Evolusi tertinggi dari Wyvern. King Wyvern mampu bertarung seimbang dengan Naga bahkan ada beberapa pertarungan dimenangkan oleh King Wyvern. Kekuatan dan kecepatannya sangat luar biasa, bahkan mengimbangi kelima NPC lainnya.


Irene, penjaga lantai 8. Merupakan NPC level 1000, ras Iblis dengan job class Archer dan Tamer. Irene sangat kuat jika bertarung secara kelompok. Penampilannya sendiri seperti wanita tomboy, dengan rambut merah yang diikat ke belakang, tubuhnya juga sedikit berotot, harusnya aku menambahkan job Warrior padanya.


Senjata utama Irene adalah Immortal Arrow. Sebuah panah yang memilki critical damage hingga 90%. Panah itu muncul jika Irene ingin menggunakannya.


Huhuhu ... aku penasaran bagaimana reaksi Irene saat melihat pistol buatan si penguntit. Aku yakin Irene akan tergila-gila dengan pistol, karena pistol tidak ada di Magic Infinity.


Irene terus memekukku dengan erat. Hal itu membuatku terasa sesak.


"Apa Ibu tidak nyaman dengan Wyvern ini? Saya akan segera membunuhnya dan menggantinya dengan Gold Dragon,"


Hei, hei! Apa kau tidak menyayangi peliharaanmu sendiri?!


"T-tidak, aku baik-baik saja."


Kami mulai memasuki wilayah Kerajaan Maphas.


"Ibu, dataran itu ... di sana bekas mayat Naga dan Manusia." Irene menunjuk ke bawah.


Aku tak bisa melihat jelas karena mataku saat ini sama seperti mata normal pada umumnya.


Jadi Gereja menyerang langsung, ya. Itu tindakan pengecut!


"Irene, apa kau bisa merasakan energi dari hutan di depan sana?"


Hutan Hijau terlihat tenang seperti biasa, aku sama sekali tak mengetahui keadaan di sana.


"Aku hanya merasakan beberapa Beast dan dua orang Manusia di hutan. Namun, ada banyak kehidupan di bawah tanah,"


Apa mereka mengungsi di tempat para Dwarf?


Kami tepat berada di atas Hutan Hijau.


Pelukan Irene semakin erat.


"Semuanya, ayo kita ke bawah!" perintah Elina pada adik-adiknya.


Irene melompat dari King Wyvern sambil membawaku. Kami meluncur dengan sangat cepat.


Aku ingin berteriak!


*Brak!


Kami mendarat dengan sangat mencolok.


Aku memeriksa seluruh tubuhku.


Huh, tidak ada yang terpisah.


Irene menurunkanku.


Ada seseorang yang berdiri tepat di depan kami.


Dia ... si penguntit. Siapa orang di belakangnya?


"Maafkan Saya yang tidak mengenali aura Anda, Yang Mulia,"


Aku berjalan menuju si penguntit.


"Tidak apa-apa, Glenn, banyak hal yang sudah terjadi padaku selama ini."


Pandanganku tertuju pada orang yang berdiri di belakangnya.


Rasanya tidak asing, di mana aku pernah bertemu dengannya?


Orang itu mewaspadiku.


"Yang Mulia ... dia adalah Pahlawan-- tidak, lebih tepatnya mantan Pahlawan," ucap Glenn.


Huh? Tunggu, tunggu! Dia Pahlawan? Pahlawan yang waktu itu?!


"Zain, berlututlah, Beliau adalah orang yang harus kau layani mulai dari sekarang,"


Pahlawan terlihat enggan melakukan perintah si penguntit.


Dia terlihat berbeda dari yang sebelumnya, apa sudah terjadi sesuatu dengannya?


"Ibu, aku akan menghabisi manusia kurang ajar itu." Rayna mengekuarkan cakar panjangnya.


*Bum!


Keenam bersaudari memancarkan aura yang sangat besar. Efek sihir penguat Elina menahan efek aura dari mereka.


Dengan wajah tegang, Pahlawan berlutut di hadapanku. Mungkin efek aura dari keenam bersaudari membuatnya goyah.


"Glenn, di mana yang lainnya?"


"Mereka semua berada di kota bawah tanah, Yang Mulia, Tuan Raymond memperlebar kota bawah tanah,"


"A-apa Guru bilang?" Pahlawan terlihat syok mendengar perkataan si penguntit.


Huwaa! Dia tidak tahu tentang keterlibatan Ray dengan Kerajaa Maphas!


"Apa ada masalah dengan itu, Zain?"


"T-tidak ...."


Dia terlihat curiga. Sepertinya aku harus mengawasinya, mungkin ini siasat Gereja yang sengaja mengirimnya sebagai mata-mata.


"Yang Mulia, siapa para wanita yang mendampingi Anda?"


"Me-"


"Hei, jangan samakan aku dengan wanita-wanita rendahan di luar sana." Irene langsung memotong perkataanku.


"Irene! Kau tidak sopan pada Ibu!" teriak Elina.


"M-maaf, Kakak!"


"Minta maaf pada Ibu!"


"Kau sudah dengar? Mereka adalah anak-anakku,"


"A-anak ...." Penguntit terkejut dengan perkataanku.


Hei! Mereka bukan darah dagingku! Jadi jangan tatap aku seperti itu!


"Ibu, ada satu lagi makhluk rendahan yang sedang menuju ke sini,"


Aku sama sekali tak merasakan apa pun. Bahkan si penguntit dan Pahlawan juga demikian.


*Wush!


Seseorang mendarat dengan kedua sayap hitam yang terbuka.


Dia, 'kan ...?


"Salam, Yang Mulia." Orang itu menundukan kepalanya.


Malaikat bersayap hitam pemimpin Sekte Hitam. Apa yang dia lakukan di sini? Terlebih lagi dia sudah tahu identitasku.


Elina menarikku ke belakang. "Ibu, menjauhlah, wanita itu berbahaya,"


"Ibu ... katanya? Yang Mulia, apa Anda ...." Wanita itu berjalan menuju ke arahku.


*Wush!


Cakar Rayna berada tepat di leher wanita itu, lubang dimensi milik Delila muncul di perut wanita itu, akar pepohonan dari Elina bersiap menusuk wanita itu, dan Irene bersiap melepas anak panahnya, kedua NPC lainnya bersiap-siap di depanku.


Kedua pria di dekatku hanya terdiam dengan wajah tegang.


Wanita itu terlihat sedikit panik.


"Yang Mulia, tolong perintahkan anak-anak Anda untuk menurunkan senjata mereka. Saya tidak ingin tempat ini hancur,"


Datang dari mana kepercayaan dirinya itu?


"Turunkan senjata kalian,"


"Baik!"


Mari kita lihat, apa yang dia inginkan.


Wanita itu berjalan ke arahku. NPC yang lainnya masih mewaspadainya.


Ia mengangkat kedua tangannya ke depan. Seluruh NPC bersiap-siap untuk menyerangnya.


Huh?


Pelukan. Benar, wanita itu memelukku.


Aku merasakan sesuatu membasahi leherku.


Dia menangis.


"Yang Mulia, akhirnya Anda terbebas dari segel itu,"


Apa yang harus kulakukan?! Aku lupa namanya!


"A-aku senang melihatmu baik-baik saja,"


"Yang Mulia, Pilar ke Satu juga tak sabar ingin melihat Anda,"


Pilar ke Satu? Ah, Putri Sharah juga pernah mengatakan itu. Malaikat Hitam di depanku ini pilar ke Dua.


Dia sepertinya ingin membawaku ke Sekte Hitam secepatnya.


"Nyonya Abigail!" Terdengar suara teriakan seorang wanita dari kejauhan.


Abigail! Benar, namanya Abigail!


Wanita itu ternyata Putri Sharah.


Putri Sharah terkejut melihatku. Itu karena ia sama sekali tidak bisa merasakan auraku.


"S-salam, Baginda Ratu,"


Sangat tidak nyaman di sini, aku ingin bertemu Erish.


"Putri Sharah, antarkan aku ke kota bawah tanah, kumpulkan semua orang-orang penting,"


"Baik, Baginda,"


"Apa Raja Iblis ada di sini?"


"Beliau tidak ada di sini, namun Saya akan membawanya dengan teleportasi,"


"Lakukan secepatnya, ada hal penting yang ingin aku katakan pada kalian semua,"


Lebih cepat aku mengatakannya, maka akan lebih baik untuk mereka.


"P-permisi, Nona Keres." Pahlawan memanggilku.


Orang-orang memancarkan hawa membunuh pada Pahlawan.


"Kalian tenanglah." Aku mengayun kedua tanganku ke depan. "Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan, Pahlawan?"


"Apa Anda tahu di mana Nona Hart?"


Huh?


Terlalu sibuk memikirkan kekuatanku yang hilang serta perang besar sehingga membuatku melupakan sesuatu.


Aku melupakan Alissa Hart!


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!


Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :


https://saweria.co/hzran22


Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.