The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Rancangan Kota



Chapter 43 : Rancangan Kota


Hari sudah hampir siang. Aku masih terbaring di tempat tidurku. Kepalaku masih memproses semua cerita dari Kepala Akademi, Hela Naura Legarde. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan kisah hidupnya, namun, di bagian itu, aku sungguh terkejut, ternyata wanita itu muridku-- maksudku, Keres.


"Huuuh ...."


Aku masih belum bisa mendeskripsikan orang seperti apa Keres sebenarnya, rasanya akan lebih berbeda jika misalnya aku bertemu dengannya secara langsung.


Namun, tujuan Kepala Akademi terlalu naif. Kau tidak akan bisa mengendalikan dunia dengan cara seperti itu. Bahkan dia belum bisa meredakan konflik di dalam Kerajaan Mystick. Sangat egois.


"Ibu ... apa Anda masih lelah?" Delila duduk di sudut ruangan sambil memantau situasi dengan sihirnya.


"Iya."


Sudah 3 jam sejak Kepala Akademi selesai bercerita. Kami dibawa kembali ke kamar. Itu karena mereka-- para Guru Elit itu masih tidak yakin dengan kami. Kepala Akademi tertidur setelah menerima efek item. Efek sebenanrnya ialah Player akan dipaksa log out selama 24 jam. Jika aku benar, wanita itu akan bangun 21 jam lagi. Para Guru Elit akan memutuskan hukuman pada kami jika dia tidak bangun dalam waktu yang ditentukan.


"Ibu, item komunikasi menunjukan reaksi."


Seseorang ingin berbicara denganku?


Aku berjalan menuju meja tempat cermin kecil itu diletak.


Seperti cermin tangan pada umumnya, orang-orang tak akan menyadari bahwa cermin itu adalah sebuah item komunikasi.


Pantulan bayangan pria terlihat.


Si penguntit, Glenn.


"Salam, Yang Mulia." Glenn menundukkan kepalanya.


Aku tidak nyaman dengan perlakuan seperti itu. Karena ini sebuah keharusan, maka aku tak bisa mengecewakan mereka. Di dalam lubuk hatiku, aku ingin memiliki teman ngobrol yang bisa membuatku berbicara dengan leluasa.


"Eheem ... apa ada hal yang ingin kau sampaikan, Glenn?"


"Yang Mulia, Saya dan Zain telah menyelesaikan rancangan untuk pengembangan area Kerajaan Penyihir Maphas,"


Baru beberapa bulan aku meninggalkan Kerajaan Maphas, mereka sudah bekerja keras membuat rancangannya. Dua orang ini kemungkinan dari dunia yang sama denganku, sayangnya bukan seorang Player. Yah, aku masih menaruh kecurigaan terhadap Glenn.


"Lalu, rancangan seperti apa itu?"


"Ini memerlukan beberapa lahan kosong, jadi kami meminta izin kepada Anda untuk membersihkan beberapa area Hutan Hijau,"


Wah, ini terlalu rumit jika kuputuskan dengan terburu-buru.


"Jika masalah lahan, coba kau diskusikan dengan Erish, itu merupakan tanah leluhur mereka. Kita tidak bisa melakukan hal yang semena-mena,"


Mau bagaimanapun, Hutan Hijau menyimpan banyak sejarah. Di saat pembangunan Ibukota Maphas, wajah mereka terlihat kecewa ketika kami membersihkan pohon-pohon itu.


"Baik, Yang Mulia. Ngomong-ngomong, sebentar lagi rancangan akan terkirim ke tempat Anda dengan teleportasi barang,"


Tak lama kemudian, muncul lingkaran sihir kecil di meja tempatku. Terlihat beberapa lembar kertas ikut muncul dari sana.


Ini rancangannya, ya?


Aku memeriksa lembaran kertas itu.


Dalam beberapa saat, aku menyadari, ada sesuatu yang tidak asing dari rancangan ini.


Bangunan tinggi, fasilitas pendukung yang ada di duniaku dulu. Ini di luar ekspetasiku. Namun, rencana ini akan menggunakan hampir seluruh area Hutan Hijau.


Terlebih lagi ... dari mana uangnya?! Bisnis senjata yang kami jalankan dengan Asosiasi Luxtier bahkan tidak akan cukup. Apa kami harus meminjam uang? Dengan hal yang modern ini, aku yakin kami bisa mendapat keuntungan lebih banyak. Namun, hal itu akan menurunkan citra Kerajaan Maphas.


"Glenn, simpan rencana di beberapa daerah lain menjadi wacana untuk sementara waktu. Aku ingin fokus pembangunan Ibukota, dan beberapa area di sekitar,"


Jika perkembangan tak terkendali seperti itu, kerajaan lain akan menaruh perhatian penuh pada kami. Mereka pasti akan berbondong-bondong menjalin bisnis dengan kami. Itu sedikit mengangguku. Bisa saja ada beberapa dari mereka dikirim dari pihak Gereja.


"Dan juga, aku ingin penambahan satu kota baru, jangan terlalu mencolok. Bicarakan tentang biayanya dengan Erish," lanjutku.


"Baik, Yang Mulia."


Ibukota Maphas merupakan tempat yang tepat untuk memulai revolusi modern. Secara perlahan, aku akan mencangkup area yang lebih luas lagi.


"Yang Mulia, ini soal senjata yang sedang Saya kembangkan. Saya menemukan sebuah inovasi baru,"


"Oho ... lanjutkan,"


"Dengan senjata ini, kita tidak perlu menggunakan banyak pasukan seperti perang sebelumnya. Senjata ini cukup untuk menghabisi seluruh pasukan musuh,"


Senjata apa yang dia maksud?


"Saya cukup yakin, bahan dasar pembuatannya sangat banyak, bahkan belum tersentuh sekali pun," lanjut Glenn.


"Bahan apa itu?"


"Saya menyebutnya, uranium,"


Heh?


"Ada banyak bahan yang bisa kita olah, salah satunya uranium. Kita bisa menciptakan sebuah bom atom yang bisa meledakan seluruh pulau." Glenn menjelaskan semuanya dengan wajah penuh semangat.


Bajingan gila ini, dia ingin membuat kiamat dunia?!


"Sepertinya itu terlalu berlebihan,"


"Apa maksud Anda, Yang Mulia?"


"Di masa depan, mungkin senjata ini akan disalahgunakan, bisa saja orang-orang akan menggunakannya untuk kepentingan pribadi,"


"Y-yang Mulia ...." Glenn menatapku aneh. "Anda memang luar biasa, sudah memperkirakan hal seperti itu di masa depan. Bahkan Anda sudah mengetahui dampak senjata ini walau belum pernah melihatnya,"


"Iya, itu ...."


Itu yang digunakan di duniaku juga!


"Eheem ... pokoknya, lakukan sesuai dengan apa yang kuperintahkan. Jangan melakukan tindakan bodoh,"


"Baik, Yang Mulia."


Aku senang dengan semangatnya dalam berinovasi, tapi di sisi lain aku cemas karena dia akan berlebihan dalam memanfaatkan apa yang aku berikan padanya.


"Kalau begitu, percakapan ini berak--"


"Tunggu, Yang Mulia!" Glenn terlihat mengangkat cermin teleportasi di tangannya.


"A-apa lagi?"


"Saya hampir lupa melaporkan hal ini,"


"Laporkan,"


"Gereja Suci telah memanggil Pahlawan yang baru."


Pahlawan baru? Ini sedikit mengejutkanku. Mereka benar-benar tidak membutuhkan Zain lagi.


"Apa yang harus diwaspadai dari Pahlawan baru ini?"


"Masih belum ada informasi pasti. Gereja hanya mengumumkan tentang Pahlawan baru saja, tanpa hal lain di dalamnya. Mata-mata kita masih mengawasi gerak-gerik mereka,"


"Tetap awasi mereka,"


"Baik, Yang Mulia."


Apa yang akan mereka lakukan dengan Pahlawan baru ini? Firasatku sedikit tidak enak.


Komunikasi kami pun berhenti. Aku kembali ke tempat tidurku. Tubuhku benar-benar lelah, sungguh tidak menggambarkan sosok pemimpin terkuat.


Aku kembali terpikirkan dengan cerita dari Kepala Akademi. Terutama dengan sistem. Dari ceritanya, Keres terlihat kesal dengan sistem ini, dia sudah menduga bahwa hal itu akan datang.


"Membatasi perkembangan, ya?" Kata dalam hatiku tak sengaja terucap.


"Ada apa, Ibu?" Delila melihatku kebingungan.


Gadis kecil itu benar-benar menggemaskan. Tidak salah aku membuatnya dengan wujud anak umur 15 tahun.


"T-tidak ada."


*Duar!


Terdengar ledakan besar dari luar akademi.


Aku langsung tebangun.


"Sepertinya kelompok pemberontak itu kembali beraksi," ucapku.


"Tapi, kali ini mereka datang dengan persiapan, Ibu,"


"Ohoo ... akhirnya aku bisa menonton pertunjukan bagus."


Yah, sembari mengisi waktu yang membosankan ini.


Delila menyiapkan beberapa portal transparan untuk melihat situasi di luar.


"Ibu, Kak Elina meminta izin untuk datang ke Akademi Sihir,"


Elina? Apa yang ingin dia lakukan?


"Izinkan. Aku rasa dia melakukan sesuatu yang dapat menguntungkan Kerajaan Maphas,"


"Baik, Ibu."


Sekarang saatnya, aku ingin melihat anak-anak itu bertarung.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!