
Chapter 32 : Bimbang
Aku tak yakin bisa melawan Raja Iblis, dan sekarang mereka memintaku untuk mengalahkan musuh yang sama kuatnya seperti Raja Iblis. Apa yang ada di pikiran orang-orang ini?!
"Kita harus mundur," ucap Uskup Agung.
"Bagaimana dengan perang ini?"
"Kita sudah menang, hampir seluruh pasukan mereka musnah, bahkan rakyat Kerajaan Penyihir Maphas juga hampir binasa,"
Aku sama sekali tidak tahu siapa Iblis sebenarnya di sini.
Abbadon menatap kami.
Mereka halangan terakhir kami, mustahil pergi dari sini tanpa bersentuhan dengan mereka.
*Duar!
Terdengar ledakan yang sangat keras dari atas.
Beberapa Naga Putih berjatuhan dengan sayap yang terbakar.
Bala bantuan musuh lagi?
Sebuah kilatan listrik muncul di tanah.
*Brak!
Seseorang mendarat dengan diikuti kilatan petir yang menyambar.
"Huwaaah! Sihir aneh apa yang digunakan Nona Maryna barusan?! Aku sedikit malu dengan kedatangan yang sangat mencolok seperti ini." Suara seorang wanita yang turun dari kilatan petir.
Tubuhnya sedikit pendek. Dia memiliki sepasang telinga kelinci dan rambut berwarna merah muda.
Apa itu manusia setengah binatang? Walau tubuhnya kecil, namun aku bisa merasakan kalau wanita ini sangat kuat. Bahkan setara dengan Abbadon.
"Hoho, akhirnya kau datang, Nona Melissa,"
"Kami hanya ingin memeriksa keadaan, Tuan Abbadon,"
Ini jelas bala bantuan musuh.
Situasi di atas masih belum terkendali. Seseorang menyerang pasukan Naga Putih. Banyak orang-orang kuat muncul dari pihak musuh.
"Jangan panik, Saint Luna akan datang," ucap Uskup Agung.
Saint Luna? Siapa dia? Aku kira seluruh Saint sedang melawan Panglima Iblis sekarang.
Secara mengejutkan, Blues berdiri dengan tubuh penuh luka.
Blues tersenyum kecil. "Aku merasakan wanita itu akan segera datang,"
Wanita kelinci itu mendekat ke arah Blues.
*Bugh!
Ia memukul wajah Blues hingga wajahnya sangat sulit untuk dikenali.
"Pahlawan, kita akan pergi saat Saint Luna datang, biarkan dia mengurus orang-orang ini,"
"A-apa maksud Anda?!"
"Kau ingin tinggal?"
"Tentu saja! Aku akan membantunya!"
"Baiklah, akan kuserahkan padamu,"
*Wush!
Seseorang datang mengendarai burung elang raksasa. Seorang ksatria yang mengenakan zirah berwarna emas. Warna yang sangat mencolok. Dia menggunakan senjata tumpul seperti tongkat besi.
Apa dia Saint Luna yang dia maksud?
Lingkaran sihir muncul di bawah kaki Uskup Agung dan Blues.
"Anda telah bekerja keras, Tuan Blues,"
"Aku serahkan padamu, Luna,"
Uskup Agung dan seluruh pasukan yang masih hidup menghilang, termasuk Nona Eline dan Nona Licia.
Aku merasakan sedikit energi sihir dari Saint Luna.
Abbadon menodongkan pedangnya ke arah Saint Luna. "Hei, aku tidak perlu boneka sepertimu di sini,"
Boneka?
"Akan kutunggu sampai tubuh aslimu tiba." Abbadon duduk menyilang sambil melipat kedua tangannya.
Saint Luna melihat ke arahku.
Walau wajahnya tak terlihat, aku yakin dia sedang memperhatikanku.
"Aku tak ingin membuang-buang waktu, majulah kalian berdua,"
Abbadon kembali berdiri.
"Nona Melissa, aku menyerahkan boneka itu padamu,"
"Baiklah,"
Keduanya bersiap dalam posisi masing-masing. Saint Luna memutar-mutat tongkatnya. Wanita kelinci memasang kuda-kuda bertarung.
Wanita kelinci itu sepertinya ahli bela diri. Mungkin aku bisa mempelajari sesuatu darinya.
Wanita kelinci mulai bersiap untuk melompat.
*Wush!
Gerakannya sangat cepat.
Di mana dia sekarang?
*Brak!
Sebuah serangan dilancarkan dari depan Saint Luna.
Wanita kelinci sudah berada tepat di depannya. Ia melayangkan pukulan yang sangat cepat.
Saint Luna tak melakukan pergerakan apa pun. Dia hanya menerima semua pukulan itu dengan zirahnya.
Walaupun hanya tubuh palsu, tidak mungkin dia sengaja menghancurkannya, 'kan?
Wanita kelinci terus mendaratkan pukulannya pada Saint Luna.
Pukulannya benar-benar berbeda, setiap gerakan yang dia lakukan membentuk sebuah pola. Rasanya seperti melihat Master Bela Diri yang sedang memperagakan teknik di depan murid-muridnya.
Bahkan zirah Saint Luna tidak tergores sedikit pun.
*Duar!
Ledakan terdengar dari atas.
Aku yakin pasukan Naga Putih telah kalah, tapi, ledakan apa itu?
"Jadi begitu, tubuh aslimu sedang bertarung melawan Maryna di atas, ya. Kuakui, Maryna jauh lebih kuat dariku sekarang," ucap Abbadon.
Asap hitam di atas menghalangi pandanganku. Seperti apa pertarungan mereka?
Abbadon langsung bergerak menuju Saint Luna yang palsu.
Tak akan kubiarkan!
Aku menghalangi jalan Abbadon.
"Hoh ... sepertinya kepercayaan dirimu telah muncul, ya, Pahlawan,"
Aku tahu Saint Luna palsu itu tak akan mudah dihancurkan, tapi, aku tak ingin menjadi penonton di sini!
"Serang aku dengan seluruh kemampuanmu, Pahlawan!"
Aku langsung melompat menuju Abbadon dengan pedang yang kugenggam erat.
"Light Slash!" Aku menebaskan pedanh cahaya.
Seranganku berhasil memberinya beberapa luka gores.
Sepertinya dia tidak bisa membaca serangan Light Slash milikku. Efek cahaya yang keluar dari pedangku membuatnya buta untuk sesaat. Jika tebakanku benar, Abbadon tidak memiliki resistensi terhadap cahaya, terutama di matanya.
Aku terus mengulangi Light Slash.
Abbadon terus menyerang secara membabi buta. Walaupun begitu, kekuatan serangannya sangat mengerikan. Aku sangat sulit menghindar sambil melakukan Light Slash.
Sial! Hanya ada aku dan Saint Luna di sini. Aku perlu support seperti Nona Emina di sisiku.
"Bajingan! Kau terus menyerang seperti ini! Bertarunglah layaknya seorang pria!"
Jika aku melakukan itu, maka aku akan mati!
Abbadon terlihat seperti menyerang secara sembarangan, namun, jika diperhatikan secara seksama, serangannya selalu mencangkup area kepala hingga perutku, dia menambah kecepatannya sehingga terlihat seperti serangan acak.
Aku sudah tidak bisa mempertahankan Light Slash lebih lama lagi. Tubuh Abbadon sangat keras, seranganku hanya memberinya luka gores biasa.
Jika aku menyerang dengan pedang sihir, kemungkinan sangat kecil untuk mengalahkannya. Satu-satunya hanya dengan serangan seperti Light Slash!
Patience Skill!
"Lightning Movement!"
Aku terus menambah kecepatanku sehingga tanganku mengeluarkan percikan api.
*Crack!
Seranganku berhasil membuat luka yang cukup dalam.
Kepalanya, aku harus mengakhiri ini dengan menargetkan kepalanya!
Aku menunggu celah untuk memotong kepalanya.
Abbadon cerdik, dengan kecepatan tangannya, aku tak menemukan celah untuk menyerang kepalanya. Jika aku memiliki tinggi yang sama dengannya, mungkin aku bisa memotong langsung kepalanya.
Dia tetap menjaga postur tubuhnya walau kakinya menerima banyak luka. Sepertinya dia tahu jika tubuhnya goyah, dia akan dipojokan olehku.
Aku menggeser posisiku ke kiri.
Ada sedikit celah di bahunya kanannya, akan kuserang!
"Hiyaaakk!"
*Brugh!
Sesuatu menghantam tepat ke tulang rusuk sebelah kananku.
Tubuhku terhempas cukup jauh.
Sangat menyakitkan!
"A-apa yang terjadi?"
Abbadon telah melepas pedangnya.
Ternyata dia telah menunggu momen saat aku menargetkan bahu kanannya. Di saat pedangku menancap di bahunya, Abbadon menyadari posisiku dan langsung menyerangku.
"Aku sudah bilang padamu, bertarunglah seperti seorang pria. Fuh ... kau adalah Pahlawan terlemah,"
"Apa yang kau ketahui tentangku, Iblis sialan! Kenapa kalian menyerang Manusia dan ras lainnya?! Jika kalian tidak melakukan kejahatan itu, maka dunia ini akan damai!"
Semua yang ada di kepalaku, kuluapkan padanya.
"Hah ... jangan bercanda kau, bajingan! Kalian Manusia menghianati kami para Iblis! Jangan membual tentang perdamaian karena aslinya kalian hanyalah orang-orang yang suka menusuk dari belakang!"
Apa yang dia katakan? Manusia penghianat?
Bersambung ....
Maaf lama update. Karena permintaan untuk menyelesaikan arc perang, Saya banyak merevisi cerita agar arc-nya cepat selesai. Namun, ceritanya semakin berantakan. Pilihan yang tepat memang harus menyelesaikan arc perang sampai selesai. Mohon maaf bagi yang udah nunggu POV MC yang kemungkinan akan muncul 4-6 bab lagi.
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.