
Abigail sama sekali tidak bisa bergerak, Keres terus menatapnya tanpa ekspresi, keningnya sedikit mengkerut. Keres meraih badan pedang dengan tangan kanannya, kemudian meremas dan menarik pedang itu dari Abigail.
Abigail langsung menggunakan kesempatan itu untuk menjauh dari Keres, walau tanpa pedang andalannya. Ia mencoba menghilangkan pedangnya namun tak berhasil. Pedang milik Abigail bernama Triad, pedang yang hanya bisa digunakan oleh dirinya, namun ....
Keres memegang gagang pedang dengan tangan kanannya.
"Mustahil. Dulu Beliau sama sekali tidak bisa menggunakannya karena Triad menolak. Tapi, bagaimana bisa?"
Abigail memanggil senjata nomor dua, sebuah tombak hitam yang memiliki tiga cula. Ia kembali ke tempat Delila dan yang lainnya.
"Hei, apa kau mau bekerja sama?" tanya Abigail pada Delila.
Delila terdiam sejenak karena ia masih ragu mengambil keputusan.
"Tch!" Abigail tampak kesal dengan Delila. "Para prajurit, menjauh dari sini! Sharah, tahan pergerakan Yang Mulia!"
"Baik." Putri Sharah bersiap merapalkan sihirnya. "Chain of Despair." Sebuah rantai merah muncul dari tanah dan mengikat kedua kaki Keres.
Abigail langsung bergerak cepat pergi ke arah Keres. Tombak bercula tiganya memunculkan sebuah bola energi berwarna ungu.
*Wush!
Abigail melempar tombaknya dengan kecepatan yang luar biasa, sampai memecah udara, dan menimbulkan efek listrik di sekitarnya.
*Duar!
Tombak mengenai Keres dan menimbulkan ledakan dahsyat.
"Masih belum!" Abigail menyiapkan tiga lingkaran sihir di depannya. "Mega Blast!" Tiga lingkaran sihir itu menembakkan sinar laser berukuran raksasa berwarna kuning.
Laser kuning itu langsung membelah asap yang menutupi dan berhasil mengenai Keres.
"Masih kurang." Abigail memunculkan satu lingkaran sihir berukuran besar di atasnya.
*Bush!
Lingkaran sihir itu juga menembakkan sinar laser yang sama, namun jauh lebih besar. Saat di pertengahan jalan, laser itu memecah menjadi ratusan bagian yang serentak menuju ke arah Keres.
Putri Sharah membuat pelindung yang menutupi semua orang. Sinar laser ini menimbulkan efek gelombang yang bisa memecahkn gendang telinga, menimbulkan ledakan yang terlalu besar.
Beberapa saat kemudian, serangan beruntun telah selesai dilancarkan, masih tidak diketahui kondisi Keres saat ini karena ratusan sinar laser tadi membuat bekas lubang yang cukup besar.
Abigail perlahan mendekati lubang itu dengan persiapan matang, maksudnya menyiapkan sihir yang langsung aktif jika terjadi sesuatu padanya. Abigail langsung melihat ke bawah, namun tak ada siapa pun di dalam lubang itu.
Sesutu melayang tepat di Atas kepala Abigail. Karena pandangannya masih menghadap ke bawah, ia tidak menyadari sosok di depannya.
"Di depan!" teriak Putri Sharah.
Abigail langsung mengangkat kepalanya dan melihat Keres yang bersiap menusuknya dengan Triad. Keres tersenyum, hal itu membuat Abigail tak bisa bergerak sama sekali.
Sial, aku akan mati!
Keres langsung menusuk ke arah leher Abigail, namun pedang Triad malah tertelan oleh sebuah portal. Keres tidak bisa menarik pedang itu dari portal, justru malah tertarik ke dalamnya.
Abigail langsung mengetahui siapa pemilik portal ini. Dia adalah Delila.
Tubuh Delila memancarkan aura merah yang sangat besar, poni yang menutupi mata kanannya terbuka. Terlihat jelas warna merah dari mata kanannya yang menyala.
Delila perlahan berjalan ke arah kedua orang itu. Sedangkan Daisy bersiap siaga melindungi para pengikut di belakangnya.
"Sudah kuputuskan, aku akan membunuhmu, orang yang mengendalikan tubuh Ibu!" teriak Delila dengan emosi yang berapi-api.
Keres langsung maju mendekat pada Delila, meninggalkan Abigail yang terduduk lemas. Mereka berdua saling berhadapan saat ini.
Delila menatap tajam pada Keres, fokusnya tertuju pada mata Keres yang sepenuhnya memerah.
Tidak salah lagi, dia bukanlah Ibu. Apa ini ada hubungannya dengan Satan?
Delila terhanyut dalam pikirannya, sehingga dia terlambat menyadari tangan kanan Keres sudah berada di depan wajahnya. Jari tangan Keres dalam posisi menempel, dan terjadi sebuah jentikan jari.
*Dum!
Sebuah tembakkan besar muncul ketika Keres menjentikkan jarinya. Ledakan itu memanjang ke depan, terlihat seperti tembakan energi raksasa.
Tembakkan itu meninggalkan jejak tanah yang terbakar. Namun, tak ada yang terluka sama sekali, karena semua orang terlindung oleh penghalang tingkat lima belas milik Daisy yang ternyata level-nya juga kembali normal.
Di sisi lain, Delila sama sekali tidak bergerak sedikit pun, tembakkan itu tidak menyentuh sehelai rambutnya, bahkan tanah tempat ia berpijak masih normal.
Keres menyipitkan matanya.
Kedua tangan Delila diselimuti aura merah, ia mengepalkan tangannya dan langsung melayangkan pukulan pertama pada Keres.
Keres menahannya dengan mudah, ia menangkap pukulan Delila dengan tangan kanannya, lalu tersenyum kecil.
Delila langsung melebarkan mata kanannya.
*Bush!
Delila lanjut melayangkan pukulan lain pada Keres, namun dapat dihindari dengan mudah. Keres langsung memperlebar jarak. Delila tak membiarkan jarak mereka menjauh, ia terus mengejar Keres. Ketika Keres semakin jauh, Delila membuka sebuah portal di depannya, portal berisi tempat yang memiliki gravitasi kuat. Keres pun tertarik mendekat ke Delila.
*Dum!
Delila memukul bagian perut Keres sehingga armor di perutnya lenyap. Secara bersamaan bentuk perut Keres terlihat berbeda karena pukulan Delila.
Abigail yang menyaksikan dari jauh pun terkejut dengan kekuatan Delila.
Siapa wanita itu sebenarnya? Saat aku bertarung dengannya di hutan, aku merasa bisa mengunggulinya, tapi itu hanya asumsiku. Kenyataannya pada saat dia lemah, aku juga masih belum bisa mengalahkannya.
"Ada dua belas monster sepertinya di sana?" tanya Abigail dengan nada pelan.
Delila berhenti sejenak setelah memukul Keres. Ia memperhatikan kondisi Keres untuk memastikan kesadarannya sudah kembali atau belum. Namun, kondisi Keres tidak seperti yang dia harapkan.
Armor, serta luka di tubuh Keres langsung sembuh seketika. Delila langsung menggigit kecil bibir bawahnya.
"Tidak mungkin. Aku seharusnya sudah meniadakan semua asal mula benda itu."
Apa karena ini pertama kali aku menggunakan kekuatan penuh mataku?
"Mari kita mulai dari awal," ucap Keres.
Dia bicara?
Delila hendak bertanya pada Keres, namun Keres langsung berpindah ke hadapannya. Tangannya bersiap memukul Delila.
Apa dia gila?!
Delila menahan pukulan Keres, tapi tak terjadi apa-apa pada tangan Keres.
Bagaimana mungkin?!
Tangan Keres bersinar, energi sihir berkumpul di dalam kepalan tangannya. Delila tak bisa melepaskan diri.
Cahaya semakin terang hingga menunggu saat untuk meledak. Namun seketika cahaya di tangan Keres lenyap. Delila meniadakan sihir yang hendak digunakan Keres.
Mata kanan Delila melebar lagi. Seketika kedua tangan dan kaki Keres terbentang, kemudian terlihat seperti di tarik dari segala arah.
Di waktu yang sama mata kanan Delila terasa sakit, dan itu membuat Keres terlepas dari sihir yang menahannya.
"Sial, aku belum terbiasa." Delila memejamkan mata kanannya.
Keres bersiap menyerang.
*Bush!
Armornya menembakkan sebuah laser dengan jangkauan luas. Namun, laser itu langsung termakan oleh portal milik Delila.
Keres menghentikan serangannya. Tanpa sadar sebuah portal muncul di belakangnya bersamaan dengan laser sebelumnya.
"Enyahlah." Keres menepis laser itu menggunakan tangan kanannya dengan sangat mudah. Ia langsung berlari menuju Delila, berencana melakukan duel dengan tangan kosong.
Pukulan, tendangan, semua mengarah pada Delila. Pelindung sihir tingkat lima belas menahan serangan itu, tapi itu masih belum cukup. Keres langsung menghancurkan setiap pelindung yang muncul.
Delila hendak membalas dengan Gate Punch yang pernah dia gunakan pada Abigail, namun dia melupakan satu masalah, yaitu ....
Keres langsung melenyapkan Gate Punch dengan mudah.
Sial! Aku lupa bahwa dia bisa melenyapkan portalku dengan mudah!
*Dum!
Keres menendang perut Delila dengan daya ledak yang luar biasa. Sebuah ledakan terjadi di balik pungggung Delila ketika Keres menendangnya.
Delila terhempas menabrak penghalang milik Daisy. Mulutnya mengeluarkan darah yang sangat banyak.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Daisy dari balik penghalang.
Delila mengangguk. Perhatiannya tertuju sepenuhnya pada Keres, mata kanannya perlahan terbuka.
Tidak ada celah. Jika aku bisa memindahkannya ke dimensi buatanku, akan sangat mudah melawannya, tapi dia bisa melenyapkan portalku.
"Huh?" Delila melihat ke arah lain, tepatnya ke seseorang di lubang besar yang sebelumnya.
Ah, jadi begitu, ya? Ini layak dicoba.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA! TONTON IKLAN DI HADIAH JUGA