
Cindy merasa sangat mual setelah melihat jasadnya tasya. Di waktu cindy keluar dari kamar jenazah, maya melihatnya karena merasa curiga maya mendekati cindy.
"Kenapa dia ada disini?" Maya melihat cindy di depan kamar jenazah.
"Siapa maya dia?" tanya tasya.
"Dia orang yang selalu ingin mencelakai erica!" jawab maya.
"Kenapa dia bisa ada disini?" ucap tasya heran.
"Itu yang harus kita cari tahu tasya!" Maya menghilang dan muncul di samping cindy.
"Tunggu aku maya!" Tasya mengikuti maya.
"Huak huuuakkkk!" Cindy muntah karena mual.
"Mayat itu benar benar membuatku sangat mual!" Cindy merasa lemas setelah muntah karena melihat jasadnya tasya.
"Sepertinya dia baru saja melihat jasadku maya!"
"Betul tasya! apa yang sebenarnya dicari olehnya disini?"
"Rio itu benar benar berani menjebakku untuk terlibat dengannya! aku tak tahu jika ternyata dia seorang pembunuh!" ucap cindy kesal.
"Sepertinya dia baru tahu jika rio seorang pembunuh! karena penasaran dia mengikuti evan dan erica kemari!" ucap maya sambil menatap cindy yang ada di hadapannya.
"Sepertinya dia ketakutan jika dilibatkan rio pada kasusnya!"
"Sepertinya begitu tasya! akan kuberi dia sedikit pelajaran hari ini!"
Maya mendekati cindy dan meniup telinganya dan menarik rambutnya cindy.
"Aaaarggghh" teriak cindy memegangi rambutnya yang di tarik oleh maya.
"Siapa yang meniup dan menarik rambutku!" Cindy melihat sekelilingnya.
"Tidak ada orang disini! tapi kenapa seperti ada yang menggangguku! Kenapa tubuhku jadi tiba tiba merinding?"
"Hahahahaha" Suara maya tertawa.
"Siapa itu! seperti ada suara orang yang tertawa?" ucap cindy ketakutan.
"Sepertinya dia sudah mulai ketakutan maya!" ucap tasya.
Maya memegangi tangannya cindy dan menarik tasnya.
"Seperti ada yang menyentuhku dan menarik tasku! Tempat ini benar benar mengerikan!" Cindy berlari keluar dari rumah sakit.
"Hahahahaha, baru segitu saja sudah ketakutan!" teriak maya.
Jasadnya tasya sudah di masukkan ke dalam peti dan di bawa kerumahnya dengan menggunakan ambulans. Evan, erica, intan dan ibunya menaiki mobil evan pulang menuju rumah tasya. Intan memberi kabar di tempat kuliah dan semua teman mereka. Banyak orang yang datang ke rumahnya tasya untuk melayatnya. Semua temannya tak percaya jika tasya telah tiada dan meninggal dengan sangat mengenaskan.
"Saya turut berduka cita bu!" ucap teman teman tasya yang datang melayat.
"Terimakasih kalian sudah mau kemari!" ucap ibunya tasya.
"Kami semua tidak menyangka jika tasya telah pergi untuk selamanya!"
"Ini semua sudah takdir ibu sudah mengikhlaskannya!"
Kepala yayasan dan semua dosen pun datang untuk melayat tasya. Kepala yayasan dia orang yang sangat dekat dengan orang tua rio. Banyak orang yang kurang menyukainya karena sifatnya yang cuek dan mata duitan dia hanya menyukai anak anak yang kaya.
"Apa anda ibunya tasya?" tanya kepala yayasan.
"Iya pak saya ibunya tasya!"
"Saya dan semua dosen yang hadir disini turut berduka cita! dan saya harap kasus ini tidak menyebar luas dan tidak membuat kampus kita menjadi jelek karena tasya!"
"Anak saya tidak membuat aib pak! dia hanya korban pembunuhan! kenapa bapak bilang seperti itu!" Ibunya tasya merasa tersinggung dengan ucapan kepala yayasan.
"Saya ingin ibu tidak memperpanjang kasus ini dan agar segera mengakhirinya!"
"Yang meninggal ini anak saya pak! bukan hewan atau sesuatu yang buruk! kenapa saya harus tidak menuntut untuk menghukum pembunuhnya!" Teriak ibunya tasya marah.
"Maksud saya bukan seperti itu!"
"Apa anda sudah di bayar oleh orang tuanya rio untuk membujuk saya agar menutup kasus ini?"
"Apa maksud anda berkata seperti itu!"
"Jelas jelas anda membela pembunuh dari anak saya!"
"Jangan melewati batasan anda! Anda pasti tahu sekarang sedang berhadapan dengan siapa jangan sia siakan waktu anda dan berdamai saja! Orang tuanya pasti akan memberikan konpensasi yang banyak untuk anda!"
"Saya tidak ada berpikir sedikitpun untuk berdamai dengan mereka! kasus ini akan tetap lanjut sampai pembunuh anak saya mendapatkan hukuman yang berat!" ucap ibunya tasya marah.
"Anda pasti akan menyesal dengan pilihan itu!"
"Saya tidak akan pernah menyesal! semua ini untuk keadilan anak saya tasya!" Ibunya tasya menunjuk peti tasya.
"Kita akan lihat siapa yang menang!" Kepala yayasan langsung pergi dari rumahnya tasya.
"Hiks hiks hiks" Suara ibunya tasya menangis.
"Maaf bu! memang kepala yayasan orangnya tidak memperdulikan orang lain dia hanya mementingkan dirinya sendiri! jangan di pikirkan semua ucapannya!" ucap seorang dosen wanita yang mendekati ibunya tasya.
"Terimakasih bu!"
"Saya sangat mengenal anak ibu, dia orang yang pintar dan sangat baik!"
"Saya sangat berterimakasih anda telah baik kepada putri saya!"
"Sama sama bu! saya permisi untuk pulang!"
"Iya bu terimakasih sudah datang kemari!"
Dosen wanita itu juga pergi meninggalkan rumanya tasya. Maya dan erica sangat kesal mendengar semua ucapan dari kepala yayasan itu. Maya pergi menghilang mengikuti kepala yayasan itu ke mobilnya.
"Haaah dasar orang miskin! sangat keras kepala!" ucap kepala yayasan itu di dalam mobilnya.
"Dasar orang yang tidak punya hati!" ucap maya kesal sambil menatap kepala yayasan itu.
"Kita lihat saja apa bisa dia bersaing dengan keluarganya rio! pasti dia akan kalah di pengadilan!"
"Seperti orang tua rio saja yang kaya! orang tua erica juga sangat kaya daripada rio! dia yang akan kalah!" teriak maya kesal.
"Kenapa aku jadi tiba tiba merinding!" ucap kepala yayasan itu.
Tasya pun sangat marah dengan kepala yayasan itu yang telah menghina dirinya dan ibunya. Sampai membuat ibunya menangis sedih. Tasya menghilang dan muncul di mobilnya kepala yayasan itu mengikuti maya.
"Tasya kau kemari juga! mau kita apakan orang brengsek ini!" ucap maya kesal.
"Dia telah berani menghina diriku dan ibu serta membuatnya menangis sedih!" ucap tasya marah.
"Lakukanlah semaumu tasya!" ucap maya.
Tasya menampakkan wujud yang mengerikan pada kepala yayasan itu di dalam mobil.
"Kenapa mobilku menjadi bau busuk seperti ini!" ucap kepala yayasan itu heran.
Dia mencari dan melihat sekeliling mobilnya setelah dia melihat ke kaca mobilnya dia melihat tasya dengan wujud yang mengerikan duduk di belakangnya.
"Haaaaaah" teriak kepala yayasan itu terkejut.
Dia menoleh kebelakangnya dan tasya menghilang dan muncul di sampingnya.
"Pakkkkk!" ucap tasya.
"Arrrrrgggghhhhh!!" teriak kepala yayasan ketakutan.
"Pergi dari sini! kenapa kau menggangguku!"
"Bukankah aku dulu sangat cantik dimata bapak!"
"Tidaakkkk! pergi dari sini!"
"Hahahahaha hihihihihihi!" Suara tasya tertawa.
Kepala yayasan itu keluar dari mobil karena ketakutan. Bu dosen yang melihat kepala yayasan merasa heran dan mendekatinya.
"Ada apa pak? bukankah bapak ingin pulang tadi?"
"Ada hantu tasya di mobilku!" ucap kepala yayasan ketakutan.
"Apa hantu tasya! itu tidak mungkin pak!"
"Coba saja kau lihat di mobilku pasti ada hantunya tasya!" teriak kepala yayasan.
"Baik akan kuperiksa apakah memang ada hantu tasya disana!" Bu dosen berjalan mendekati mobil dan membukanya.
"Apa dia dosenmu tasya?" tanya maya.
"Iya maya dia dosen yang sangat baik denganku!"
"Berarti kita tak perlu mengganggu dia!"
Bu dosen melihat ke dalam mobil dan tak menemukan apapun disana.
"Aku tidak melihat apapun disini pak! mobil ini kosong tak ada apapun disini!" teriak bu dosen.
"Apa tidak mungkin! tadi aku benar benar melihat hantu tasya disana!"
"Tapi sekarang tidak ada! apa itu mungkin hayalan bapak saja!"
"Hemm itu tidak mungkin! baiklah terimakasih sudah membantuku!" Kepala yayasan masuk kembali ke dalam mobilnya dan pergi dari rumahnya tasya.
"Ehm dasar laki laki tua yang jahat! kenapa tidak sekalian saja tasya mencekiknya tadi!" ucap bu dosen kesal.
Maya dan tasya keluar dari mobilnya kepala yayasan. Lalu mereka tertawa mendengar ucapan bu dosen yang kesal dengan kepala yayasan.