ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 58



Keesokan harinya saat Erica saat sedang sarapan pagi bersama Ayah dan Ibunya, Erica mengatakan jika akan pulang terlambat pada hari itu.


"Bu"


"Iya sayang ada apa?"


"Erica hari ini akan pulang terlambat," ucap Erica.


"Apa kau akan pergi kerumah temanmu lagi?" tanya Ibunya Erica.


"Iya bu, tempatnya agak sedikit jauh jadi aku mungkin akan pulang terlambat hari ini," jawab Erica.


"Apa perlu Pak Darmin menemanimu kesana?" tanya Ibunya Erica.


"Tak perlu bu, karena nanti aku akan naik mobil bersama temanku yang lainnya yang akan ikut kesana juga," jawab Erica.


"Baiklah sayang, tapi jangan pulang terlalu malam," ucap Ibunya Erica.


"Baik bu."


"Erica bagaimana di sekolahmu?" tanya Ayahnya Erica.


"Sekolahku seperti biasa baik baik saja yah, dan pelajaran juga aku bisa menjalaninya dengan baik," jawab Erica.


"Anak kita murid yang pintar, mana mungkin dia ada masalah tentang pelajaran di sekolahnya," ucap Ibunya Erica.


"Betul juga, peringkatmu juga seperti biasa selalu yang paling teratas pertahan itu Erica," ucap Ayahnya Erica.


"Baik yah."


"Kau putri ayah satu satunya dan penerus ayah di perusahaan, tentu kau harus menjadi yang terbaik dari yang terbaik," ucap Ayahnya Erica.


"Sayang, Erica jangan terlalu di paksakan biarkan dia bersenang senang dengan temannya di umur yang masih muda, nanti dia juga pasti akan menjadi penerusmu yang terbaik dari yang terbaik," ucap Ibunya Erica.


"Ayah percaya padamu anak kesayangan ayah."


"Ayah, ibu aku berangkat sekarang takut terlambat nanti datang ke sekolah," ucap Erica.


"Baiklah sayang, hati hati di jalan," ucap Ibunya Erica.


"Daa ayah ibu," ucap Erica.


"Daa sayang," ucap Ibunya Erica.


Lalu Erica berjalan keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil kemudian berangkat menuju ke sekolahnya.


"Bu, apa Erica sering pulang terlambat beberapa waktu ini?"


"Iya sayang, kenapa menanyakan itu?"


"Apa Erica betul betul belajar bersama dengan teman temannya atau melakukan hal yang lainnya?" ucap Ayahnya Erica khawatir.


"Kau tak perlu mengkhawatirkan Erica, anka kita bukan gadis biasa dia bisa tahu mana yang baik dan buruk baginya, kau harus percaya dan yakin padanya dia pasti akan baik baik saja," ucap Ibunya Erica.


"Ya baiklah jika ibu berpikir begitu, memang anak kita bukan gadis biasa dia gadis yang sangat istimewa," ucap Ayahnya Erica.


Setelah sampai di sekolah Erica langsung turun dari mobil, di sana sudah ada Evan dan Jenni yang sedang menunggu Erica.


"Evan, Kak Jenni kalian sudah sampai lebih dulu disini?"


"Tentu saja Erica, aku orang yang sangat menghargai waktu, lebih cepat lebih baik bukan," jawab Jenni.


"Wah gayanya aku sangat suka," ucap Maya sambil menatap Jenni.


"Pak Darmin, nanti tidak perlu menjemputku karena aku akan pulang bersama dengan Evan," ucap Erica.


"Baik non," ucap Pak Darmin.


Lalu Pak Darmin pergi dari sekolahnya Erica dengan mengendarai mobil.


"Ayo kita masuk dan temui wali kelas kalian," ucap Jenni.


"Baik Kak Jenni," ucap Evan dan Erica.


Lalu mereka berjalan menuju ke ruang guru, dan menemui wali kelas Erica dan Evan.


"Permisi" ucap Jenni sambil masuk ke dalam ruang guru.


"Iya, ada yang bisa saya bantu," ucap salah satu guru.


"Apa aku bisa bertemu dengan wali kelas Erica dan juga Evan?" tanya Jenni.


"Kenapa kau ingin bertemu dengan wali kelas mereka berdua?" tanya laki laki itu.


"Kak Jenni dia wakil kepala sekolah disini," bisik Evan.


"Ooo begitu," ucap Jenni.


"Apa keperluanmu ingin bertemu dengan wali kelas mereka?"


"Aku ingin meminta izin untuk Erica dan Evan hari ini," jawab Jenni.


"Kau siapanya mereka?"


"Aku kakaknya Evan," jawab Jenni.


"Kenapa kau meminta izin untuk mereka berdua? apa ada sesuatu yang sangat penting?"


Jenni mendekati wakil kepala sekolah itu dan berbisik padanya.


"Karena mereka berdua akan melakukan sesuatu yang penting dalam membantu penyelidikan polisi hari ini, dan itu sangat rahasia dan jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya," bisik Jenni.


"Ah begitukah jadi mereka akan membantu kepolisian," ucap wakil kepala sekolah pelan.


"Betul itu, aku harap anda mengizinkan mereka berdua hari ini, saya mohon bantuan dari anda," ucap Jenni.


"Apa benar kau seorang polisi dan tak berbohong padaku?"


Jenni mengeluarkan tanpa pengenalnya dan menunjukkan pada wakil kepala sekolah itu.


"Apa sekarang kau sudah percaya denganku setelah melihat tanpa pengenal ini?" ucap Jenni.


"Ah ternyata benar kau seorang polisi wanita, baiklah sekarang aku percaya padamu, Erica dan Evan aku izinkan untuk hari ini," ucap Wakil kepala sekolah itu.


"Apa kami boleh pergi sekarang?" tanya Jenni.


"Silahkan kalian boleh pergi, semoga kasus yang kalian selidiki dapat segera selesai."


"Terimakasih atas bantuannya, sampai jumpa lagi Pak wakil kepala sekolah," ucap Jenni.


"Sama sama."


Kemudian Jenni, Erica, dan juga Evan berjalan keluar dari ruang guru.


"Wah polisi wanita itu sangat keren, ternyata Evan memiliki seorang kakak yang bekerja sebagai polisi wanita," ucap Wakil kepala sekolah itu.


"Kak Jenni, apa kau yakin jika dia telah mengizinkan kami berdua?" tanya Evan.


"Tentu saja sayang, dia telah mengizinkan kalian berdua, ehm apa yang tidak mungkin bagi kakakmu ini," ucap Jenni.


"Sepertinya memang dia sangat bisa di andalkan untuk membantu kita Erica," ucap Maya.


"Benar Maya, tapi setelah aku pikir pikir apa dulu sewaktu dirimu menjadi seorang polisi sifatmu mirip dengannya? kau sangat mirip dengannya cepat, gesit, dan juga sangat berani," ucap Erica.


"Benarkah kau berpikir jika dia mirip denganku?" tanya Maya.


"Tentu saja, bukankah kalian sama sama seorang polisi wanita," ucap Erica.


"Heem, mungkin dia dulu mengidolakan diriku, makanya sifatnya tidak beda jauh denganku," ucap Maya tersenyum.


"Ayo Erica kenapa kau masih disana, kita harus bergegas," ucap Jenni.


"Baik Kak Jenni," ucap Erica.


"Apa kita langsung pergi kesana?" tanya Evan.


"Tentu saja, kakak sudah sangat tidak sabar ingin menangkap para penjahat itu," ucap Jenni.


"Wah, sepertinya Kak Jenni akan menghajar penjahat itu sampai babak belur," ucap Evan di dalam hati.


"Erica! apa kau sudah menghubungi kedua polisi itu?" tanya Jenni.


"Belum kak," jawab Erica.


"Sebaiknya kau telpon mereka sekarang, dan temui kita di luar kantor polisi," ucap Jenni.


"Baik Kak Jenni," ucap Erica.


"Ayo masuk ke dalam mobil kita berangkat sekarang untuk menangkap para penjahat itu! tanganku sudah benar benar sangat gatal ingin memukul mereka," ucap Jenni sambil masuk ke dalam mobil.


Kemudian Erica dan Evan juga masuk ke dalam mobil, lalu mereka pergi dari sekolah dan berangkat menuju ke perbatasan kota untuk menjalankan rencana mereka.