ME And GHOST

ME And GHOST
Mulai mendapatkan petunjuk 12



Akhirnya evan sampai ke villa lebih dulu daripada intan dan polisi. Evan turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam villa untuk melihat keadaan erica.


"Braaaaaakkk" suara evan menendang pintu.


"Erica!!" teriak evan berlari masuk ke dalam villa.


"Ada apa evan?" jawab maya yang masih berada di tubuhnya erica.


"Apa kau baik baik saja!!" ucap evan langsung berlari dan memeluk erica.


"Tentu aku baik baik saja".


"Apa rio menyakitimu?" tanya evan khawatir.


"Mana mungkin dia bisa menyakitiku".


"Syukurlah kau baik baik saja, aku benar benar sangat mengkhawatirkanmu erica".


"Tidak terjadi apa apa padaku".


"Lalu dimana rio sekarang?" tanya evan.


"Itu dia disana" Maya menunjuk ke arah rio yang sedang pingsan dan di ikat maya dengan tali di atas kursi.


"Apa dia tidak sadar erica?" ucap evan mendekati rio dan memastikan jika rio pingsan.


"Aku mengikatnya disana supaya dia tidak bisa kabur".


"Kau sendiri yang melakukan semua ini erica?".


"Iya aku sendiri, memangnya kenapa evan?".


"Bagaimana kau bisa melakukan ini sendiri erica?" ucap evan heran.


"Aku memukul dan menendangnya sampai dia pingsan dan tak sadarkan diri lalu aku mengikatnya di kursi itu" ucap maya.


"Wah sebenarnya apalagi yang belum ku ketahui tentang dirimu erica, kau sangat berani dan pintar berkelahi" ucap evan kagum.


Maya hanya tersenyum mendengar ucapan evan tentang erica.


"Aku hanya bisa sedikit saja kalau berkelahi hanya untuk membela diri saja" ucap maya merendah.


"Apa kau sudah lama belajar bela diri erica?".


"Hanya baru baru ini saja aku belajar sedikit".


" Ooo iya bagaimana apa kau sudah mengetahui keberadaan tasya?" tanya rio.


"Tasya sudah lama meninggal dunia evan".


"Maksudmu rio yang membunuh tasya?".


"Iya rio membunuhnya dan menguburnya di samping villa ini".


"Apa! dia menguburkan tasya di sini?".


"Iya evan, setelah mereka menggugurkan kandungan, Tasya mengalami pendarahan dan membuat dia tak sadarkan diri karena rio merasa takut dengan keadaan tasya yang kritis dia membunuh tasya dengan memukul kepalanya dengan batu dan menguburnya di samping villa, pada saat dikubur rio tahu jika tasya masih hidup tetapi dia tetap menguburnya" ucap maya menjelaskan kejadian yang menimpa tasya.


"Dasar laki laki biadab, tega sekali dia membunuh wanita yang tak berdaya" ucap evan marah.


Tak lama kemudian intan dan polisi pun datang ke villa.


"Erica!!" teriak intan.


"Aku disini intan".


"Apa kau baik baik saja?".


"Iya aku baik baik saja tak terjadi apapun padaku".


"Dimana laki laki brengsek itu!!".


"Dia disana, aku mengikatnya dengan tali di atas kursi itu" ucap maya menunjuk ke arah rio.


"Pak polisi, tangkap laki laki ini dia berusaha mencelakai erica!!" teriak intan.


Polisi kemudian memborgol rio dan membawanya ke mobil polisi.


"Erica apa kau sudah tahu dimana tasya?" tanya intan.


"Soal itu, ayo ikut aku ke samping villa" ucap maya berjalan keluar villa dan menuju ke samping villa.


"Ada apa erica? kenapa kau membawaku kemari?".


"Pak polisi, tolong gali ini kita akan menemukan tasya disini" ucap maya menunjuk kearah dimana tasya di kubur rio.


"Jasadnya tasya ada disini".


"Apa maksudmu erica?" tanya intan.


"Tasya sudah lama meninggal di bunuh oleh rio dan dia menguburkan tasya disini".


"Apa itu tidak mungkin, tasya tidak mungkin meninggal kau bercanda kan erica!!" ucap intan terkejut dan tidak percaya jika tasya sudah meninggal.


"Itu benar intan, rio sendiri sudah mengakuinya dan aku telah merekam semuanya untuk bukti jika memang rio yang membunuh tasya".


Polisi dan evan langsung menggali tempat yang telah di tunjuk oleh maya, Rio yang telah menguburkan tasya disana. Setelah lama menggali akhirnya jasad tasya di temukan.


"Ini sudah kutemukan jasad seorang wanita" teriak pak polisi.


Kemudian pak polisi dan evan menggali lebih dalam dan mengangkat jasad keluar dari tanah. Tasya mengenakan gaun pendek merah dan jasadnya sudah membusuk dan mengeluarkan bau yang busuk.


"Apa benar ini jasad tasya?" ucap intan.


"Benar ini jasadnya tasya" ucap maya.


Intan mendekati jasad itu untuk memastikan apa dia benar benar tasya. Intan melihat ada gelang yang biasa di pakai oleh tasya, Setelah melihat gelang itu intan langsung menjerit dan menangis karena sedih mengetahui bahwa sahabatnya telah meninggal dunia.


"Tasya!!!!!! hiks hiks hiks" ucap intan menjerit dan menangis.


"Yang sabar intan" ucap maya mencoba menenangkan intan yang menangis.


"Kenapa kau meninggal seperti ini!! hiks hiks hiks".


"Cepat hubungi mobil jenazah untuk membawa mayat ini" ucap pak polisi.


"Rio kau dasar laki laki brengsek berani sekali kau telah membunuh tasya!!" ucap intan marah.


Intan berlari dan menuju mobil polisi dan menjerit memanggil rio dan berusaha memukul rio.


"Dasar kau pria brengsek!! kenapa kau membunuh tasya, apa salahnya" teriak intan sambil memukul dan menampar wajah rio.


"Maafkan aku intan, aku tak sengaja membunuh tasya".


"Apa kau bilang tidak sengaja!! dia benar benar mencintaimu sampai rela melakukan apa saja untukmu dan ini balasannya darimu!!!".


"Tolong maafkan aku".


"Tidak ada kata maaf untukmu!! kau akan mendekam seumur hidup di penjara atau di hukum mati rio".


"Sudahlah intan, kita serahkan semuanya kepada polisi dan memprosesnya sesuai dengan hukum yang berlaku" ucap maya mendekati intan.


"Iya intan, jangan kau kotori tanganmu dengan menyentuhnya" ucap evan.


"Iya kau benar, aku tak ingin mengotori tanganku karena laki laki brengsek ini, aku akan memastikan kau dihukum dengan seberat beratnya" ucap intan menatap rio dengan penuh amarah.


"Apa kalian semua saksi disini?" tanya pak polisi.


"Iya pak, kami semua saksi dan erica hampir saja menjadi korban selanjutnya oleh rio" ucap evan.


"Baiklah, kami akan membawa jasad korban dan akan di otopsi di rumah sakit, kalian nanti datang ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian" ucap pak polisi.


"Baik pak" ucap maya dan evan.


"Intan apa kau akan ikut ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian tentang tasya" tanya evan.


"Tentu aku akan ke kantor polisi untuk memastikan rio dihukum seberat beratnya".


"Tapi aku lupa memberitahu kalian sesuatu?" ucap maya.


"Ada apa erica?" tanya evan.


"Rio berasal dari keluarga yang terpandang, ayah seorang dokter bedah yang terkenal dan ibunya seorang pengacara handal dan hebat, jadi ada kemungkinan kita akan kesulitan membuat rio di hukum berat atas perbuatannya kepada tasya" ucap maya.


"Kau benar erica akan cukup sulit kita membuat rio di hukum dengan berat, karena pengaruh orang tuanya" ucap intan.


"Kita harus memastikan jika rio dihukum dengan berat" ucap evan.


"Semoga saja tak terjadi yang seperti kutakutkan, karena pengaruh orang tuanya sangat kuat" ucap maya.


"Kita harus menegakkan keadilan untuk tasya" ucap intan.


"Semoga saja usaha kita takkan sia sia" ucap maya.


"Ayo kita kekantor polisi" ucap evan mengajak erica dan intan.


"Baiklah ayo kita berangkat ke kantor polisi" ucap maya berjalan menuju mobilnya evan.


Lalu evan, intan , dan maya masuk ke dalam mobilnya evan dan pergi menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan dan kesaksian. Maya belum bisa keluar dari tubuhnya erica karena jika dia keluar erica pasti tak sadarkan diri karena pengaruh obat tidur yang di berikan oleh rio kepada erica. Sementara itu hantu tasya juga mengikuti maya menuju kantor polisi. Maya sangat khawatir jika rio tidak akan di hukum berat dan ada kemungkinan juga bebas bersyarat karena orang tuanya rio sangat berpengaruh dan terpandang.