ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 96



 


 


Setelah menemui Rian dikamarnya dan mencurigainya pelayan wanita itu, menerima telpon dari Irfan yang merupakan om dari Rian.


 


"Kring kring kring" Suara handphone berdering.


 


"Kenapa lagi laki laki ini menelponku sekarang," ucap Pelayan wanita itu kesal.


 


Lalu dia berjalan menuju ke dapur menjawab telpon dari Irfan.


 


"Halo"


 


"Kenapa kau belum memberikanku kabar apapun tentang Rian? apa kau berniat ingin melawanku dan berpihak pada Rian?" tanya Irfan.


 


"Bukannya aku ingin melawanmu, dan tak ingin melaporkan, tapi memang tidak ada yang mencurigakan dari tuan Rian, dia bersikap seperti biasanya dan tak berubah sama sekali," jawab Pelayan wanita itu.


 


"Awas saja jika kau berani mengkhianatiku, aku akan membongkar semua kejahatanmu di depan Rian dan memasukkanmu ke dalam penjara," ucap Irfan.


 


"Jika aku masuk kedalam penjara, kau pun pasti akan ikut masuk bersamaku, karena aku melakukan itu semua karena permintaanmu dan waktu itu kau juga mengancamku," jawab Pelayan wanita itu.


 


"Sekarang kau mulai berani menjawabku, lakukan saja semua perintahku agar kita semua bisa sama sama aman, apa kau yakin jika Rian tidak melakukan apapun saat ini? aku malah merasa khawatir jika dia menjadi terlalu diam saat ini," ucap Irfan khawatir.


 


"Aku hanya tahu jika besok dia akan bertemu dengan dua orang anak remaja yang bernama Evan dan juga Erica dirumahnya besok siang, dan dia tidak ingin di ganggu saat sedang bersama kedua orang itu," jawab Pelayan wanita itu.


 


"Siapa kedua orang yang bernama Erica dan Evan itu? apa kau mngetahui siapa mereka?" tanya Irfan.


 


"Aku tidak tahu siapa mereka berdua, tapi sepertinya mereka besok akan membicarakan hal yang penting, saat mereka pertama kali datang kemari untuk bertemu dengan tuan Rian, mereka bilang jika mengenal nona Maya," jawab Pelayan wanita itu.


 


"Apa katamu tadi jika mereka mengenal Maya?" 


 


"Iya, mereka bilang seperti itu dan karena itu tuan Rian jadi mau bertemu dengan mereka," jawab Pelayan wanita itu.


 


"Selain itu apa ada hal lain yang kau ketahui tentang mereka? ini sangat menarik karena berkaitan dengan Maya, pasti akan ada yang mereka rencanakan dan kita harus mengetahui itu, kau usahakan untuk mengetahui apa saja yang mereka bicarakan besok," ucap Irfan.


 


"Akan aku usahakan, aku tak ingin jika tuan Rian mencurigaiku saat ini," ucap Pelayan wanita itu.


 


"Kau hanya perlu berhati hati dalam melakukannya, bukankah kau ahli dalam hal itu, kau hanya perlu menguping secara diam diam dan laporkan padaku hasilnya besok setelah mereka bertemu," ucap Irfan.


 


"Baiklah akan kulakukan," ucap Pelayan wanita itu.


 


Lalu pelayan wanita itu menutup telponnya.


 


"Dasar laki laki sialan! dia tidak pernah bisa membuat hidupku tenang!" teriak pelayan wanita itu kesal.


 


 


Tanpa dia sadari ternyata Rian saat itu berada di belakangnya, setelah selesai dia menerima telpon dari Irfan. 


 


"Siapa laki laki sialan itu? tampaknya kau sangat kesal dengannya?" tanya Rian sambil menatap pelayan wanita itu.


 


"Tuan Rian!" ucap Pelayan wanita itu terkejut.


 


"Kenapa kau tampak sangat terkejut melihatku?" tanya Rian heran.


 


"Aku hanya kaget saja melihat tuan Rian yang tiba tiba ada di belakangku."


 


"Aku hanya ingin mengambil air putih untuk minum," jawab Rian sambil memegang gelas di tangannya.


 


"Biar saya saja yang mengambilnya tuan."


 


"Apa ada seorang laki laki yang mengganggu dirimu?" tanya Rian.


 


"Ah tidak ada tuan, dia hanya teman lama saja, dia memang hanya selalu mencari masalah denganku," jawab Pelayan wanita itu.


 


 


"Bisa dikatakan begitu tuan."


 


"Sebaiknya kau tidak meminjamkan dia uang yang telah susah payah kau dapatkan dengan bekerja keras," ucap Rian.


 


"Tentu tuan, aku tidak akan memberikannya," ucap Pelayan wanita itu.


 


"Pilihan yang tepat, baiklah aku akan segera kembali ke kamarku, selamat malam," ucap Rian sambil mengambil gelas yang sudah di isi dengan air putih.


 


Kemudian Rian berjalan pergi menuju kembali ke kamarnya.


 


"Apa tuan Rian mendengar semua percakapanku tadi? tapi dia sepertinya tidak mendengar semuanya," ucap Pelayan wanita itu khawatir.


 


 


Setelah sampai di kamarnya Rian langsung menutup pintu dan duduk di sofa sambil memikirkan percakapan yang telah dia dengar tadi.


 


"Siapa yang dia telpon? kenapa dia tampak ketakutan saat kumelihatnya menerima telpon itu? ini membuatku menjadi sangat penasaran, apa ada hal yang tidak aku ketahui selama ini yang telah dirahasiakan? tapi dia telah lama bekerja disini bahkan sebelum ayah dan ibu meninggal dunia," ucap Rian mencurigai pelayan wanita itu.


 


Rian membuka sebuah berkas yang ada di atas meja yang berisi tentang kasus kecelakaan orang tuanya 3 tahun yang lalu.


 


"Saat di selidiki waktu itu mobil yang di kendarai ayah dan ibu ternyata rem mobilnya tidak berfungsi dan ada sebuah truk yang menabrak mereka sampai mobil itu hancur, apa dia dan orang yang di telponnya tadi terlibat dalam hal ini, tapi apa itu mungkin? aku dan orang tuaku tak pernah berbuat jahat padanya dan pada siapapun, apa ada seseorang di balik semua ini dan juga hilangnya Maya apa ini perbuatan orang yang sama," ucap Rian.


 


Sementara itu pelayan wanita masih merasa penasaran dengan Rian dan ragu jika dia telah mendengar percakapannya atau tidak.


 


"Mulai sekarang aku harus selalu berhati hati pada tuan Rian, karena kau tidak tahu dia mendengar semua percakapan itu atau tidak, aku takut jika dia akan mengetahui semuanya dan aku bisa masuk ke dalam penjara, belum saatnya tuan Rian mengetahui semua ini, karena aku masih harus melakukan sesuatu untuk menebus semua kesalahanku pada tuan Rian dan orang tuanya," ucap Pelayan wanita itu.


 


 


Zio yang telah mengikuti Evan dan Jenni seharian saat itu, menemui bos besar dan melaporkan semuanya.


 


"Apa Zio telah datang kemari?" tanya Bos besar itu.


 


"Sudah nyonya, sekarang dia ada di luar dan ingin bertemu dengan anda," jawab Monica.


 


"Baiklah suruh dia masuk kemari," jawab Bos besar itu.


 


Kemudian Monica berjalan keluar dan memanggil Zio untuk bertemu dengan bos besar.


 


"Zio, masuklah ke dalam bos sudah menunggumu," ucap Monica.


 


"Baiklah," jawab Zio.


 


Lalu Zio dan Monica masuk ke dalam ruangan dan bertemu dengan bos besar itu.


 


"Selamat malam bos," ucap Zio.


 


"Malam Zio, bagaimana hari pertama kau mengikuti mereka?" tanya Bos besar itu sambil menatap Zio.


 


"Tidak ada yang mencurigakan dari mereka untuk saat ini bos, Evan dan kakaknya hanya berkunjung kerumahnya Erica, setelah itu Evan pulang kerumahnya dan kakaknya kembali ke kantor polisi untuk bekerja, hanya kedua orang yang juga mengawasi yang membuatku merasa curiga, bisa jadi mereka juga sedang mengawasi Erica dan juga Evan," jawab Zio.


 


"Jadi ada seseorang juga yang ingin mengawasi anak anak itu, tapi kita tidak tahu orang itu tujuanny sama atau tidak dengan kita, Zio untuk saat ini selama kau masih mengikuti dan mengawasi Erica dan juga Evan lebih baik kau jangan dulu menemuiku," ucap Bos besar itu.


 


"Kenapa saya tidak boleh menemui anda bos?" tanya Zio.


 


"Itu karena kedua orang yang kau bilang juga sepertinya sedang mengawasi Erica dan Evan juga, jika mereka mengikutimu sampai kemari itu akan sangat berbahaya untuk kita, mereka akan tahu siapa aku sebenarnya," ucap Bos besar itu.


 


"Baik bos, saya akan melaporkan pada anda hanya melalui telpon saja untuk sementara waktu ini," jawab Zio.


 


"Bagus, kau sangat cepat tanggap Zio, aku suka itu, baiklah kau boleh pergi sekarang, dan ingat harus selalu berhati hati," ucap Bos besar itu.


 


"Baik bos," ucap Zio.


 


Lalu Zio berjalan keluar dari ruangan bos besar itu, Bos besar merasa sangat penasaran dengan orang yang juga menyuruh kedua orang yang dikatakan oleh Zio untuk mengawasi dan mengikuti Erica dan evan seperti dirinya