
Sementara itu Erica ingin menelpon Rian dan mengatakan niatnya ingin bertemu dan membicarakan maksudnya yang ingin mencari Maya dan mencari orang yang telah mencelakainya.
"Sebaiknya malam ini aku harus menelpon Rian dan memintanya untuk bertemu besok," ucap Erica.
"Tentu Erica, kau harus memberitahu semuanya pada Rian agar dia dapat membantu kita," ucap Maya.
"Termasuk dengan kemampuanku yang bisa melihatmu yang telah menjadi hantu, apa aku juga harus memberitahunya?" tanya Erica.
"Ehm, jika soal itu aku rasa kita tidak perlu memberitahunya terlebih dahulu, dia pasti akan mengira jika kau berbohong padanya, apalagi aku belum ingat sepenuhnya tentang diriku," jawab Maya.
Erica tersenyum menatap Maya dan berjalan mendekatinya.
"Aku ingin bertanya padamu Maya," ucap Erica.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Maya.
"Apa kau ingin jika Rian dapat melihat dan berbicara padamu?" tanya Erica.
"Apa itu mungkin Erica?"
"Tentu saja mungkin, apa kau sudah lupa jika kemampuanku sekarang telah meningkat, apa kau lupa tentang Yuda yang kita tolong waktu itu, aku membuatnya bisa berkomunikasi dengan ibunya," ucap Erica.
"Dengan memegang tanganmu dan berkonsentrasi memikirkan diriku, Rian akan dapat melihatku," ucap Maya.
"Betul Maya, dia bisa langsung melihat dan berbicara padamu dengan bantuanku, jadi dia pasti akan mempercayai kita dengan melihatmu secara langsung walaupun ingatanmu belum semuanya pulih," ucap Erica.
"Aku hampir lupa jika kau memiliki kemampuan itu Erica," ucap Maya.
"Baiklah sekarang waktunya kita menelpon Rian," ucap Erica.
Lalu Erica mengambil handphonenya dan menelpon Rian.
"Kring kring kring" Suara handphone berdering.
"Ini nomor telponnya Erica, ada apa dia menelponku malam malam begini," ucap Rian sambil melihat handphonenya.
Lalu Rian menjawab telpon dari Erica.
"Iya halo Erica"
"Halo, maaf aku menelponmu malam malam begini," ucap Erica.
"Tidak apa apa, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Rian.
"Aku sekarang baik baik saja, besok aku sudah bisa masuk ke sekolah," jawab Erica.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang melihatmu sudah sembuh dan baik baik saja, ada apa kau menelponku?" tanya Rian.
"Pak Rian, bisakah kita bertemu besok, ada sesuatu yang ingin kukatakan dan itu sangat penting," jawab Erica.
"Apa ini berkaitan dengan Maya?" tanya Rian.
"Iya, ini berkaitan dengan Maya, aku harap jika kita bisa bertemu secepatnya," ucap Erica.
"Jika ini berkaitan dengan Maya, aku akan menemuimu walaupun sesibuk apapun," ucap Rian.
"Dimana kita bisa bertemu?" tanya Erica.
"Kau ingin menemuiku dirumahku atau kita bertemu di luar?"
"Erica jika kita ingin Rian dapat melihatku, sepertinya lebih baik jika kita yang kerumahnya, aku takut jika di tempat umum akan terjadi sesuatu karena dia terkejut melihatku," ucap Maya pada Erica.
"Benar juga kata Maya, tidak mungkin menemuinya di tempat umum," ucap Erica di dalam hati.
"Bagaimana Erica kau ingin menemuiku dimana?" tanya Rian.
"Bagaimana jika kita bertemu dirumahmu saja," ucap Erica.
"Dirumahku, baiklah kalau begitu jam berapa kau ingin kemari?" tanya Rian.
"Mungkin siang, setelah pulang sekolah," jawab Erica.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok," ucap Rian.
Lalu Erica menutup telponnya.
"Maya, apa nanti dia akan terkejut melihat yang telah menjadi hantu?" tanya Erica khawatir.
"Baik Maya, jika itu memang telah menjadi keputusanmu, kita akan melakukan itu bersama," ucap Erica.
Rian yang menerima telpon dari Erica, dia menjadi sangat penasaran dengan apa yang akan di bicarakan pada dirinya.
"Sebenarnya apa yang ingin dia katakan padaku besok dan itu berkaitan dengan Maya, gadis ini benar benar membuatku menjadi penasaran," ucap Rian.
Saat Rian sedang memikirkan Erica yang menelponnya, tiba tiba handphone miliknya berdering, kedua orang suruhannya menelpon saat itu.
"Kring kring kring" Suara handphone berdering.
"Halo"
"Halo Pak Rian, ini kami."
"Ada apa kalian menelponku? apa ada sesuatu yang mencurigakan saat kalian mengikuti Evan dan Erica?" tanya Rian.
"Kami ingin melaporkan pada anda sesuatu yang lain Pak Rian."
"Apa yang ingin kalian laporkan?" tanya Rian penasaran.
"Ternyata selain kita ada orang lain yang juga sedang mengawasi Evan dan Erica, kami bertemu dengannya di depan sekolah mereka," jawab orang suruhan Rian.
"Orang lain yang juga mengawasi mereka? seperti apa ciri ciri orang itu?" tanya Rian.
"Dia seorang laki laki muda, berparas tampan dan bertubuh tinggi kekar, serta pakaian yang di pakainya tampak berkelas, perkiraan kami dia penjahat yang berkelas tinggi Pak Rian."
"Apa saja yang dia lakukan?" tanya Rian.
"Dia tadi mendatangi kami dan menyuruh pergi dari sekolahnya Erica dan Evan, dia tampak cukup kuat jika berkelahi Pak Rian, Apa mungkin dia juga orang suruhan dari seseorang yang ingin mengawasi Erica dan Evan juga."
"Mungkin saja itu bisa, karena Erica dan Evan sekarang telah terlibat kasus penangkapan bos narkotika kemarin, kemungkinan besar orang suruhan itu salah satu dari mereka juga," ucap Rian.
"Apa yang harua kami lakukan selanjutnya Pak Rian?"
"Kalian ikuti orang suruhan itu secara diam diam, supaya kita tahu siapa yang sebenarnya menyuruh dirinya, dan kalian harus tetap berhati hati jika terasa terancam lebih baik kalian langsung pergi menjauh darinya," jawab Rian.
"Baik Pak Rian, kami akan melakukan apa yang anda perintahkan."
"Lakukan semuanya dengan benar jangan sampai ada kesalahan," ucap Rian.
"Baik Pak Rian."
Lalu Rian menutup telponnya.
"Apa ini semua perbuatan dari bos besar itu, aku sangat yakin jika ini semua perbuatannya termasuk hilangnya Maya yang secara misterius, tapi aku tak tahu siapa sebenarnya bos besar ini, dia sangat pintar menyembunyikan identitas aslinya," ucap Rian di dalam hati.
Saat itu pelayan wanita dirumah Rian masuk ke dalam kamarnya untuk mengantarkan obat.
"Tok tok tok" Suara mengetuk pintu.
"Masuk!" teriak Rian dari dalam kamarnya.
"Kreek" Suara membuka pintu.
"Maaf tuan, saya ingin mengantarkan obat untuk diminum malam ini," ucap Pelayan wanita itu.
"Letakkan saja di atas meja, aku akan segera meminumnya," ucap Rian.
"Baik tuan," jawab Pelayan wanita itu sambil meletakkan obat di atas meja.
"Besok akan ada tamu yang datang kemari menemuiku, aku ingin kau tidak menerima tamu yang lainnya saat aku sedang bersama tamu itu," ucap Rian.
"Tamu siapa maksud anda tuan?" tanya Pelayan wanita itu.
"Mereka bernama Evan dan Erica, mereka akan datang kemari siang besok, jika aku sedang bersama mereka, tolak siapapun yang ingin bertemu denganku, karena aku tidak ingin di ganggu saat sedang bersama mereka," jawab Rian.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Pelayan wanita itu.
Kemudian pelayan wanita itu keluar dari kamarnya Rian.
"Kenapa dia melarangku menerima tamu, saat dia sedang bersama kedua anak itu, bukankah Erica dan Evan adalah kedua anak yang waktu itu datang kemari untuk menemuinya, apa yang sebenarnya mereka bicarakan besok? sepertinya itu sangat penting dan rahasia," ucap Pelayan wanita itu penasaran.
Rian yang telah di antarkan obat oleh pelayan wanita itu, dia berpura pura meminumnya dengan membuang obat itu ke dalam toilet yang ada di kamarnya. Rian hanya berpura pura sakit agar tidak terlalu di curigai oleh orang lain jika dia sedang menjalankan rencananya untuk mencari Maya dan mengembangkan perusahaannya secara diam diam.