
Setelah melihat keadaan putranya, ibu dan ayahnya rio berniat untuk membawa rio ke psikolog untuk memastikan keadaan rio.
"Kita harus membawa ke psikolog di rumah sakit ini!" ucap ibunya rio khawatir.
"Iya, nanti ayah akan konsultasi ke dokter dan membawa rio besok ke psikolog di rumah sakit ini," ucap ayahnya rio.
"Iya, lebih cepat lebih baik jika kita membawanya ke psikolog! ibu benar benar mengkhawatirkan keadaan rio."
"Lebih baik ibu pulang, biar ayah yang menjaga rio disini!"
"Walaupun pulang kerumah ibu juga tak bisa tidur karena mengkhawatirkan rio," Ibunya rio duduk di samping anaknya.
"Baiklah istirahatlah disini, ayah akan menjaga rio! dia juga masih tidur."
"Baiklah yah, ibu akan istirahat sebentar," Ibunya rio berbaring di atas sofa.
Keesokan harinya ketika dokter datang untuk memeriksa rio. Ayahnya rio langsung berbicara pada dokter jika ingin membawa anaknya ke psikolog dan memberitahu keadaan rio tadi malam.
"Dok, saya ingin membawa anak ke psikolog apakah bisa?" tanya ayahnya rio.
"Apakah keadaan anak bapak sedang tidak baik?" Dokter menanyakan keadaan rio.
"Tadi malam anak saya rio berteriak teriak ketakutan dan menghayal bertemu dengan orang yang sudah mati," ucap ayahnya rio.
"Anak saya juga berbicara aneh, dia bilang jika ingin dibunuh," Ibunya rio mendekati ayahnya rio dan dokter yang sedang berbicara.
"Baiklah mungkin memang rio sebaiknya kita bawa ke psikolog," ucap pak dokter.
"Apakah bisa langsung kita kesana hari ini dok?" tanya ibunya rio.
"Tentu bisa nanti suster akan mengantarkan rio ke psikolog di rumah sakit ini."
"Terimakasih dok," ucap ayahnya rio.
"Suster! nanti bawa rio ke psikolog," ucap pak dokter.
"Baik dok."
"Saya permisi dulu," ucap pak dokter sambil berjalan keluar dari ruangan rio.
"Terimakasih dok," ucap ibunya rio.
"Mari saya antar ke ruangan psikolog di rumah sakit ini," ucap suster sambil membawa kursi roda untuk membawa rio.
"Baik sus," Ayahnya rio memindahkan rio ke kursi roda.
"Rio kita akan mengobatimu agar kau bisa sehat kembali," ucap ibunya rio sambil memegangi tangan rio.
Rio hanya diam dan tak berbicara sedikitpun, rio masih merasa sering ketakutan setelah di hantui oleh tasya dan maya. Rio akhirnya di bawa ke psikolog untuk di periksa lebih lanjut.
"Tok tok tok" Suster mengetuk pintu.
"Silahkan masuk."
"Kreek" suara suster membuka pintu.
"Permisi dok, saya mengantarkan pasien yang ingin menghadap dokter," Suster masuk ke dalam ruangan sambil mendorong kursi roda rio.
"Baiklah, silahkan duduk bapak dan ibu!"
"Terimakasih dok," ucap ayah dan ibunya rio sambil duduk.
"Baiklah saya permisi dulu," ucap suster sambil berjalan keluar ruangan.
"Baiklah, ada keluhan apa anak anda?" tanya bu dokter.
"Begini dok, anak saya sering merasa ketakutan dan berteriak sendiri," ucap ayahnya rio.
"Dia juga menghayal bertemu dengan orang yang sudah mati dan ingin membunuh dirinya dok!" ucap ibunya rio.
"Heem, seperti anak bapak dan ibu mengalami trauma yang cukup parah, jika tidak di segera di obati mungkin anak anda bisa menjadi gila!"
"Tolonglah anak saya dok! berapapun biayanya pasti akan kami bayar yang penting anak saya bisa sembuh seperti dulu!" ucap ibunya rio khawatir.
"Saya akan berusaha untuk mengobatinya dan pasti akan saya lakukan yang terbaik."
"Terimakasih dok," ucap ayah dan ibunya rio.
"Baiklah saya akan memeriksa anak anda dulu," Bu dokter mendekati rio yang sedang duduk di kursi roda.
"Jangan dekati aku!! siapa kau!!" teriak rio ketakutan.
"Tenanglah saya dokter yang akan memeriksamu rio!" Bu dokter berusaha menenangkan rio.
"Pasti kau datang kesini disuruh oleh tasya untuk membunuhku!! pergi jangan dekati aku!!"
"Heem, baiklah aku tak akan mendekatimu," Bu dokter kembali duduk di kursinya.
"Mungkin untuk sementara rio akan kuberikan obat penenang, sepertinya kejiwaannya belum stabil! kalau boleh saya tahu siapa tasya? sepertinya anak anda sangat ketakutan dengannya?" tanya bu dokter penasaran.
"Ehhmm tasya itu teman satu kampusnya yang sudah tiada dok!" ucap ibunya rio.
"Apa anak anda menjadi seperti ini karena tasya?"
"Saya tidak begitu yakin dok! karena anak saya dituduh membunuh tasya!" ucap ibunya rio.
"Dituduh sebagai pembunuh? bagaimana bisa?"
"Anak saya di fitnah dok! sekarang kasus ini masih diproses dan akan naik ke pengadilan!" ucap ibunya rio kesal.
"Heem begitu! tapi dalam sebuah kasus kita harus mendengarkan dari kedua belah pihak untuk mengetahui siapa yang salah dan yang benar!" ucap bu dokter.
"Tapi saya yakin jika anak saya tidak bersalah dok!" teriak ibunya rio.
"Jika anak anda tidak bersalah! kenapa dia bisa sampai depresi jika berkaitan dengan tasya? anda harus melihat dari dua sisi, kadang sesuatu yang kita anggap benar bukan berarti itu selalu benar bisa jadi itu salah!" ucap bu dokter tersenyum menatap ibunya rio.
Ibu dan ayahnya rio langsung terdiam mendengar ucapan bu dokter.
"Baiklah nanti saya berikan resep dan berikan obat itu pada anak anda agar bisa mengurangi depresinya," Bu dokter menuliskan resep untuk rio.
"Baik dok," ucap ayahnya rio.
"Ini resepnya," Bu dokter memberikan resep pada ayahnya rio.
"Terimakasih dok," Ayahnya rio mengambil resep dari bu dokter.
"Semoga anak bapak dan ibu cepat sembuh," ucap bu dokter.
"Terimakasih dok, saya permisi," ucap ayahnya rio sambil mendorong kursi roda rio keluar dari ruangan.
"Mereka terlalu menyayangi anaknya sehingga anaknya menjadi seperti itu," ucap bu dokter.
Setelah keluar dari ruangan psikolog ibunya rio sangat kesal dengan semua perkataan bu dokter.
"Baru menjadi dokter saja sudah sombong!!" teriak ibunya rio kesal.
"Sudahlah bu, kita masih membutuhkan bantuannya untuk pengobatan rio," ucap ayahnya rio menenangkan ibunya rio yang sedang kesal.
"Ayah dengar tadi, semua perkataannya menyalahkan anak kita! dia tidak tahu siapa saya! saya seorang pengacara yang hebat dan akan ku buat anakku memenangkan kasus ini dan membuatnya bebas dari semua tuduhan!!" teriak ibunya rio.
"Ayah tahu, ibu memang seorang pengacara yang hebat!"
"Kenapa rio tidak kita rawat di rumah sakit tempat ayah bekerja saja?"
"Lebih baik rio di rawat disini saja untuk sementara! setelah kasus rio selesai kita baru akan memindahkan kerumah sakit tempat ayah bekerja!"
"Apa ayah ingin menghindari wartawan dengan menyembunyikan rio disini?"
"Benar, jika rio di rawat disini ayah lebih bisa memperhatikannya tanpa ada wartawan yang tahu! ayah juga sudah mengambil cuti untuk merawat rio disini," ucap ayah rio sambil mendorong kursi roda rio menuju ruangannya.
"Ehm baiklah," ucap ibunya rio.
"Kita harus tetap hati hati jangan sampai memancing wartawan datang kemari dengan membuat keributan! untuk saat ini jaga emosi ibu!"
"Huuh, baiklah ibu akan berusaha untuk tidak terbawa emosi," ucap ibunya rio.
"Ini semua demi anak kita! jika ibu selalu menghadapi masalah ini dengan emosi, orang akan berpikir jika rio memang bersalah!"
"Ibu akan mencoba untuk tenang sampai kasus ini selesai! ibu juga tak ingin sampai anak kita masuk penjara! apalagi dia anak kita satu satunya!" Ibunya rio memegangi tangan rio.
"Kita harus tetap sabar dan menghadapi semua ini dengan kepala dingin," ucap ayahnya rio.
"Baik yah."
Setelah sampai di ruangan rio, ayahnya rio memindahkan rio ke tempat tidur. Rio masih tak berkata apapun dia hanya diam dan melamun. Ayah dan ibunya rio sangat menyayangi anaknya sehingga ingin melakukan apapun untuk anaknya.