
Setelah semuanya pulang dari rumahnya, Erica langsung kembali ke kamarnya dan mengambil teropong kecil miliknya dan mengintip dari jendelanya untuk melihat yang di katakan oleh Jenni, jika ada seseorang yang sedang mengawasi dirinya dari luar rumah.
"Dimana orang yang dikatakan oleh Kak Jenni itu," ucap Erica sambil melihat dengan teropong kecil miliknya.
"Apa kau melihatnya Erica? apa dia masih ada disana?" tanya Maya.
"Aku melihat ada mobil dan seseorang di dalamnya, sepertinya dia seorang laki laki, tetapi dia berjalan pergi dari sini kearah mobilnya Evan, apa dia sekarang sedang mengikuti Evan," ucap Erica.
"Mungkin benar yang dikatakan oleh Jenni jika kalian saat ini sedang di awasi oleh bos besar itu, bagaiamana besok kau akan menemui Rian? jika masih di ikuti oleh orang itu," ucap Maya.
"Aku harus mencari cara agar dia tidak mengikuti aku dan Evan saat menemui Rian besok, jika dia tetap mengikutiku aku takut mereka akan mengetahui rencana kita," ucap Erica.
"Ehm, baiklah kalau begitu biar aku yang turun tangan untuk menghadapi orang yang sedang mengawasi kalian," ucap Maya.
"Bagaimana cara kau menghalangi dia untuk mengikutiku besok?" tanya Erica.
"Apa kau lupa jika aku adalah seorang hantu," ucap Maya.
"Maksudmu bagaimana Maya? aku tidak mengerti?" tanya Erica.
"Aku memiliki rencana besok untuk menghalanginya, yang penting kau dan Evan besok bisa pergi menemui Rian besok tanpa di ikuti oleh orang itu," ucap Maya sambil tersenyum.
"Apa kau akan menyakiti orang itu?" tanya Erica.
"Tentu saja tidak Erica, selama orang itu tidak menyakiti kalian aku tidak akan membalasnya dengan menyakiti dia, walaupun aku hantu tapi aku juga masih memiliki perasaan dan tak mungkin melakukan sesuatu tanpa perhitungan terlebih dahulu," jawab Maya.
"Aku hanya tak ingin kau menyakiti orang lain, jika dia hanya di tugaskan untuk mengawasi kami saja kau lebih baik hanya menghalangi dia saja," ucap Erica.
"Siap nona Erica!" ucap Maya sambil tersenyum.
"Apaan sih Maya, kau mengatakan itu," ucap Erica tersenyum sambil menatap Maya.
"Asal kau tahu Erica aku tak akan membiarkan orang orang jahat itu juga menyakitimu, aku akan melakukan apapun untuk melindungimu dari mereka termasuk dengan membunuh mereka jika itu perlu," ucap Maya di dalam hati.
Sementara itu Yoga yang masih gelisah saat bertemu dengan adiknya yang dirasuki Maya, Dia berniat ingin melaporkan itu pada bos besar agar bisa segera membantu dirinya keluar dari sana dan dia bisa melindungi adik dan ibunya karena masih takut dengan ancaman dari Maya yang merasuki adiknya saat itu.
"Aku harus segera keluar dari sini, dan melidungi keluargaku dan diriku sendiri dari hantu itu, bisa saja dia akan datang lagi kemari, aku harus segera berbicara dengan bos besar hanya dia yang bisa menolongku saat ini," ucap Yoga.
"Bos apa kau yakin akan mengatakan ini pada bos besar kita, dia menyuruh kita untuk tetap menunggu saat ini," ucap salah satu anak buahnya.
"Kau tidak tahu jika hantu yang merasuki adikku itu dia sangat kuat sekali, bisa saja dia akan membunuh kita dengan datang lagi kemari," ucap Yoga.
"Bukankah bos besar kita juga sangat kuat bos, aku mendengar jika kekuatan spiritual dia sangat hebat mungkin saja dia bisa melenyapkan hantu yang mengganggumu itu."
"Benar juga katamu, bos besar kita memang kuat dalam hal spiritual juga, maka dari itu aku harus berbicara langsung dengannya," ucap Yoga.
"Bagaimana cara bos untuk menghubunginya, bukankah semua barang kita telah diambil oleh polisi?"
"Kita akan meminta bantuan dari pimpinan polisi disini, karena dia juga adalah orang kita," jawab Yoga.
"Pantas saja hanya dia yang tidak menanyai kita dengan sangat kasar seperti polisi yang lainnya."
"Pelankan suaramu, jangan sampai ada yang mendengarnya itu bisa menjadi sangat berbahaya jika orang lain sampai tahu," ucap Yoga.
"Baiklah bos."
"Kring kring kring" suara handphone berdering.
"Halo"
"Iya halo nyonya, ada apa menelponku? tanya pimpinan polisi itu.
"Aku ingin meminta tolong padamu," jawab Bos besar itu.
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Aku ingin berbicara dengan Yoga saat ini, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya," jawab Bos besar itu.
"Tentu nyonya, aku akan memanggil Yoga keruanganku dan kau bisa berbicara dengannya," ucap Pimpinan polisi itu.
"Baiklah setelah kau bersama dengannya, kau telpon aku kembali," ucap Bos besar.
"Baik nyonya."
Lalu Bos besar itu menutup telponnya, saat itu bos besar bersama dengan asisten pribadinya yang bernama Monica, dia adalah seorang wanita sekitar berumur 22 tahun cantik dan ahli bela diri, berbadan tinggi, berkulit putih, rambutnya yang panjang dan juga bertubuh langsing. Dia sudah bersama bos besar selama 5 tahun ini karena pernah di tolong oleh bos besar saat dia membunuh ayah tirinya yang berniat ingin memperkosanya saat dia berumur 17 tahun saat itu. Bos besar membantu dia dengan menyuap hakim dan jaksa sehinnga dia hanya menjalani hukuman selama 1 tahun dengan alasan dia masih di bawah umur saat itu.
"Aku ingin memastikan sesuatu saat ini," ucap Bos besar.
"Apa nyonya masih mengkhawatirkan tentang polisi wanita yang bernama Jenni itu?" tanya Monica.
"Sebenarnya yang membuatku khawatir bukan polisi wanita yang bernama Jenni itu, tapi gadis yang bernama Erica," jawab Bos besar itu.
"Kenapa nyonya mengkhawatirkan gadis muda itu?" tanya Monica.
"Aku merasakan ada aura yang berbeda dari dirinya, ada sosok yang membantunya selama ini dalam menghadapi kita," jawab Bos besar itu.
"Apa maksud nyonya gadis itu juga memiliki kekuatan spiritual seperti nyonya dan dia dibantu oleh sesosok hantu saat ini?" tanya Monica.
"Bisa dikatakan begitu Monica, yang harus kita waspadai saat ini adalah gadis yang bernama Erica itu, walaupun aku belum bertemu secara langsung dengannya akuk merasakan jika ada sesuatu di gadis itu, maka dari itu aku harus memastikannya dari Yoga karena dia yang sudah bertemu dengan gadis itu secara langsung," jawan Bos besar itu.
Sementara itu Pimpinan polisi itu menyuruh seorang polisi untuk membawa Yoga ke ruangannya.
"Hei kau, tolong bawakan tahanan yang bernama Yoga sekarang ke dalam ruanganku, ada sesuatu yang harus aku tanyakan padanya secara pribadi," ucap pimpinan polisi itu.
"Siap pak," jawab polisi itu.
Kemudian polisi itu menuju ke sel penjara untuk membawa Yoga ke dalam ruangan pimpinan polisi.
"Tahanan yang bernama Yoga!"
"Iya ada apa kau memanggilku?" tanya Yoga.
"Pimpinan ingin bertemu denganmu sekarang, kau bisa keluar dari sini dan menemuinya di dalam ruangannya."
"Kebetulan aku juga memang ingin berbicara dengannya saat ini," ucap Yoga di dalam hati.
"Baiklah aku akan ikut denganmu dan menemui pimpinan di dalam ruangannya," ucap Yoga.
Lalu Yoga berjalan keluar dari sel penjara bersama polisi itu dan menuju ke ruangan pimpinan polisi itu.