ME And GHOST

ME And GHOST
Pembalasan 8



Tasya yang muncul di dekat ibunya sangat merasa sedih, Maya mendekati tasya dan mencoba untuk menghiburnya.


"Tasya!!" Maya mendekati tasya.


"Hiks hiks hiks" Suara tasya menangis.


"Maya, aku benar benar anak yang tak berbakti dan membuat ibuku menjadi sedih!"


"Hem, semua ini sudah takdir tasya tak perlu menyesalinya lagi! tak lama lagi kasus ini semuanya akan selesai!"


"Entahlah maya! sampai sekarang saja rio belum di periksa oleh polisi karena alasan dia yang sedang sakit!" ucap tasya sedih.


"Setidaknya walaupun dia belum di adili oleh hukum! kita sudah menghukum dia!" ucap maya menatap tasya di sampingnya.


"Iya maya!"


Setelah menjelaskan semua hasil dari autopsi, Dokter mengajak polisi melihat kondisi dari jasad tasya.


"Bagaimana pak! apa sekarang kita langsung melihat jasad korban? apakah ibu juga siap untuk melihatnya?" ucap pak dokter.


"Apa ibu ingin melihat kondisi jasad dari korban untuk yang terakhir kalinya?" tanya pak polisi sambil menatap ibunya tasya.


"Saya siap pak!" ucap ibunya tasya.


"Kami akan menemani ibu kesana!" ucap intan sambil memegangi tangan ibunya tasya.


"Terimakasih kalian sudah mau membantu dan menemani ibu!" Ibunya tasya menatap erica, evan dan intan.


"Kita akan selalu menemani ibu!" ucap erica.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita ke kamar jenazah!" Pak dokter berjalan keluar ruangan dan menuju ke kamar jenazah.


"Mari bu!" ucap pak polisi mempersilahkan ibunya tasya untuk berjalan duluan.


"Terimakasih pak!" Ibunya tasya berdiri dari kursi dan berjalan mengikuti dokter.


"Ayo erica, evan!" ucap intan sambil berjalan mengikuti ibunya tasya.


"Maya! apakah ibuku akan kuat setelah melihat kondisi jasadku?" ucap tasya sedih dan khawatir.


"Ibumu orang hebat tasya dia pasti akan kuat! tenang saja ada erica, evan dan intan yang menemaninya!" ucap maya.


Mereka semua berjalan menuju kamar jenazah untuk melihat jasad tasya. Ibunya tasya yang mencoba tegar setelah mendengar semua hasil autopsi tasya, dan dia berusaha untuk menguatkan dirinya untuk melihat jasad anaknya untuk yang terakhir kalinya. Erica dan maya sangat mengkhawatirkan ibunya tasya dan takut jika dia akan sangat terkejut setelah melihat jasad anaknya.


"Ini kamar jenazah di rumah sakit ini!" ucap pak dokter.


"Kreek" Suara dokter membuka pintu.


"Silahkan masuk!" ucap pak dokter sambil berjalan masuk ke dalam kamar jenazah.


"Dimana jasad korban dok?" tanya pak polisi.


"Ada disana!" Pak dokter berjalan menuju tempat jasadnya tasya.


"Bu! apa ibu yakin ingin melihat jasadnya tasya?" tanya erica khawatir.


"Ibu yakin!"


Maya dan tasya juga mengikuti ke kamar jenazah untuk melihat keadaan ibunya tasya.


"Wah ternyata ini memang benar benar kamar jenazah! banyak hantu yang berkeliaran di sini!" ucap maya melihat sekeliling ruangan.


"Ini jasadnya korban yang bernama tasya!" ucap pak dokter.


"Terimakasih dok!" ucap pak polisi.


"Karena jasadnya sudah lumayan lama, jadi jasadnya sudah agak rusak tetapi sudah kita bersihkan! setelah selesai melihatnya jasad ini akan kita masukkan ke dalam peti lalu di berikan kepada keluarga korban untuk di kuburkan!"


"Baik dok!" ucap pak polisi.


"Apa ini jasad anak saya tasya?" Ibunya tasya berjalan mendekati jasadnya tasya.


"Benar bu! ini jasad korban!" ucap pak dokter.


Pak dokter membuka kain yang menutup jasadnya tasya dan membuat semua orang sangat terkejut setelah melihatnya.


"Tasya!!!!!" teriak ibunya tasya


"Hiks hiks hiks!!" Ibunya tasya menangis.


"Apa benar itu tasya!" ucap intan terkejut.


"Benar intan! jasadnya tasya sudah rusak karena sudah terlalu lama baru ditemukan!" ucap erica.


"Waktu pertama kali ditemukan aku dan erica kondisi jasadnya tasya sangat mengerikan!" ucap evan.


"Tasya temanku! hiks hiks hiks!" Intan menangis.


"Kenapa nasibmu begini nak! ibu tak menyangka jika kau berakhir seperti ini!" ucap ibunya tasya sambil menangis.


Ibunya tasya menangis dan terduduk di lantai setelah melihat jasad anaknya. Intan pun merasa sangat sedih setelah melihat jasad tasya yang nyaris tidak bisa di kenali lagi.


"Aku tak menyangka jika tasya bisa berakhir seperti ini di tangan rio laki laki brengsek itu!" ucap intan marah.


"Apa! dia sekarang depresi! apa itu mungkin erica, mereka hanya ingin mengulur waktu agar kasus ini tidak bisa naik ke pengadilan!" ucap intan kesal.


"Entahlah, aku juga mendapatkan kabar dari teman! yang mengatakan begitu kondisi rio sekarang!" Erica menatap maya yang ada di belakangnya.


"Memang betul sekarang dia depresi mendekati gila!" ucap maya.


"Ibu yang sabar kita sebagai polisi yang menangani kasus ini pasti akan memproses kasus ini sesuai hukum yang berlaku!"


"Tolong pak polisi! tangani kasus anak saya dan hukum penjahat yang telah membunuhnya!" teriak ibunya tasya kesal.


"Tentu bu! kita akan melakukannya!" ucap pak polisi.


"Oo iya bu! saya melepaskan cincin ini dari jasad korban!" Pak dokter memberikan cincin pada ibunya tasya.


"Ini cincin hadiah ulang tahunnya yang ku berikan tahun lalu!" ucap ibunya tasya sambil mengambil cincin yang di berikan pak dokter.


"Ibu!!!!" teriak tasya sedih sambil menatap ibunya.


"Yang sabar tasya!!" ucap maya.


"Maya!! aku sangat sedih melihat ibuku, hiks hiks hiks!" Tasya menangis.


"Menangislah jika itu membuat perasaanmu lebih baik tasya!" ucap maya.


"Hiks hiks hiks!" Tasya menangis sejadi jadinya karena sedih melihat ibunya.


"Keluarkanlah perasaan sedihmu agar bisa membuatmu lebih lega!"


Erica yang Melihat tasya menangis menjadi sangat sedih.


"Bu, ayo berdiri!" Erica membantu ibunya tasya berdiri dari lantai.


"Hanya ini sisa kenangan dari tasya untuk ibu!" ucap ibunya tasya sedih.


"Kita harus sabar dan ikhlas bu! jika ibu bersedih terus tasya tidak akan tenang di alam sana!" ucap erica sambil menghapus air mata ibunya tasya.


"Maafkan ibu! setelah melihat kondisi jasadnya tasya yang seperti membuatku menjadi sangat sedih! hati ibu siapapun jika melihat anaknya seperti ini pasti akan sangat sedih!"


"Iya bu! erica paham!"


"Baiklah jika selesai melihat jasadnya, maka akan kita masukkan ke dalam peti!" Pak dokter menutup kembali jasad tasya dengan kain.


"Iya dok!" ucap ibunya tasya.


"Setelah selesai kita masukkan ke dalam peti, kita akan mengantarkan jasadnya tasya kerumah untuk di semayamkan dan di kuburkan!"


"Iya dok terimakasih!" ucap ibunya tasya.


"Terimakasih dok! kita akan menunggu di luar!" ucap pak polisi.


"Baiklah!"


"Mari bu! kita menunggu di luar!" ucap pak polisi.


"Baik pak!" Ibunya tasya berjalan keluar dari kamar jenazah.


"Apa tasya akan langsung di kuburkan bu?" tanya intan.


"Sepertinya besok intan! karena sekarang sudah hampir malam!" ucap ibunya tasya.


Cindy yang telah mengikuti erica dan evan sampai kerumah sakit, setelah melihat semua orang pergi dari kamar jenazah. Dia langsung bergegas masuk ke dalam kamar jenazah untuk melihat jasadnya tasya.


"Krek" Suara cindy membuka pintu.


"Siapa kamu masuk kemari!!" teriak pak dokter.


"Saya teman dari korban yang bernama tasya! apa saya bisa melihat jasadnya dok!"


"Jadi kamu juga temannya korban?"


"Iya dok! saya benar benar ingin melihat dia untuk yang terakhir kalinya!"


"Baiklah silahkan di lihat! sebentar lagi jasad ini akan di masukkan ke dalam peti!"


Cindy berjalan mendekati jasadnya tasya dan membuka kain penutupnya.


"Astaga!!!!!!" teriak cindy terkejut.


"Kondisi jasadnya benar benar sudah hampir tidak bisa di kenali!!" ucap cindy.


"Iya betul! itu karena sudah lama terkubur di dalam tanah dan jasadnya sudah mulai membusuk!" ucap pak dokter.


Karena bau yang cukup menyengat membuat cindy merasa mual dan ingin muntah.


"Huak huak" Cindy merasa mual mencium bau jasadnya tasya.


"Kenapa orang orang tadi bisa tahan dengan bau jasad ini!" ucap cindy di dalam hati.


"Terimakasih dok! saya permisi!" ucap cindy sambil berlari keluar dari kamar jenazah.


Cindy merasa sangat terkejut setelah melihat jasadnya tasya. Cindy benar benar tak menyangka jika rio yang melakukan itu semua. Dia juga merasa sangat takut jika rio menyebutkan namanya ke polisi karena dia juga terlibat kasus untuk merencanakan pelecehan pada erica.