
Setelah pulang sekolah erica dan evan berencana untuk menemui ibunya tasya. Cindy yang penasaran dengan apa yang terjadi pada rio mengikuti erica dan evan, Cindy ingin mencari tahu apa yang di lakukan erica dan evan yang berkaitan dengan rio.
"Erica!! sudah selesai semua? ayo kita berangkat," Evan menghampiri erica di kelasnya.
"Iya evan," Erica mengambil tasnya dan pergi bersama evan.
"Mau kemana mereka?" ucap cindy penasaran.
Cindy mengikuti evan dan erica dari belakang.
"Kita langsung menuju rumah ibunya tasya," ucap evan memasuki mobil.
"Iya evan," ucap erica sambil masuk ke dalam mobil evan.
Evan menyalakan mobilnya dan menuju ke rumah ibunya tasya.
"Aku harus mengikuti mereka! mau kemana mereka berdua aku harus mencari tahu!" ucap cindy penasaran.
"Taksi!!!!" teriak cindy memanggil taksi yang lewat.
Lalu cindy masuk ke dalam taksi.
"Pak ikuti mobil itu!!" ucap cindy sambil menunjuk kearah mobil evan yang sedang berjalan.
"Baik" ucap supir taksi.
Tanpa erica dan evan sadari cindy mengikuti mereka sampai ke rumah ibunya tasya. Setelah sampai dirumah ibunya tasya, Erica dan evan turun dari mobil.
"Tok tok tok" Suara evan mengetuk pintu.
"Sebentar!!!" suara ibunya tasya dari dalam rumah.
"Kreek" Suara ibunya tasya membuka pintu.
"Oo ternyata kalian erica dan evan!"
"Apa kabar bu?" ucap erica.
"Kabar ibu baik, ayo silahkan masuk."
"Terimakasih bu, ayo evan kita masuk," Erica dan evan masuk ke rumah ibunya tasya.
Cindy merasa penasaran dan mengintip dari luar rumah ibunya tasya.
"Siapa wanita itu?" ucap cindy sambil mengintip dari luar.
Ada tetangga dari ibunya tasya yang melihat cindy dan menegurnya.
"Sedang apa kau disini? mengintip rumahnya tasya? apa kau temannya tasya?" tanya tetangga ibunya tasya.
"Ah tidak aku hanya melihat lihat saja bu," ucap cindy.
"Ehm kasian nasib ibunya tasya."
"Memangnya dia kenapa bu?" tanya cindy penasaran.
"anak semata wayangnya telah tiada di bunuh oleh pacarnya sendiri."
"Apa ibu tahu nama pacar yang membunuhnya?"
"Ehm kalau tidak salah namanya rio!"
"Apa ibu yakin jika namanya rio?"
"Tentu yakin, dulu rio sering kemari mengantar dan menjemput tasya! mereka juga kebetulan teman satu kampus."
"Apa polisi sudah kemari membawa jasadnya tasya?"
"Jasadnya belum di kuburkan karena masih di autopsi di rumah sakit untuk mengetahui penyebab kematiannya."
"Ooo jadi begitu," Cindy merasa terkejut mendengar cerita dari tetangga ibunya tasya.
"Baiklah saya pergi dulu!!" ucap tetangga ibunya tasya.
"Terimakasih bu atas informasinya!"
"Sama sama."
"Huuh ternyata kasusnya rio berat juga! bagaimana jika polisi juga menyelidiki kasus pelecehannya pada tasya! awas saja jika rio mengaitkanku pada kasusnya!!" Cindy masuk ke dalam taksi dan pergi meninggalkan rumah ibunya tasya.
Erica dan evan mendatangi ibunya tasya untuk melihat keadaannya.
"Maaf bu jika kami mengganggu dengan datang kemari," ucap erica.
"Tidak apa apa, ibu senang kalian datang kemari menemui saya."
"Apa polisi sudah datang kemari dan menemui ibu?" tanya evan.
"Heeemm!!" Ibunya tasya menghela nafas.
"Polisi sudah datang kemari dan memberitahu ibu tentang tasya," jawab ibunya sedih.
"Apa ibu sudah melihat jasadnya tasya?" tanya erica sambil menatap ibunya tasya.
"Yang sabar bu," Erica mendekati ibunya tasya dan duduk di sebelahnya.
"Ibu benar benar terkejut dan tak percaya mendengar dari polisi jika tasya telah tiada, hiks hiks hiks."
Tiba tiba hantu tasya muncul di rumahnya dan dia melihat ibunya yang sedang menangisi kematiannya.
"Ibu!!!" ucap tasya menatap ibunya yang sedang menangis.
"Tasya kau kemari!" ucap maya menatap tasya.
"Iya maya, aku kemari karena mengkhawatirkan ibuku."
"Ehm iya tasya, ibuku sangat sedih dengan kematianmu yang tidak wajar."
"Aku benar benar bukan anak yang berbakti! aku hanya anak yang menyusahkan ibunya!"ucap tasya sedih.
" Kau tak boleh menyalahkan dirimu sendiri tasya! semua ini sudah takdir," Maya memegangi bahunya tasya.
"Cuma aku merasa sedih karena semasa hidupku belum bisa membahagiakan ibuku, hiks hiks hiks!" Tasya menangis sedih.
"Sudahlah tasya jangan bersedih lagi!" ucap maya mencoba menenangkan tasya.
Erica yang melihat tasya muncul di rumahnya, merasa sangat sedih dengan melihat ibunya tasya dan tasya yang kedua menangis sedih.
"Bu, jika kau menangis terus tasya juga akan sangat sedih melihat ibunya," ucap erica.
"Ibu benar benar menyayangi tasya, dia anak satu satunya dan sekarang dia harus pergi selamanya dari ibu," Ibunya tasya mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.
"Bersabarlah bu, semua ini sudah takdir! jika ibu mengikhlaskan kepergian tasya dia akan dapat pergi dengan tenang," Erica memegangi tangan ibunya tasya.
"Ibu akan berusaha mengikhlaskan tasya, ibu tak ingin menjadi bebannya dan membuat arwahnya tak tenang."
"Erica yakin ibu pasti bisa menghadapinya, tasya juga pasti akan senang jika melihat ibunya kembali seperti dulu lagi tersenyum bahagia."
"Ibu akan berusaha, semuanya demi tasya."
"Ibu tenang saja! rio yang membunuh tasya akan dihukum dengan seberat beratnya akan ku pastikan itu!" ucap erica.
"Benar bu, orang tua erica sudah menyewa pengacara yang sangat hebat untuk menangani kasus ini! jadi ibu tak perlu khawatir," ucap evan.
"Terimakasih kalian sudah mau membantu ibu dan tasya," ucap ibunya tasya.
"Ini sudah menjadi kewajiban kami membantu orang lain yang sangat membutuhkan bantuan!" ucap erica.
"Setelah selesai di autopsi ibu akan mencoba kuat untuk melihat tasya di rumah sakit untuk yang terakhir kalinya!" ucap ibunya tasya.
"Ibu harus kuat dan tegar jika melihat keadaan tasya nanti," ucap erica khawatir.
"Iya erica!"
"Nanti kita akan menemani ibu kesana," ucap evan.
"Iya bu, nanti saya dan evan akan menemani ke rumah sakit untuk melihat tasya!" ucap erica.
"Iya terimakasih kalian mau menemani ibu."
"Kami tidak ingin melihat ibu terus larut dalam kesedihan," ucap erica menatap ibunya tasya.
"Hanya kalian dan intan yang sangat memperdulikan ibu dan tasya."
"Tak perlu khawatir bu, kami pasti akan selalu menemani ibu," Erica tersenyum menatap ibunya tasya.
"Kalian benar benar orang yang sangat baik, hanya tuhan yang dapat membalas semua kebaikan kalian," ucap ibunya tasya.
"Baiklah bu, saya dan evan permisi untuk pamit pulang! erica harap ibu tak akan bersedih lagi," ucap erica.
"Ibu akan berusaha untuk tidak sedih."
"Nanti jika ada kabar lagi tentang kasus tasya, erica akan segera menghubungi ibu."
"Baik erica"
"Saya dan evan pulang dulu bu."
"Hati hati di jalan, dan terimakasih sudah mau mampir kemari."
"Iya bu, sampai jumpa lagi," ucap erica.
"Terimakasih erica!!" ucap tasya tersenyum menatap erica.
Erica melihat ke arah tasya dan tersenyum padanya.
"Tasya apa kau akan disini menemani ibumu," tanya maya.
"Iya maya, aku sementara akan disini untuk menemani ibuku dan melihat keadaannya," ucap tasya.
"Baiklah, kami pulang dulu tasya."
"Iya maya," ucap tasya tersenyum.
Erica dan evan keluar dari rumah ibunya tasya, dan masuk ke dalam mobil. Evan mengantarkan erica pulang kerumahnya. Erica sangat sedih setelah melihat keadaan ibunya tasya dan melihat tasya yang menangis bersedih dengan nasib yang menimpa mereka. Erica sangat ingin melihat rio segera di hukum dan di adili atas semua perbuatan yang telah dia lakukan.