
Saat Jenni turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu masuk rumahnya Erica, penjaga rumah langsung menghampiri dan bertanya pada Jenni.
"Maaf nona, anda ingin bertemu dengan siapa?"
"Saya Jenni, datang kemari untuk memenuhi undangan dari ibunya Erica," jawab Jenni.
Saat itu Bik Mina yang kebetulan lewat disana di panggil oleh penjaga rumahnya Erica.
"Bik Mina!"
"Iya ada apa?"
"Tolong antarkan nona ini menemui nyonya."
"Ooo iya baiklah."
"Silahkan nona, Bik Mina akan mengantar anda ke dalam menemui nyonya."
"Baiklah terimakasih," ucap Jenni.
Penjaga rumah itu tanpa sengaja melihat ke dalam mobilnya Jenni yang kebetulan kaca mobilnya sedikit terbuka, dia terkejut ternyata Jenni adalah seorang polisi wanita.
"Kenapa dia lupa menutup kaca mobilnya? itu seperti sebuah tanda pengenal polisi, foto yang ada di tanda pengenal itu seperti nona tadi, berarti dia seorang polisi wanita! wah untung saja aku tidak asal berbicara tadi," ucap Penjaga rumahnya Erica.
Bik Mina mengantarkan Jenni menuju ke ruang makan.
"Permisi nyonya, ada yang ingin menemui anda," ucap Bik Mina.
"Maaf tante saya datang terlambat," ucap Jenni.
"Ternyata kamu, langsung bergabung saja dengan kita, silahkan duduk," ucap Ibunya Erica.
"Terimakasih tante," ucap Jenni sambil duduk di kursi makan di sampingnya Evan.
"Aku pikir kakak tadi tidak bisa datang karena sibuk," ucap Evan sambil menatap kakaknya.
"Iya Jenni, bagaimana dengan pekerjaanmu? apa sudah selesai sehingga kau bisa datang kemari?" tanya Ibunya Erica.
"Kebetulan pekerjaan hari ini tidak begitu banyak, jadi aku dengan cepat bisa menyelesaikannya," jawab Jenni.
"Kau memang seorang polisi wanita yang sangat cekatan," ucap Ayahnya Erica.
"Terimakasih om atas pujiannya," ucap Jenni.
"Dia memang seorang polisi wanita yang cukup hebat menurutku," ucap Maya.
"Ooo iya Erica, bagaimana dengan keadaanmu sekarang?" tanya Jenni.
"Saya sudah merasa baik Kak Jenni," jawab Erica.
"Syukurlah kalau begitu, berarti kami tidak sia sia mendapatkan penawar racun itu untukmu, kakak sangat senang bisa melihatmu sehat kembali," ucap Jenni.
"Terimakasih kak, maaf telah merepotkan kalian," ucap Erica.
"Tak perlu sungkan, bukankah kau pacarnya Evan tentu saja kakak wajib untuk menolongmu," ucap Jenni.
"Tentu saja, bukankah kita akan menjadi keluarga nantinya," ucap Ibunya Erica tersenyum.
"Ah ibu kenapa mengatakan itu," ucap Erica tersipu malu.
Rey yang mendengar ucapan Jenni dan Ibunya Erica merasa gelisah karena dia masih begitu menyukai Erica.
"Kenapa mereka harus membicarakan itu disini," ucap Rey di dalam hati.
"Ayo Jenni silahkan dimakan tante sudah banyak memesan makanan dan minuman untuk hari ini," ucap Ibunya Erica.
"Baik terimakasih tante," ucap Jenni.
"Ooo iya Jenni, kira kira nanti kapan kau dan Evan bisa menemani om dan tante bertemu dengan orang yang membantu kalian menemukan penawar racun itu?" tanya Ayahnya Erica.
"Kalau saya tergantung dengan om dan tante saja, kapanpun aku bisa menemani kesana, apalagi ada sesuatu yang harus aku lakukan disana nanti," jawab Jenni.
"Bagaimana jika kesana lusa saja yah, setelah pulang sekolah," ucap Erica.
"Apa kau bisa jika kita lusa saja kesana Jenni?" tanya Ayahnya Erica.
"Tentu om, aku bisa," jawab Jenni.
"Jika bukan diriku yang merasuki gadis itu tidak mungkin dia mau membantu menemukan penawar itu," ucap Maya.
"Jika saja ayah dan ibunya Erica tahu jika yang menolong anaknya bukan gadis itu melainkan Maya," ucap Evan di dalam hati.
Erica hanya diam saja ayahnya yang ingin bertemu dengan adiknya Yoga. Dia tidak akan mungkin mengatakan jika yang menolong dia yang sebenarnya adalah Maya seorang hantu.
"Jika selesai kita makan bersama kalian jangan pulang dulu, silahkan bersenang senang dulu disini, bukankah kita baru kali ini bisa berkumpul di rumah Erica," ucap Ibunya Erica.
"Tentu tante, terimakasih atas tawarannya," ucap Putri tersenyum senang.
"Aku akan mengajak kalian berkeliling rumahku," ucap Erica.
Setelah selesai makan bersama Erica mengajak mereka berkeliling rumahnya, sementara Jenni yang masih penasaran dengan mobil yang dilihatnya tadi dia masih memikirkannya.
"Jenni!" teriak Ibunya Erica.
"Iya tante," jawab Jenni.
"Kenapa kau tidak ikut berkeliling dengan yang lainnya?" tanya Ibunya Erica.
"Tidak apa apa tante, aku biar disini saja, duduk disini sambil menatap taman tante yang sangat indah, membuatku sangat tenang," jawab Jenni.
"Apa kau juga sangat suka dengan tanaman dan bunga Jenni seperti tante?" tanya Ibunya Erica.
"Tentu, bukankah mereka sangat indah, aku sangat menyukainya, apalagi jika aku sedang memikirkan sesuatu yang penting, aku pasti akan menatapi taman taman yang indah di sekitarku agar bisa menjadi tenang dalam berpikir," jawab Jenni.
"Jadi kau sekarang sedang memikirkan sesuatu?" tanya Ibunya Erica.
"Ehm, sebenarnya bisa dikatakan begitu, aku sedang memikirkan sesuatu belakangan ini," jawab Jenni.
"Tante harap kau bisa segera mendapatkan jawaban tentang sesuatu yang sedang kau pikirkan," ucap Ibunya Erica.
"Terimakasih tante," ucap Jenni.
"Aku tidak mungkin mengatakan padanya jika melihat seseorang yang mencurigakan di depan rumahnya yang sedang mengamati," ucap Jenni di dalam hati.
Sementara itu Erica yang mengajak Evan, Rey, dan Putri berkeliling di rumahnya. Erica mengajak mereka menuju ke ruangan perpustakaan pribadi miliknya.
"Ini ruang perpustakaan milikku," ucap Erica.
"Kreek" Suara membuka pintu.
"Silahkan masuk," ucap Erica.
Mereka semua berjalan masuk ke dalam ruang perpustakaan miliknya Erica.
"Wow Erica, perpustakaan milikmu sama besarnya dengan milik Rey," ucap Putri.
"Kebetulan hobiku sama dengan Rey, aku sangat suka membaca dan mengoleksi buku," ucap Erica.
"Kalian berdua memang super super kaya sekali! Erica apa aku boleh membaca dan melihat buku buku di sini?" tanya Putri.
"Tentu saja silahkan," jawab Erica.
"Ayo Rey, bukankah kau juga sangat suka dengan buku, walaupun kau punya perpustakaan sendiri setidaknya disini berbeda sedikit dengan punyamu," ucap Putri.
"Silahkan Rey," ucap Erica.
"Baiklah," jawab Rey.
Rey masih merasa cemburu dan tidak bersemangat seperti biasanya karena melihat kedekatan Erica dan Evan, dia lebih banyak diam saja dan menatapi Erica dan Evan. Saat Rey dan Putri pergi melihat lihat koleksi bukunya Erica, Erica menarik tangan Evan dan berbisik padanya.
"Evan, aku ingin berbicara denganmu sebentar," bisik Erica.
"Kau ingin membicarakan apa Erica?" tanya Evan.
"Ini tentang Rian," jawab Erica.
"Mumpung Rey dan Putri sedang melihat lihat bukuku, kita berbicara disini saja," ucap Erica.
"Baiklah," jawab Evan.
"Kita besok harus menemui Rian dan meminta bantuannya untuk mencari wanita yang bernama Dian, aku merasakan aura hantu yang sangat jahat belakangan ini berada disekitar kita, secepatnya kita harus menemukan wanita yang bernama Dian itu, ada kemungkinan kata Maya jika Rian juga mengenalnya karena dia adalah pacarnya Maya," ucap Erica.
Erica menjelaskan semuanya pada Evan, mereka berencana akan segera menemui Rian dan mencari wanita yang bernama Dian itu agar mendapatkan petunjuk tentang Maya.