
Keesokan paginya saat Evan sedang bersiap siap untuk pergi menjemput Erica, Jenni kakaknya Evan masuk ke dalam kamar adiknya untuk bertemu dengan Evan.
"Tok tok tok" suara Jenni mengetuk pintu.
"Masuk" teriak Evan.
"Kreek" suara membuka pintu.
"Evan!!"
"Kak Jenni! ada apa kemari?"
"Ehm, mau kemana kau pagi pagi begini?" tanya Jenni penasaran.
"Aku akan pergi bersama Erica," jawab Evan.
"Ooo apa kalian akan pergi berkencan?"
"Tentu saja, namanya juga sepasang kekasih, kita pasti akan pergi berkencan," jawab Evan.
"Ehm, dasar kau ingin membuatku merasa iri padamu dengan pergi berkencan," ucap Jenni sambil duduk di atas tempat tidur Evan.
"Makanya Kak Jenni jangan sibuk bekerja terus, carilah seorang pria dan ajak berkencan, siapa tahu dia jodohnya Kak Jenni, hahahaha," ucap Evan sambil tertawa.
"Dasar kau, beraninya kau mengejekku!" teriak Jenni.
Jenni melempar bantal kepada Evan yang sedang menyisir rambutnya.
"Haah, Kak Jenni lihat rambutku menjadi berantakan lagi karenamu!"
"Salah siapa kau mengejekku tadi," ucap Jenni tersenyum.
"Tapi memang betul kan ucapanku, jika memang Kak Jenni tidak punya pacar sampai sekarang," ucap Evan mengejek kakaknya.
"Kata siapa aku tidak punya, aku punya pacar kok! hanya dia sekarang masih sibuk bekerja jadi kita sangat sulit untuk bertemu," ucap Jenni.
"Benarkah itu? apa Kak Jenni tidak berbohong?"
"Tentu saja aku tidak berbohong!" ucap Jenni.
"Baiklah kalau begitu kenalkan aku padanya, baru aku akan percaya dengan ucapan kakak," ucap Evan.
"Ok baiklah aku akan memperkenalkannya padamu," ucap Jenni.
"Aku sangat tidak sabar ingin bertemu calon kakak ipar," ucap Evan.
"Lihat saja nanti aku pasti akan membawanya bertemu denganmu," ucap Jenni.
"Aku akan menantikannya kakakku tersayang," ucap Evan.
Jenni kemudian langsung berjalan keluar dari kamarnya Evan dengan perasaan yang kesal karena Evan yang telah mengejeknya.
"Dasar anak itu! awas saja aku akan membalasnya," ucap Jenni kesal.
"Dasar Kak Jenni, tidak punya pacar tapi mengakunya punya, tapi setidaknya aku telah membuat dia semangat untuk mencari seorang pacar dengan ucapanku tadi padanya" ucap Evan sambil tersenyum.
Kemudian Evan pergi menuju ke mobilnya lalu langsung menuju rumahnya Erica untuk menjemputnya. Erica yang masih bersiap siap untuk pergi bersama dengan Evan ke perbatasan kota menuju ke tempat Maya pernah bekerja. Maya sedikit merasa gelisah saat akan pergi kesana bersama Erica dan Evan.
"Erica"
"Iya Maya, ada apa?"
"Entah kenapa pagi ini aku malah merasa sangat gelisah, aku takut jika akan terjadi sesuatu yang buruk nanti," ucap Maya khawatir.
Erica menatap Maya yang ada di sampingnya.
"Maya sudah kubilang kau jangan terlalu khawatir, semua pasti akan berjalan dengan lancar, kita harus mengungkap semuanya dan mencari penjahat itu," ucap Erica.
"Aku mengkhawatirkan dirimu Erica, aku takut jika kau akan celaka karena menolongku mengejar penjahat itu," ucap Maya.
"Bukankah ada dirimu yang akan selalu menjagaku," ucap Erica tersenyum.
"Haah, Erica sekarang kau telah sangat berubah menjadi orang yang lebih berani," ucap Maya.
"Tentu saja, ini semua demi temanku Maya, aku akan melakukan apapun untuk membantunya," ucap Erica.
"Terimakasih Erica."
"Baiklah," ucap Maya.
Erica dan Maya keluar dari kamar dan menuju ke pintu keluar rumahnya. Di sana sudah ada Evan yang menunggu Erica.
"Pagi Erica"
"Pagi Evan, kupikir kau masih dalam perjalanan kesini," ucap Erica.
"Ehm, aku telah bersiap siap dari pagi pagi sekali supaya tidak terlambat menjemputmu, Ooo iya dimana ayah dan ibumu?"
"Ayah dan ibu sepertinya tidak ada dirumah, mungkin mereka pergi pagi pagi sekali, heem biasalah ayah dan ibu orang yang selalu sibuk mereka sangat jarang berada dirumah," jawab Erica.
"Tapi apa kau sudah meminta izin pada ayah dan ibumu jika kita pergi hari ini? karena kita pergi cukup jauh," ucap Evan.
"Tadi malam aku sudah meminta izin pada ibuku, dia telah mengizinkan kita untuk pergi hari ini," jawab Erica.
"Syukurlah kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang agar pulangnya tidak terlalu lama," ucap Evan.
"Baiklah Evan."
Erica dan Evan masuk ke dalam mobil dan mereka langsung pergi menuju ke perbatasan kota tempat Maya dulu bekerja.
"Apa Maya ada di dalam mobil bersama kita?" tanya Evan.
"Tentu saja, sekarang dia sedang duduk di kursi belakang," jawab Erica.
"Ooo begitu, bukankah setahu hantu bisa menghilang dan langsung muncul di manapun tempat yang mereka inginkan? kenapa Maya tidak bisa langsung saja menghilang dan muncul disana?" tanya Evan.
"Tentu Maya bisa melakukannya, hanya dia tidak tahu dimana dulu tempat dia bekerja karena dia tidak ingat bagaimana dia bisa melakukan itu," jawab Erica.
"Banyak bertanya sekali anak ini, seperti dia tidak pernah menjadi hantu saja, lagi pula aku lebih suka naik mobil dari pada menggunakan kekuatan hantuku itu akan memakan banyak energi," ucap Maya.
Erica tersenyum mendengar ucapan Maya.
"Kenapa kau tiba tiba tersenyum Erica? apa Maya mengatakan sesuatu tentangku?" tanya Evan.
"Sepertinya begitu," jawab Erica.
"Wah, kenapa Maya sering sekali marah padaku? apa aku telah menyinggung perasaannya, bukankah kita telah menjadi seorang teman," ucap Evan.
"Haah, teman apanya! dia selalu saja mengatakan hal yang aneh aneh tentangku," ucap Maya kesal.
Setelah memasuki perbatasan kota, Erica dan Evan langsung menuju ke kantor polisi yang ada disana. Sebelum sampai di kantor polisi tempat Maya bekerja dulu, mereka berhenti di sebuah restoran untuk beristirahat sebentar.
"Erica, kita istirahat disini sebentar sambil makan siang, setelah itu baru kita lanjutkan ke kantor polisi tempat Maya bekerja dulu," ucap Evan sambil menghentikan mobilnya.
"Baiklah lagi pula aku sudah sangat lapar," ucap Erica.
Erica dan Evan kemudian turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran itu.
"Selamat datang, silahkan duduk saya akan membawakan buku menunya," ucap pelayan restoran.
"Baik terimakasih," ucap Evan.
Kemudian Erica dan Evan duduk di dalam restoran itu.
"Ehm, restoran ini sepertinya sudah cukup tua," ucap Evan sambil melihat di sekelikingnya.
"Tentu saja sudah tua, karena restoran ini telah berdiri selama 30 tahun," jawab pelayan restoran itu sambil memberikan buku menu restoran.
"Ooo pantas saja, tapi kami sangat menyukai suasananya cukup menarik dan unik ," ucap Evan.
"Silahkan di lihat menunya," ucap Pelayan restoran itu.
"Kau ingin pesan apa Erica?"
"Bagaimana jika kita pesan menu spesial dari restoran ini saja," ucap Erica.
"Ah iya betul juga katamu Erica, setiap restoran pasti mempunyai menu yang sangat spesial, baiklah kami pesan dua meu spesial restoran ini," ucap Evan.
"Baiklah akan segera kami siapkan, harap ditunggu sebentar," ucap Pelayan restoran itu.
Pelayan restoran itu mengambil kembali buku menu dan pergi menuju ke dapur untuk menyiapkan pesanan Erica dan Evan.