
Setelah sampai di rumah tempat tinggal ibunya Maya, Rian mengajak Erica dan Evan masuk ke dalam rumah itu untuk bertemu dengan ibunya Maya.
"Ayo kita masuk ke dalam, ibunya Maya ada di dalam rumah ini bersama dengan Bu Vira," ucap Rian.
"Iya terimakasih Pak Rian," ucap Erica.
Lalu mereka berjalan ke arah pintu masuk rumah itu.
"Ting tong ting tong" Suara bel berbunyi.
"Kreek" suara membuka pintu.
Sesosok wanita paruh baya sekitar umur 35 tahun, bertubuh tinggi dan berambut pendek membuka pintu rumah itu.
"Tuan Rian, anda datang kemari? kenapa tidak memberitahuku jika ingin datang kemari?"
"Maaf, aku lupa menelpon tadi karena terburu buru," jawab Rian.
"Siapa mereka tuan?"
"Ooo iya mereka adalah teman temannya Maya, nama mereka Erica dan Evan," jawab Rian.
"Salam kenal," ucap Erica dan Evan.
"Ini Bu Vira, dia yang bertanggung jawab mengurus rumah ini," ucap Rian.
"Salam kenal," ucap Bu Vira.
"Baiklah, ayo kita masuk saja dan melanjutkan pembicaraannya di dalam," ucap Rian.
"Silahkan masuk," ucap Bu Vira.
"Terimakasih," ucap Erica dan Evan.
Lalu mereka semua masuk ke dalam rumah itu, dan berjalan menuju ke ruang tamu.
"Silahkan duduk," ucap Rian.
"Iya terimakasih," ucap Erica dan Evan.
Lalu mereka semua duduk di ruang tamu itu, Maya yang juga ikut masuk ke dalam melihat sekeliling ruangan itu.
"Rumah ini sangat bersih dan rapi," ucap Maya.
"Bu Vira, dimana Bu widia?" tanya Rian.
"Dia ada di dalam kamarnya tuan," jawab Bu Vira.
"Tolong panggilkan Bu Widia kemari, bilang padanya jika ada yang ingin bertemu," ucap Rian.
"Baik tuan," ucap Bu Vira.
Kemudian Bu Vira berjalan menuju ke kamarnya Bu Widia untuk mengajaknya bertemu dengan Erica dan Evan.
"Anggap saja rumah sendiri, jangan sungkan," ucap Rian.
"Iya Pak Rian terimakasih," ucap Evan.
"Sudah berapa lama ibunya Maya tinggal di tempat ini?" tanya Erica.
"Aku membawanya kemari semenjak Maya menghilang sekitar satu tahun yang lalu," jawab Rian.
"Berarti semenjak itu juga Bu Vira tinggal di sini bersama ibunya Maya?" tanya Erica.
"Iya betul, aku tak ingin jika terjadi sesuatu padanya jika dia hanya tinggal disini sendirian, dulunya Bu Vira adalah pengawal pribadi orang tuaku, semenjak mereka meninggal dunia karena kecelakaan lalu dia menjadi pengawal pribadiku, dan untuk saat ini dia menjaga ibunya Maya disini agar selalu aman," jawab Rian.
"Bu Vira bekerja sebagai pengawal pribadi, berarti dia sangat ahli dalam ilmu bela diri," ucap Evan.
"Betul, dia mantan pasukan wanita khusus dulu, setelah dia berhenti disana ayahku mempekerjakan dirinya sebagai pengawal pribadi," jawab Rian.
"Wow, berarti dia sangat hebat sekali," ucap Evan terkejut.
"Begitulah, apa kau mau bertanding berkelahi dengannya?" tanya Rian.
"Tidak Pak Rian, sudah di pastikan pasti aku akan kalah melawannya," ucap Evan sambil tersenyum.
Sementara itu Bu Vira yang menemui ibunya Maya di dalam kamar.
"Kreek" suara membuka pintu.
"Iya Vira, ada apa?"
"Apa Bu Widia sedang ingin beristirahat?"
"Ah tidak, aku hanya baru selesai membersihkan kamarku saja, ada apa kau kemari?" tanya Ibunya Maya.
"Tuan Rian datang kemari bersama temannya nona Maya," jawab Bu Vira.
"Temannya Maya? siapa mereka?" tanya ibunya Maya penasaran.
"Aku juga baru melihatnya pertama kali, sepertinya mereka masih anak sekolahan, karena mereka memakai seragam sekolah," jawab Bu Vira.
"Masih anak sekolahan? setahuku Maya tidak punya teman yang masih bersekolah, tapi baiklah aku akan tetap menemui mereka karena mereka kemari bersama Rian pasti dia memang temannya Maya," ucap Ibunya Maya.
"Mari kita menemui mereka di ruang tamu Bu Widia," ucap Bu Vira.
"Baiklah, ayo kita kesana," ucap Ibunya Maya.
Lalu Bu Vira dan Ibunya Maya berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui Rian, Evan dan juga Erica yang telah menunggu mereka.
"Itu Bu Widia, ibunya Maya," ucap Rian.
Maya yang ada disana langsung mendekati ibunya dan menatapnya dari dekat.
"Dia memang ibuku, aku merasakan itu, hatiku merasa sangat sedih dan juga senang setelag melihatnya," ucap Maya sambil meneteskan air mata saat melihat ibunya.
Erica yang melihat Maya menangis karena senang membuatnya ikut bahagia.
"Rian, apa mereka temannya Maya?" tanya Ibunya Maya.
"Iya bu, mereka temannya Maya, Erica dan Evan," jawab Rian.
"Senang bertemu dengan kalian, aku ibunya Maya."
"Kami juga sangat senang bisa bertemu dengan anda," ucap Erica.
Kemudian Ibunya Maya dan juga Bu Vira duduk di sampingnya Rian. Ibunya Maya tak berhenti menatap Erica dan Evan, dia masih sangat penasaran dengan mereka berdua.
"Sudah berapa lama kalian mengenal anakku Maya?"
"Sudah cukup lama bu, sebelum Maya menghilang," jawab Erica.
"Ooo begitu, tapi Maya tidak pernah bercerita tentang kalian berdua, apa mungkin dia lupa tidak bercerita pada ibu tentang kalian," ucap Ibunya Maya.
"Maafkan aku Bu Widia, aku terpaksa berbohong karena Maya tidak ingin jika ibu mengetahui kebenaran tentang dirinya saat ini," ucap Erica di dalam hati.
"Bu, Erica dan Evan akan membantu kita untuk mencari Maya," ucap Rian.
"Benarkah kalian ingin membantu untuk mencari Maya?" tanya Ibunya Maya.
"Iya bu, kami ingin juga ikut membantu menemukan Maya," jawab Erica.
"Aku sangat senang mendengarnya, ibu sangat merindukan Maya, entah bagaimana keadaan dia sekarang dan apa yang telah terjadi padanya, hiks hiks hiks," ucap Ibunya Maya menangis.
Maya yang melihat ibunya menangis sedih karena dirinya, dia pun bertambah sedih dan meneteskan air matanya.
"Maafkan Maya ibu, tidak bisa menjaga ibu lagi, Maya juga sangat merindukan ibu, hiks hiks hiks," ucap Maya sambil menangis menatap ibunya.
"Ibu benar benar meminta tolong pada kalian jika mendapatkan suatu petunjuk tentang Maya, tolong langsung beritahu ibu ya."
"Iya bu, tentu kami akan melakukannya, kami akan berusaha untuk menemukan Maya," ucap Erica sambil menatap ibunya Maya.
"Ibu tenang saja, kami akan berusaha mencari Maya, secepatnya semua ini akan berakhir," ucap Rian.
"Setidaknya sekarang ibu sedikit merasa lega karena ada teman temannya Maya yang mau membantu untuk mencari Maya," ucap Ibunya Maya.
"Kami hanya melakukan apa yang seharusnya, kita memang harus menemukan Maya dan juga menangkap orang yang telah mencelakainya," ucap Evan.
"Ibu tidak akan memaafkan orang yang telah mencelakai putri kesayanganku, sejak kecik dia sudah di tinggal ayahnya, ayah Maya juga dulu merupakan seorang polisi, dia mengalami kecelakaan saat mengejar penjahat saat itu, dan sekarang Maya juga mengalami hal yang sama, hanya saja kita belum tahu apa yang telah terjadi padanya," ucap Ibunya Maya sedih.
Erica hanya bisa diam saja mendengar ibunya Maya yang bercerita, dia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya karena Maya melarang mereka semua untuk mengatakan yang sejujurnya.