
Setelah Pak Haris memanggil semua saksi dari mereka. Giliran Pak Andre yang memanggil semua saksi dalam sidang itu.
"Silahkan kepada penggugat untuk mendatangkan saksi saksi ke dalam sidang," ucap Pak Hakim.
"Baik terimakasih Pak Hakim, saksi pertama saya akan memanggil Bu Vera yang merupakan ibu dari korban Tasya," ucap Pak Andre.
Ibunya Tasya berjalan menuju kursi saksi dan duduk disana.
"Bu Vera, apa anda mengenal tersangka Rio?"
"Iya saya mengenalnya, dia kekasih anak saya Tasya," jawab Ibunya Tasya.
"Berapa lama anak anda Tasya berpacaran dengan Rio?"
"Kurang lebih sekitar 4 bulan."
"Berarti termasuk masih sangat baru dia berpacaran dengan anak anda?"
"Iya betul."
"Terakhir anak anda sebelum diketahui meninggal dunia dengan siapa dia pergi?"
"Tasya bilang dia akan pergi dengan Rio setelah pulang dari kuliah! dia bilang akan pulang terlambat, selama anak saya hilang 2 minggu Rio tidak pernah muncul lagi kerumah kami," ucap Ibunya Tasya.
"Apa anda berusaha menghubungi Rio dan Tasya dan melapor pada polisi saat Tasya menghilang?"
"Iya saya menelpon Tasya tetapi handphonenya tidak aktif! lalu saya menelpon Rio dia bilang tidak melihat Tasya sudah lama, karena putus asa akhirnya saya melapor ke polisi," jawab Ibunya Tasya.
"Baik itu saja pertanyaan dari saya," ucap Pak Andre sambil berjalan ke tempat duduknya.
"Silahkan pengacara terdakwa jika ingin bertanya pada saksi," ucap Pak Hakim.
"Baik Pak Hakim, Terimakasih," ucap Pak Haris berjalan mendekati Ibunya Tasya.
"Bu vera, apa anda punya bukti jika Rio yang terakhir kali bertemu dengan Tasya sebelum dia meninggal dunia?"
"Saya tidak mempunyai bukti untuk itu, tapi saat dia menelponku yang terakhir kali aku mendengar ada suara Rio disana."
"Hanya itu saja tidak ada bukti lainnya?"
"Tidak ada."
"Baik cukup pertanyaan dari saya," ucap Pak Haris sambil berjalan menuju tempat duduknya.
"Saya akan memanggil saksi yang kedua Pak Hakim," ucap Pak Andre.
"Baik silahkan," ucap Pak Hakim.
"Saya akan memanggil Intan, dia sahabat dekat dari korban Tasya," ucap Pak Andre.
Ibunya Tasya kembali duduk ke belakang, Intan berjalan menuju ke tempat duduk saksi.
"Saudara Intan apa anda mengenal Rio?" tanya Pak Andre.
"Tentu saya sangat mengenalnya, karena dia sangat terkenal di kampus karena suka bergonta ganti pacar," ucap Intan.
"Apa dia memang benar pacar dari Tasya?"
"Iya benar dia pacarnya Tasya."
"Apa dia orang yang terakhir bertemu dengan Tasya?"
"Tentu dia orang yang terakhir bersama Tasya waktu itu, saya melihatnya sendiri saat dia pergi dengan Tasya dengan mobilnya pada saat di kampus," ucap Intan.
"Apa kau tahu waktu itu mereka akan pergi kemana?"
"Waktu sebelum pergi dengan Rio, aku bertemu dengan Tasya dan dia menceritakan semua yang telah terjadi menimpa dirinya."
"Apa yang dia ceritakan padamu saat itu?"
"Tasya bilang jika dia sedang mengandung anaknya Rio, dan dia bilang jika Rio menyuruhnya menggugurkan kandungannya, tetapi saat itu Tasya masih ragu jika ingin menggugurkan kandungannya," jawab Intan sambil menatap Rio.
"Maksudmu dia di paksa Rio untuk menggugurkan kandungannya?"
"Iya itu benar, dengan alasan Rio belum siap mempunyai anak," ucap Intan.
"Apa kau tahu dimana mereka merencanakan untuk mengaborsi kandungannya?"
"Aku tidak tahu mereka melakukannya dimana! Tasya tidak mengatakannya," ucap Intan.
"Baiklah sekian pertanyaan dariku," ucap Pak Andre sambil berjalan menuju tempat duduknya.
"Silahkan kepada pengacara terdakwa untuk menanyai saksi," ucap Pak Hakim.
"Apa kau yakin jika Rio yang bersama Tasya saat itu?"
"Iya aku sangat yakin karena aku melihatnya sendiri masuk kedalam mobil Rio," ucap Intan.
"Apa kau punya bukti jika Rio yang bersamanya waktu itu?"
"Kenapa anda tidak yakin dengan ucapanku? tentu aku ada buktinya," ucap Intan sambil mengeluarkan handphonenya.
"Apa buktinya?"
"Ini foto saat Tasya masuk ke dalam mobilnya Rio," ucap Intan menunjukkan foto pada Hakim.
"Bisa saja foto itu foto lama," ucap Pak Haris.
"Tentu saja bisa dilihat di handphoneku ada tanggal disudut foto, jika kurang jelas bisa menyamakannya di cctv di kampus kami jika saya berbohong," ucap Intan.
Pak Haris terdiam mendengar ucapan dari Intan yang menyudutkan Rio.
"Saya memfoto Tasya karena takut jika akan terjadi sesuatu padanya, dan ini untuk bukti jika waktu itu Rio sedang bersama dengannya," ucap Intan.
"Baik cukup pertanyaan dari saya," ucap Pak Haris sambil berjalan menuju tempat duduknya.
"Apa ada saksi yang lainnya lagi?" tanya Pak Hakim.
"Masih ada 3 orang lagi Pak Hakim, saya akan memanggil saksi yang ketiga yaitu Erica dia juga sempat menjadi korban pelecehan Rio saat berada di villanya," ucap Pak Andre.
Intan kembali ketempat duduknya dan Erica berjalan menuju ke tempat duduk saksi.
"Ehm, akhirnya sidang ini menjadi sangat menegangkan," ucap Maya senang.
"Iya Maya, sepertinya Rio mulai tersudut," ucap Tasya.
"Erica apa anda mengenal Rio?" tanya Pak Andre.
"Iya saya mengenalnya."
"Apa waktu itu dia melakukan sesuatu yang tak pantas pada dirimu?"
"Iya dia mengajakku ke villa miliknya, aku diberinya obat yang membuatku menjadi setengah sadar! dia berniat ingin meniduriku untung saja waktu itu Evan dan Intan datang menolongku tepat waktu," ucap Erica.
"Bagaimana kau bisa tahu jika Rio mengubur jasadnya Tasya disana?"
"Karena saat pertama kali kesana aku mencurigai ada gundukan tanah yang seperti habis di gali! karena merasa penasaran aku berencana ingin menggalinya dan meminta bantuan Evan," ucap Erica.
"Kenapa Evan bisa datang kesana apa waktu itu kau memberitahu Evan?"
"Sebelum pergi dengan Rio ke villa, aku merasa sangat curiga padanya dan untuk berjaga jaga aku menelpon Evan untuk datang ke villa dengan mengirimkan alamat villa padanya," ucap Erica.
"Baik sekian pertanyaan dariku," ucap Pak Andre sambil berjalan menuju tempat duduknya.
"Silahkan kepada pengacara terdakwa jika ingin bertanya kepada saksi," ucap Pak Hakim.
"Terimakasih Pak Hakim," ucap Pak Haris sambil berjalan mendekati Erica.
"Erica katamu tadi kau sudah mencurigai Rio saat akan pergi ke villa?"
"Iya betul."
"Lalu mengapa kau masih mau pergi dengannya ke villa?"
"Itu karena diriku sangat penasaran pada gundukan tanah yang berada di samping villa! dan aku berniat ingin memeriksanya dan ternyata memang benar disana Rio mengubur Tasya," jawab Erica.
"Itu berarti kau sudah sering ke villa Rio?"
"Tidak aku hanya 2 kali kesana tidak lebih dari itu," jawab Erica.
"Katamu Rio memberikan obat pada minuman yang di berikan padamu! tapi menurut Rio waktu itu dirimu masih bisa sadar dan tidak sampai pingsan?"
"Itu memang benar, aku sempat pingsan dan tidak sadarkan diri! tapi itu tidak lama karena aku tidak begitu banyak meminum minuman yang di berikan oleh Rio! apalagi memang aku sudah mencurigai tingkah lakunya Rio saat itu," ucap Erica.
"Begitukah berarti anda wanita yang sangat kuat bisa tahan dengan obat yang diberikan oleh Rio!"
"Bisa dikatakan begitu," ucap Erica sambil tersenyum menatap Maya dan Tasya yang berada di sampingnya.
"Baik sekian pertanyaan dariku," ucap Pak Haris sambil berjalan ke tempat duduknya.
"Bagus Erica kau sangat hebat menjawab pertanyaan dari mereka," ucap Maya.
Pengacara Rio Pak Haris merasa sangat kesal karena mereka sangat tersudut dengan pernyataan dari semua saksi saksi yang di hadirkan oleh Pak Andre pengacara dari Erica.