
Sementara itu Rian yang berada dirumahnya menerima sebuah telpon dari orang suruhannya yang menyelidiki dan mencari bukti petunjuk tentang tentang Maya.
"Kring kring kring" suara telpon Rian berdering.
"Halo"
"Malam Pak Rian."
"Bagaimana apakah kalian menemukan sesuatu?" tanya Rian.
"Maaf Pak Rian kami belum menemukan suatu petunjuk apapun saat mengikuti orang orang yang anda curigai, tapi saat kami berada di perbatasan kota ada dua orang yang juga mencari informasi tentang Maya, mereka seperti masih seorang pelajar satu laki laki dan satu perempuan," ucap orang suruhan itu.
"Mereka pasti Erica dan Evan yang pernah datang menemuiku, selidiki juga mereka, apapun yang mereka lakukan kalian laporkan padaku, tetaplah berada disana pasti mereka akan kembali kesana untuk kembali mencari informasi tentang Maya," ucap Rian.
"Baik Pak Rian."
"Kalian harus tetap berhati hati jangan sampai orang lain mencurigai kalian disana," ucap Rian.
"Baik Pak Rian kami akan berhati hati."
Lalu Rian menutup telpon itu,.
"Mereka sangat membuat aku menjadi penasaran, kenapa mereka sangat berambisi untuk menemukan Maya?" ucap Rian.
Pelayan wanita rumahnya Rian masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mengantarkan obat dan mengatakan jika ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
"Permisi Tuan, saya ingin mengantarkan obat anda," ucap Pelayan wanita itu.
"Taruh saja di atas meja aku akan meminumnya nanti," ucap Rian.
"Baik tuan," ucap Pelayan wanita itu sambil menaruh obat di atas meja kerja Rian.
"Kau boleh pergi," ucap Rian.
"Maaf tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda."
"Siapa yang ingin bertemu denganku malam malam begini?" tanya Rian.
"Tuan Irfan yang ingin menemui anda," jawab Pelayan wanita itu.
"Suruh dia masuk," ucap Rian.
"Baik tuan."
Pelayan wanita itu kemudian keluar dari ruang kerja Rian dan menemui Irfan yang sedang menunggunya di luar.
"Silahkan masuk Tuan Rian sedang menunggu anda."
"Baiklah terimakasih," ucap Irfan sambil berjalan masuk ke dalam ruang kerja Rian.
"Apa kabar Rian lama tidak berjumpa? bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Irfan.
"Silahkan duduk Om Irfan," ucap Rian.
Lalu Irfan dan Rian duduk berhadapan di dalam ruang kerja itu.
"Aku baik baik saja, dan kesehatanku cukup membaik," jawab Rian.
Lalu Irfan melihat obat Rian yang ada di atas meja kerjanya.
"Apa kau masih minum obat karena penyakitmu?" tanya Irfan.
"Apa Om Irfan sangat senang jika melihatku sakit," ucap Rian sambil tersenyum.
"Kenapa aku harus senang jika melihat keponakan semata wayangku sakit, malah aku sangat sedih melihatnya, apalagi setelah orang tuamu mengalami kecelakaan hanya diriku dan tantemu yang menjadi keluargamu saat ini," ucap Irfan.
"Biasalah dia memang suka bersenang senang dengan temannya, kita dari keluarga yang kaya dan terpandang sangat wajar jika melakukan itu," ucap Irfan.
"Kenapa Om datang kemari?" tanya Rian.
"Om datang kemari ingin melihat keadaanmu, Om mendengar dari dokter jika sakitmu lumayan serius belakangan ini, kau jangan mengurung dirimu dan selalu bersedih, apa aku masih tidak bisa melupakan gadis itu?"
"Jangan mencampuri urusanku, lebih baik Om urus saja urusanmu sendiri," ucap Rian.
"Dia telah lama menghilang dan tak mungkin dia akan kembali lagi padamu Rian, banyak gadis yang lebih cantik dari dirinya, kau sangat tampan dan juga kaya raya, dimasa kau sedang sakit begini seharusnya kau bersenang senang," ucap Irfan.
"Jika Om sudah selesai silahkan pulang, aku ingin istirahat," ucap Rian.
"Tunggu Rian, Om kemari ingin membicarakan tentang perusahaan kita," ucap Irfan.
"Apa yang ingin Om bicarakan padaku?"
"Kenapa kau tidak bisa mempercayakan sebagian perusahaan pada Om, malah kau mempercayakannya pada sekretarismu Yogi, bisa saja dia akan menggelapkan dana perusahaan kita," ucap Irfan.
Rian berjalan mendekati Irfan dan menatapnya.
"Maaf aku mengatakan ini pada Om, tapi aku lebih mempercayainya daripada Om, dia sangat baik dalam menjalani perusahaan dan kita tidak mengalami kerugian malah sering mendapatkan keuntungan, sudah kubilang jangan ikut campur urusanku, aku menghormati Om karena setidaknya kau adalah adik kandung dari ayahku, silahkan pergi hari sudah malam aku akan beristirahat sekarang," ucap Rian.
Lalu Rian berjalan keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke kamar tidur.
"Anak itu masih saja sombong dan keras kepala seperti biasanya, sangat sulit untuk mempengaruhinya," ucap Irfan kesal.
"Maaf tuan, silahkan pergi sekarang karena tuan Ria sudah istirahat," ucap Pelayan wanita itu.
"Sudah kubilang kau harus terus mengawasi Rian untukku, laporkan semuanya padaku tentang apa yang dia lakukan," ucap Irfan.
"Maaf tuan, tapi Tuan Rian tidak melakukan sesuatu yang menurutku tidak penting, dia hanya sering di ruang kerjanya dan pergi keluar sesekali itupun hanya sebentar dan tidak lama."
"Terus awasi dia, dan laporkan padaku," ucap Irfan.
"Baik tuan."
Kemudian Irfan pulang dari rumahnya Rian dengan perasaan sangat kesal setelah mendengar ucapan Rian padanya. Dia satu satunya keluarga yang dimiliki oleh Rian, tetapi dia selalu berusaha untuk merebut harta warisan milik Rian terutama perusahaan milik ayahnya Rian. Sementara itu Erica yang telah sampai di rumahnya dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan berbicara berdua dengan Maya.
"Maya"
"Iya Erica, ada apa sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Maya.
"Apa kau akan selalu bersamaku dan melindungiku?" tanya Erica.
"Tentu saja Erica, aku tak akan membiarkan dirimu terluka, aku akan melindungimu dari siapapun yang akan berbuat jahat padamu," jawab Maya.
"Sebenarnya aku agak sedikit khawatir," ucap Erica.
"Apa yang kau khawatirkan Erica?"
"Tentang hantu jahat itu, aku merasa tidak yakin bisa mengalahkannya saat kita akan menghadapinya nanti, cepat atau lambat kita pasti akan bertemu dengannya, aku msih belum yakin dengan kemampuanku," ucap Erica.
"Erica kau tak perlu mengkhawatirkan itu, karena menurutku kau sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya, dan kau lebih kuat dari yang kau tahu Erica, aku yakin kau bisa mengalahkannya ini semua demi kebaikan kita bersama," ucap Maya.
"Terimakasih Maya, kau selalu melindungiku sampai saat ini, apapun yang terjadi aku tidak akan menyesalinya," ucap Erica.
"Kenapa kau berkata seperti itu, aku menjadi sedih mendengarnya," ucap Maya.
"Baiklah besok kita harus bersemangat dalam penyelidikan ini dan menjalankan rencana ini dengan sebaik baiknya," ucap Erica.
"Aku sangat suka dengan semangatmu yang seperti ini Erica," ucap Maya.
Lalu Erica mendekati Maya dan tersenyum padanya, Erica hanya khawatir jika dia tidak bisa mengalahkan orang orang jahat itu. Erica tidak ingin Maya menjadi kecewa karena dirinya, dia berusaha sebisa mungkin untuk melakukan yang terbaik dalam melakukan penyelidikan dan mencari informasi tentang Maya.