ME And GHOST

ME And GHOST
Pembalasan 83



Rio yang sedang berada di penjara merasa sangat terkejut mendengar berita kematian Ibunya yang meninggal dunia cukup tragis karena kecelakaan tertabrak mobil truk.


"Ibu!!!!" teriak Rio histeris.


"Kau yang sabar Rio, aku turut berduka cita atas meninggalnya Ibumu," ucap Pak Danu polisi yang memberitahu berita pada Rio.


"Kenapa ibuku bisa tertabrak mobil truk?" tanya Rio.


"Itu terjadi karena ibumu melarikan diri dari kejaran polisi," jawab Pak Danu.


"Kenapa ibuku akan di tangkap oleh polisi?"


"Itu karena kasus tabrak lari yang terjadi di depan rumahnya Bu Rosa."


"Maksudmu rumahnya Erica?"


"Iya betul, menurut informasi yang kutahu katanya ibumu ingin menabrak Erica tapi malah tertabrak teman laki lakinya dan sekarang korban sedang koma di rumah sakit," ucap Pak Danu.


"Kenapa ibu bisa melakukan hal seperti itu? ini pasti karena diriku! hiks hiks hiks," ucap Rio sambil menangis.


"Ayahmu belum sempat kemari karena sibuk mengurus masalah pemakaman ibumu, kau tetap yang sabar Rio! masih ada ayahmu yang akan selalu bersamamu," ucap Pak Danu.


"Keluargaku hancur karena semua perbuatanku sendiri," ucap Rio sedih.


"Semuanya telah terjadi tak perlu kau sesali lagi Rio! doakan saja ibumu agar mendapat surga di sana! baiklah aku pergi dulu," ucap Pak Danu sambil berjalan keluar dan penjara.


Rio benar benar merasa sangat bersalah karena kematian Ibunya.


"Semua ini tak akan terjadi jika aku tak melakukan semua kejahatan ini! Tuhan telah menghukumku dengan mengambil orang yang paling kucintai, hiks hiks hiks," ucap Rio sambil menangis.


"Haaaaaaaa! tidak!!!!!! kenapa harus ibuku yang tiada! ibu!!!! maafkan Rio semua ini karena perbuatanku," teriak Rio di dalam penjara.


"Hei kau! kenapa kau berteriak malam malam begini! apa kau ingin mendapat masalah disini?" ucap teman satu sel penjara Rio.


"Aku telah kehilangan ibuku!!!! kenapa aku tidak boleh bersedih!!!!" teriak Rio marah.


"Haah, dasar anak manja! aku yang kehilangan kedua orang tuaku biasa saja! tidak sepertimu."


"Ibuku meninggal karena perbuatanku! aku penyebabnya! karena ingin membalas dendam pada orang lain dan membuatnya sampai kecelakaan dan meninggal," ucap Rio.


"Jika kau merasa bersalah pada ibumu, kenapa kau tidak bunuh diri saja dan menyusulnya ke akhirat," ucap teman satu sel penjara Rio.


"Bunuh diri! dan ibuku tak akan kesepian disana jika ku temani," ucap Rio di dalam hati.


"Jangan berteriak teriak lagi! kau mengganggu tidurku saja! dasar penjahat kelas teri!" ucap teman satu sel Rio sambil berbaring di atas tempat tidur.


"Ini semua karena salahku! dan aku harus bertanggung jawab atas semuanya!" ucap Rio sambil duduk di atas tempat tidurnya.


"Dia tidak akan mungkin berani bunuh diri! setidaknya aku sudah membuatnya tidak berteriak teriak lagi," ucap teman satu sel Rio sambil menutup matanya dan tidur.


Rio mengambil tasnya dan mencari pisau kecil yang selalu di bawanya.


"Dimana pisau itu?" ucap Rio membongkar isi tasnya.


"Ini dia! aku akan pergi dari dunia ini dan pergi menemui ibuku di dunia lain," ucap Rio sambil memotong urat nadi di tangan kirinya dan memotong lehernya sendiri.


Darah Rio pun mengalir dengan cepat dan membuat semua tempat tidurnya penuh dengan darah. Teman satu sel Rio merasa sangat curiga tidak mendengar suara Rio sedikitpun, karena merasa curiga dia lalu bangun dari tidurnya dan terkejut setelah melihat Rio yang sudah penuh dengan darah.


"Hei kau! apa yang kau lakukan! aku hanya bercanda menyuruhmu untuk bunuh diri kenapa kau malah menurutinya!" teriak Teman satu sel Rio panik.


"Tolong tolong tolong"


"Ada apa kau berteriak?" ucap sipir penjara.


"Dia mencoba untuk bunuh diri!"


"Cepat buka pintu sel penjara dan bawa dia langsung ke rumah sakit!" teriak sipir penjara yang berjaga.


"Sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri?"


"Saya tidak tahu pak."


"Cepat angkat dia!" ucap Sipir penjara.


"Anak itu benar benar bodoh! kenapa dia benar benar akan bunuh diri," ucap Teman satu sel Rio.


Setelah sampai di rumah sakit Rio langsung mendapatkan pengobatan. Karena darah yang sudah banyak keluar membuat Rio menjadi kritis. Lalu dokter berjalan mendekati sipir yang membawa Rio.


"Maaf apa anda yang membawa tahanan itu?"


"Iya benar dok, ada apa? bagaimana keadaan tahanan itu?"


"Saya ragu bisa menyelamatkannya karena dia sudah banyak kehilangan darah! apalagi luka yang terdapat di tubuhnya sangat dalam! pasien sekarang sedang kritis! panggilkan saja keluarga dari pasien kemari! sepertinya dia tidak akan bertahan lama lagi," ucap Dokter yang memeriksa Rio.


"Baiklah dok, saya akan segera menghubungi keluarga tahanan itu," ucap sipir penjara.


Lalu sipir penjara tersebut mencari informasi nomor telpon keluarganya Rio. Setelah mendapatkan nomor telpon Ayahnya Rio mereka lalu menelponnya untuk mengabari keadaan Rio.


"Kring kring kring" Suara handphone Ayahnya Rio berdering.


"Iya halo" ucap Ayahnya Rio menjawab telponnya.


"Apa anda keluarga dari tahanan yang bernama Rio?"


"Iya benar saya ayahnya! ada apa anda menghubungi saya?"


"Kami ingin memberitahu anda jika Rio sekarang berada di rumah sakit yang berada di dekat penjara tempat Rio di tahan."


"Ada apa dengan anak saya? kenapa bisa dia masuk rumah sakit?" tanya Ayahnya Rio terkejut.


"Anak anda Rio mencoba untuk bunuh diri dan sekarang dia sedang dalam keadaan kritis! saya harap anda bisa segera datang kemari."


"Baik pak, saya akan segera kesana," ucap Ayahnya Rio.


"Baik kami tunggu kedatangan anda," ucap sipir penjara itu menutup telponnya.


"Rio apa yang sebenarnya telah kau lakukan," ucap Ayahnya Rio berlari menuju ke mobilnya.


Ayahnya Rio langsung pergi dengan mobilnya menuju ke rumah sakit untuk melihat Rio yang sedang kritis.


"Aku baru saja kehilangan Sandra! aku tak mau bila harus juga kehilangan Rio," ucap ayahnya Rio sambil menyetir mobilnya.


Keadaan Rio semakin kritis dan membuat dokter menjadi panik.


"Apa keluarganya sudah dihubungi?"


"Sudah dok, ayahnya sedang dalam perjalanan kemari."


"Pasien benar benar tidak ada harapan lagi, dia bertambah kritis," ucap Dokter itu sambil membersihkan darah yang masih mengalir dari lehernya Rio.


Tak lama kemudian Ayahnya Rio datang dan berjalan mendekati sipir penjara.


"Dimana anak saya?"


"Apa anda ayahnya Rio?"


"Iya saya ayahnya."


"Anak anda disana," ucap Sipir penjara sambil menunjuk ke arah Rio.


Ayahnya Rio benar benar terkejut melihat Rio yang pakaiannya sudah penuh dengan darah.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?"


"Kami tidak bisa menyelamatkan anak anda! dia sudah mengeluarkan banyak darah untuk harapan dia hidup itu sudah tidak mungkin," ucap Dokter itu.


"Rio, ini ayah! ayah sudah datang kemari! ayah mohon jangan pergi meninggalkan ayah sendiri," ucap Ayahnya Rio sambil memegangi tangan anaknya.


Rio perlahan membuka matanya lalu menatap wajah ayahnya. Tangannya Rio menggenggam kuat tangan ayahnya.


"Rio kau sudah sadar! ayah mohon jangan tinggalkan ayah sendiri sayang."


Rio tersenyum menatap wajah ayahnya, lalu mata rio perlahan terpejam dan genggaman tangannya pun terlepas dari tangan ayahnya.