
Setelah lama berada di rumah itu akhirnya Erica, Evan dan juga Rian mereka akan pulang karena hampir malam saat itu.
"Bu, saya, Erica dan juga Evan harus pulang sekarang," ucap Rian.
"Kenapa kalian tidak makan malam saja disini?" tanya Ibunya Maya.
"Maaf bu, saya dan Evan harus pulang sekarang karena hari sudah hampir malam, karena kami belum pulang sejak dari pulang sekolah tadi siang ," ucap Erica.
"Baiklah kalau begitu, tapi kalian harus berjanji lain kali jika kemari kita akan makan bersama disini," ucap Ibunya Maya.
"Tentu aku akan berjanji," ucap Erica.
"Kami pamit pulang dulu bu, sampai jumpa lagi, jika terjadi sesuatu hubungi saja aku," ucap Rian.
"Baiklah, kalian harus berhati hati di jalan," ucap Ibunya Maya.
"Tentu bu," ucap Erica.
Kemudian Rian masuk ke dalam mobilnya begitupun Erica dan juga Evan masuk kedalam mobil mereka, lalu pergi dari rumah itu. Maya juga ikut masuk ke dalam mobil bersama dengan Erica dan Evan dengan perasaan yang sedih karena akan berpisah lagi dengan ibunya. Melihat wajah Maya yang tampak sedih saat berada di dalam mobil, Erica mencoba berbicara pada Maya.
"Maya jika kau masih ingin bersama dengan ibumu tidak apa apa, kau berada disini saja dulu untuk sementara waktu," ucap Erica.
"Tidak apa apa Erica, kau akan ikut dengan kalian saja, aku akan bertambah sedih jika berada disini, setidaknya aku mengetahui jika ibuku sekarang dalam keadaan baik baik saja," ucap Maya.
"Ehm, baiklah jika kau merasa itu yang lebih baik," ucap Erica.
"Apa yang terjadi pada Maya?" tanya Evan.
"Tidak apa apa Evan, dia baik baik saja," jawab Erica.
"Syukurlah jika dia baik baik saja, seharusnya dia merasa senang karena bisa bertemu dengan ibunya," ucap Evan.
"Tentu saja dia sangat senang hari ini," ucap Erica sambil menatap Maya yang duduk di kursi belakang mobil Evan.
Lalu Evan mengendarai mobilnya menuju ke arah rumahnya Erica,di dalam perjalanan pulang Rian menelpon Erica untuk berbicara dengannya.
"Kring kring kring" suara handphone berdering.
"Pak Rian, ada apa dia menelponku?" ucap Erica.
"Terima saja mungkin dia ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu," ucap Evan.
Lalu Erica menjawab telpon dari Rian.
"Halo"
"Halo Erica, aku tadi ingin berbicara padamu, tapi karena ada ibunya Maya aku tidak bisa karena takut dia akan mendengar percakapan kita," ucap Rian.
"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Erica.
"Aku telah menyuruh Bu Vira untuk menyelidiki pelayan wanita di rumahku yang bernama Dian itu, dia akan menyelidiki semuanya dan segera melaporkannya padaku," ucap Rian.
"Bagaimana cara dia menyelidikinya tanpa ketahuan oleh orang lain?" tanya Erica.
"Kalian jangan meremehkan kemampuan Bu Vira dia tidak hanya rajin, pandai berkelahi, tapi dia juga pandai mencari informasi," ucap Rian.
"Syukurlah kalau begitu, aku juga memang mencurigai wanita yang bernama Dian itu," ucap Erica.
"Saat kita akan pergi dari rumahnya Rian, pelayan wanita itu mengintip kita dari balik dinding dan mendengarkan semua percakapan kita," ucap Maya.
"Jika telah mendapatkan sesuatu langsung kabari kami Pak Rian," ucap Erica.
"Tentu saja, setelah kita mendapatkan informasi tentang wanita yang bernama Dian itu, aku berencana ingin ke danau tempat pertama kali kau bertemu dengan Maya, mungkin kita akan mendapatkan suatu petunjuk disana," ucap Rian.
"Tentu saja kita harus kesana dan menyelidiki semuanya, danau itu tidak jauh dari villa milik ayahku," ucap Erica.
"Baiklah kalau begitu, aku akan segera menghubungi kalian lagi setelah mendapatkan informasinya, aku ingin bertanya apakah Maya saat ini dia baik baik saja?" tanya Rian.
"Apakah dia bahagia saat bertemu dengan ibunya?" tanya Rian.
"Tentu saja Maya sangat bahagia sampai dia menangis karena itu," jawab Erica.
"Aku sangat senang jika Maya bahagia bertemu dengan ibunya, sampaikan ucapanku pada Maya, bilang padanya tak perlu mengkhawatirkannya kita akan segera menyelesaikan semua permasalahan ini dengan cepat, aku tak akan membuat dia menangis sedih lagi," ucap Rian.
"Baiklah akan kusampaikan padanya," ucap Erica.
Lalu Erica menutup telponnya.
"Rian sangat mengkhawatirkan Maya, dia mengatakan tidak ingin melihatmu bersedih lagi," ucap Erica pada Maya.
"Sangat terlihat dengan jelas bahwa Pak Rian memang sangat mencintai Maya, walaupun Maya sudah berwujud hantu pun dia masih mencintai Maya, aku pikir jika ini pasti cinta sejati," ucap Evan sambil tersenyum.
"Ucapan Evan akhir akhir ini bisa membuat suasana hatiku menjadi lebih baik," ucap Maya sambil tersenyum.
"Maya menyukai ucapanmu hari ini Evan," ucap Erica.
"Benarkah! aku sangat senang jika ucapanku dapat menghiburnya," ucap Evan.
"Mulai sekarang kita akan mulai menyelidiki kasus ini lagi, kita harus bersiap siap," ucap Erica.
"Bagaimana dengan Kak Jenni? apa kita akan memberitahunya tentang rencana kita dengan Rian?" tanya Evan.
"Untuk saat ini lebih baik jangan dulu Evan, setelah kita mendapatkan informasi yang jelas baru kita beritahu Kak Jenni, karena dia belum mengetahui jika aku bisa melihat hantu, dan hantunya Maya selalu bersama kita," ucap Erica.
"Kapan kau akn memberitahu Kak Jenni tentang dirimu dan Maya?" tanya Evan.
"Aku belum tahu itu kapan Evan, aku tak ingin Kak Jenni menganggapku aneh kerena kemampuan yang kumiliki ini," ucap Erica.
"Aku rasa Kak Jenni tak akan merasa begitu Erica, dia memang orang yang cerewet menurutku tapi dia juga orang yang sangat baik, dan tak pernah merendahkan orang lain kecuali seorang penjahat," ucap Evan.
"Aku akan memikirkan waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Kak Jenni," ucap Erica.
"Baiklah kalau begitu," ucap Evan.
"Menurutku kau memang harus mengatakan semuanya pada Jenni, karena dia telah menjadi bagian dari kita sekarang, sepertinya dia juga orang yang pandai menyimpan rahasia," ucap Maya.
Erica masih merasa ragu jika akan memberitahu semua tentang dirinya dan Maya pada Jenni, sementara itu Riki dan juga Heru yang berencana memasang penyadap di ruang pimpinan mereka agar mengetahui semua percakapan pimpinan itu.
"Apa pimpinan saat ini sudah pergi dari ruangannya?" tanya Riki.
"Coba saja kau memeriksanya, jika dia sudah pergi kita akan memasangkan alat penyadap ini di ruangannya," ucap Heru.
"Baiklah aku akan menelponmu jika dia sudah pergi," ucap Riki.
"Kau juga harus memastikan jika di dekat sana tidak ada orang, jika ada orang mereka akan mencurigai kita," ucap Heru.
"Baiklah," ucap Riki.
Lalu Riki keluar dari ruangannya dan menuju keruangan Pimpinan mereka untuk memastikan dia sudah pergi atau belum.
"Apa dia sudah pergi?"
"Hei Riki! sedang apa kau di depan ruangan pimpinan?"
"Apa pimpinan sudah pulang?" tanya Riki.
"Tentu saja, dia baru pulang, ada apa kau menanyakan pimpinan? apa kau ada perlu dengannya?"
"Iya, tapi jika dia sudah pulang aku akan menemuinya besok saja," jawab Riki.
"Baiklah kalau begitu, kau juga ingin pulang tugasku sudah selesai, sampai jumpa besok."
"Iya sampai jumpa besok," ucap Riki.
Kemudian Riki mengirimkan pesan pada Heru untuk segera menemuinya di depan ruang pimpinan mereka, setelah membaca pesan dari Riki lalu Heru bergegas menuju ruangan pimpinan mereka dan membawa alat penyadap itu untuk di pasangkan di dalam ruangan.