
Saat Erica akan di bawa ke ruang UKS oleh Rey dan juga Putri, Evan melihat Erica saat itu lalu dia berjalan mendekati Erica.
"Erica kau akan kemana dengan mereka? bukankah ini bukan ke arah kelasmu?" tanya Evan penasaran.
"Kami akan membawa Erica ke ruang UKS," jawab Putri.
"Kenapa kalian akan membawanya kesana? apa yang terjadi padanya?" tanya Evan khawatir.
"Erica terluka di tangannya," jawab Rey.
"Aku tidak apa apa Evan ini hanya luka kecil, akan sembuh jika diobati nanti," ucap Erica.
"Erica tanganmu berdarah lagi! apa itu luka yang kemarin?" tanya Evan sambil memegangi tangannya Erica.
"Ini tidak apa apa Evan, aku juga baik baik saja," jawab Erica.
Tiba tiba Erica merasa jika kepalanya pusing dan mukanya mulai berubah menjadi pucat.
"Erica wajahmu kenapa bisa pucat sekali?" tanya Putri.
"Entahlah mungkin aku kurang istirahat saja," jawab Erica.
Lalu Erica tiba tiba pingsan dan terjatuh membuat yang lainnya menjadi panik dan khawatir.
"Erica!" teriak semuanya terkejut melihat Erica tiba tiba pingsan.
"Ayo cepat kita bawa Erica ke ruang UKS!" teriak Putri panik.
Kemudian Evan menggendong Erica dan berlari menuju ke ruang UKS, setelah sampai disana evan langsung membaringkan Erica di tempat tidur di dalam ruang UKS dan memanggil dokter yang berjaga disana.
"Dokter! tolong periksa Erica," teriak Rey dan Putri.
Dokter yang berjaga pun berlari dan memeriksa Erica yang saat itu tidak sadarkan diri, tubuhnya sangat dingin dan wajahnya sangat pucat membuat semua orang yang berada disana menjadi sangat khawatir terutama Maya merasa sangat panik melihat Erica yang tiba tiba pingsan saat itu.
"Erica sebenarnya apa yang terjadi padamu," ucap Maya khawatir.
"Dokter tolong di periksa keadaan Erica, dia terluka di tangannya kemarin dan sekarang dia pingsan," ucap Evan.
"Baiklah kalian bisa minggir sebentar biar aku bisa memeriksanya," ucap Dokter itu.
Lalu dokter itu memeriksa luka Erica dan juga memeriksa tubuhnya Erica.
"Apa dia terkena luka ini kemarin?" tanya Dokter itu.
"Iya dok," jawab Evan.
"Sepertinya ada racun di lukanya ini, dan itu sudah menyebar ke sebagian tubuhnya, makanya dia menjadi lemas, pucat dan tiba tiba pingsan, karena racun ini mulai menyebar ke tubuhnya," jawab Dokter itu.
"Racun! bagaimana bisa, bukankah kata Erica dia hanya terkena pecahan kaca saja," ucap Rey heran.
"Apa Erica terkena racun karena peluru yang tak sengaja melukainya kemarin? berarti peluru itu telah di beri racun oleh penjahat yang bernama Yoga itu," ucap Evan di dalam hati.
Maya sangat terkejut mendengar ucapan dokter itu yang mengatakan jika Erica terkena Racun saat itu.
"Apa peluru yang di gunakan oleh berandal itu telah dilumuri oleh racun? dan itu mengenai Erica kemarin, apa racun ini akan membahayakan nyawanya Erica?" ucap Maya khawatir.
"Tapi bila di lihat dari lukanya ini bukan luka dari pecahan kaca," ucap Dokter itu.
"Jika itu bukan pecahan kaca, lalu itu apa dok?" tanya Putri.
"Aku juga tidak tahu, lebih baik jika dia dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dari dokter yang lebih baik disana," ucap Dokter itu.
"Baik dok, kami akan membawanya ke rumah sakit," ucap Evan.
"Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Erica aku akan membunuh berandal yang bernama Yoga itu, berani sekali dia melakukan ini pada Erica," ucap Maya marah.
"Eh tunggu bukankah kalian harus masuk ke dalam kelas saat ini, biar aku saja yang membawanya ke rumah sakit," ucap Dokter itu.
"Aku akan ikut kerumah sakit bersama dengan Erica dok," ucap Evan.
"Kami juga akan ikut dok," ucap Rey dan juga Putri.
"Tentu saja dok, ini demi teman baik kami Erica," ucap Putri.
"Nanti saja kita membicarakan ini dok, yang lebih penting sekarang kita harus membawa Erica ke rumah sakit," ucap Evan.
"Baiklah ayo kita bawa dia kerumah sakit sekarang," ucap Dokter itu.
Lalu Evan kembali menggendong Erica menuju ke mobilnya, Erica di baringkan di dalam mobilnya Evan, Rey dan juga Putri ikut masuk ke dalam mobil Evan. Dokter itu mengendarai mobilnya sendiri, lalu mereka berangkat menuju ke rumah sakit. Di dalam perjalanan ke ruamh sakit Evan menelpon kakaknya untuk memberitahu keadaan Erica saat itu.
"Aku harus memberitahu Kak Jenni," ucap Evan.
Evan mengeluarkan handphonenya dan menelpon Jenni.
"Kring kring kring" Suara handphone berdering.
"Halo"
"Halo Kak Jenni."
"Ada apa kau menelponku pagi pagi begini? bukankah seharusnya saat ini kau sedang belajar di dalam kelas? apa kau sedang rindu pada kakakmu ini," ucap Jenni.
"Kak Jenni sekarang aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit yang berada tidak jauh dari sekolahku," ucap Evan.
"Kenapa aku kerumah sakit? apa kau sedang sakit saat ini?" tanya Jenni.
"Bukan diriku yang sakit, tapi Erica," jawab Evan.
"Apa Erica! apa yang terjadi padanya?" tanya Jenni terkejut.
"Tadi Erica tiba tiba pingsan di sekolah dan di periksa oleh dokter disana, kata dokter itu jika luka Erica yang kemarin ada racun yang masuk ke dalam tubuhnya, sehingga membuatnya sampai tidak sadarkan diri saat ini, kita harus memastikannya dengan memeriksanya di rumah sakit," jawab Evan.
"Racun! apa si brengsek yang bernama Yoga itu memberikan racun pada peluru yang tidak sengaja terkena Erica kemarin?" teriak Jenni.
"Aku juga memikirkan hal yang sama kak, tapi untuk saat ini kita harus mengobati Erica terlebih dahulu di rumah sakit," ucap Evan.
"Baiklah kakak juga akan segera kesana," ucap Jenni.
Lalu Jenni menutup telponnya dan mengganti pakaiannya untuk pergi ke rumah sakit.
"Dasar berandal itu, jika terjadi sesuatu pada Erica, aku akan membuat perhitungan dengannya," ucap Jenni marah.
Setelah mengganti pakaiannya Jenni kemudian berangkat menuju ke rumah sakit dengan mobilnya, Evan dan yang lainnya yang telah sampai di rumah sakit terlebih dahulu langsung membawa Erica ke ruang UGD untuk segera mendapatkan perawatan.
"Dokter! tolong periksa ini," teriak Evan.
"Siapa yang bertanggung jawab dari pasien ini," tanya suster.
"Saya yang akan bertanggung jaawab, saya dokter dari sekolah yang juga ikut membawanya kemari, tolong tindak lanjuti pasien ini, ada kemungkinan luka yang ada ditangannya itu beracun," ucap Dokter sekolah itu.
"Kami akan segera memeriksanya, kalian tunggu saja di luar," ucap Suster itu.
"Baiklah kami akan menunggunya diluar," ucap Dokter sekolah itu.
"Siapkan semua peralatan untuk memeriksa pasien ini dan panggil dokter!" teriak suster rumah sakit itu.
Tak lama kemudian dokter rumah sakit itu datang dan memeriksa Erica, saat dia memeriksa Erica ternyata dokter itu adalah dokter yang sering mengobati keluarganya Erica, dan dia sangat terkejut melihat keadaan Erica yang cukup serius.
"Bukankah dia Erica? kenapa dia bisa ada disini," ucap Dokter rumah sakit itu.
"Apa anda mengenalnya dok?" tanya suster itu.
"Tentu saja dia adalah anaknya Pak Daniel dan Bu Rosa yang juga merupakan teman baik direktur rumah sakit kita," jawab Dokter itu.
"Apa dia anak dari Pak Daniel pengusah yang terkenal itu dok?" tanya Suster itu.
"Iya betul dia adalah anaknya yang bernama Erica, kita harus melakukan perawatan yang baik padanya jangan sampai melakukan kesalahan," ucap Dokter itu.
"Baik dok," jawab Suster itu.
Dokter itu tidak menyangka jika pasien yang dia periksa adalah Erica anak dari Pak Daniel dan juga Bu Rosa, sedangkan Evan, Rey dan juga Putri termasuk Maya sangat cemas dengan keadaan Erica saat itu.