
Erica dan Evan setelah sampai ke rumahnya Rian, mereka berdua langsung berjalan menuju pintu rumahnya Rian. Mereka tidak mengetahui jika Aira juga ada disana dan memperhatikan gerak gerik mereka.
"Apa benar ini rumahnya Erica?" tanya Evan.
"Maya menunjukkan arah kemari dan dia bilang ini adalah rumahnya Rian, Maya pernah mengikuti Rian sampai kemari makanya dia mengetahui alamat rumahnya," jawab Erica.
"Ooo begitu, baiklah ayo kita masuk sekarang," ucap Evan.
Evan menekan bel rumahnya Rian.
"Ting tong ting tong" Suara bel berbunyi.
"Kreek" suara pintu terbuka.
Seorang pelayan wanita dari rumahnya Rian membukakan pintu rumah.
"Selamat sore bu," ucap Erica.
"Sore, kalian ingin bertemu dengan siapa?"
Pelayan itu menatap Erica dan Evan dari bawah sampai ke atas dengan sangat teliti.
"Kami ingin bertemu dengan Rian," jawab Erica.
"Kalian ingin bertemu dengan tuan Rian? apa kalian temannya? atau sudah buat janji dengannya?"
"Iya kami temannya, kami belum buat janji dengannya," jawab Erica.
"Aku tidak yakin jika tuan Rian mau menemui kalian, karena dia sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun akhir akhir ini."
"Tolong bilang padanya jika temannya Maya ingin bertemu dengannya hanya sebentar saja, ada yang ingin kami bicarakan padanya penting," ucap Erica.
"Apa kalian benar benar temannya Maya?" tanya pelayan itu.
"Iya betul, kami temannya Maya dan ingin bertemu dengan Rian," jawab Erica.
"Baiklah saya akan menanyakan dulu pada tuan Rian, kalian tunggu saja disini," ucap Pelayan itu.
"Baik terimakasih," ucap Erica.
Pelayan itu masuk kembali ke dalam rumahnya Rian untuk mengatakan semua yang dikatakan oleh Erica.
"Apa benar mereka temannya nona Maya? sudah satu tahun aku saja tak mendengar kabar dari nona Maya," ucap Pelayan itu curiga.
Evan melihat sekeliling rumahnya Rian.
"Erica tampaknya dia seorang pria yang sangat kaya, rumahnya saja sangat mewah dan besar! pacarnya Maya sangat berkelas juga," ucap Evan.
"Jangan meremehkan seleraku, aku tidak akan sembarangan menyukai seseorang," ucap Maya.
Erica tersenyum mendengar ucapan Maya.
"Maya tidak sembarangan suka dengan orang, mungkin Rian selain kaya memiliki kepribadian yang baik Evan," ucap Erica.
"Ehm, seingatku kalau di pikir pikir memang Maya cukup cantik, jadi wajar saja jika banyak yang tertarik dengannya," ucap Evan.
Maya menarik rambutnya Evan.
"Aah sakit, apa Maya menarik rambutku lagi Erica?"
"Iya itu perbuatan Maya, kau selalu saja meremehkan dia," ucap Erica sambil tersenyum.
"Sepertinya Maya memang sangat sensitif dengan ucapanku," ucap Evan sambil memegangi kepalanya.
Pelayan wanita itu menemui Rian yang sedang berada di ruang kerjanya.
"Tok tok tok" suara pelayan itu mengetuk pintu.
"Masuk" ucap Rian dari dalam ruang kerjanya.
"Kreek" suara membuka pintu.
"Permisi tuan, saya ingin mengatakan jika ada orang yang ingin bertemu dengan anda, sekarang mereka sedang menunggu di luar," ucap Pelayan itu.
"Aku sudah bilang jika tidak ingin menemui siapapun saat ini, suruh saja mereka pergi," ucap Rian sambil membaca buku.
"Maaf tuan, mereka bilang ingin membicarakan hal penting, dan mereka bilang jika mereka adalah temannya nona Maya," ucap Pelayan itu.
Rian langsung terdiam dan berhenti membaca buku lalu menatap pelayan wanita itu.
"Apa kau bilang mereka adalah temannya Maya?"
"Baiklah suruh mereka masuk, dan bawa kemari untuk menemuiku," ucap Rian.
"Baik tuan," ucap Pelayan itu sambil berjalan keluar dari ruang kerja Rian.
"Temannya Maya, siapa mereka?" ucap Rian penasaran.
Pelayan itu kembali ke pintu masuk untuk menemui Erica dan Evan yang sedang menunggu disana.
"Kalian boleh masuk, tuan Rian menerima kalian untuk menemuinya," ucap Pelayan itu.
"Terimakasih," ucap Erica.
"Aku akan mengantarkan kalian untuk menemui tuan Rian di ruang kerjanya," ucap Pelayan itu.
"Baik," ucap Erica.
Erica dan Evan masuk ke dalam rumahnya Rian, dan berjalan mengikuti pelayan wanita itu.
"Kalian sangat beruntung karena tuan Rian mau menemui kalian, selama ini hanya nona Aira yang di perbolehkan dia masuk ke dalam ruang kerjanya, dia jarang menerima tamu sejak satu tahun terakhir ini," ucap Pelayan itu.
"Kami hanya kebetulan saja beruntung," jawab Erica.
"Ini ruang kerja tuan Rian silahkan masuk, kalian telah di tunggu di dalam," ucap Pelayan itu.
"Baik terimakasih," ucap Erica.
"Langsung masuk saja, aku akan menyiapkan minuman dulu," ucap Pelayan itu.
Pelayan itu meninggalkan Erica dan Evan di depan ruang kerjanya Rian dan berjalan menuju ke dapur untuk menyiapkan minuman.
"Erica apa kita harus langsung masuk saja?" tanya Evan.
"Pelayan itu mengatakan begitu, jika Rian telah menunggu kita di dalam, ayo kita masuk saja," jawab Erica.
"Baiklah kalau begitu," ucap Evan.
"Masuk saja Erica, aku juga waktu itu mengikuti dia sampai ke ruangan ini," ucap Maya.
"Tok tok tok" suara Erica mengetuk pintu.
"Masuk," ucap Rian dari dalam ruangan.
"Kreek" suara membuka pintu.
"Permisi," ucap Erica.
Erica dan Evan masuk ke dalam ruangan dan melihat seorang pria yang sedang duduk. Pria itu menatap Erica dan Evan yang ada di hadapannya. Wajahnya yang sangat tampan dan berkulit putih membuat Erica dan Evan menjadi terpesona melihatnya.
"Wah, dia sangat tampan wajar saja jika Maya menyukainya," ucap Erica di dalam hati.
"Pria ini memiliki wajah yang sangat tampan sepertiku, dia sangat serasi dengan Maya jika saja dia masih hidup," ucap Evan di dalam hati.
"Apa kalian yang datang kemari dan ingin menemuiku?" tanya Rian.
"Iya kami datang ingin menemuimu," ucap Erica.
"Silahkan duduk," ucap Rian.
"Terimakasih," ucap Erica dan Evan.
Lalu Evan dan Erica duduk di sofa yang ada di ruang kerja itu. Rian berdiri dari kursi tempat dia duduk dan berjalan mendekati Erica dan Evan lalu duduk di hadapan mereka.
"Apa yang ingin kalian bicarakan padaku? apa kalian temannya Maya?" tanya Rian.
Erica dan Evan masih menatap Rian yang duduk tepat di hadapan mereka.
"Erica! Rian sedang bertanya padamu!" teriak Maya.
"Ah iya, betul kami temannya Maya," jawab Erica.
"Aku tidak pernah melihat kalian bersama Maya sebelumnya? bagaimana kalian bisa mengenal Maya?" tanya Rian penasaran.
"Kami memang hanya berteman biasa saja dengan Maya dan tidak terlalu lama mengenalnya! kami ingin menanyakan tentang Maya padamu, bukankah Maya telah menghilang selama satu tahun ini," jawab Erica.
"Iya benar Maya telah menghilang selama satu tahun ini, aku juga sudah mencarinya tapi tak berhasil menemukannya," ucap Rian sedih.
Melihat wajah Rian yang tampak sedih saat membicarakan dirinya Maya ikut menjadi sedih. Hatinya benar benar sangat sakit ketika melihat Rian saat itu, Maya merasakan kesedihan dan cinta saat menatap Rian yang ada di hadapannya.