ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 64



 


Saat Jenni, Riki dan juga Heru berjalan mendekati gedung tua itu, orang suruhan Rian melihat mereka dan merasa sangat penasaran dengan yang dilakukan oleh mereka.


 


 


"Lihat ada tiga orang yang mendekati gedung itu secara diam diam."


 


 


"Siapa mereka? kenapa mereka ingin masuk kesana secara diam diam?"


 


"Apa jangan jangan mereka adalah polisi yang akan menyelamatkan kedua anak tadi."


 


 


"Ehm, bisa jadi mereka adalah polisi, apa kita juga harus membantu mereka?"


 


"Ingat pesan Pak Rian kita hanya disuruh mengamati mereka saja, kita lebih baik tidak ikut campur dengan urusan mereka."


 


 


"Hem, baiklah kita akan mengamati mereka saja saat ini."


 


 


Akhirnya kedua orang suruhan Rian memutuskan hanya mengamati  mereka saja dari dalam mobil. Sementara itu jenni, Riki dan juga Heru berhasil menyelinap masuk ke dalam gedung itu.


 


"Mereka ternyata cukup banyak juga," ucap Riki.


 


"Apa kalian takut melawan mereka?" tanya Jenni.


 


"Tentu saja tidak, kami tidak takut pada mereka," jawab Heru.


 


"Baguslah kalau begitu, kita harus menemukan dimana ruang bos mereka, aku rasa Erica dan Evan ada di dalam sana, ayo kita bergerak sekarang," ucap Jenni.


 


Mereka menyelinap dan mencari ruangan tempat Erica dan Evan berada.


 


"Sepertinya mereka ada ruangan disana," ucap Riki.


 


"Darimana kau tahu jika mereka disana?" tanya Jenni.


 


 


"Lihat saja disana dijaga oleh pengawal dan lagipula aku melihat Erica dan Evan ada disana karena pintunya agak terbuka," ucap Riki.


 


 


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi," ucap Jenni sambil memukul kepala Riki.


 


 


"Aduh, maaf," ucap Riki.


 


 


"Ada ada saja kamu ini," ucap Heru.


 


 


"Bagaimana kita masuk ke ruang itu? apa kita langsung masuk saja dan menerobos kesana," ucap Riki.


 


"Ide yang bagus, ayo kita lakukan itu," ucap Jenni.


 


"Apa! jadi kita langsung menerobos masuk kesana," ucap Heru terkejut.


 


 


"Tentu saja, apa kau ada ide yang lebih bagus lagi dari itu?" tanya Jenni.


 


"Tidak ada," jawab Heru.


 


"Baiklah kalau begitu kita lakukan saja ide yang pertama, terobos masuk dan habisi mereka semua," ucap Jenni.


 


"Baik" jawab Heru dan juga Riki.


 


 


Lalu mereka berjalan kearah ruangan bos narkotika itu.


 


"Siapa kalian! kenapa kalian kemari!" teriak penjaga pintu ruangan.


 


"Jadi kalian ingin tahu siapa kami?" ucap Riki.


 


"Ehm, bisa di bilang kami petugas penegak keadilan," ucap Jenni.


 


"Apa kalian polisi?"


 


 


"Tentu saja!" teriak Jenni.


 


"Sialan mereka polisi! hajar mereka semua!" teriak penjaga pintu itu.


 


 


"Baiklah kita hajar mereka!" teriak Jenni.


 


 


"Hiiiyaaa!" teriak Jenni, Riki dan juga Heru.


 


"Bak buk bak buk buk" suara mereka berkelahi.


 


 


Karena terdengar suara ribut di luar ruangan membuat Yoga dan yang lainnya merasa terkejut.


 


"Ada apa diluar sana kenapa seperti ada keributan! kalian cepat periksa!" teriak Yoga.


 


"Sepertinya mereka sudah datang kemari," ucap Maya.


 


 


"Itu pasti Kak Jenni dan yang lainnya," ucap Evan di dalam hati.


 


"Sekarang waktunya bersiap," ucap Erica di dalam hati.


 


Salah satu anak buah dari Yoga berlari masuk ke dalam ruangan.


 


"Bos ada polisi di luar sana!"


 


 


"Siap bos."


 


 


Lalu Yoga menatap Erica dan juga Evan yang berada di dalam ruangan itu.


 


 


"Apa kalian berdua yang telah memanggil polisi kemari? atau kalian mata mata dari polisi itu untuk menjebakku saat ini?"


 


"Bisa di katakan begitu," jawab Evan.


 


 


"Pantas saja aku merasa curiga pada kalian berdua, ternyata dugaanku benar," ucap Yoga.


 


"Tapi sangat sayang sekali kau menyadarinya cukup terlambat saat ini," ucap Evan.


 


 


"Hajar mereka berdua!" teriak Yoga.


 


 


"Siap bos."


 


 


"Hiiiyaaa"


 


"Bak buk bak buk buk" suara Evan berkelahi dengan anak buahnya Yoga.


 


Erica yang belum terlalu bisa berkelahi dia hanya memukul menggunakan tas dan juga barang yang di sekitarnya untuk melawan. Wanita yang bernama Indri mendekati Erica dan menjambak rambutnya sehingga membuat Erica merasa kesakitan.


 


"Berani sekali kau menipuku!" teriak Indri.


 


Melihat Erica yang di sakiti Indri lalu Maya merasuki Erica saat itu juga.


 


 


"Rasakan ini!" teriak Indri yang ingin memukul Erica dengan tangannya.


 


Lalu Maya yang telah merasuki Erica memegang tangan Indri yang ingin memukul Erica dan menatap wajah Indri dengan mata yang tajam.


 


"Berani sekali kau ingin memukulku."


 


"Lepaskan tanganku!" teriak Indri.


 


Lalu Maya membalas indri dengan memukul wajahnya.


 


"Buuk" suara Maya memukul Indri dengan tangannya.


 


"Kemari kau! akan kupatahkan semua kaki dan tanganmu karena berani menyakitiku!" 


 


"Dasar gadis gila! hiiiyaa," teriak Indri yang kembali berusaha memukul Erica.


 


"Bak buk bak buk buk" suara Maya memukul Indri.


 


"Ah ampun, tolong lepaskan aku, aku mengaku menyerah," ucap Indri kesakitan karena di pukul Maya.


 


Melihat Indri yang di pukuli para pengawal dan anak buah Yoga yang lainnya mendekati Erica yang di rasuki oleh Maya dan ingin menghajarnya.


 


 


"Habisi gadis itu!" 


 


"Hiiiiyaaa"


 


"Baiklah ayo datang kemari semua, aku akan menghajar kalian semua tanpa ampun!" teriak Maya.


 


"Bak buk bak buk buk" Suara Maya berkelahi dengan para penjahat itu.


 


Maya menghajar semua penjahat itu sampai semua babak belur, dan membuat mereka sampai tidak bisa berdiri lagi. Evan yang melihat itu dia benar benar merasa sangat terkejut Erica bisa mengalahkan semua penjahat itu dengan sangat mudah.


 


"Sialan mereka bisa mengalahkan anak buah dan pengawalku dengan sangat mudah!" teriak Yoga kesal.


 


 


"Hei kau bos penjahat!" teriak Maya yang merasuki Erica.


 


"Dasar gadis sialan berani sekali kau bicara seperti itu padaku," ucap Yoga.


 


"Kemari kau, aku akan menghajar wajahmu yang jelek itu!" teriak Maya.


 


"Gadis ini benar benar butuh di beri pelajaran," ucap Yoga marah.


 


"Hiiyaa"


 


Yoga berlari mendekati Erica dan ingin memukulnya tapi di hadang oleh Evan dan dia yang menjadi kena pukulan dari Yoga.


 


"Aah" teriak Evan kesakitan.


 


"Berani sekali kau memukul Evan!" teriak Maya marah.


 


"Sekarang giliranmu," ucap Yoga.


 


Saat Yoga akan memukulnya, Maya terlebih dahulu memukul wajah dan perut dari Yoga yang bertubuh besar itu. Maya menendang dan memukulnya tanpa henti sampai dia jatuh tersungkur. Saat Maya yang sedang menghajar Yoga, Jenni, Riki dan juga Heru melihatnya dan merasa sangat terkejut setelah melihat kemampuan Erica yang di rasuki Maya yang sangat kuat dan pintar berkelahi.


 


 


"Apa itu benar benar Erica?" ucap Riki terkejut.


 


"Kenapa melihat cara dia memukul penjahat itu mengingatkanku pada Maya," ucap Heru.


 


 


"Benar katamu aku juga merasa seperti melihat Maya yang sedang berkelahi dengan seorang penjahat," ucap Riki.


 


 


"Aku juga tak menyangka jika Erica bisa sehebat ini, aku merasa jika itu bukan seperti dirinya," ucap Jenni di dalam hati.


 


 


Melihat Erica yang sangat pintar berkelahi dan kuat membuat Jenni merasa terkejut dan juga tak percaya, apalagi setelah mendengar ucapan Riki dan Heru yang mengatakan jika Erica sangat mirip dengan Maya pada saat sedang berkelahi melawan para penjahat itu.