
Setelah sampai di depan ruangan pimpinan Heru mendekati Riki yang sudah berada di sana.
"Apa sudah tidak ada orang di sekitar sini?" tanya Heru.
"Aku sudah memastikannya tidak ada orang, semua sudah pergi, kau masuk ke dalam dan pasang saja alat penyadap itu, biar aku menunggu disini untuk mengawasi jika ada orang yang mau kemari," ucap Riki.
"Baiklah, aku akan memasangkan alat penyadap ini, kau tunggu disini," ucap Heru.
"Ok, cepatlah sebelum ada orang yang datang kemari lagi," ucap Riki.
Lalu Heru masuk ke dalam ruangan pimpinan polisi itu untuk memasangkan alat penyadap disana.
"Kreek" suara Heru membuka pintu.
"Ruangan ini gelap sekali karena dimatikan lampunya, kira kira dimana aku harus memasang alat penyadap ini, yang tidak mungkin di temukan oleh pimpinan," ucap Heru sambil melihat sekelilingnya.
"Heru, cepatlah jangan lama lama di dalam sana," ucap Riki pelan.
"Iya, sebentar aku sedang mencari tempat yang pas untuk memasangnya," jawab Heru.
Kemudian Heru melihat sebuah lemari sudut yang ada disana.
"Aku akan memasangnya di balik lemari sudut itu, sepertinya itu tempat yang pas dan juga sangat dekat dengan meja kerja pimpinan," ucap Heru.
Lalu dia memasangkan alat penyadap di balik lemari sudut itu.
"Akhirnya aku bisa juga memasangkan alat penyadap ini, kita akan lihat apa yang sebenarnya di lakukan oleh pimpinan itu," ucap Heru.
Tiba tiba Riki terkejut melihat pimpinan mereka berjalan menuju kesana, karena ingin memberikan isyarat pada Heru yang masih berada di dalam ruangan dia berteriak memanggil pimpinan itu.
"Bukankah itu pimpinan? kenapa dia kembali lagi kemari? gawat Heru masih berada di dalam," ucap Riki khawatir.
"Riki! kenapa kau berada disini?" tanya Pimpinan polisi itu.
"Siap pak! saya hanya kebetulan saja melewati ruangan ini," jawab Riki.
Heru mendengar suara Riki, dia pun menjadi panik karena masih berada di dalam ruangan pimpinan itu.
"Sial! kenapa orang itu kembali lagi kemari? seperti tahu saja dia jika kami ingin menyadapnya, aku harus bersembunyi supaya tidak ketahuan olehnya," ucap Heru.
Heru kemudian bersembunyi di bawah meja kerja pimpinan itu agar tidak ketahuan olehnya. Pimpinan itu merasa curiga karena melihat Riki yang ada di depan pintu ruangannya.
"Betulkah kau hanya kebetulan lewat saja?"
"Iya pak!" jawab Riki.
"Ehm, baiklah kalau begitu kau boleh pergi, aku hanya ingin mengambil sesuatu saja yang tertinggal di dalam ruanganku," ucap Pimpinan polisi itu.
"Iya pak," jawab Riki.
Kemudian Riki berjalan pergi dari depan ruangan pimpinan itu agar tidak mencurigakan, dia masih mencemaskan Heru yang masih berada di dalam sana.
"Heru, semoga saja kau tidak ketahuan oleh pimpinan," ucap Riki cemas.
Riki tetap mengawasi dari kejauhan karena masih takut terjadi sesuatu pada Heru di dalam sana. Pimpinan polisi itu kemudian masuk ke dalam ruangannya untuk mengambil barang yang tertinggal di sana.
"Kreek" suara membuka pintu.
"Kenapa aku merasa curiga padanya? seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku?" ucap Pimpinan polisi itu.
"Sial! sepertinya dia mulai merasa curiga pada Riki, ternyata dia cukup pintar juga," ucap Heru di dalam hati.
"Dimana aku menaruh barang itu, tapi sepertinya aku menaruhnya di atas meja kerjaku tadi," ucap Pimpinan polisi itu sambil berjalan ke arah meja kerjanya.
"Kenapa juga dia harus mendekati meja kerjanya? jika aku sampai ketahuan berada di sini habislah aku dan Riki," ucap Heru cemas.
"Tunggu dulu, aku belum memeriksa di dalam tasku, jangan jangan sudah ada di dalam tasku," ucap Pimpinan polisi itu.
"Ah ternyata benar, aku memang sudah menaruhnya di dalam tas."
"Huuh, syukurlah dia tidak jadi mendekati meja kerjanya," ucap Heru di dalam hati.
Setelah menemukan barang yang dia cari pimpinan polisi itu kemudian keluar dari ruangan itu dan berjalan keluar dari kantor polisi dan masuk ke dalam mobilnya. Setelah melihat pimpinan polisi pergi dari sana Riki kemudian berlari menuju ke ruangan itu untuk melihat Heru yang masih berada di dalam sana.
"Kreek" suara Riki membuka pintu.
"Heru! apa kau masih disini," ucap Riki.
"Riki! aku disini," ucap Heru sambil keluar dari bawah meja kerja itu.
"Syukurlah kau tidak ketahuan olehnya, aku sudah sangat khawatir jika sampai ketahuan olehnya rencana kita pasti akan gagal semua," ucap Riki.
"Orang itu, seperti tahu saja jika kita akan mengintainya," ucap Heru kesal.
"Bagaimana apa kau berhasil memasang alat penyadap itu?" tanya Riki.
"Tentu saja aku berhasil," jawab Heru.
"Dimana kau memasangnya?" tanya Riki penasaran.
"Tempat yang akan tidak terlihat olehnya yaitu di balik lemari sudut itu," jawab Heru sambil tersenyum.
"Tempat yang cukup bagus untuk menyadap," ucap Riki.
"Ayo kita keluar dari sini sebelum ada yang melihat kita," ucap Heru.
"Ah iya betul juga katamu, ayo kita pergi sekarang," ucap Riki.
Kemudian mereka keluar ruang pimpinan itu dan menuju ke ruangan mereka.
"Apa kau yakin jika tidak ada yang melihat kita saat keluar dari ruang pimpinan tadi?" tanya Heru.
"Tentu saja, semua orang yang ada di dekat ruang pimpinan sudah pulang semua, kau tak perlu khawatir soal itu, karena aku sudah memastikannya tadi," jawab Riki.
"Syukurlah kalau begitu, akhirnya kita bisa mengetahui apa pimpinan kita memang mempunyai hubungan dengan bos besar itu atau tidak, kita harus benar benar memastikannya," ucap Heru.
"Perasaanku mengatakan jika pimpinan kita memang bekerjasama dengan bos besar itu, tapi kita tidak mempunyai bukti untuk mengatakan itu, dengan menyadapnya kita bisa mencari bukti sekaligus mengetahui semua rencana mereka selanjutnya jika mereka memang benar benar bekerjasama," ucap Riki.
"Mulai sekarang kita harus selalu mengawasinya dan juga Yoga," ucap Heru.
"Apa kau akan memberitahu Jenni dan kedua anak itu, jika kita telah berhasil menyadap pimpinan kita?" tanya Riki.
"Nanti saja kita memberitahu mereka soal ini," jawab Heru.
"Selanjutnya apa yang akan kita lakukan lagi? apa kita hanya akan mengawasi pimpinan dan Yoga saja untuk sementara waktu ini?" tanya Riki.
"Iya, kita hanya akan mengawasi saja untuk sementara waktu ini," jawab Heru.
"Baiklah kalau begitu, Heru apa kau masih memikirkan adik perempuan Yoga yang kerasukan beberapa hari yang lalu," ucap Riki.
"Kenapa kau masih memikirkan hal itu?" tanya Heru.
"Apa kau merasa jika hantu yang merasuki itu, apa mungkin jika hantu itu yang menjaga gadis bernama Erica itu," ucap Riki.
"Ehm, entahlah aku tidak tahu, bagaimana jika kau menanyakan langsung pada gadis yang bernama Erica itu, agar kau bisa mendapatkan jawabannya," ucap Heru.
"Ah ada ada saja kau! bagaimana mungkin aku menanyakan itu langsung padanya," ucap Riki.
"Tak penting hantu itu berasal darimana yang penting dia berada di pihak kita," ucap Heru.
"Ehm, betul juga katamu," ucap Riki.
Heru dan juga Riki merasa senang karena telah berhasil memasang alat penyadap di ruangan pimpinan mereka. Mereka berniat untuk mencari bukti keterlibatan pimpinan mereka dengan kasus yang mereka tangani selama ini.