
Sementara itu Bu Vira bersiap siap untuk pergi melakukan pengintaian pada wanita yang bernama Dian. Melihat Bu Vira yang akan pergi, Ibunya Maya mendekatinya dan memberikan segelas susu pada Bu Vira.
"Vira!"
"Iya Bu Widia," ucap Bu Vira.
"Minumlah susu ini, setidaknya perutmu tidak akan kosong karena belum sarapan," ucap Ibunya Maya.
"Tak perlu repot repot Bu Widia, aku akan sarapan di luar saja, tapi karena anda telah membuatkan susu ini, aku akan meminumnya," ucap Bu Vira sambil mengambil gelas susu yang ada di tangan Ibunya Maya dan meminumnya.
"Kau sudah sangat dewasa, kenapa belum terpikirkan untuk menikah?" tanya Ibunya Maya.
"Huuuuk" Suara Bu Vira tersedak saat minum susu itu karena mendengar ucapan dari Ibunya Maya.
"Kenapa Bu Widia menanyakan hal itu padaku?"
"Seharusnya wanita seumurmu ini paling tidak sudah memiliki seorang anak, apa kau patah hati makanya tidak menikah sampai sekarang?" tanya Ibunya Maya sambil menatap Bu Vira.
"Soal itu nanti saja kita akan membahasnya, sekarang aku harus pergi dulu, sampai jumpa nanti malam Bu Widia," ucap Bu Vira sambil berjalan keluar dari dalam kamarnya.
"Jika di tanya soal menikah dia pasti akan menghindar, apa memang dia pernah patah hati makanya tidak ingin menikah?" ucap Ibunya Maya.
Bu Vira berjalan keluar dari rumah dan langsung masuk ke dalam mobil, lalu dia pergi menuju rumahnya Rian untuk mengintai wanita yang bernama Dian. Di dalam perjalanan Bu Vira masih memikirkan ucapan dari Ibunya Maya padanya.
"Kenapa tiba tiba Bu Widia menanyakan hal itu padaku? ehm, jika di pikir pikir memang umurku tidak muda lagi, tapi aku belum ada pikiran untuk menikah sampai sekarang, karena belum menemukan laki laki yang benar benar aku sukai," ucap Bu Vira sambil menyetir mobilnya.
Tak lama kemudian Bu Vira sampai di depan rumahnya Rian. Dia menghentikan mobilnya dan menunggu wanita yang bernama Dian itu. Rian menelpon Bu Vira untuk memastikan jika dia sudah berada di dekat rumahnya untuk mengintai saat itu.
"Kring kring kring" Suara handphone berdering.
"Halo"
"Halo Bu Vira"
"Iya Pak Rian," jawab Bu Vira.
"Apa kau sudah sampai disini?" tanya Rian.
"Sudah Pak Rian, saya sudah ada di dekat rumah Pak Rian dan sekarang sedang menunggunya," jawab Bu Vira.
"Bagus kalau begitu, kemungkinan dia akan keluar dari rumah sebentar lagi, kau harus bersiap siap mengikutinya," ucap Rian.
"Baik Pak Rian," ucap Bu Vira.
Kemudian Rian menutup telponnya, tak lama setelah Rian menelpon Bu Vira, pelayan wanita yang bernama Dian itu berjalan keluar dari rumahnya Rian, dia memberhentikan taksi tang lewat kemudian masuk ke dalamnya.
"Dia sudah bergerak, aku tidak boleh gagal mengikutinya hari ini," ucap Bu Vira sambil menghidupkan mobilnya.
Taksi yang di tumpangi oleh wanita yang bernama Dian itu kemudian pergi, Bu Vira mengikutinya dari belakang dengan sangat hati hati agar tidak di curigai olehnya.
"Mau kemana dia hari ini, kau tidak akan lepas dariku hari ini," ucap Bu Vira.
Taksi itu kemudian berhenti di sebuah cafe, Dian turun dari taksi itu dan berjalan masuk ke dalam cafe itu. Melihat Dian yang masuk ke dalam cafe, Bu Vira pun ikut menyusulnya masuk ke dalam cafe.
"Mau menemui siapa dia di cafe ini?" ucap Bu Vira sambil melihat Dian dari kejauhan di dalam cafe itu.
Melihat Bu Vira yang duduk di dalam cafe kemudian dia di datangi oleh pelayan cafe disana.
"Nona, anda ingin memesan minuman apa?" tanya Pelayan cafe.
"Aku pesan satu kopi hitam saja," ucap Bu Vira.
"Tidak ada, hanya itu saja," jawab Bu Vira.
"Baiklah akan segera kami siapkan segera, mohon di tunggu," ucap Pelayan cafe itu.
"Baiklah," ucap Bu Vira sambil menatap Dian dari kejauhan.
Dian memesan dua buah kopi yang di taruh oleh pelayan cafe di atas mejanya. Bu Vira menduga jika dia sedang menunggu seseorang di cafe itu.
"Siapa yang akan dia temui disini? kenapa dia sangat mencurigakan, memang sepertinya ada yang di sembunyikan olehnya selama ini," ucap Bu Vira.
Tak lama kemudian Irfan datang ke cafe itu dan berjalan mendekati Dian dan duduk dengannya di dalam cafe itu. Bu Vira sangat terkejut jika orang yang di temui Dian adalah Irfan yaitu Om dari Rian.
"Pak Irfan! bagaimana mungkin dia berhubungan dengan pelayan wanita yang bernama Dian itu," ucap Bu Vira terkejut.
Karena merasa sangat curiga Bu Vira berusaha untum mendengarkan percakapan mereka saat itu, tapi Bu Vira kesulitan mendengarnya karena mereka cukup jauh darinya.
"Sial! aku tak bisa dengan jelas mendengarkan percakapan mereka berdua," ucap Bu Vira kesal.
Bu Vira menutupi wajahnya dengan koran bekas yang ada di dekat mejanya agar tak terlihat oleh Irfan dan juga Dian. Saat itu pelayan wanita yang bernama Dian menemui Irfan untuk memintanya tidak menekan dan mengancamnya untuk melakukan hal hal yang buruk lagi pada Rian.
"Kenapa kau ingin bertemu denganku di sini? apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku tentang Rian?" ucap Irfan.
"Tidak ada yang ingin kulaporkan padamu," jawab Dian.
"Terus kenapa kau ingin bertemu denganku hari ini?" tanya Irfan.
"Aku ingin meminta padamu untuk tidak mengancam dan memintaku untuk melaporkan semua yang di lakukan tuan Rian mulai saat ini, aku sudah sangat merasa bersalah padanya atas perbuatanku karena perintahmu yang selalu ingin mencelakainya," jawab Dian.
"Aku tak ingin kau berhenti untuk melaporkan semua kegiatan Rian padaku, jika kau berhenti kau akan berakhir di penjara," ucap Irfan.
"Terserah padamu Pak Irfan, aku tak takut lagi dengan ancamanmu! jika aku masuk penjara akan ku pastikan kau pun akan merasakan hal yang sama denganku," ucap Dian.
"Kau berani mengancamku! kau tidak tahu siapa diriku!" teriak Irfan marah.
Melihat Irfan yang berteriak Dian membuat Bu Vira semakin penasaran.
"Apa yang telah mereka bicarakan sampai Pak Irfan benar benar marah padanya?" ucap Bu Vira penasaran.
Pelayan cafe mengantarkan pesanan Bu Vira ke mejanya saat itu.
"Nona, ini pesanan anda," ucap Pelayan cafe itu sambil meletakkan kopi di atas meja Bu Vira.
"Maaf, bisakah aku meminta tolong padamu?" tanya Bu Vira.
"Iya nona, anda ingin meminta tolong apa padaku?" tanya Pelayan cafe itu.
"Bisakah kau meletakkan alat perekam ini di dekat kedua orang yang sedang berbicara disana? letakkan saja alat perekam ini di pot tanaman dekat meja mereka," ucap Bu Vira sambil menunjuk ke arah Irfan dan Dian.
"Bisa nona, apa anda seorang polisi yang sedang menyelidiki orang itu?"
"Bisa dikatakan begitu, jadi apa kau bisa melakukannya? ini ada sedikit uang untukmu," ucap Bu Vira sambil memberikan alat perekam yang telah di hidupkannya dan juga sejumlah uang pada pelayan cafe itu.
"Ah iya nona, tentu dengan senang hati aku akan melakukannya," ucap Pelayan cafe itu.
"Baiklah terimakasih, cepat lakukanlah," ucap Bu Vira.
"Baik nona," ucap Pelayan cafe itu.
Lalu pelayan cafe itu berjalan mendekati Irfan dan juga Dian yang masih berbicara saat itu, pelayan cafe itu lalu meletakkan alat perekam itu secara diam diam di pot tanaman dekat meja mereka berdua. Setelah meletakkan itu pelayan cafe itu kemudian pergi dari sana. Bu Vira tersenyum senang melihat pelayan cafe itu berhasil melakukan apa yang dia minta.