ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 62



Jenni, Riki, dan Heru mengikuti mobil yang di kendarai oleh Evan dan Erica. Dalam perjalanan Erica menelpon Jenni untuk memberitahu mereka.


"Erica lebih baik kau sekarang menelpon Kak Jenni, jika disana nanti kita tidak bisa menghubungi mereka," ucap Evan.


"Baiklah Evan," ucap Erica.


Lalu Erica mengeluarkan handphonenya untuk menelpon Jenni.


"Kring kring kring" Suara handphone Jenni berdering.


"Ini Erica yang menelponku," ucap Jenni.


"Cepat kau angkat," ucap Riki.


Jenni menjawab telponnya.


"Iya Erica, bagaimana apa kalian berhasil membujuk wanita itu untuk bertemu dengan bosnya?" tanya Jenni.


"Iya Kak Jenni sekarang dia menyuruh kami mengikutinya untuk bertemu dengan bos mereka di markasnya," jawab Erica.


"Bagus Erica, setelah sampai disana kalian tidak perlu menelpon lagi, karena mereka akan curiga, kami sekarang masih mengikuti kalian, berikan kami kode OK jika sudah mendapatkan barangnya dengan mengirimkan pesan itu, kami akan masuk dan menangkap mereka semua," ucap Jenni.


"Baik Kak Jenni," jawab Erica.


Lalu Erica menutup telponnya.


"Bagaimana kata Kak Jenni?" tanya Evan.


"Dia menyuruh kita mengirimkan pesan OK jika sudah melihat barang buktinya, dengan begitu mereka akan menangkap mereka semua dengan masuk ke dalam markasnya," jawab Erica.


"Jika mereka mengatakan markas berarti kemungkinan jika disana ada banyak penjahat yang berkumpul, kau harus berhati hati Erica aku tak ingin kau terluka," ucap Evan khawatir.


"Apa kau lupa Evan, jika ada Maya yang akan selalu menjagaku," ucap Erica sambil tersenyum.


"Semoga kali ini Maya juga akan melindungimu dengan baik," ucap Evan.


"Jangan pernah meremehkan kemampuanku, tentu saja aku pasti akan melindungi Erica, kita lihat saja nanti siapa yang bisa mengalahkan penjahat itu," ucap Maya sambil tersenyum.


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah gedung tua yang besar dan terpencil. Lalu wanita itu menghentikan mobilnya di depan gedung tua itu.


"Sepertinya kita sudah sampai Evan," ucap Erica.


Evan juga menghentikan mobilnya di depan gudang tua itu, lalu Evan dan Erica langsung turun dari mobil dan berjalan mendekati wanita itu.


"Apa ini tempatnya?" tanya Evan.


"Tentu inilah markas kami tempat berkumpulnya semua pengedar di daerah ini, ayo kita masuk ke dalam bos sudah menunggu kalian," jawab Wanita itu.


"Baiklah," jawab Evan.


Kemudian Erica dan Evan masuk ke dalam gedung tua itu bersama dengan wanita itu. Jenni, Riki, dan juga Heru menghentikan mobilnya tidak jauh dari gedung tua itu dan mengamati mereka dari jauh. Tanpa mereka sadari disana juga ada orang suruhan dari Rian yang sedang menyelidiki tempat itu.


"Hei, sepertinya kedua orang yang masuk bersama wanita itu, mirip dengan kedua anak sekolah yang kita lihat kemarin."


"Apa mungkin itu mereka?"


"Coba saja kau lihat sendiri dengan teropong ini."


Lalu dia melihat melalui teropong yang diberikan temannya.


"Benar itu kedua anak kemarin yang juga menyelidiki tentang Maya, kenapa mereka bisa masuk ke dalam sana? apa yang mereka rencanakan?"


"Apa perlu kita melaporkan ini pada Pak Rian?"


"Kupikir jangan dulu, kita lihat apa yang sebenarnya mereka lakukan disana."


"Baiklah kalau begitu, kita tunggu sampai mereka berdua keluar dari tempat itu."


Jenni, Riki, dan Heru yang masih berada di dalam mobil masih terus mengamati gedung tua itu dari kejauhan.


"Apa kalian berdua membawa senjata?" tanya Jenni.


"Kenapa kau bertanya kita membawa senjata atau tidak," ucap Heru.


"Tentu saja kami membawanya, mana mungkin kami tidak membawa senjata jika ke tempat yang berbahaya seperti ini," ucap Riki.


"Baguslah kalau begitu, kita tunggu kode dari mereka untuk masuk ke dalam, kalian juga harus segera bersiap, kita akan membantai mereka semua," ucap Jenni sambil tersenyum.


"Kenapa aku malah lebih takut dengannya daripada dengan penjahat," bisik Heru pada Riki.


"Dia benar benar wanita yang sangat mengerikan," bisik Riki.


"Kalian sedang membicarakan apa!" teriak Jenni.


"Kami tidak membicarakan apapun, mungkin kau hanya salah dengar saja," ucap Heru.


"Semoga saja mereka berhasil dan tidak dicurigai di dalam sana," ucap Jenni khawatir.


Setelah masuk ke dalam gedung tua itu Erica dan Evan di periksa saat ingin bertemu dengan bos mereka.


"Siapa mereka?" tanya penjaga disana.


"Mereka calon pelanggan kita, dan bos ingin bertemu dengan mereka sekarang," jawab Wanita itu.


"Kalian harus di periksa dulu sebelum bertemu dengan bos di dalam," ucap Penjaga itu.


"Baiklah silahkan periksa mereka berdua," ucap Wanita itu.


"Kenapa kami harus di periksa?" tanya Evan.


"Ini hanya prosedur saja untuk menjaga keamanan bos kami, jika kalian tidak membawa senjata atau barang yang berbahaya lainnya kalian tidak perlu khawatir," jawab Wanita itu.


Lalu Erica dan Evan di periksa oleh penjaga itu.


"Bagaimana apa kau menemukan sesuatu yang berbahaya atau mencurigakan?" tanya Wanita itu.


"Tidak ada mereka berdua bersih, silahkan masuk," ucap Penjaga itu.


"Baiklah terimakasih, ayo kita masuk ke dalam jangan sampai membuat bos lama menunggu," ucap Wanita itu.


"Baiklah," ucap Evan.


Kemudian mereka berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan di dalam gedung tua itu.


"Ini adalah ruangan bos kami, selamat datang di markas kami," ucap Wanita itu.


"Tok tok tok" Suara wanita itu mengetuk pintu.


"Masuk"


"Kreek" Suara membuka pintu.


Lalu Erica, Evan dan wanita itu masuk ke dalam ruangan itu. Disana ada seorang laki laki yang berbadan besar yang sedang duduk dengan memakai setelan jas yang terlihat sangat mahal, dan ada beberapa orang pengawal pribadi yang ada di sampingnya.


"Apa kabar bos? aku membawa kedua orang yang telah kukatakan tadi dan inilah mereka," ucap Wanita itu.


Laki laki bertubuh besar itu kemudian menatap Erica dan Evan yang berdiri di hadapannya.


"Kalian masih sangat muda, apa benar kalian ingin menjadi seperti kami dan bergabung dengan kami?" tanya bos mereka.


"Tentu saja, bukankah ini bisnis yang sangat menggiurkan bisa menghasilkan banyak uang tanpa bekerja keras," jawab Erica.


"Kalian membeli barang ini untuk orang yang menyuruh kalian bukan?" tanya Bos mereka.


"Iya benar, bos kami ingin membeli banyak barang dari anda dan ingin menjualnya lagi di kota, kami bekerja padanya sebagai pengedar," jawab Evan.


"Aku suka dengan keberanian kalian, kalian bisa menjadi pengedar yang sangat sukses jika bekerjasama dengan kami," ucap Bos mereka.


"Bisa kami melihat barangnya sekarang?" tanya Erica.


"Apa kalian membawa uangnya?"


"Tentu saja," jawab Erica.


Lalu Erica membuka tas yang di bawanya dan menunjukkan pada Bos mereka isi di dalam tas itu yang penuh dengan uang. Bos mereka langsung tersenyum senang saat melihat uang yang di perlihatkan Erica padanya.