ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 86



Setelah sampai disekolah Evan yang berjalan menuju ke kelasnya dihampiri oleh Putri dan juga Rey yang saat itu juga baru sampai di sekolahnya.


"Evan!" teriak Rey.


"Ternyata kalian ada apa?" tanya Evan.


"Bagaimana kalian kemarin berhasil mendapatkan penawar racun untuk Erica?" tanya Putri.


"Iya aku dan Kak Jenni berhasil mendapatkannya, dan Erica sudah sadar tadi malam," jawab Evan.


"Kenapa kau tidak segera mengabari kami? kami benar benar mengkhawatirkan Erica, tidur saja sampai tidak nyenyak, kau bisa lihat dari mata panda yang ada di wajahku," ucap Putri.


"Maaf aku benar benar lupa mengabari kalian tadi malam," ucap Evan.


"Apa sekarang Erica masih berada di rumah sakit?" tanya Rey.


"Aku rasa siang ini dia sudah pulang kerumahnya, keadaannya sudah baik hanya pemulihan saja dengan istirahat di rumah," jawab Evan.


"Syukurlah kalau begitu aku sangat lega mendengarnya, Rey bagaimana jika kita sepulang sekolah kerumahnya Erica?" ucap Putri.


"Iya tentu saja, aku juga sangat ingin bertemu dengan Erica, aku juga tak bisa memberitahu pada ibuku tentang keadaan Erica, jika dia sampai tahu pasti dia akan sangat khawatir padanya, ibuku baru saja sembuh aku tak ingin dia banyak beban pikiran untuk beberapa waktu ke depan," ucap Rey.


"Ehm, betul juga katamu sebaiknya jangan beritahu ibumu jika kita membesuk Erica yang sedang sakit, bilang saja jika kau sedang belajar kelompok dengan temanmu yang lain," ucap Putri.


"Tadi malam ibunya Erica juga bilang jika ingin mengundang kalian kerumahnya dan makan bersama disana, untuk merayakan kesembuhan Erica saat ini," ucap Evan.


"Tentu saja dengan senang hati, apalagi kami juga memang berniat kesana ya kan Rey," ucap Putri sambil tersenyum.


"Kami akan kesana sepulang sekolah nanti," jawab Rey.


"Baiklah kalau begitu, aku akan masuk ke kelas dulu," ucap Evan.


"Sampai bertemu lagi sepulang sekolah nanti," ucap Rey.


"Ya, kalian juga harus cepat bergegas masuk ke dalam kelas sebelum pelajaran di mulai," ucap Evan.


"Ayo cepat Rey, nanti kita terlambat masuk ke kelas," ucap Putri sambil berlari menuju ke kelasnya.


Rey pun ikut berlari mengikuti Putri yang menuju ke kelas mereka. Tanpa mereka ketahui Cindy mendengar percakapan mereka, Cindy merasa penasaran apa yang telah terjadi pada Erica saat itu.


"Erica baru pulang dari rumah sakit? sakit apa dia? penawar apa yang dimaksud oleh mereka?" ucap Cindy penasaran.


Cindy juga langsung mengikuti Rey dan juga Putri masuk ke dalam kelas mereka. Saat itu orang suruhan Rian dan juga Zio orang suruhan dari bos besar mengintai Erica dan juga Evan dari luar sekolahnya. Zio menyadari kehadiran kedua orang dari suruhan Rian, lalu dia keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati kedua orang suruhan Rian itu.


"Siapa laki laki muda dan tampan itu? kenapa dia berjalan mendekati mobil kita?"


"Ehm, dia tampan, muda, dan juga tinggi."


"Aku tidak menanyakan pendapatmu! dia berjalan mendekati kita!"


"Tok tok tok" Suara Zio mengetuk kaca mobil mereka.


Kedua orang suruhan Rian membuka kaca jendela mobil mereka.


"Ada apa?"


"Seharusnya aku yang bertanya pada kalian, sedang apa kalian disini?" tanya Zio.


"Kami hanya sedang melihat lihat saja di sekitar sini, apa itu salah!"


"Apa kalian pikir aku orang yang bodoh, dan percaya dengan ucapan kalian," ucap Zio sambil menatap mereka.


"Sebenarnya apa masalahmu! kami hanya ingin berada disini!"


"Lebih baik kalian pergi dari sini! kalau tidak kalian akan menyesal," ucap Zio.


"Kalau tidak kenapa? apa kau ingin membunuh kami!"


"Bisa dikatakan begitu, aku akan melakukan itu jika perlu," ucap Zio sambil menunjukkan pistol yang ada di balik bajunya.


Kedua orang suruhan Rian melihat pistol yang di tunjukkan oleh Zio, mereka merasa takut setelah melihat itu.


"Ah iya tentu, kami akan pergi sekarang, masih ada beberapa pekerjaan yang akan kami lakukan."


"Iya betul, sampai jumpa lagi."


Lalu kedua orang suruhan Rian pergi dari sana dengan mengendarai mobilnya.


"Siapa laki laki muda itu? dia tampan dan menakutkan."


"Apa dia pengawal pribadi salah satu dari Erica atau Evan?"


"Apa itu mungkin?"


"Bisa saja! apalagi kedua anak itu adalah anak orang yang kaya, apalagi Erica dia sangat kaya raya."


"Tapi aku merasa jika laki laki muda itu bukan pengawal pribadi mereka, entah kenapa aku merasa jika laki laki muda itu seperti mempunyai niat yang jahat."


"Apa kita harus menyelidiki laki laki itu juga?"


"Tapi untuk saat ini kita harus fokus dengan Erica dan juga Evan."


"Sepertinya Erica tidak masuk sekolah hari ini, hanya Evan saja yang terlihat."


"Tentu saja, bukankah dia waktu itu terluka mungkin saja dia masih beristirahat untuk saat ini."


"Betul katamu, Ooo iya apa kita perlu melaporkan pada Pak Rian tentang laki laki muda tadi yang mengancam kita?"


"Tentu kita akan melaporkannya nanti setelah mendapatkan informasi tentang Evan dan Erica."


"Baiklah kalau begitu."


Sementara itu Zio yang masih berada di luar sekolah, dia kembali masuk ke dalam mobil dan mengamati dari sana. Saat itu dokter sekolah yang keluar dari sekolahan dan kebetulan melewati mobilnya Zio.


"Siapa wanita ini? di lihat dari pakaiannya sepertinya dia seorang dokter," ucap Zio.


Lalu Zio turun dari mobil dan berjalan menghampiri dokter wanita itu.


"Maaf permisi," ucap Zio.


"Iya" ucap Dokter wanita itu sambil menoleh ke arah Zio.


Dokter wanita itu terkejut saat melihat Zio yang menghampirinya. Sesosok laki laki muda tampan, berambut hitam, berkulit putih, tubuhnya yang kekar dan tinggi. Saat itu Zio memakai pakaian kemeja hitam dan celana hitam membuatnya semakin berkarisma di depan dokter wanita itu.


"Maaf kenapa anda terus menatapku?" tanya Zio sambil menatap dokter wanita itu.


"Apa kau seorang artis atau model yang kebetulan lewat disini?" tanya Dokter wanita itu sambil menatap Zio.


"Aku hanya orang biasa saja, bukan seorang artis ataupun model seperti katamu," ucap Zio sambil tersenyum.


"Melihatmu tersenyum saja membuatku sangat terpesona," ucap Dokter wanita itu.


"Aku ingin menanyakan sesuatu pada anda? apa aku telah mengganggu?" tanya Zio.


"Tentu saja tidak! kau boleh menanyakan apapun padaku, dan aku akan menjawabnya dengan senang hati," ucap Dokter wanita itu sambil tersenyum.


"Benarkah aku boleh menanyakan apapun padamu?" tanya Zio.


"Tentu saja, tapi sebelum itu boleh aku boleh bertanya sesuatu padamu?" ucap Dokter wanita itu.


"Tentu saja, kau ingin menanyakan apa padaku?" tanya Zio.


"Apa kau sudah punya pacar?"


"Aku belum punya pacar, dan belum berpikir sampai kesana," jawab Zio.


"Syukurlah kalau begitu aku senang mendengarnya," ucap Dokter wanita itu sambil menatap Zio yang ada di hadapannya.


Dokter wanita dari sekolah Evan dan Erica, terpesona dengan ketampanan wajahnya Zio, dia menyukai laki laki muda sepertinya. Zio berniat menanyakan informasi tentang Evan dan juga Erica dari dokter wanita itu.