ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 118



Erica di antar pulang oleh Evan ke rumahnya, Zio yang masih mengikuti mereka merasa sangat bingung saat mengikuti mereka yang tidak melakukan apa apa pada hari itu. Zio mengikuti Evan dan Erica sampai ke rumahnya Erica, Maya menyadari keberadaan Zio saat mengikuti mereka.


"Ternyata benar orang itu masih mengikuti kalian sampai di sini, pasti sekarang dia merasa sangat heran pada kalian berdua yang tidak melakukan apapun hari ini," ucap Maya.


"Evan, oarng itu masih mengikuti kita," ucap Erica.


"Kita harus mengalihkan perhatiannya, jika hari ini Rian telah memberi kabar dan kita harus bertemu dengannya," ucap Evan.


"Betul juga katanya Evan," ucap Maya.


"Jika nanti Rian meminta bertemu dengan kita, libatkan Kak Jenni untuk mengatasi orang suruhan itu," ucap Erica.


"Seperti yang kau katakan, agar Kak Jenni menangkap orang itu dan memasukkannya ke dalam penjara untuk sementara waktu ini," ucap Evan.


"Benar Evan kita harus melakukan itu, agar semua rencana kita dapat berhasil," ucap Erica.


"Wow Erica, entah kenapa aku merasa jika dirimu sangat keren hari ini," ucap Maya sambil tersenyum.


Erica tersenyum mendengar ucapan Maya padanya.


"Erica kenapa kau tiba tiba tersenyum?" tanya Evan heran.


"Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Maya padaku saja Evan," jawab Erica.


"Memangnya Maya mengatakan apa padamu? apa dia mengatakan sesuatu tentangku?" tanya Evan.


"Anak ini selalu saja curiga padaku," ucap Maya.


"Dia tidak mengatakan apapun tentangmu Evan, dia hanya membicarakan diriku," ucap Erica.


"Ooo begitu," ucap Evan.


"Baiklah Evan, aku akan masuk ke dalam dulu, aku akan segera menghubungimu jika Pak Rian telah mengabariku," ucap Erica.


"Baiklah Erica," ucap Evan.


Erica dan Maya lalu turun dari mobilnya Evan dan msuk ke dalam rumahnya, Evan pun juga langsung pergi pulang menuju ke rumahnya.


"Apa yang di rencanakan mereka sebenarnya? kenapa aku merasa jika mereka sedang merencanakan sesuatu saat ini, apa aku harus menunggu disini dan mengikuti Evan," ucap Zio bingung.


Erica dan Maya melihat orang yang mengikutinya dari dalam rumah di jendela kamarnya Erica, Zio memutuskan untuk tetap berada di depan rumahnya Erica, karena Erica adalah sasaran utama dari bos besar itu.


"Erica sepertinya orang itu memutuskan hanya akan mengikutimu, dia tidak pergi mengikuti Evan," ucap Maya.


"Bisa saja mungkin karena aku adalah sasaran pertama dari bos besar itu," ucap Erica.


"Mungkin malam ini Rian baru memberi kabar padamu Erica, bukankah saat ini Bu Vira masih mengikuti Dian," ucap Maya.


"Benar juga katamu Maya, kita akan menunggu saja hari ini, biarkan saja orang itu menunggu di luar sana dengan perasaan yang bingung," ucap Erica sambil tersenyum.


Sementara itu Riki dan juga Heru yang telah berhasil menyadap ruang pimpinan mereka untuk mengetahui rencana mereka selanjutnya.


"Apa pimpinan kita sudah berkomunikasi dengan bos besar itu?" tanya Riki.


"Tidak ada hal yang penting, dia masih mengatakan hal yang tidak penting sampai saat ini," jawab Heru.


"Apa mungkin bos besar itu belum menghubunginya saat ini?" tanya Riki


"Bisa saja, kita harus tetap menunggu dengan sabar, pasti bos besar itu akan segera menghubungi pimpinan," ucap Heru yang masih mencoba mendengarkan alat penyadap yang telh mereka pasang itu.


Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya pimpinan mereka menerima sebuah telpon saat itu.


"Riki, sepertinya pimpinan sedang menerima telpon dari seseorang, mungkin saja ini adalah bos besar itu," ucap Heru.


"Dengarkan baik baik, jangan sampai ada yang terlewatkan," ucap Riki sambil mendekati Heru.


Mereka berdua mendengarkan semua percakapan antara pimpinan mereka dengan bos besar itu. 


"Dasar dia berani mengkhianati kita, padahal dia juga seorang polisi tapi malah bekerjasama dengan seorang penjahat," ucap Riki kesal.


"Mungkin karena dia tergoda dengan uang yang di berikan oleh bos besar itu," ucap Heru.


Heru mendengarkan percakapan pimpinan mereka yang merencanakan ingin membebaskan Yoga dan juga bos besar itu meminta pimpinan mereka untuk membantu menutup kasus yang telah di tangani oleh Heru dan juga Riki.


"Sialan, mereka berencana akan menutup kasus yang sedang kita selidiki saat ini, Yoga juga akan segera di bebaskan," ucap Heru kesal.


"Apa mereka masih berbicara di telpon?" tanya Riki.


"Mereka telah menyeleasaikan percakapan dengan sangat cepat, intinya bos besar itu ingin agar semua anak buahnya di bebaskan dan juga menutup kasus ini secepat mungkin," jawab Heru.


"Tapi kita sudah memiliki banyak barang bukti, tentu mereka semua akan segera di hukum, bagaimana mungkin mereka bisa dengan mudah di lepaskan begitu saja," ucap Riki kesal.


"Bagaimana jika barang bukti itu di lenyapkan oleh pimpinan? apalagi kasus ini belum di limpahkan pada kejaksaan bisa saja dia melakukan itu," ucap Heru.


"Apa itu mungkin Heru, barang bukti itu telah di amankan, bagaimana bisa dia melenyapkan semuanya," ucap Riki.


"Entahlah kenapa aku merasa jika akan terjadi sesuatu yang buruk nanti," ucap Heru khawatir.


"Kita tidak bisa dengan jelas mendengarkan ucapan bos besar itu, hanya bisa mendengar pimpinan saja, apalagi yang mereka sebenarnya rencanakan," ucap Riki.


"Lebih baik kita menceritakan semua ini pada Jenni, setidaknya kita akan mendapatkan suatu cara untuk menghalangi pimpinan membantu bos besar itu," ucap Heru.


"Betul katamu, kita harus menelpon Jenni dan memberitahunya," ucap Riki.


Mereka kemudian menelpon Jenni untuk memberitahu informasi yang telah mereka dapatkan dari menyadap ruangan pimpinan mereka.


"Kring kring kring" suara handphone berdering.


"Halo" 


"Halo Jenni, ini Heru."


"Iya Heru ada apa kau menelponku?" tanya Jenni.


"Kami ingin mengatakan sesuatu padamu mengenai pimpinan kami dan juga bos besar," jawab Heru.


"Apa yang ingin kalian katakan tentang mereka? apa kalian mendapatkan suatu informasi yang penting?" tanya Jenni.


"Bos besar berencana ingin membebaskan semua anak buahnya yang telah kita tangkap, dan juga ingin menutup kasus ini dengan bantuan pimpinan kami, ucap Heru.


"Ternyata benar, pimpinan kalian terlibat dengan bos besar itu, kita harus menghalangi pimpinan kalian untuk melakukan semua itu," ucap Jenni.


"Tapi bagaimana kalian bisa mengetahui semua itu?" tanya Jenni penasaran.


"Kami berhasil menyadap ruang pimpinan, sehingga kami bisa mendengar percakapan mereka di telpon, jawab Heru.


"Ooo begitu kalian memang cukup cerdik," ucap Jenni sambil tersenyum.


"Tapi bagaimana cara kita menghalanginya Jenni?" tanya Heru.


"Aku akan membawa jaksa kenalanku ke kantor polisi disana, dan segera memaksa pimpinan kalian untuk memproses kasus itu dan di limpahkan ke kejaksaan," jawab Jenni.


"Kapan kau akan kemari?" tanya Heru.


"Paling tidak besok pagi aku baru bisa ke sana dengan jaksa kenalanku," jawab Jenni.


"Baiklah kalau begitu, kami akan menunggumu," ucap Heru.


"Tapi kalian harus tetap mengawasi pimpinan itu, jangan sampai kita terkecoh oleh mereka, karena kita tidak tahu apa saja yang telah mereka rencanakan saat ini," ucap Jenni.


"Baiklah," ucap Heru.


Lalu Heru menutup telponnya, Jenni merencanakan akan menggagalkan semua rencana bos besar itu dan pimpinan polisi yang ada di sana.