
Saat sedang berbicara dengan Irfan tiba tiba handphone milik bos besar itu berdering, dia melihat handphonenya dan terkejut karena Dian adiknya tiba tiba saja menelponnya setelah sekian lama tidak saling berhubungan satu sama lain, karena merasa sangat penasaran bos besar itu kemudian menjawab telpon dari Dian.
"Halo"
"Halo Kak Alena."
"Aku sangat terkejut tahu ketika kau tiba tiba menelponku saat ini, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?" tanya Bos besar itu.
"Aku sangat ingin bertemu denganmu besok siang di rumahku, apa kau bisa menemuiku?" tanya Dian.
"Kenapa kau tiba tiba sangat ingin bertemu denganku? apa kau sedang mendapatkan suatu masalah yang serius? katakan saja padaku langsung, aku akan membantumu dengan senang hati," ucap Bos besar itu sambil menatap Irfan yang ada di hadapannya.
"Sial apa itu Dian yang menelpon? bagaimana jika dia mengatakan semuanya bisa bisa aku benar benar akan mati di tangannya bos besar," ucap Irfan cemas.
"Apa ada seseorang yang sedang mengganggumu? katakan saja padaku tak usah ragu, bagaimanapun kau tetap adik kandungku, aku tak akan membiarkan orang lain menyakitimu," ucap Bos besar.
"Apa Irfan telah datang untuk menemuimu dan menanyakan tentangku padamu?" tanya Dian.
"Iya betul, dia datang kemari dan bertanya tentangmu padaku, sekarang dia masih bersamaku, apa dia orang yang telah menyakitimu?" tanya Bos besar itu.
"Aku ingin kau juga mengajak Irfan besok bersamamu, karena ini ada kaitan dengannya," ucap Dian.
"Kau ingin aku mengajaknya untuk bertemu denganmu besok? apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku?" tanya Bos besar itu.
"Ini tentang kita berdua dan juga Irfan, aku berjanji jika kau menemuiku besok aku tidak akan pernah membantahmu lagi dan menuruti semua keinginanmu," jawab Dian.
"Baiklah kalau begitu aku akan menemuimu besok bersama Irfan di rumahmu," ucap Bos besar itu.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok di rumah," ucap Dian.
Lalu bos besar itu menutup telpon dari Dian.
"Kau pasti telah mendengar percakapan aku dengan adikku Dian, dia ingin kau juga ikut denganku menemuinya, aku ingin kau ikut denganku besok tanpa ada alasan untuk menolaknya, karena ini adalah permintaan pertama kali dari adikku, aku tak ingin mengecewakannya, sudah lama dia tidak pernah berbicara padaku, dan sekarang dia berbicara padaku dan juga mengatakan akan mulai ikut denganku lagi setelah ini," ucap Bos besar itu senang.
"Tapi kenapa dia ingin aku ikut denganmu untuk menemuinya besok? apa dia mengatakan sesuatu tentangku?" tanya Irfan penasaran.
"Dia tidak mengatakan apapun tentangmu padaku, tidak tahu jika besok dia ingin mengatakan apa padaku, berdoa saja jika dia mengatakan hal yang tidak buruk tentangmu, jika dia mengatakan kau sering menyakitinya dan memintaku untuk membalasnya, aku tidak akan segan segan untuk melakukannya," ucap Bos besar itu sambil menatap Irfan.
"Bagaimana jika besok aku menolak untuk ikut denganmu?" tanya Irfan.
"Kau pasti sangat paham denganku, aku sangat tidak suka jika di bantah oleh seseorang, dan juga pun pasti tahu apa yang terjadi pada orang yang membuatku menjadi marah," ucap Bos besar itu.
Mendengar ucapan bos besar itu membuat Irfan langsung terdiam dan gemetar ketakutan saat dia menatapnya dengan sangat tajam.
"Pergi atau tidak pun akan sama saja bagiku, tapi setidaknya ada kemungkinan Dian akan memaafkanku sehingga bos besar tidak akan melakukan hal buruk padaku," ucap Irfan di dalam hati.
"Bagaimana apa kau masih tidak ingin menuruti perintahku?"
"Tentu baiklah aku akan ikut denganmu besok," jawab Irfan.
"Baiklah," ucap Irfan.
"Kau boleh pergi sekarang," ucap Bos besar itu.
"Baiklah, aku permisi dulu, sampai jumpa besok," ucap Irfan.
"Aku harap kau tidak akan merubah pikiranmu untuk tidak datang besok menemui Dian, aku akan melakukan sesuatu yang tidak mungkin kau pikirkan selama ini," ucap Bos besar itu.
"Tentu saja, aku tidak akan merubah keputusanku," ucap Irfan.
Lalu Irfan berjalan keluar dari ruang kerja bos besar itu dengan perasaan yang cukup takut setelah mendengar ucapannya.
"Bagaimana ini, kenapa juga aku baru tahu jika Dian itu ternyata adalah adik kandungnya, tapi setelah ku pikir pikir memang Dian agak mirip dengan bos besar, kenapa aku baru menyadarinya sekarang, semoga saja Dian tidak mengadukanku padanya," ucap Irfan khawatir.
Sementara itu Dian setelah selesai menelpon kakaknya langsung menemui Bu Vira.
"Bu Vira, aku telah menelpon kakakku, dia menyetujuinya dan mau menemuiku di rumahku besok siang bersama dengan Tuan Irfan, kebetulan tadi ada Tuan Irfan di sana," ucap Dian.
"Tuan Irfan ke sana? apa yang dia lakukan di tempat kakakmu?" tanya Bu Vira.
"Mungkin dia menanyakan tentangku pada kakakku, dia sangat terkejut setelah mengetahui jika aku adalah adik kandung dari bos besar, dia mungkin hanya ingin memastikannya," jawab Dian.
"Kau tunggu disini aku akan memberitahu Tuan Rian dan yang lainnya agar kita berbicara di sini saja, karena jika kita berbicara di dalam ada Bu Widia, dia tidak boleh tahu tentang semua ini," ucap Bu Vira.
"Baiklah, aku akan menunggu di sini," ucap Dian.
Bu Vira kemudian masuk lagi ke dalam kamar itu, untuk memberitahu Rian agar berkumpul di luar untuk membicarakan rencana mereka besok.
"Tuan, Dian sudah menelpon kakaknya dan sekarang kita harus berkumpul di luar untuk membicarakan rencana besok," bisik Bu Vira.
"Baiklah, aku akan memberitahu Erica dan Evan," ucap Rian.
"Iya Tuan," ucap Bu Vira.
Rian mendekati Erica dan Evan dan berbisik pada mereka berdua agar segera keluar dari kamar itu dan berbicara di luar. Maya yang melihat mereka berbicara pelan, karena takut jika ibunya tahu Maya kemudian mengalihkan perhatian dari ibunya saat itu, agar mereka semua bisa berbicara di luar dengan leluasa tanpa di ketahui oleh ibunya Maya.
"Kalian akan pergi kemana?" tanya Ibunya Maya sambil menatap Erica, Evan, dan juga Rian.
"Kami akan menunggu di luar saja, silahkan Bu Widia melepaskan rasa rindu pada Maya," ucap Rian.
"Betul ibu, aku masih sangat merindukanmu, tetaplah di sini bersamaku, biarkan mereka semua menunggu di luar," ucap Maya.
"Baiklah kalau begitu sayang, aku akan di sini bersamamu," ucap Ibunya Maya sambil mengelus rambut anaknya.
"Terimakasih Maya," ucap Erica dengan nada pelan.
Kemudian mereka semua keluar dari dalam kamar dan menuju ke ruang tamu untuk membahas rencana mereka besok untuk menghadapi bos besar dan juga Irfan. Rian berencana ingin menjebak mereka dan menangkap mereka semua dengan bantuan polisi yaitu Jenni. Erica bertugas untuk melawan hantu jahat yang ada di tubuh bos besar itu dan melenyapkannya.