ME And GHOST

ME And GHOST
Pembalasan 66



Setelah mengunjungi Rio, Maya dan Tasya langsung pulang ke rumahnya Erica. Keesokan paginya Erica langsung menanyakan pada Maya dan Tasya informasi apa yang telah mereka dapatkan dari rumahnya Rio.


"Huuaaaaam" Erica terbangun dari tidurnya.


"Pagi Erica" ucap Maya dan Tasya.


"Pagi Maya pagi Tasya! Ooo iya bagaimana kalian tadi malam kesana? informasi apa yang kalian dapat?" tanya Erica penasaran.


"Heem, sebenarnya tidak terlalu banyak! tapi lumayan untuk membantu di sidang nanti!" ucap Maya.


"Apa itu Maya?" tanya Erica.


"Bu Sandra tetap sampai sekarang mencari Nadira! dan juga kemungkinan Bu Serly akan berpihak pada mereka, mereka juga mengandalkan kesaksian dokter yang merawat Rio," jawab Maya.


"Dan juga ternyata jaksa yang menangani kasus ini adalah teman baiknya Bu Sandra," ucap Tasya.


"Sudah kuduga pasti dia juga punya orang dalam di sidang ini," ucap Erica.


"Bu Sandra juga menyuruh orang untuk tetap mengawasi wanita wanita yang sudah mereka suap agar tidak datang ke pengadilan hari ini! sepertinya dia juga tetap takut jika mereka berubah pikiran untuk melawan," ucap Maya.


"Betul Erica, Bu Sandra juga sudah mulai mencurigai ibumu jika kalian menyembunyikan Nadira dari dirinya," ucap Tasya.


"Tapi dia tidak mengira jika Nadira di sembunyikan dirumahku," ucap Erica.


"Semoga saja sidang hari ini berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan kita," ucap Tasya.


"Iya Tasya, aku akan bersiap siap dulu untuk pergi ke pengadilan hari ini," ucap Erica sambil berjalan menuju ke kamar mandi.


"Maya apa kau yakin kita tidak perlu memberitahu rencana kita pada Erica?" tanya Tasya.


"Iya Tasya, kita tak perlu memberitahu Erica itu hanya rencana cadangan kita nanti."


"Baiklah kalau begitu Maya."


Setelah selesai bersiap siap Erica ke ruang makan untuk sarapan bersama.


"Pagi sayang," ucap Ibunya Erica.


"Pagi bu, pagi semuanya," ucap Erica sambil duduk.


"Ayo cepat dimakan sarapanmu Erica, kita tidak boleh telat datang ke pengadilan hari ini," ucap Ibunya Erica.


"Apa ibu sudah meminta izin di sekolah untuk Erica dan Evan?" tanya Erica.


"Tentu sayang ibu langsung menghubungi kepala sekolahmu tadi malam, jadi kau dan Evan bisa ikut sidang hari ini," ucap Ibunya Erica.


"Apa Evan langsung pergi ke pengadilan?" tanya Ayahnya Erica.


"Sepertinya begitu yah, kita akan bertemu saja di pengadilan," jawab Erica.


"Pak darmin juga sudah menjemput Ibunya Tasya dan Intan untuk ke pengadilan," ucap Ibunya Erica.


Setelah selesai sarapan semuanya pergi ke pengadilan dengan mobil Ayahnya Erica. Karena sidang akan berlangsung pukul 9 pagi. Setelah sampai di pengadilan semuanya berkumpul di ruang sidang. Disana sudah ada Evan, Ibunya Tasya, dan Intan. Begitupun Ibu dan Ayahnya Rio sudah berada di ruang sidang dengan pengacaranya.


"Lihat wanita itu percaya diri sekali dia di sidang kali ini," ucap Ibunya Erica.


"Dimana Nadira dan Nadine bu?" tanya Ayahnya Erica.


"Heem, sebenarnya ibu menyuruh dia bersembunyi dulu sementara waktu sampai dia dipanggil nanti untuk menjadi saksi, biar menjadi kejutan buat wanita jahat itu," ucap Ibunya Erica.


"Ooo begitu," ucap Ayahnya Erica.


Tidak lama kemudian sidang pun di mulai, hakim memasuki ruang sidang. Pengacara dari Rio Pak Haris memulai memanggil saksi saksi yang ada pada mereka ke dalam ruang sidang.


"Saya akan memanggil saksi pertama kami yaitu dokter yang merawat Rio selama dia sakit di rumah sakit," ucap Pak Haris.


"Silahkan," ucap Pak Hakim.


Dokter itupun masuk ke dalam ruang sidang dan duduk di kursi saksi.


"Apa anda dokter yang selama ini merawat Rio?"


"Benar, saya merawat Rio selama ini di rumah sakit."


"Rio mengalami depresi karena kasus ini, dia merasa sangat tertekan dan sering berhalusinasi! ini disebabkan karena dia merasa terlalu disalahkan atas kasus ini, Rio masih membutuhkan perawatan yang rutin agar dia kembali normal seperti dulu," ucap Dokter itu.


"Baik itu saja pertanyaan dari saya," ucap Pak Haris pengacara Rio.


"Silahkan kepada pengacara penggugat untuk bertanya kepada saksi," ucap Pak Hakim.


"Baik terimakasih Pak Hakim," ucap Pak Andre sambil berjalan mendekati dokter itu.


"Saya ingin bertanya kepada anda semenjak kapan Rio menjadi depresi? apakah sebelum terjadi kasus ini dia benar benar sehat?"


"Sebelum terjadi kasus ini Rio pria yang sangat sehat, dia mengalami depresi karena merasa terlalu tertekan dan disalahkan oleh kasus ini," jawab Pak Dokter.


"Berarti dia melakukan kejahatan pada saat itu dalam keadaan sangat sehat, dan dia menjadi depresi karena rasa bersalah dia kepada korban! apakah pendapatku salah?"


Pak Dokter itupun terdiam dengan ucapan Pak Andre yang menyudutkan dia.


"Keberatan Pak Hakim!" teriak Pak Haris.


"Keberatan diterima," ucap Pak Hakim.


"Sekian Pak Hakim pertanyaan saya," ucap Pak Andre sambil berjalan menuju tempat duduknya.


"Pengacara terdakwa apa ada saksi lain yang akan anda panggil kemari?" tanya Pak Hakim.


"Iya ada Pak Hakim, saya akan memanggil Bu Serly yang dituduh bekerjasama dengan Rio dalam aborsi korban," ucap Pak Haris.


"Baik silahkan panggil saksi masuk kedalam," ucap Pak Hakim.


Bu Serly masuk ke dalam ruang sidang dan duduk di kursi saksi dengan baju tahanan penjara.


"Pakaian itu sangat cocok untuknya," ucap Ibunya Erica senang.


Saat duduk Bu Serly menatap Ibunya Rio yang sedang duduk di kursi belakangnya.


"Bu serly, apa anda mengenal saudara Rio yang ada disana?" ucap Pak Haris sambil menunjuk Rio.


"Saya tidak mengenalnya."


"Anda yakin tidak mengenalnya? sedangkan dia dituduh sering mengaborsi kandungan pacarnya disana termasuk korban yang bernama tasya?"


"Saya tidak tahu mengapa dia dituduh begitu! memang saya melakukan praktek aborsi di klinik saya, tapi dia tidak pernah ke tempat saya."


"Baiklah kalau begitu cukup pertanyaan dari saya," ucap Pak Haris sambil berjalan menuju ke kursinya.


"Silahkan pengacara penggugat untuk bertanya," ucap Pak Hakim.


"Baik terimakasih Pak Hakim," ucap Pak Andre berjalan mendekati Serly.


"Apa anda benar benar tidak mengenal Rio?"


"Iya saya tidak mengenalnya."


"Bagaimana dengan Bu Sandra apa anda mengenalnya? menurut yang saya ketahui Bu Sandra pernah menjadi pengacara anda saat anda mempunyai kasus dulu! apa anda ingin menyangkalnya?"


Bu Serly terdiam dengan pertanyaan dari Pak Andre.


"Kenapa anda tidak menjawabnya? tidak mungkin anda tidak mengenal Bu Sandra yang merupakan adalah ibu kandung dari tersangka yang bernama Rio," ucap Pak Andre.


"Iya saya mengenal Bu Sandra! tapi saya tidak mengenal Rio!" ucap Bu Serly gemetar.


"Baik sekian pertanyaan dari saya," ucap Pak Andre sambil berjalan menuju kursinya.


"Bu Serly bagaimana mungkin anda bisa mengenal Ibunya tetapi tidak mengenal anaknya? itu menurut saya benar benar sangat janggal," ucap Pak Hakim.


"Maaf Pak Hakim, itu karena Bu Serly tidak pernah bertemu dengan Rio," jawab Pak Haris.


"Ehm, baiklah kalau begitu! kita selanjutnya akan mendengarkan saksi dari penggugat," ucap Pak Hakim.


Bu Sandra merasa sangat kesal dengan pertanyaan yang diajukan Pak Andre pada saksi saksi yang dibawa oleh mereka. Pak Haris berusaha untuk membantu para saksi mereka agar tidak salah dalam berbicara di dalam sidang. Ibunya Erica merasa sangat senang melihat Rio yang semakin tersudut dalam sidang itu.


"