
Setelah Riki dan Heru keluar dari ruangan itu, pimpinan polisi itu mematikan kamera CCTV yang ada disana agar tidak merekam pembicaraan mereka berdua di dalam ruangan itu. Setelah itu Pimpinan polisi itu duduk di hadapan Yoga dan berbicara dengannya.
"Apa kau baik baik saja? apa saja yang telah kau katakan pada mereka?" tanya Pimpinan polisi itu pada Yoga.
"Tentu saja aku baik baik saja, kenapa kau menanyakan itu padaku? apa kau takut jika aku mengatakan pada mereka tentang dirimu," jawab Yoga sambil menatapnya.
"Apa kau berniat ingin mengancamku? kita berada di pihak yang sama."
"Keluarkan aku dari sini! jika kau tidak ingin bos besar memarahimu," ucap Yoga.
"Maaf jika mengatakan ini kepadamu, bos besarmu memintaku untuk tetap membiarkanmu berada disini sampai suasana ini mulai membaik."
"Apa kau tidak berbohong padaku? kenapa bos ingin kami tetap berada disini?" tanya Yoga tidak percaya.
"Sudah kubilang kita tidak boleh melakukan hal yang gegabah saat ini jika ingin selamat dan tak dicurigai oleh orang lainnya, semua ini karena kebodohanmu sendiri yang dengan mudah di jebak oleh anak yang lebih muda darimu!"
"Apa kata bos besar padamu? bagaimana jika kami tidak ingin melakukannya?" tanya Yoga.
"Bos besar mengatakan jika kalian harus tetap tutup mulut dan tak mengatakan apapun saat ini, dia akan mengurus semuanya nanti, jadi kalian harus bersabar dan tetap disini sampai keadaan membaik, kau pasti lebih paham daripada diriku, jika ada orang yang mengkhianatinya dia pasti tak akan segan segan membunuhnya dan juga menghabisi keluarga dari orang itu sampai tak tersisa satu pun," ucap Pimpinan polisi itu.
Mendengar ucapan Pimpinan polisi itu Yoga menjadi terdiam dan merasa ketakutan.
"Baiklah aku akan melakukan semua yang di perintahkan oleh bos besar, apa dia benar benar akan segera membebaskan kami, jika kami tetap menutup mulut dan bertahan disini?" tanya Yoga.
"Tentu saja, turuti saja semua perintahnya jika kalian semua ingin selamat dari sini," ucap Pimpinan polisi itu.
Setelah berbicara dengan Yoga Pimpinan polisi itu kemudian keluar dari ruangan interogasi itu.
"Kreek" Suara membuka pintu.
"Kalian boleh melanjutkan interogasi pada tersangka, aku sudah selesai berbicara dengannya, aku rasa dia mengakui semua barang itu miliknya dan tak ada orang lain yang terlibat," ucap Pimpinan polisi itu.
"Baik pak, kami akan melanjutkan interogasi pada tersangka," ucap Riki.
"Lanjutkan pekerjaan kalian, selamat karena telah berhasil menangkap para penjahat itu."
"Baik pak, terimakasih," ucap Heru.
Setelah berbicara dengan Riki dan juga Heru pimpinan itu kemudian pergi dari sana, Heru dan juga Riki merasa sangat terkejut melihat sikap Pimpinannya yang tidak merasa gelisah sama sekali saat itu. Malah dia ikut menyemangati pekerjaannya untuk segera menyelesaikan kasus itu dengan cepat.
"Entah kenapa aku merasa sangat aneh melihat sikap dari pimpinan kita," ucap Riki heran.
"Dia tampak tenang sekali saat ini, tidak seperti satu tahun yang lalu dia sangat merasa gelisah dan seperti ketakutan saat kita menangani kasus narkotika yang di tangani Maya dan juga kasus hilangnya Maya saat itu," ucap Heru.
"Apa mungkin jika mereka merencanakan sesuatu yang penting saat ini, atau mereka akan mengorbankan semua anak buah mereka yang kita tangkap untuk menutup kasus ini dan tidak akan melanjutkan penyelidikannya lebih jauh lagi?" ucap Riki.
"Bisa saja seperti itu, kita tetap harus menyelidiki ini lebih jauh apalagi ini menyangkut kasus hilangnya Maya, pasti mereka semua terlibat," ucap Heru.
"Kita lanjutkan saja interogasi pada Yoga," ucap Riki.
"Baiklah kita lanjutkan pekerjaan kita," ucap Heru.
Lalu mereka masuk kembali ke dalam ruang interogasi untuk melanjutkan penyelidikan pada Yoga.
"Kenapa kau langsung berubah pikiran dan mengakui semuanya, apa ada seseorang yang mengancammu?" tanya Riki.
"Hahahahaha, mana ada yang berani mengancamku aku adalah seorang bos terkenal dan di takuti di daerah ini!" teriak Yoga.
"Benarkah itu, bagaimana dengan bos besar, apa kau juga tidak takut dengannya?" tanya Heru.
"Aku tidak mengenal yang kalian sebutkan itu, apa bos besar aku tidak tahu tentang hal itu," ucap Yoga.
"Bukankah kau bekerja untuknya! dan kau juga pasti mengetahui tentang polisi wanita yang telah kalian lenyapkan! dimana dia sekarang!" teriak Riki.
"Aku tidak mengerti yang kalian katakan, aku tidak mengenal bos besar ataupun mengetahui tentang polisi wanita yang bernama Maya itu, aku hanya seorang pengedar narkotika di daerah ini," jawab Yoga.
"Apa kau berniat ingin menutupi semua ini hanya dengan mengorbankan dirimu?" tanya Heru.
"Sudah kubilang ini hanya perbuatanku saja, tidak ada yang terlibat lagi, dan aku juga hanya seorang pengedar dan tak melakukan hal yang lainnya lagi," ucap Yoga.
"Kau benar benar sangat keras kepala dan sangat setia pada bos besarmu, seperti seekor anjing yang setia pada tuannya," ucap Riki kesal sambil menatap Yoga yang ada di hadapannya.
"Terserah kau ingin mengatakan apapun padaku! jawabanku akan tetap sama dan tak akan berubah sampai kapanpun," ucap Yoga sambil menatap Riki.
Karena kesal dengan semua ucapannya Yoga membuat Riki merasa sangat marah lalu dia memukul wajah Yoga dengan tangannya.
"Buuuuk" Suara Riki memukul Yoga di wajahnya.
"Kau benar benar membuatku sangat kesal!" teriak Riki.
"Riki! kau tahan emosimu jangan memukulnya, dia sengaja membuatmu marah padanya," ucap Heru mencoba menenangkan Riki.
Tiba tiba ada suara yang mengetuk pintu ruangan itu.
"Tok tok tok" Suara mengetuk pintu.
"Masuk," teriak Heru dari dalam ruangan.
"Kreek" suara membuka pintu.
"Maaf mengganggu ada seorang pengacara yang ingin bertemu dengan kalian," ucap seorang polisi.
"Perkenalkan namaku Dave aku pengacara yang akan mendampingi Yoga."
"Sekarang kalian hanya akan berbicara dengan pengacaraku, aku tak akan mengatakan apapun lagi pada kalian," ucap Yoga.
"Sial ternyata mereka telah mengirimkan pengacara kemari untuk menangani kasus ini," ucap Riki di dalam hati kesal.
"Baiklah silahkan masuk," ucap Heru.
"Terimakasih," ucap pengacara itu sambil berjalan masuk ke dalam ruang interogasi.
"Bagaimana ini kita akan sulit menyelidikinya, aku tak menyangka jika mereka akan memanggil pengacara secepat ini," ucap Riki khawatir.
"Kita ikuti saja dulu, apa sebenarnya tujuan mereka saat ini kita harus mengetahuinya," ucap Heru.
"Untung kau cepat datang kemari, bicaralah dengan mereka," ucap Yoga.
"Tentu aku akan mengurus semuanya dengan baik," ucap pengacara itu sambil tersenyum menatap Riki dan juga Heru.
Saat masih menginterogasi Yoga, Riki dan Heru tak menyangka jika bos besar itu telah menyuruh pengacaranya untuk menangani kasus Yoga. Bos besar itu berniat ingin segera menutup kasus itu dan tidak melakukan penyelidikan lebih jauh lagi.