
Setelah dokter memeriksa Erica kemudian dia memberikan suntikan obat padanya agar bisa menangkal racun yang ada di tubuhnya Erica. Kemudian dia menemui dokter yang membawa Erica ke rumah sakit untuk bertanya padanya.
"Maaf apa anda dokter yang membawa Erica kemari?"
"Iya dok, saya dokter di sekolahnya Erica, apa dokter juga mengenal Erica?"
"Tentu saja aku mengenalnya karena aku sudah lama menjadi dokter yang bekerja di keluarganya, apa kau sudah menghubungi ayah dan ibunya Erica?"
"Belum dok, kami belum memberitahu orang tuanya."
Evan, Rey, dan juga Putri mendekati dokter yang memeriksa Erica untuk bertanya mengenai keadaannya Erica saat itu.
"Dok, bagaimana keadaan Erica?" tanya Evan.
"Keadaannya bisa di bilang cukup serius saat ini, tapi aku sudah memberikan obat untuk menghentikan penyebaran racun di tubuhnya, tapi bagaimana bisa Erica terkena racun yang cukup berbahaya di tangannya? sepertinya luka yang ada di tangannya bekas peluru yang tak sengaja mengenainya karena ada seperti serpihan logam peluru di lukanya Erica," ucap Dokter itu.
"Peluru bagaimana mungkin itu dok! bukankah Erica bilang itu terkena serpihan kaca," ucap Rey terkejut.
"Iya dok, Erica mengatakan jika dia hanya terkena serpihan kaca kemarin," ucap Putri.
"Aku juga merasa seperti itu dok, jika itu seperti luka terkena peluru yang tak sengaja mengenai tangannya, ternyata dugaanku sama dengan anda," ucap Dokter sekolah itu.
"Kita harus memberitahu orang tuanya dan juga polisi tentang lukanya Erica, karena ini perlu di selidiki," ucap Dokter itu.
"Apa racun itu sangat berbahaya dok?" tanya Evan.
"Tentu, jika Erica terlambat mendapatkan penawarnya tentu akan berbahaya untuknya, racun ini sepertinya buatan seseorang yang sangat ahli dalam bidang racun, orang yang melukai Erica pasti dia memiliki penawarnya untuk menghilangkan total dari tubuhnya Erica, aku hanya bisa membuat racun itu berhenti menyebar tapi tak bisa menghilangkannya secara total dalam tubuhnya Erica," jawab Dokter itu.
"Apa dengan penawar itu Erica bisa langsung bisa sembuh?" tanya Evan.
"Tentu saja aku bisa memastikan dia sembuh jika langsung di berikan penawar racun ini," jawab Dokter itu.
"Evan apa kau tahu tentang yang terjadi dengan Erica? bagaimana dia bisa mendapatkan luka itu?" tanya Dokter sekolah itu.
"Bukankah kau pacarnya Erica, pasti kau tahu apa yang terjadi padanya kemarin," ucap Putri.
"Jika kau tidak dapat mengatakan apapun kita harus memanggil polisi kemari untuk menyelidikinya," ucap Dokter itu.
Evan menatap Erica yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur di ruang UGD, Maya pun mendekati Erica dan merasa sedih dengan keadaannya saat itu. Tak lama kemudian Jenni tiba di rumah sakit dan langsung masuk ke ruang UGD rumah sakit untuk menemui Erica.
"Evan!" teriak Jenni sambil berjalan mendekatinya.
"Kak Jenni!" ucap Evan.
"Kau siapa?" tanya Dokter rumah sakit itu sambil menatap Jenni.
"Aku Jenni kakaknya Evan."
"Kami ingin melaporkan pada polisi tentang apa yang terjadi pada Erica," ucap Dokter itu.
"Saya tidak perlu melaporkannya ke kantor polisi dok, karena Erica dan Evan kemarin membantu kami untuk menangkap penjahat di perbatasan kota, dan tanpa sengaja peluru dari penjahat itu mengenai tangannya Erica, kebetulan aku juga seorang polisi," jawab Jenni.
"Jadi kau seorang polisi?" tanya Dokter itu terkejut.
"Iya dok, saya polisi yang bertugas di kantor polisi di ibu kota ini," jawab Jenni.
"Erica harus segera mendapatkan penawar untuk racun yang masih berada di tubuhnya, aku hanya bisa menghentikan penyebarannya saja tidak bisa menghilangkannya secara total karena ini racun yang sangat kuat, orang yang melukai Erica dia pasti memiliki penawar racunnya," ucap Dokter itu.
"Baiklah dok, kami akan segera mendapatkannya," ucap Jenni.
"Lebih cepat lebih baik mendapatkan penawarnya, jangan sampai lebih dari 48 jam karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Erica," ucap Dokter itu.
"Kita harus cepat Kak Jenni menemui orang itu," ucap Evan.
"Baik dok, ayo Evan kita pergi sekarang," ucap Jenni.
"Aku akan ikut dengan kalian," ucap Rey.
"Lebih baik kau dan Putri disini saja menemani Erica di rumah sakit dan menjelaskan pada orang tua Erica jika mereka datang kemari nanti," ucap Evan.
"Betul kata Evan, kalian disini saja menemani Erica, kami akan mengurus masalah ini dengan sangat cepat, jadi kalian tak perlu khawatir," ucap Jenni.
"Baik kak, kami akan menemani Erica disini," ucap Putri.
"Baguslah kami pergi dulu, jaga Erica baik baik disini," ucap Jenni.
"Baik kak," ucap Rey.
Lalu Evan dan Jenni pergi dari rumah sakit dan menuju ke kantor polisi di perbatasan kota dengan mengendarai mobil.
"Aku harus pergi ikut dengan Jenni dan juga Evan, akan kubalas orang itu yang berani meracunimu Erica, aku harus membantu Jenni dan juga Evan untuk mendapatkan penawar itu," ucap Maya.
Kemudian Maya pergi menghilang dan muncul di dalam mobilnya Evan dan Jenni, dia berniat ingin membantu mereka agar bisa cepat mendapatkan penawar itu demi Erica, karena Maya tak ingin jika terjadi sesuatu yang buruk pada Erica jika terlambat mendapatkan penawar racun itu.
"Aku benar benar tak menyangka jika peluru yang di tembakan berandal yang bernama Yoga itu ada racunnya, untung saja Erica masih ada harapan untuk sembuh," ucap Jenni.
"Tapi kita harus cepat mendapatkan penawarnya kak, jika tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada Erica aku tak ingin itu terjadi," ucap Evan khawatir.
"Kau tenang saja kita pasti akan mendapatkannya tepat waktu, jika dia tak mau memberikan penawarnya, akan kusiksa dia sampai mengatakannya," ucap Jenni marah.
"Aku pun akan memberikannya balasan atas perbuatannya pada Erica," ucap Maya marah.
Jenni mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, sementara itu dokter yang merawat Erica di rumah sakit memberitahu ayah dan ibunya Erica tentang yang terjadi pada Erica. Mereka benar benar sangat terkejut mendengar kabar itu dari dokter rumah sakit, lalu orang tuanya Erica langsung bergegas menuju ke rumah sakit untuk melihat Erica. Setelah sampai disana ayah dan ibunya Erica langsung menuju ke ruang UGD di rumah sakit.
"Erica!" teriak Ibunya histeris saat melihat Erica yang terbaring di atas tempat tidur dan tak sadarkan diri.
Dokter rumah sakit langsung menghampiri ayah dan ibunya Erica.
"Dok, apa yang terjadi pada anak kami?" tanya Ayahnya Erica.
"Erica terkena racun ditangannya dan saat ini dia masih belum sadarkan diri," jawab Dokter itu.
"Racun! apa maksud dokter? bagaimana bisa Erica terkena racun," ucap Ayahnya Erica heran.
"Apa yang sebenarnya terjadi dok?" tanya Ibunya Erica.
"Menurut informasi yang saya dapatkan dari seorang polisi yang bernama Jenni, Erica kemarin membantu dirinya untuk menangkap penjahat di perbatasan kota dan tanpa sengaja tangannya Erica terluka karena terkena peluru penjahat itu, dan ternyata peluru itu beracun dan saat ini racun itu telah berada di dalam tubuhnya Erica," jawab Dokter itu.
"Seorang polisi yang bernama Jenni, apa dia kakaknya Evan," ucap Ibunya Erica.
"Iya dia mengatakan jika dia adalah kakaknya Evan, dan saat ini mereka sedang menemui penjahat itu di kantor polisi di perbatasan kota untuk mengambil penawarnya," jawab Dokter itu.
"Apakah anak saya baik baik saja dok?" tanya Ayahnya Erica.
"Untuk saat ini Erica baik baik saja, karena aku telah menghentikan penyebaran racun di dalam tubuhnya, tapi untuk menghilangkan racun itu secara total kita butuh penawar itu," ucap Dokter itu.
"Semoga saja Evan dan juga kakaknya bisa segera mendapatkan penawar itu," ucap Ayahnya Erica.
"Tapi kenapa Erica berbohong pada kita tentang lukanya dan kemarin dia juga tidak pergi ke sekolah malah pergi membantu polisi menangkap penjahat di perbatasana kota?" ucap Ibunya Erica sambil mengusap rambut anaknya.
"Mungkin Erica tidak ingin kita mengkhawatirkannya," jawab Ayahnya Erica sambil memegang tangan anaknya.
"Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Erica aku akan membalas penjahat yang telah melakukannya pada Erica!" teriak Ibunya Erica marah.
Rey dan juga Putri yang masih berada disana hanya duduk dan diam di ruang tunggu, mereka menunggu disana untuk memastikan jika tak terjadi apa apa pada Erica karena mereka sangat merasa khawatir melihat Erica yang saat itu masih belum tersadar.