
Setelah sampai di depan rumahnya Erica, Jenni turun dari mobilnya dan berjalan mendekati mobilnya Zio yang masih berada di sana untuk mengawasi Erica saat itu.
"Tok tok tok" suara Jenni mengetuk kaca mobil Zio.
Zio membuka kaca mobilnya dan menatap Jenni.
"Kenapa kau mengetuk kaca mobilku?" tanya Zio.
Jenni menunjukkan tanda pengenalnya pada Zio.
"Jadi kau seorang polisi? kenapa mendatangiku?" tanya Zio.
"Bagaimana jika kau keluar dulu dari mobilmu dan kita berbicara," ucap Jenni.
"Baiklah," ucap Zio.
Lalu Zio keluar dari mobilnya dan berdiri di hadapan Jenni.
"Kenapa beberapa hari ini kau selalu mengikuti Erica? apa kau di suruh oleh bos besar itu?" tanya Jenni sambil menatap Zio.
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti, apa buktinya jika aku selalu mengikuti Erica?" ucap Zio.
"Masalah bukti bisa kita bicarakan nanti di kantor polisi, untuk saat ini aku ikut denganku, kau di tangkap atas laporan Erica," ucap Jenni.
"Bagaimana bisa kau menagkapku tanpa surat perintah?" tanya Zio.
"Bisa saja karena aku seorang polisi, setidaknya aku bisa menahanmu selama 48 jam di kantor polisi," jawab Jenni.
"Bagaimana jika aku tak mau ikut denganmu?" tanya Zio.
"Lebih baik kau ikut denganku daripada kau akan terluka," ucap Jenni sambil menunjukkan pistol yang di bawanya pada Zio.
"Sial, ternyata dia membawa senjata, jika aku melawannya sekarang akan terjadi keributan," ucap Zio di dalam hati.
"Masuk ke dalam mobilku sekarang dan ikut aku ke kantor polisi," ucap Jenni.
"Baiklah kali ini kau bisa membawaku, tetapi lain kali ini tak akan terjadi lagi," ucap Zio.
"Tentu, yang penting aku bisa menangkapmu hari ini," ucap Jenni sambil tersenyum.
Lalu Zio berjalan ke mobilnya Jenni dan masuk ke dalamnya, Jenni pun ikut masuk ke dalam mobil. Saat mereka akan pergi dari sana, Zio melihat Evan datang ke rumahnya Erica.
"Sial, ternyata mereka menjebakku agar tidak bisa mengikuti Erica malam ini," ucap Zio di dalam hati.
Mendengar suara mobilnya Evan yang ada di depan rumahnya Erica dan Maya lalu keluar dari dalam rumahnya dan menemui Evan yang ada di dalam mobilnya. Erica dan Maya masuk ke dalam mobil dan mereka langsung pergi menuju ke alamat yang telah di kirimkan oleh Bu Vira.
"Ini alamat yang di kirimkan oleh Bu Vira," ucap Erica sambil menunjukkan handphonenya pada Evan.
"Alamat ini cukup jauh sekitar 30 menit jika kita mengendarai mobil dengan cepat," ucap Evan sambil melihat pesan yang ada di handphonenya Erica.
"Kita harus ke sana dengan cepat Evan, bagaimana dengan orang yang mengikutiku? apa Kak Jenni telah mengurusnya?" tanya Erica.
"Tentu, Kak Jenni baru saja membawanya ke kantor polisi, setidaknya selama 2 hari ini dia tidak bisa mengikut kita," jawab Evan.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Erica senang.
"Jenni memang bisa di andalkan," ucap Maya.
Kemudian Evan dan Erica pergi menuju ke alamat yang di kirimkan oleh Bu Vira, setelah selama 30 menit mengendarai mobil, Evan dan Erica sampai di alamat yang mereka tuju. Setelah sampai mereka langsung turun dari mobil dan berjalan menuju ke rumah itu.
"Menurut alamat yang di kirimkan Bu Vira ini adalah rumahnya," ucap Evan.
"Tok tok tok" Suara mengetuk pintu.
"Kreek" Suara membuka pintu.
"Bu Vira," ucap Erica.
"Tuan Rian telah menunggu kalian di dalam, ayo silahkan masuk," ucap Bu Vira.
"Baiklah," ucap Erica.
Lalu mereka semua masuk ke dalam rumah itu, setelah masuk ke dalam rumah itu Maya merasakan ada sesuatu di sana, dan Erica pun merasakan hal yang sama. Mereka berjalan mengikuti Bu Vira, di ruang tamu Erica melihat Rian dan pelayan wanita yang bernama Dian sedang duduk di sana.
"Tuan, Erica dan juga Evan sudah datang," ucap Bu Vira.
"Erica, Evan, aku sudah menunggu kalian dari tadi, duduklah dulu ada yang ingin aku bicarakan pada kalian," ucap Rian.
"Baik terimakasih," ucap Erica.
Lalu Erica dan Evan duduk di dekat Rian, lalu Rian menceritakan semua yang terjadi dan yang dikatakan oleh Dian semuanya. Tentang bos besar dan juga Irfan yang telah berencana membunuih Maya dan juga orang tuanya. Rian juga mengatakan jika Dian memang benar adalah adik kandung dari bos besar itu.
"Seperti itulah ceritanya Erica, dan satu hal lagi tapi kau harus melihatnya sendiri," ucap Rian.
"Apa itu?" tanya Erica penasaran.
"Kau ikutlah denganku," ucap Rian.
"Baiklah," ucap Erica.
Rian berdiri dari kursinya dan berjalan menuju ke sebuah kamar, Erica, Evan, Bu Vira, dan Dian juga berjalan mengikutinya. Setelah masuk ke dalam kamar itu Erica dan Maya benar benar sangat terkejut setelah melihat jika di atas tempat tidur ada tubuhnya Maya yang sedang terbaring di sana.
"Bukankah itu tubuhnya Maya?" tanya Erica terkejut.
"Iya benar Erica, itu adalah tubuhnya Maya, selama ini Dian yang menyembunyikan tubuhnya Maya, karena dia ingin melindunginya dari Om Irfan dan juga kakaknya, dia juga yang telah menyelamatkan Maya saat hampir tenggelam di danau lalu merawatnya selama satu tahun terakhir ini dengan bantuan Sinta seorang perawat," jawab Rian.
"Erica ternyata benar ucapan Adrian jika ada kemungkinan diriku masih hidup," ucap Maya sambil meneteskan air matanya.
"Erica, apa kau bisa membantu Maya untuk kembali sadar, dengan membantu arwahnya agar bisa kembali ke tubuhnya," ucap Rian.
"Tentu saja aku akan membantu Maya, dan akan mencoba untuk membantu arwahnya kembali ke dalam tubuhnya Maya," ucap Erica.
"Apa kau seorang yang memiliki kemampuan Spiritual?" tanya Dian.
"Iya, aku memiliki kemampuan itu," ucap Erica.
Erica kemudian berjalan mendekati tubuhnya Maya yang terbaring di atas tempat tidur itu, Maya yang juga berada di sana mendekati tubuhnya yang terbaring dengan wajah yang sangat pucat itu.
"Ini benar benar tuibuhku Erica," ucap Maya senang.
"Aku akan membantumu kembali masuk ke dalam tubuhmu Maya," ucap Erica.
Erica menyentuh wajah dari tubuhnya Maya, kemudian wajahnya Maya mulai berkurang pucatnya. Erica memegang tangan dari tubuhnya Maya dan menggenggamnya dengan sangat erat.
"Aku merasakan detak jantungmu Maya," ucap Erica.
"Benarkah Erica," ucap Maya sambil tersenyum senang.
"Iya Maya, kau pegang tanganku sekarang aku akan mencoba membantumu kembali ke dalam tubuhmu," ucap Erica.
"Baiklah Erica," ucap Maya sambil memegang tangannya Erica.
Setelah arwahnya Maya memegang tangannya Erica, lalu Erica mentransfer kekuatannya pada tubuhnya Maya agar bisa memasukkan arwahnya Maya ke dalam tubuhnya. Secara perlahan arwahnya Maya mulai menghilang dan masuk ke dalam tubuhnya. Setelah arwahnya Maya menghilang dan masuk ke dalam tubuhnya, suhu tubuhnya Maya langsung berubah dari dingin menjadi hangat, wajahnya berubah menjadi cerah kembali. Erica kemudian berdiri dari tempat tidur itu dan menatap Maya yang masih terbaring di tempat tidur itu. Rian dan yang lainnya merasa sangat cemas dan penasaran dengan yang di lakukan oleh Erica saat itu pada Maya.