
Setelah pulang sekolah Evan menemui Erica di dalam kelasnya untuk mengajaknya pulang bersama. Rey yang saat itu masih berada di dalam kelas merasa sedikit cemburu melihat kebersamaan Erica dan Evan.
"Erica!!" ucap Evan sambil berjalan mendekati Erica di dalam kelas.
"Evan!! kau sudah selesai, apa kau belum ikut latihan basket hari ini?" tanya Erica.
"Aku masih izin jika untuk latihan basket, bagaimana denganmu apa kau juga tidak latihan hari ini?"
"Ehm, aku sebenarnya keluar dari club basket," jawab Erica.
"Kau keluar! kenapa kau tidak melanjutkan latihannya Erica?"
"Aku hanya merasa jika tidak sanggup untuk melakukannya lagi, ada suatu alasan yang membuatku ingin keluar dari club," jawab Erica.
"Ada alasannya?" tanya Evan.
"Aku akan menceritakannya nanti Evan," jawab Erica.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang bersama hari ini," ucap Evan.
"Evan, sebenarnya aku ingin pergi ke suatu tempat hari ini," ucap Erica.
"Kau ingin kemana Erica? baiklah kalau begitu aku akan mengantarkanmu kesana."
"Apa itu tidak merepotkanmu Evan, bukankah kau baru saja sembuh dari sakit?"
"Ah tidak apa apa, aku sudah sembuh apalagi jika di dekatmu itu akan membuatku semakin bertambah sehat," jawab Evan.
"Baiklah, ayo kita pergi saja sekarang, Putri Rey aku pulang duluan bersama Evan hari ini sampai jumpa besok ya," ucap Erica.
"Iya Erica, selamat bersenang senang dengan Evan," ucap Putri.
"Iya Erica," ucap Rey.
"Rey, aku juga pulang duluan ya, sampai jumpa besok! ingat janjimu padaku nanti ya," ucap Putri.
"Iya aku pasti akan menepatinya," jawab Rey.
"Ok kalau begitu," ucap Putri sambil berjalan keluar dari kelas.
Erica dan Evan pergi keluar dari kelas dan mereka berjalan sambil berpegangan tangan. Rey hanya menatap Erica dan Evan, Cindy yang melihat Rey yang tampak cemburu kemudian mendekati Rey.
"Apa kau tidak merasa cemburu melihat kedekatan mereka berdua?" ucap Cindy.
"Kenapa aku harus merasa cemburu, wajar saja mereka begitu karena mereka adalah sepasang kekasih," ucap Rey.
"Benarkah itu? tapi wajahmu tidak menunjukkan jika kau tidak cemburu melihat mereka, haah kau orang yang tampan, pintar, dan kaya banyak gadis gadis yang ingin menjadi pacarmu, tapi kau malah masih mencintai Erica yang tak mungkin kau dapatkan," ucap Cindy.
"Apa katamu! aku tak bisa mendapatkan Erica! aku bisa saja melakukannya tapi aku tidak ingin menyakiti orang lain," jawab Rey.
"Kau tidak ingin menyakiti hati orang lain, tapi hatimu disakiti oleh orang lain, hahahaha kedengarannya sangat lucu bagiku Rey!" ucap Cindy sambil tertawa.
"Kau jangan berkata yang bukan bukan Cindy!"
"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat dan ini adalah fakta, jika kau memang benar benar mencintainya dan ingin sekali memilikinya maka kau rebut dia! jika kau tak melakukannya kau pasti akan bertambah sakit hati melihat mereka berdua yang bahagia," ucap Cindy.
Setelah mengatakan semua itu pada Rey, Cindy lalu pergi keluar dari kelas. Rey merasa sangat kesal dengan ucapan Cindy padanya.
Rey pun kemudian keluar dari dalam kelas dan langsung pulang kerumahnya dengan mengendarai mobil bersama supirnya. Sementara itu Erica dan Evan pergi menuju ke cafe tempat di mana mereka bisa menemui wanita yang bernama Aira. Di dalam perjalanan kesana Evan yang masih merasa penasaran dengan alasan Erica yang tiba tiba keluar dari club basket sekolah mereka lalu dia menanyakan alasan pribadi dari Erica.
"Erica!"
"Iya Evan ada apa?"
"Kau belum menceritakan alasanmu yang tiba tiba saja keluar dari club basket padaku," ucap Evan.
"Ah soal itu, aku sangat ingin keluar dari sana karena Maya," jawab Erica.
"Karena Maya? apa maksudnya Erica aku tidak paham?"
"Sebenarnya yang bermain basket selama ini bukan diriku melainkan Maya," jawab Erica.
"Maya! bagaimana bisa dia yang bermain basket, apa maksudmu dia yang merasuki tubuhmu dan melakukan semua permainan basket selama ini?" tanya Evan.
"Iya benar Evan, makanya aku merasa telah membohongi semua orang tentang kemampuanku selama ini, jadi sebelum terlanjur jauh aku berbohong lebih baik aku berhenti sekarang," jawab Erica.
"Aku tak menyangka jika Maya punya banyak keahlian, dia pasti dulunya orang yang sangat hebat," ucap Evan.
"Ehm, tentu saja aku orang yang sangat hebat apalagi aku dulu adalah seorang polisi wanita," ucap Maya yang berada di dalam mobil Evan.
"Sepertinya Maya menyukai ucapanmu barusan tentang dirinya," ucap Erica.
"Apa Maya berada di dekat kita, maksudku dia ada di dalam mobil bersama kita?" tanya Evan.
"Iya, Maya selalu berada di dekatku, kemanapun aku pergi dia selalu bersamaku," jawab Erica.
"Untung saja aku tak mengatakan sesuatu yang jelek tentang dirinya, bisa bisa Maya nanti marah padaku," ucap Evan di dalam hati.
"Ooo iya Evan, kita akan menemui seorang wanita yang bernama Aira hari ini dia pemilik dari sebuah cafe yang bernama Cafetaria, dari informasi yang kudapat dari Ibunya Rey jika dia mengenal Maya melalui wanita yang bernama Aira ini, Maya dulunya adalah seorang polisi wanita," ucap Erica.
"Maya seorang polisi wanita! jadi dia bekerja seperti Kak Jenni? apa mungkin Maya juga bisa saja mengenal Kak Jenni di masa lalu," ucap Evan.
"Aku belum memikirkan sampai kesana, entah Kak Jenni dan Maya dulunya pernah bertemu dan saling kenal kita belum mempunyai petunjuk ke arah sana untuk sementara ini kita harus mencari informasi dari wanita yang bernama Aira ini dan juga teman SMA Maya yang bernama Andra di tempat pelatihan Rey," ucap Maya.
"Baiklah kita akan menyelidikinya satu persatu, aku juga sangat ingin jika Maya dapat mengetahui semuanya agar dia tidak menjadi hantu penasaran lagi," ucap Evan.
Maya menarik rambutnya Evan dari belakang mobil.
"Aduh!! ada yang menarik rambutku? apa itu Maya?" ucap Evan sambil menoleh ke belakangnya.
"Enak saja dia bilang aku hantu penasaran," ucap Maya kesal.
"Ehm, iya Maya yang menarik rambutmu, sepertinya dia tidak suka dengan ucapanmu yang mengatakan dia hantu penasaran," ucap Erica.
"Tapi kan memang aku mengatakan hal yang benar, jika dia memang seorang hantu," ucap Evan.
"Seorang hantu juga memiliki perasaan jadi bisa saja mereka kadang tersinggung dengan ucapan kita," ucap Erica tersenyum menatap Maya.
"Ooo begitu ternyata, maaf karena aku tidak tahu hal seperti itu," ucap Evan.
"Tidak apa apa Evan, sebentar lagi Maya juga tidak akan marah lagi padamu," ucap Erica.
Erica, Evan, dan Maya pergi bersama menuju ke cafe untuk menemui Aira dan mencari informasi tentang Maya darinya. Maya sangat berharap jika bertemu dengan Aira dia dapat mengingat sesuatu tentang masa lalunya agar bisa lebih cepat mengetahui semua rahasia di balik kematiannya.