
Sementara itu Indri yang melarikan diri dari gedung tua itu langsung menuju ke rumahnya dan menelpon bos besar untuk memberitahu yang telah terjadi pada mereka saat itu. Setelah sampai dirumahnya Indri langsung masuk kedalam rumahnya dan mengemasi semua pakaian dan barang barang penting miliknya.
"Aku harus memberitahu bos tentang apa yang terjadi saat ini," ucap Indri
Lalu dia mengeluarkan handphone dari dalam tas nya dan langsung menelpon bos besar mereka.
"Kring kring kring" suara handphone berdering.
"Halo"
"Halo bos, saya Indri."
"Ada apa kau menelponku malam malam begini, apa terjadi sesuatu disana?"
"Maaf bos karena telah mengganggu anda malam malam begini, saya ingin memberitahu anda jika markas kita di sini telah di geledah oleh polisi dan semua orang kita telah di tangkap termasuk juga Yoga, hanya saya yang bisa melarikan diri dari sana," jawab Indri.
"Bagaimana bisa kalian di geledah oleh polisi seperti itu?"
"Maaf bos kami telah di tipu oleh dua orang anak sekolah yang menyamar akan membeli barang kita, ternyata mereka bekerjasama dengan polisi untuk menjebak kami," jawab Indri.
"Siapa kedua orang yang menjebak kalian itu? apa kau mengetahui namanya?"
"Kalau salah tidak salah mereka menyebutkan namanya Erica adan juga Evan," ucap Indri.
"Erica dan Evan berarti mereka laki laki dan perempuan, aku baru mendengar nama mereka, bagaimana dengan yang lainnya apa mereka ada di kantor polisi sekarang?"
"Sepertinya begitu bos mereka semua dibawa ke kantor polisi," ucap Indri.
"Baiklah kalau begitu, biar aku yang mengurusnya nanti, dan kau lebih baik pergi dari sana sekarang sebelum polisi juga menangkapmu, untuk sementara lebih baik kau bersembunyi di tempat kita yang lainnya yang ada di kota."
"Baik bos, saya akan segera kesana," ucap Indri.
Lalu Indri menutup telponnya dan segera membereskan semua barang yang akan dia bawa pergi, Setelah selesai membawa semuanya dia langsung keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil lalu dia langsung pergi menuju ke kota untuk ke tempat persembunyian yang telah di siapkan oleh bos besar mereka.
"Apa yang akan kita lakukan bos? apa kita perlu bertemu dengan pimpinan kantor polisi itu sekarang?"
"Untuk sementara kita jangan bertemu dulu dengannya, cukup dengan kita menelponnya saja saat ini, bisa jadi nanti kita akan ikut juga di jebak jika bertemu langsung dengan pimpinan polisi itu," jawab Bos besar itu.
"Bukankah pimpinan mereka berpihak pada kita," ucap Asisten bos besar itu.
"Dia memang orang kita, tapi yang lainnya bukan orang kita, jangan sampai kita terpancing dengan jebakan itu, kau juga pasti tahu satu tahun yang lalu saat aku bertemu dengan pimpinan itu ada seorang polisi wanita yang mengikutinya, lalu aku tentu saja terpaksa menyingkirkan polisi wanita itu dengan tanganku sendiri, untung saja saat itu dia belum memberitahu apapun pada orang lain tentang diriku karena kita langsung menyingkirkannya," ucap Bos besar itu.
"Tentu bos aku sangat jelas mengingat kejadian itu, tapi sepertinya kasus pencarian polisi wanita itu telah di hentikan karena mereka tidak menemukan petunjuk apapun sampa saat ini."
"Tapi kita harus tetap waspada, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kita mulai sekarang harus bertindak dengan sangat berhati hati," ucap Bos besar itu.
"Baik bos kami akan selalu berhati hati mulai saat ini."
"Kau boleh pergi sekarang, aku akan menelpon pimpinan polisi itu dulu."
"Baik bos."
Kemudian asisten bos besar itu keluar dari ruang kerja, dan bos besar itu mengambil handphonenya dan menelpon pimpinan polisi disana.
"Kring kring kring" Suara handphone berdering.
"Halo"
"Halo pimpinan apa kabar?"
"Kabar saya baik nyonya, apa anda menelponku karena penangkapan semua anggota anda oleh polisi disini?"
"Tentu aku menelpon karena itu."
"Saya rasa kau tak perlu melakukan itu sekarang," ucap Bos besar itu.
"Apa maksud anda nyonya?"
"Biarkan saja mereka di kantor polisi saat ini, dan biarkan mereka di periksa dan di proses oleh polisi disana untuk saat ini."
"Kenapa anda ingin melakukan itu, bukankah itu akan sangat berbahaya jika salah satu dari mereka mengaku dan memberitahu tentang anda," ucap Pimpinan polisi itu.
"Mereka tak akan berani membocorkan semua yang mereka tahu, lagipula yang mengenal diriku hanya Yoga dan Indri, yang ada disana hanya Yoga dan Indri sekarang dalam perjalanan ke tempat persembunyian yang telah aku persiapkan, kau bicara saja pada Yoga secara diam diam dan beritahu dia, jika dia berani mengkhianatiku aku tak akan segan segan membunuh dirinya dan juga semua keluarganya."
"Baik nyonya saya akan berbicara dengan Yoga secara diam diam, tapi apa anda yakin akan melakukan semua ini?"
"Aku tak ingin mereka akan mencurigaimu dan juga anggota kita yang lainnya, biarkan dulu mereka disana setelah keadaan mulai reda baru kita bertindak kembali, dan juga jangan bertemu dengan siapapun dari anggota kita saat ini, aku tak ingin mereka menemukan satu petunjukpun tentang kita," ucap Bos besar itu.
"Baik nyonya, jika ada yang perlu saya katakan pada anda, saya akan menelpon saja tanpa menemui anda sampai keadaan mulai membaik."
"Bagus jika kau mengerti maksudku, kau tetap harus berhati hati dan jaga sikapmu jangan sampai ada yang mencurigaimu," ucap Bos besar itu.
"Baik nyonya," ucap Pimpinan polisi itu.
Lalu bos besar itu menutup telponnya.
"Aku harus mencari tahu tentang kedua orang yang bernama Erica dan juga Evan yang telah menjebak anak buahku, siapa mereka berani sekali mengusikku dan menyebabkan kerugian yang sangat besar," ucap Bos besar itu kesal.
Sementara itu pimpinan polisi setelah mendapatkan telpon dari bos besar dia langsung keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ke ruang interogasi untuk menemui Yoga saat itu.
"Apa sekarang para tersangka masih di interogasi di dalam ruangan ini?" tanya Pimpinan polisi itu.
"Iya pak, mereka sedang di interogasi oleh Riki dan juga Heru di dalam ruangan."
"Baiklah lanjutkan pekerjaanmu."
"Siap pak."
Lalu pimpinan polisi itu masuk kedalam ruang interogasi untuk menemui Yoga yang masih ada di sana.
"Kreek" Suara pintu terbuka.
"Pak, maaf kami tidak tahu jika anda akan kemari," ucap Riki sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Sebentar lagi kami akan selesai dan memberikan laporannya pada anda," ucap Heru sambil berdiri dari tempat duduknya juga.
"Baiklah selesaikan semua pekerjaan kalian, apa kalian telah mendapatkan semua informasi darinya?"
"Saya rasa kami belum bisa mendapatkan semua informasi darinya karena para tersangka sangat sulit membuka mulut mereka pak," jawab Riki.
"Bisa kalian tinggalkan aku sebentar dengan tersangka, aku inhin menanyai sesuatu padanya," ucap Pimpinan polisi itu.
"Baik pak, kami akan keluar dari ruangan ini," ucap Heru.
Lalu Riki dan juga Heru kemudian keluar dari ruangan interogasi.
"Kenapa pimpinan ingin berbicara berdua dengan tersangka? ini sangat mencurigakan," ucap Riki.
"Mungkin dia juga ingin mencari informasi dari tersangka, bagaimanapun pimpinan kita juga seorang polisi," ucap Heru.
"Apa kita masih tetap harus mengawasi pimpinan?" tanya Riki.
"Tentu saja jika kita melihat dia melakukan sesuatu yang mencurigakan kita harus mengikutinya, aku juga merasa jika dia menyembunyikan sesuatu yang penting dari kita," jawab Heru.
Heru dan juga Riki merasa curiga pada pimpinan mereka yang ingin berbicara secara pribadi pada tersangka yang bernama Yoga saat itu. Mereka tetap berniat akan mengawasi pimpinan mereka sampai mendapatkan sesuatu petunjuk tentang bos besar itu.