ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 49



Setelah mendengarkan semua ucapan dari Riki dan Heru, Erica merasa semakin penasaran dengan wanita yang di ceritakan oleh mereka. Erica merasa jika wanita itu ada hubungannya dengan kematian Maya.


"Apa kalian masih akan menyelidiki kasus hilangnya Maya?" tanya Heru.


"Kami akan terus melakukan pencarian Maya, dan mencari tahu semua yang berkaitan dengannya, kami akan mengungkap kasus hilangnya Maya," jawab Erica.


"Kami akan siap membantu kalian jika membutuhkan bantuan untuk menyelidikinya, bagaimanapun kami juga sangat khawatir pada Maya," ucap Riki.


"Informasi yang telah kalian katakan pada kami itu sudah sangat membantu, kami benar benar sangat berterima kasih pada kalian," ucap Erica.


"Saran dari kami, kalian harus berhati hati dalam melakukan pencarian Maya, karena kita tidak tahu siapa musuh yang sebenarnya saat ini, bisa saja dia berada di sekitar kita dan sedang mengawasi gerak gerik kalian," ucap Heru.


"Tentu kami akan berhati hati," ucap Evan.


"Aku berharap kalian bisa menemukan Maya, kami sudah melakukan berbagai cara untuk menemukannya, sampai sampai kami pergi ke orang pintar, tapi malah kami di tipu dukun sialan itu," ucap Riki.


"Kenapa juga kau waktu itu harus bertanya pada dukun, memangnya Maya telah menjadi seorang hantu!" teriak Heru.


"Aku kan hanya mencari cara lain saja, siapa tahu anak anak ini bisa membantu kita menemukan Maya," ucap Riki.


"Apa kalian pernah berpikir jika Maya telah meninggal karena di bunuh oleh seseorang?" tanya Erica.


Riki dan Heru terdiam mendengar ucapan Erica.


"Aku hanya mengatakan kemungkinan saja," ucap Erica.


"Ehm, kami sempat berpikir begitu, tapi sampai sekarang kami tidak menemukan jasad ataupun bukti yang mengarah kesana, kami kemudian berpikir jika Maya di culik dan di sembunyikan oleh seseorang saat ini," ucap Heru.


"Jadi kalian mengira jika Maya masih hidup sampai sekarang?" tanya Evan.


"Iya kami menganggapnya begitu," jawab Riki.


"Baiklah terimakasih telah menceritakan semua tentang Maya pada kami, kami akan berusaha sebisa mungkin untuk mencari Maya sampai menemukannya," ucap Erica.


"Hubungi saja kami jika kalian membutuhkan bantuan, ini nomor telpon diriku dan juga Riki," ucap Heru sambil memberikan kartu nama pada Erica.


Erica kemudian mengambil kartu nama yang di berikan oleh Heru.


"Terimakasih, hari sudah sore kami permisi dulu," ucap Erica.


"Baiklah sampai jumpa lagi, hati hati dijalan," ucap Riki.


Lalu Erica dan Evan keluar dari ruangan itu dan berjalan keluar dari kantor polisi menuju mobilnya Evan. Riki dan Heru masih merasa penasaran dengan Erica dan Evan yang tiba tiba mendatangi mereka dan bertanya tentang Maya.


"Riki! apa kau percaya jika mereka adalah temannya Maya? mereka masih anak muda, apa mungkin Maya berteman dengan anak sekolahan?"


"Mungkin saja, bukankah Maya orang yang sangat ramah pada siapa saja, wajar saja jika dia punya banyak teman, tapi sepertinya kedua anak itu mereka berasal dari keluarga kaya, lihat saja dari penampilan mereka," ucap Riki.


"Apa hubungannya anak orang kaya atau bukan, tapi aku merasa jika gadis yang bernama Erica itu bukan orang biasa, ehm entah apa itu tapi aku merasa dia berbeda dari gadis lainnya," ucap Heru.


"Apa kau pikir dia siluman atau hantu! hahahahaha, ada ada saja kau!" teriak Riki sambil tertawa.


"Dasar kau! aku berbicara serius malah kau pikir bercanda!" ucap Heru kesal.


Erica dan Evan kemudian pergi dari kantor polisi dengan mengendarai mobilnya Evan.


"Erica! kita akan kemana lagi?" tanya Evan.


Erica menoleh ke belakangnya, dan bertanya kepada hantu yang bernama Yuda yang sedang duduk di belakangnya bersama dengan Maya.


"Dimana kita bisa menemui ibumu?" tanya Erica pada Yuda.


"Baiklah kita akan kesana," ucap Erica.


"Kesana dimana maksudmu Erica? apa kau tadi sedang berbicara dengan hantu yang akan kau bantu itu?" tanya Evan.


"Ah iya aku lupa jika dirimu tidak bisa mendengar dia," ucap Erica.


"Lalu kita sekarang akan pergi kemana?"


"Ikuti saja jalan ini lalu kita belok ke kanan dan cari rumah yang berwarna hijau, itu adalah rumah ibu dari hantu itu," jawab Erica.


"Ah iya baiklah, apa sekarang dia duduk di kursi belakang mobil bersama dengan Maya?" tanya Evan.


"Iya, kenapa kau bertanya Evan? apa kau takut dengannya?" tanya Erica.


"Ah tentu saja tidak, pasti dia tidak begitu menyeramkan seperti Maya," ucap Evan.


"Dasar anak ini! bilang aku hantu yang menyeramkan," ucap Maya.


"Kenapa manusia yang bernama Evan ini bisa mengetahui tentang dirimu? bukankah dia tidak bisa melihat kita?" tanya Yuda penasaran.


"Itu karena dia pernah mengalami koma karena kecelakaan, dan tanpa sengaja arwahnya keluar dari tubuhnya, ketika dia menjadi hantu dia bersama diriku dan Erica, tapi dia menjadi hantu tidak lama karena Erica membantu dirinya kembali lagi ke tubuhnya," jawab Maya.


"Ooo begitu, pantas saja sepertinya dia cukup paham dengan dirimu," ucap Yuda.


Evan mengendarai mobilnya ke arah yang di tunjukkan oleh Erica, lalu mereka berhenti di sebuah rumah yang berwarna cat hijau. Rumah itu terbilang sangat sederhana dan kecil, kemudian Erica dan Evan turun dari mobil.


"Apa benar ini rumahmu?" tanya Erica.


"Benar ini adalah rumahku, kami hanya tinggal berdua saja disini saat aku masih hidup, sekarang ibu hanya tinggal sendiri saja," ucap Yuda sedih.


"Apa kau akan menemui ibu dari hantu itu Erica?" tanya Evan.


"Iya Evan, aku hanya ingin membantu hantu itu agar dia dapat pergi dengan tenang dan tak lagi menjadi hantu penasaran," jawab Erica.


"Ah begitu,baiklah ayo kita masuk," ucap Evan.


Saat Evan akan mengetuk pintu rumah itu, tiba tiba ibu dari hantu itu membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat Erica dan Evan ada di depan pintu rumahnya.


"Kreek" suara membuka pintu.


Ibu dari hantu itu menatap Erica dan Evan yang ada di hadapannya.


"Siapa kalian?"


"Perkenalkan nama saya Erica dan ini Evan," ucap Erica.


"Ada perlu apa kalian kemari?"


"Kami ingin mengatakan sesuatu pada ibu mengenai anak ibu yang bernama Yuda," jawab Erica.


"Yuda! apa kalian temannya Yuda?"


"Iya kami temannya, dan kami ingin mengatakan sesuatu yang penting tentang dirinya," jawab Erica.


"Silahkan masuk, kita berbicara di dalam."


"Terimakasih bu," ucap Erica.


Kemudian Erica dan Evan masuk ke dalam rumah ibunya Yuda. Setelah masuk ke dalam Erica melihat di sekeliling dinding rumahnya penuh dengan foto foto Yuda dan sebuah lemari yang penuh dengan piala dan juga medali milik Yuda.