
Saat itu Rian yang berniat ingin menemui Erica adan juga Evan, dia kemudian menelpon ke nomornya Erica untuk memberitahu jika dia ingin bertemu dengan mereka berdua.
"Aku harus menelpon mereka sekarang dan bertemu dengan mereka berdua, untuk memastikan semuanya," ucap Rian.
"Kring kring kring" Suara handphone Erica berdering.
"Bu, sepertinya ada yang menelpon ke handphonenya Erica," ucap Ayahnya Erica.
Lalu Ibunya Erica mengambil handphone yang berada di dalam tas milik Erica dan menjawab telponnya.
"Halo"
"Apa saya berbicara dengan Erica?" tanya Rian.
"Saya Ibunya Erica, sekarang Erica sedang tidak bisa menjawab telpon darimu," jawab Ibunya Erica.
"Apa dia sedang tidur?" tanya Rian.
"Dia sedang berada di rumah sakit sekarang, karena dia tiba tiba pingsan di sekolah," jawab Ibunya Erica.
"Di rumah sakit mana Erica berada?" tanya Rian.
"Di rumah sakit Rafael di ruang UGD nya, tapi mungkin sebentar lagi Erica akan segera di pindahkan ke dalam kamar untuk melakukan perawatan selanjutnya," jawab Ibunya Erica.
"Terimakasih atas informasinya bu," ucap Rian.
"Sama sama," ucap Ibunya Erica.
Lalu Rian menutup telponnya.
"Siapa yang menelpon Erica bu?" tanya Ayahnya Erica.
"Sepertinya dia temannya Erica, tapi dia tidak menyebutkan namanya," jawab Ibunya Erica.
Setelah menelpon Erica, Rian berniat untuk menemui Erica di rumah sakit untuk mencari tahu yang terjadi padanya.
"Aku harus melihat sendiri apa yang terjadi pada dirinya, aku harus pergi ke rumah sakit untuk memastikannya sendiri," ucap Rian.
Saat Rian akan pergi pelayan wanita di rumahnya Rian mengantarkan obat padanya di dalam ruang kerja Rian.
"Tuan ini saatnya anda minum obat," ucap Pelayan wanita itu sambil menaruh obat di atas meja kerja Rian.
"Baiklah aku akan meminumnya, kau boleh pergi," ucap Rian sambil mengambil kunci mobil di atas meja.
"Apa anda ingin pergi keluar tuan?" tanya Pelayan wanita itu.
"Iya aku akan pergi keluar sebentar menemui temanku yang sedang sakit," jawab Rian.
Kemudian Rian berjalan keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke mobil miliknya dan pergi ke rumah sakit. Saat itu Pamannya Rian menelpon pelayan wanita di rumahnya Rian untuk mengetahui yang terjadi disana.
"Kring kring kring" suara telpon berdering.
"Halo"
"Kenapa kau belum mengabariku tentang apapun yang terjadi disana," ucap Irfan pamannya Rian.
"Maaf tuan, aku belum sempat mengabari apapun padamu, karena menurutku tidak ada yang begitu mencurigakan," jawab pelayan wanita itu.
"Lalu apa yang dia lakukan saat ini?"
"Tuan Rian saat ini sedang keluar rumah untuk menjenguk temannya yang sedang sakit."
"Temannya! apa kau tahu siapa dia?" tanya Irfan.
"Maaf tuan, aku tidak mengetahui siapa teman yang di kunjungi oleh Tuan Rian saat ini," jawab pelayan wanita itu.
"Ingat laporkan apapun yang mencurigakan tentang Rian padaku, dan kalau bisa kau cari tahu siapa teman yang sering di kunjungi olehnya," ucap Irfan.
"Baik tuan," ucap pelayan wanita itu.
"Bukankah kau tidak ingin kehilangan pekerjaanmu, jadi turuti saja semua perintahku, tugasmu hanya mengawasi Rian dan melaporkan semuanya padaku! lakukan saja itu, apa kau mengerti!" teriak Irfan.
"Baik tuan akau akan melakukan semua yang di perintahkan tuan," ucap Pelayan wanita itu.
Lalu pelayan wanita itu menutup telponnya.
"Dasar pria yang brengsek! berani sekali dia menyuruh dengan membentakku, aku harus bertahan disini sebentar lagi, belum saatnya aku pergi dari sini," ucap Pelayan wanita itu.
Saat Rian dalam perjalanan menuju rumah sakit, Aira menelpon dirinya.
"Kring kring kring" suara handphone berdering.
"Halo"
"Halo Rian, kau sekarang sedang dimana? bagaimana jika kita makan malam bersama," ucap Aira.
"Sepertinya aku tidak bisa Aira," jawab Rian.
"Kenapa kau tidak bisa? apa sekarang kau sedang sibuk bekerja?" tanya Aira.
"Aku sedang menuju ke rumah sakit untuk menjenguk anak yang bernama Erica itu," jawab Rian.
"Anak yang bernama Erica? kenapa dia bisa masuk ke rumah sakit?"
"Aku juga belum tahu pasti, sekarang aku sedang menuju ke rumah sakit Rafael untuk memastikannya," jawab Rian.
"Baiklah kalau begitu aku juga akan kesana untuk melihatnya," ucap Aira.
"Baiklah kita bertemu disana," ucap Rian sambil menutup telponnya.
"Ternyata anak itu sekarang berada di rumah sakit, apa yang terjadi padanya?" ucap Aira penasaran.
Karena merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Erica lalu Aira pun juga pergi menuju ke rumah sakit untuk melihatnya sendiri.
"Kenapa sepertinya Aira sangat tertarik dengan kedua anak ini?" ucap Rian penasaran.
Setelah sampai di rumah sakit Rian langsung ke bagian informasi untuk mengetahui ruangan Erica.
"Suster! apa disini ada pasien gadis muda yang baru saja di rawat disini dengan nama Erica?" tanya Rian.
"Tunggu sebentar saya akan mengeceknya dulu," ucap Suster itu.
Saat Rian berada di tempat informasi, Aira juga baru tiba disana dan berjalan menghampiri Rian.
"Rian!" teriak Aira.
"Aira! kau cepat sekali sampai disini?" tanya Rian terkejut.
"Kebetulan tadi aku tidak berada jauh dari sini, makanya aku bisa menyusulmu dengan cepat, apalagi aku juga masih sangat penasaran dengan kedua anak yang bernama Erica dan juga Evan ini," jawab Aira.
"Pasien yang bernama Erica dia berada di ruangan VVIP di lantai paling atas ruang VVIP no. 10," jawab Suster itu.
"Terimakasih suster," ucap Rian.
"Sama sama," ucap Suster itu.
"Ayo kita kesana untuk melihatnya," ucap Rian sambil berjalan menuju lift.
"Sepertinya anak yang bernama Erica ini dia sangat kaya, berada di ruangan VVIP di rumah sakit yang terbilang cukup mahal di kota ini," ucap Aira.
"Kau akan ikut denganku atau tetap berdiri disana," ucap Rian sambil masuk ke dalam lift.
"Tunggu aku Ria!" teriak Aira sambil berlari dan masuk ke dalam lift.
Setelah sampai di lantai paling atas Rian mencari ruangan Erica dengan melihat sekelilingnya, tanpa sengaja dia tertabrak Rey yang saat itu akan menuju ke ruang Erica juga.
"Maafkan aku tidak sengaja menabrakmu," ucap Rian.
"Tidak apa apa," ucap Rey.
"Maaf bisa kau bertanya padamu? ruang VVIP no. 10 disini ada di sebelah mana?" tanya Rian.
"Apa kau juga ingin menemui Erica?" tanya Rey sambil menatap Rian.
"Ya, aku ingin menjenguknya, apa kau juga mengenal Erica?"
"Tentu saja, karena aku teman baiknya Erica, aku juga akan menuju ke ruangannya, tapi kau siapanya Erica?" tanya Rey penasaran.
"Ehm, bisa dibilang aku juga temannya Erica dan juga Evan," jawab Rian.
"Aku juga temannya Erica adan juga Evan," ucap Aira sambil tersenyum.
"Ooo begitu, ayo ikuti aku keruangannya Erica, sampai saat ini dia masih belum sadarkan diri," ucap Rey.
"Apa yang terjadi pada Erica?" tanya Rian.
"Dia keracunan dan membuatnya menjadi pingsan, ini semua karena membantu polisi itu, jika saja Erica tidak membantu mereka psti sekarang dia akan baik baik saja," ucap Rey kesal.
"Apa maksumu dengan maembantu polisi?" tanya Rian.
"Kemarin Erica ke perbatasan kota untuk membantu polisi menangkap penjahat disana, saat itu tanpa sengaja Erica terkena peluru di tangannya dan ternyata peluru yang mengenainya itu ada racunnya dan membuat dia menjadi keracunan dan tak sadarkan diri sampai saat ini," ucap Rey kesal.
Setelah mendengar cerita dari Rey tentang apa yang terjadi pada Erica, membuat dirinya menjadi percaya sepenuhnya pada Erica. Dia berniat jika Erica sadar nanti dia akan memberitahu semua yang dia tahu tentang Maya dan bekerjasama dengannya untuk mencari Maya.