ME And GHOST

ME And GHOST
Kenyataan Yang Terungkap 66



 


 


 


Setelah sampai di kantor polisi Jenni, Evan dan juga Erica kemudian langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor polisi disana. Jenni langsung menemui Riki dan juga Heru yang berada disana.


 


 


"Dimana kedua orang itu," ucap Jenni sambil melihat sekelilingnya.


 


"Itu Riki dan juga Heru," ucap Evan sambil menunjuk ke arah mereka.


 


"Ayo kita temui mereka disana," ucap Jenni sambil berjalan kearah Riki dan juga Heru.


 


Melihat Jenni yang berjalan mendekati mereka Riki dan juga Heru langsung menanyakan keadaan Erica yang saat itu terluka.


 


"Jenni kami mencarimu dari tadi, bagaimana Erica apa dia baik baik saja?" tanya Riki.


 


"Erica disana bersama dengan Evan, dan dia sudah baik baik saja, lukanya hanya luka kecil saja," jawab Jenni.


 


"Syukurlah kalau begitu kami merasa khawatir jika dia terluka parah," ucap Heru.


 


"Dimana bos mereka yang bernama Yoga itu? aku perlu menanyakan sesuatu padanya?" tanya Jenni.


 


"Dia sekarang ada di ruang interogasi, kami akan segera melakukan penyelidikan padanya," jawab Riki.


 


 


"Bisakah aku bertemu dan menanyainya secara pribadi sebelum kalian menginterogasi dia?" tanya Jenni.


 


 


"Tentu saja silahkan, kau juga berhak menanyainya karena juga ikut membantu penangkapan dirinya," jawab Heru.


 


 


"Terimakasih, dimana ruangannya?" tanya Jenni.


 


 


"Ada di ujung lorong ini, kau langsung masuk saja bilang pada mereka jika kau seorang polisi dari kota dan juga ingin menginterogasinya," ucap Riki.


 


 


"Baiklah," ucap Jenni.


 


 


"Erica, sepertinya Jenni akan bertemu dengan bos penjahat itu, lebih baik kau juga ikut dengannya agar bisa ikut mencari informasi darinya," ucap Maya.


 


 


"Baik Maya," ucap Erica.


 


"Kak Jenni mau kemana dia?" ucap Evan.


 


 


"Kak Jenni mungkin mau menemui bos penjahat itu sekarang, lebih baik kita juga ikut dengannya Evan agar bisa mendapatkan informasi dari bos penjahat itu," ucap Erica.


 


 


"Tentu saja kita juga harus ikut dengannya, itulah tujuan kita ikut serta dalam menangkap orang itu," ucap Evan.


 


"Ayo kita ikut dengan Kak Jenni," ucap Erica.


 


Lalu Erica dan juga Evan berlari mengejar Jenni yang akan menemui bos penjahat itu.


 


 


"Kak Jenni tunggu!" teriak Evan.


 


"Evan, Erica kenapa kalian mengikutiku?" tanya Jenni.


 


"Kak Jenni kami juga ingin ikut denganmu untuk bertemu dengan bos penjahat itu, ada ingin kami tanyakan padanya mengenai Maya," ucap Erica.


 


"Jadi kalian juga akan bertanya pada mereka mengenai Maya?" tanya Jenni.


 


"Apa Kak Jenni akan menanyakan hal yang sama pada mereka?" ucap Erica.


 


 


"Tentu saja, karena aku juga ingin mencari petunjuk dari mereka mengenai Maya," jawab Jenni.


 


"Bolehkah kami juga ikut dengan Kak Jenni untuk menemuinya?" tanya Erica.


 


 


"Baiklah kalian boleh ikut denganku, kalian juga punya hak untuk menanyainya," jawab Jenni.


 


 


"Terimakasih Kak Jenni," ucap Erica.


 


 


Kemudian Erica dan Evan ikut pergi dengan Jenni untuk menemui Yoga bos penjahat itu.


 


"Kalian tidak boleh masuk ke ruangan ini," ucap Petugas polisi yang berjaga di pintu ruang interogasi.


 


 


Jenni menunjukkan tanda pengenalnya pada polisi yang menjaga pintu ruang interogasi itu.


 


 


"Jadi kau juga seorang polisi?" 


 


"Iya aku seorang polisi dari kota yang ingin menanyai tersangka yang ada di dalam ruangan ini," ucap Jenni.


 


 


"Baiklah kalian boleh masuk ke dalam."


 


 


"Terimakasih," ucap Jenni.


 


 


Kemudian Jenni, Erica, dan juga Evan masuk ke dalam ruang interogasi untuk menemui Yoga yang berada disana.


 


 


"Bagaimana apa kau menikmati berada di kantor polisi ini?" tanya Jenni sambil berjalan dan duduk di hadapan Yoga.


 


 


"Maksudmu kau akan keluar dari sini dengan sangat mudah, jangan harap itu bisa terjadi, karena kami memiliki bukti banyak barang milikmu, semuanya kami bawa kemari tidak ada yang tersisa di tempat itu," ucap Jenni.


 


"Bos kami tidak akan tinggal diam karena perbuatan kalian pada kami," ucap Yoga sambil menatap Jenni, Evan dan juga Erica.


 


 


"Apa kau sedang mengancam kami, maa membuatmu kecewa tapi aku tak takut sama sekali dengan ucapanmu, suruh saja bos besarmu untuk keluar dari persembunyiannya dan hadapi diriku!" teriak Jenni.


 


 


"Kau sama seperti polisi wanita yang waktu itu, tapi sayangnya dia tidak berumur panjang karena berniat ingin menghancurkan kami," ucap Yoga sambil tersenyum.


 


 


"Apa yang kalian maksud seorang polisi wanita yang bernama Maya?" tanya Erica.


 


"Apa kalian juga mengenal dia?" ucap Yoga.


 


 


"Dimana dia sekarang?" tanya Jenni.


 


"Aku tak akan mengatakan apapun pada kalian, tanyakan saja langsung pada bos besar kami, itu juga jika kalian bisa bertemu langsung dengannya, hahahahaha," ucap Yoga sambil tertawa.


 


 


"Dia benar benar membuatku sangat kesal Erica," ucap Maya.


 


Lalu Maya mendekati Yoga dan memukul kepalanya.


 


 


"Paaaaak" Suara Maya memukul kepala Yoga.


 


 


"Siapa yang memukul kepalaku?" teriak Yoga sambil memegang kepalanya.


 


"Tidak ada yang memukulmu, kenapa kau berteriak seolah olah ada yang melakukan itu padamu," ucap Jenni.


 


"Kalian mencoba mempermainkanku," ucap Yoga kesal.


 


"Mungkin saja itu hantu dari polisi wanita yang kau bunuh," ucap Erica sambil tersenyum.


 


 


"Jangan mencoba coba menakut nakutiku," ucap Yoga.


 


 


"Apa kau tahu dimana polisi wanita itu sekarang! jawab saja pertanyaanku, jangan main main denganku!" teriak Jenni.


 


"Aku tak akan pernah menjawab pertanyaan kalian sampai kapanpun," ucap Yoga.


 


 


"Dasar penjahat sialan!" teriak Maya kesal.


 


Lalu Maya kembali memukul kepala Yoga karena kesal dengan semua ucapannya.


 


 


"Paaak" Suara Maya memukul kepala Yoga.


 


"Arrrrrrghhhh" teriak Yoga sambil memegang kepalanya.


 


 


"Siapa yang memukul kepalaku lagi!" teriak Yoga.


 


 


"Apa kau berniat mengalihkan perhatianku! sudah kubilang tak ada yang memukul kepalamu!" teriak Jenni kesal.


 


 


"Erica, apa itu perbuatan Maya?" bisik Evan.


 


 


"Iya Evan, itu Maya yang melakukannya," jawab Erica pelan.


 


Erica dan Evan tersenyum melihat Yoga yang merasa kebingungan karena dia merasa jika ada seseorang yang memukul kepalanya, tetapi dia tidak dapat melihat orang yang melakukan itu padanya.


 


"Aku sangat yakin jika ada seseorang yang melakukan itu padaku," ucap Yoga di dalam hati.


 


"Baiklah jika kau masih bersikeras tidak ingin mengatakan apapun pada kami, kami akan mencari tahu sendiri semuanya, dan selamat menikmati tempat barumu disini," ucap Jenni.


 


"Kalian pikir bisa mengalahkan bos kami, dia banyak mengenal orang orang yang penting di kota, dan juga orang orang yang berjabatan tinggi, bos kami tak akan mungkin bisa kalian kalahkan," ucap Yoga.


 


"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang, kebenaran akan selalu menang melawan kejahatan di dunia ini," ucap Jenni.


 


"Kau pasti tidak akan pernah bisa keluar dari sini dengan mudah, kami pasti akan segera menemukan Maya cepat atau lambat," ucap Erica.


 


"Kalian tak akan mungkin bisa menemukan dia," ucap Yoga sambil tersenyum.


 


"Kami pasti akan menemukannya, jika terjadi sesuatu padanya aku pasti akan membalas perbuatan kalian padanya," ucap Erica sambil menatap Yoga.


 


 


"Kau benar benar gadis yang cukup berani, kita lihat saja sampai kapan kau memiliki keberanian itu," ucap Yoga.


 


"Ayo Erica, Evan kita pergi dari sini," ucap Jenni.


 


"Tapi Kak Jenni, kita belum mendapatkan informasi apapun darinya mengenai Maya," ucap Evan.


 


"Percuma saja dia tidak akan pernah membuka mulutnya saat ini," ucap Jenni.


 


 


"Ayo Evan kita pergi saja dari sini," ucap Erica.


 


"Baiklah kalau begitu," ucap Evan.


 


 


Kemudian Erica, Evan dan juga Jenni keluar dari ruang interogasi dengan perasaan yang sangat kesal karena tidak mendapatkan informasi yang penting mengenai Maya saat itu.