
Setelah orang tua Evan dan orang tua Erica keluar dari ruangan, Erica berjalan mendekati Evan yang masih berada di atas tempat tidurnya. Evan hanya memandangi wajah Erica yang memerah karena merasa malu setelah mendengar percakapan orang tua mereka yang akan menjodohkan mereka berdua.
"Kenapa wajahmu memerah Erica?" tanya Evan sambil menatap Erica.
"Benarkah wajahku memerah?" ucap Erica sambil memegang pipinya.
"Coba kau lebih mendekat kemari biar aku bisa melihatnya lebih jelas," ucap Evan.
"Ooo iya baiklah," ucap Erica sambil mendekati Evan.
Evan menarik tangan Erica dan memeluknya.
"Aku sangat merindukamu Erica, aku juga sangat mencemaskanmu saat terjadi kecelakaan itu," ucap Evan sambil memeluk Erica.
"Aku juga sangat merindukanmu, aku benar benar sangat mengkhawatirkanmu saat itu! aku sangat takut jika akan kehilangan dirimu Evan,"ucap Erica.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu Erica," ucap Evan.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Apa yang sebenarnya telah terjadi padaku? kenapa aku merasa beberapa hari ini aku berada di dekatmu dan menjadi hantu yang gentayangan karena arwahku yang telah keluar dai tubuhku," ucap Evan.
"Apa kau merasa itu seperti terjadi dan kenyataan?" tanya Erica.
"Iya seperti itu yang kurasakan, aku juga bertemu dengan hantu lain yang bernama Tasya dan Maya! lalu aku juga bertemu dengan hantu Bu Sandra dan juga Rio! ada juga orang yang bernama Adrian," ucap Evan merasa bingung.
"Dia benar benar merasa bingung dengan kejadian itu," ucap Maya.
"Aku juga merasa jika kau bisa melihat hantu."
"Apa kau ingin tahu yang sebenarnya Evan, tapi jika kau mengetahui kebenarannya apa kau akan tetap menyukaiku seperti sekarang?" tanya Erica.
"Aku menyukai kekurangan dan kelebihanmu Erica, aku menyukaimu apa adanya," jawab Evan.
"Aku sangat berharap jika kau menyukaiku apa adanya Evan, aku selalu menutupi ini dari orang lain."
"Sebenarnya ada apa Erica? ceritalah padaku."
"Semua yang kau katakan tadi adalah benar Evan, kau memang beberapa hari ini telah menjadi hantu karena tanpa sengaja arwahmu keluar dari tubuhmu," jawab Erica.
"Jadi aku memang benar benar telah menjadi hantu beberapa hari ini saat aku masih koma!"
"Iya betul, dan juga kau bertemu dengan temanku Maya dan Tasya, lalu yang bernama Adrian itu adalah seorang dukun yang telah membantuku untuk mengatasi hantu jahatnya Bu Sandra, semua yang kau katakan itu adalah benar dan kenyataan yang telah terjadi," jawab Erica.
"Apa kau memang memiliki kemampuan untuk melihat hantu?"
"Iya Evan aku memiliki kemampuan itu dari kecil, itu adalah kemampuan yang telah di turunkan secara turun temurun di keluarga ayahku," jawab Erica.
"Apa ayah dan ibumu juga memiliki kemampuan sepertimu?"
"Tidak Evan hanya aku yang bisa, itu juga kemampuan yang diturunkan dari keluarga ayahku bukan dari keluarga ibuku, lagi pula kemampuan ini hanya bisa di turunkan kepada perempuan saja tidak pada keturunan laki laki, jadi ayahku tidak punya kemampuan itu," jawab Erica.
"Pantas saja aku sering melihatmu berbicara sendiri, aku pikir kau sedang berbicara dengan dirimu sendiri selama ini," ucap Evan.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan ini sejak lama namun takut jika dirimu tidak akan menerimaku apa adanya, dan aku takut kau akan bilang jika diriku aneh," ucap Erica.
"Kenapa kau tidak jujur padaku sejak awal Erica? itu tidak akan mengurangi rasa cintaku padamu, malah aku sangat senang melihat kau memiliki kemampuan ini dan dapat membantu orang lain," ucap Evan.
"Kau tidak merasa keberatan aku memiliki kemampuan ini?"
"Tentu saja tidak Erica, itu adalah sebuah anugerah yang telah Tuhan berikan untukmu! jadi saat kau menyelesaikan kasus Tasya kemarin karena kau bisa berbicara dan bertemu dengannya saat dia menjadi hantu?"
"Jadi Tasya sekarang memang telah pergi dan takkan kembali lagi?"
"Iya Evan, dia sudah pergi dengan tenang sekarang."
"Bagaimana dengan hantu yang satunya yang menurutku paling galak daripada yang lain?" tanya Evan.
"Maksudmu Maya?"
"Iya betul, dimana dia sekarang?"
"Dia ada di dalam ruangan ini sedang bersama kita," jawab Erica.
"Apa kau rindu padaku Evan?" ucap Maya tersenyum.
"Dimana dia sekaarang? apa dia ada di dekatmu Erica?" ucap Evan sambil menatap Erica.
"Ehm, dia ada di sampingmu Evan! dan dia juga menanyakan apa kau rindu padanya?"
"Apa dia ada di sampingku! maaf bukan maksudku bilang jika dirimu galak, kau sangat baik dan aku juga inin sekali bertemu dengannya tapi itu tidak mungkin karena sekarang aku sudah kembali ketubuhku," ucap Evan.
"Betul tapi jika kau mau bertemu denganku aku bisa menarik arwahmu keluar kembali, hahahaha," ucap Maya sambil tertawa.
"Maya bilang jika kau ingin bertemu dengannya dia bisa membuatmu menjadi hantu lagi," ucap Erica sambil tersenyum.
"Aku rasa tidak perlu seperti itu juga Erica, bagaimana jika nanti aku tidak bisa kembali ke dalam tubuhku lagi," ucap Evan.
"Maya hanya bercanda saja padamu Evan, dia tidak mungkin melakukan itu padamu," ucap Erica.
"Ehm, kau membuatku takut saja Erica," ucap Evan.
"Maya dia hantu yang sangat baik kok, dia tidak akan mengganggu orang lain, kecuali jika orang itu sangat jahat," ucap Erica.
"Kenapa Maya bisa menjadi hantu penasaran?"
"Entahlah Maya juga belum mengetahui kenapa di bisa meningal dan tak bisa pergi dengan tenang! Maya tidak bisa mengingat masa lalunya kami belum mengetahui penyebabnya," jawab Erica.
"Apa Maya telah di bunuh seseorang sehingga membuatnya menjadi hantu penasaran," ucap Evan.
"Aku saja tidak tahu aku meninggal karena apa," ucap Maya.
"Kami sedang mencari tahu dan menyelidikinya Evan."
"Aku berharap jika Maya segera mengingat masa lalunya dan bisa membalas dendam pada orang yang membunuhnya," ucap Evan.
"Aku pun mengharapkan itu, masih menjadi misteri tentang kematian Maya," ucap Erica.
"Aku akan membantumu untuk menyelidiki tentang Maya."
"Apa itu tidak merepotkanmu Evan? apalagi sekarang kau masih sakit dan baru saja operasi," ucap Erica khawatir.
"Aku tidak apa apa Erica, sebentar lagi aku juga akan sembuh."
"Aku tak ingin terjadi apa apa lagi padamu Evan, nanti ayah dan ibumu akan marah padaku jika terjadi sesuatu lagi padamu karena diriku," ucap Erica.
"Itu sudah menjadi tanggung jawabku melindungi orang yang sangat aku cintai dan sayangi," ucap Evan sambil memegang tangannya Erica.
"Ehm, kesempatan dalam kesempitan ini dasar laki laki," ucap Maya sambil melihat Erica dan Evan yang berpegangan tangan.
Erica tersenyum mendengar ucapan Maya, Erica merasa sangat lega setelag memberitahu kebenaran tentang dirinya yang selama ini dia sembunyikan. Evan menerima Erica apa adanya dan tetap mencintainya. Evan juga akan membantu Erica untuk menyelidiki dan mencari tahu tentang rahasia di balik kematian Maya yang sampai saat ini belum bisa di ingat olehnya.