
Tak lama kemudian Ibunya Maya dan juga Bu Vira tiba di rumah itu, mereka langsung turun dari mobil dan berjalan menuju rumah itu. Ibunya Maya sangat bingung setelah sampai di sana dan melihat sekelilingnya.
"Vira kita akan kerumah siapa?" tanya Ibunya Maya.
"Ini rumah temannya Tuan Rian, dia ada di dalam bersama yang lainnya sedang menunggu anda," jawab Bu Vira.
"Ooo begitu baiklah," ucap Ibunya Maya.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah itu, Bu Vira mengajak Ibunya Maya masuk ke dalam kamar dimana semua orang sedang berkumpul disana.
"Tuan, Bu Widia sudah datang," ucap Bu Vira.
"Rian, ada apa kau menyuruhku kemari?" tanya Ibunya Maya.
"Bu Widia ada yang ingin menemuimu," jawab Rian.
"Siapa Rian? disini ada Erica dan Evan lalu siapa yang ingin menemui lagi?" tanya Ibunya Maya.
Rian memegang tangan ibunya Maya dan membawanya mendekati Maya yang duduk di atas tempat tidur. Ibunya Maya sangat terkejut saat melihat anaknya yang telah lama hilang tiba tiba ada di hadapannya.
"Apa ini benar benar Maya?" tanya Ibunya Maya.
"Iya benar Bu Widia, ini adalah Maya kami telah menemukannya," jawab Rian.
"Ibu, ini Maya anakmu," ucap Maya sambil meneteskan air matanya.
"Maya!!" teriak Ibunya Maya sambil memeluknya.
"Hiks hiks hiks" suara ibunya Maya menangis dan masih memeluk anaknya.
"Maafkan Maya bu, yang telah membuat ibu menderita selama ini karena telah pergi menghilang selama satu tahun ini," ucap Maya sambil memeluk erat ibunya.
"Ibu akan selalu memaafkanmu sayang, katakan pada ibu sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?" tanya Ibunya Maya.
"Biar saya yang menjelaskan bu," ucap Erica.
"Selama ini Maya sebenarnya telah di rawat oleh Dian yang bekerja sebagai pelayan di rumahnya Rian, karena dia telah menyelamatkan Maya saat dia hampir tenggelam karena akan di bunuh oleh seseorang yang kasusnya ingin di ungkap oleh Maya, karena mengalami koma Dian tidak berani melaporkan kejadian ini pada Rian karena takut jika orang yang ingin membunuh Maya akan melakukannya lagi, tapi kita sekarang tahu jika Maya telah selamat dan menemukannya, kebetulan juga ternyata Maya baru sadar hari ini," ucap Erica.
"Ooo ternyata begitu yang terjadi padamu sayang, kita harus menangkap orang yang telah mencoba untuk membunuhmu Maya," ucap Ibunya Maya.
"Aku akan mengurus semuanya bu, anda tak perlu khawatir," ucap Rian.
"Kenapa Erica dan Maya tidak mengatakan semua yang terjadi tapi hanya sebagian saja?" tanya Evan pelan pada Bu Vira.
"Mungkin Erica dan Maya tidak ingin jika ibunya Maya akan cemas, apalagi kita belum selesai menyelesaikan permasalahan ini," jawab Bu Vira.
"Ooo begitu aku tidak memikirkannya sampai kesana," ucap Evan.
"Kita masih harus tetap berhati hati untuk saat ini," ucap Bu Vira.
Setelah mendengarkan ucapan dari Erica, Ibunya Maya kemudian berjalan mendekati Dian yang tidak jauh berdiri di dekat Rian.
"Aku sebagai ibunya Maya benar benar sangat mengucapkan terimakasih padamu karena telah menyelamatkan anakku dan merawatnya selama satu tahun ini," ucap Ibunya Maya sambil memegang tangannya Dian.
"Sama sama bu, saya hanya melakukan apa yang seharusnya, aku juga di bantu oleh temanku yang seorang perawat selama ini dia yang lebih sering merawat Maya, namanya Sinta dia selalu membantuku merawat dan menjaga Maya selagi aku bekerja," ucap Dian sambil menatap Sinta yang ada di sampingnya.
"Terimakasih Sinta, kau telah membantu Dian untuk menjaga dan merawat anakku," ucap Ibunya Maya sambil menatap Sinta.
"Sama sama bu," ucap Sinta.
"Rian terimakasih juga untukmu yang selalu berusaha dan tidak pernah menyerah untuk mencari Maya sampai akhirnya kita bisa menemukannya dalam keadaan hidup," ucap Ibunya Maya.
"Iya Bu Widia, ini memang sudah menjadi kewajibanku untuk melakukannya karena Maya adalah kekasihku," jawab Rian.
Sementara itu Irfan yang merasa sangat penasaran dengan ucapan Dian padanya yang mengatakan jika dirinya adalah adik dari bos besar itu, dia kemudian pergi untuk menemui bos besar itu untuk menanyakan hal itu sendiri padanya, setelah sampai disana Irfan langsung masuk ke ruang kerja bos besar itu untuk menemuinya.
"Malam nyonya bos besar," ucap Irfan sambil masuk ke dalam dan duduk di atas kursi di dalam ruangan itu.
"Ada apa kau kemari malam malam begini? apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanya Bos besar itu.
"Aku datang kemari karena inngin menanyakan sesuatu padamu," jawab Irfan.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Apa benar kau mempunyai seorang adik wanita yang bernama Dian dan bekerja sebagai pelayan di rumahnya Rian?" tanya Irfan.
"Kenapa kau menanyakan hal itu padaku?"
"Karena wanita yang bernama Dian itu mengaku jika dia adalah adik kandungmu,tapi aku tidak percaya padanya karena dia orang miskin yang bekerja sebagai seorang pelayan di rumah Rian, sedangkan dirimu orang yang sangat kaya raya, bagaimana mungkin jika kalian itu bersaudara," jawab Irfan.
"Bagaimana jika semua itu benar, apa kau telah melakukan sesuatu yang buruk padanya sampai dia mengakui semua itu padamu, aku sangat paham dengan sikap adikku sendiri, dia tidak ingin hidup dengan uangku, dia sangat membenci pekerjaanku dan diriku, jika dia mengatakan hal itu padamu berarti kau telah melakukan sesuatu yang buruk padanya," ucap Bos besar itu sambil menatap Irfan.
"Jadi dia memang benar benar adik kandungmu?"
"Iya benar dia adalah adik kandungku," jawab Bos besar itu.
"Kenapa kau tidak bilang padaku jika dia adalah adik kandungmu?" tanya Irfan.
"Karena dia memintaku untuk tidak mengatakannya pada siapapun, hanya ada beberapa orang saja yang mengetahui jika dia adalah adikku," jawab Bos besar itu.
"Sial ternyata benar ucapannya dia memang adik dari bos besar, bagaimana jika dia mengadukan semuanya pada bos besar bisa habis aku di bunuh olehnya jika tahu aku sering mengancam adiknya," ucap Irfan di dalam hati.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, apa yang telah kau lakukan pada adikku?" tanya Bos besar itu.
"Aku tidak melakukan apapun pada adikmu, hanya aku kadang kadang meminta sedikit bantuan padanya saja untuk mengawasi Rian dan melaporkannya padaku," jawab Irfan.
"Benarkah itu? dan kau tidak berbohong padaku?" tanya Bos besar itu.
"Tentu saja aku tidak berbohong padamu, mana berani aku melakukan itu," ucap Irfan.
Rian, Erica, dan juga Dian yang merencanakan untuk menjebak Bos besar dan juga Irfan di dalam waktu yang bersamaan untuk menangkap mereka dan membuktikan mereka telah melakukan kejahatan. Dian berencana akan menelpon kakaknya dan memintanya untuk bertemu di rumahnya keesokan harinya.
"Aku akan menelpon kakakku malam ini, dan memintanya untuk bertemu besok di rumahku," ucap Dian.
"Baiklah, kau harus seperti biasanya menelpon dia, jangan sampai dia merasa curiga padamu," ucap Bu Vira.
"Iya tentu," ucap Dian.
Dian kemudian keluar dari kamar dan mencoba menelpon kakaknya dengan menggunakan handphone miliknya.