
Karena merasa khawatir pada Erica yang belum juga keluar dari kamarnya, kemudian Ibunya Erica mendatangi kamarnya Erica saat itu.
"Tok tok tok" suara mengetuk pintu.
"Erica! apa kau sudah bangun tidur?" ucap Ibunya Erica.
"Kreek" suara membuka pintu.
Lalu Ibunya Erica masuk ke dalam kamar dan melihat Erica yang masih berada di depan cermin.
"Erica! kenapa kau tidak menjawab ibu sayang."
"Maaf bu, Erica tidak sadar jika ibu tadi memanggilku," jawab Erica.
"Ada apa sayang? apa kau sedang tidak enak badan?" tanya Ibunya Erica sambil memegang wajah anaknya.
"Aku tidak apa apa bu, hanya tadi aku bangunnya kesiangan hari ini," jawab Erica.
"Apa kau yakin jika tidak apa apa? wajahmu tampak pucat hari ini? Erica kenapa lehermu terluka?" tanya Ibunya Erica sambil memegang leher anaknya.
"Luka ini tadi malam tidak sengaja terkena kuku makanya jadi terluka," jawab Erica.
"Tapi kukumu tidak panjang sayang, bagaimana bisa terluka karena kukumu?" tanya Ibunya Erica.
"Aku sudah memotongnya tadi malam bu, makanya sekarang sudah pendek," jawab Erica.
"Ooo begitu, jangan lupa segera kau obati luka di lehermu, cepatlah bersiap siap untuk pergi ke sekolah hari ini, nanti kau bisa terlambat," ucap Ibunya Erica.
"Baik bu, Erica akan segera bersiap siap untuk pergi ke sekolah," jawab Erica.
"Baiklah kalau begitu ibu akan menunggu kau di luar," ucap Ibunya Erica.
"Iya bu," ucap Erica.
Kemudian ibunya Erica keluar dari kamarnya, Ibunya Erica masih tidak percaya dengan ucapan anaknya yang mengatakan jika luka itu karena terkena kukunya sendiri, karena Erica bukan tipe orang yang suka memanjangkan kukunya.
"Apa mungkin jika itu terluka karena kukunya sendiri? sedangkan Erica orang yang tidak suka berkuku panjang? apa dia telah menyembunyikan sesuatu padaku?" ucap Ibunya Erica curiga.
Erica yang masih berada di dalam kamar, merasa jika ibunya tidak mempercayai ucapannya tadi.
"Sepertinya ibuku tidak percaya dengan ucapanku barusan," ucap Erica.
"Ibumu tampaknya orang yang tidak mudah untuk di bohongi," ucap Maya.
"Iya Maya, ibuku sepertinya sekarang mulai merasa curiga denganku, apalagi setelah banyak kejadian yang telah menimpaku, dia semakin menjadi lebih teliti dalam mengawasiku," ucap Erica.
"Kapan kau akan mengatakan yang sejujurnya pada ibumu tentangku dan masalah yang sedang kita hadapi?" tanya Maya.
"Secepatnya Maya, tapi tidak dalam waktu dekat ini, ibuku pasti tak akan mengizinkanku untuk menyelidiki kasus ini, apalagi ini menyangkut penjahat yang sangat banyak dan berbahaya," ucap Erica.
"Baiklah Erica, semua keputusan ada di tanganmu," ucap Maya.
"Cepat atau lambat hantu jahat itu dan bos besar pasti akan segera mendatangiku, tapi sebelum dia mendatangiku kita harus lebih dulu mendatanginya untuk mencari tubuhmu Maya," ucap Erica.
"Aku merasa khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk padamu Erica, di dalam mimpi saja hantu jahat itu bisa melukaimu, apa lagi di dunia nyata, bagaimana jika kita meminta bantuan Adrian untuk menghadapinya?" ucap Maya.
"Apa dia akan mau membantu kita untuk menghadapi hantu jahat itu?" tanya Erica.
"Dia pasti akan mau membantu kita Erica, Adrian dia orang yang baik, aku akan menemuinya sendiri," ucap Maya.
"Apa kau yakin akan menemuinya sendiri?" tanya Erica.
"Aku takut jika kau yang pergi menemuinya kau akan masih ikuti oleh orang suruhan itu," jawab Maya.
"Betul juga katamu, kemarin saat kita bertemu dengan Rian, dia juga ternyata masih mengikuti kami, dan untung saja kau berhasil menghalanginya," ucap Erica.
"Akan lebih baik jika aku yang pergi sendiri kesana agar lebih aman," ucap Maya.
"Aku sangat yakin jika dia mau membantu kita, aku akan pergi menemuinya sekarang," ucap Maya.
"Kau harus tetap berhati hati Maya," ucap Erica.
"Kau tak perlu khawatir aku akan baik baik saja Erica," ucap Maya sambil tersenyum.
Kemudian Maya pergi menghilang dari kamarnya Erica menuju ke rumahnya Adrian, sedangkan Erica dia segera bersiap siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah siap Erica keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan untuk bertemu dengan ayah dan ibunya yang sedang sarapan.
"Ayah, ibu, Erica langsung berangkat saja ke sekolah, hari sudah mulai siang, jika tidak pergi sekarang Erica akan terlambat," ucap Erica.
"Apa kau tidak lapar sayang?" tanya Ibunya Erica.
"Erica belum lapar bu, Erica akan makan di sekolah saja nanti," jawab Erica.
"Baiklah kalau begitu sayang," ucap Ibunya Erica.
"Yang semangat belajarnya di sekolah sayang," ucap Ayahnya Erica.
"Tentu yah, Erica berangkat dulu ke sekolah."
Kemudian Erica berangkat ke sekolah dengan mengendarai mobilnya yang di supir oleh Pak Darmin, di dalam perjalanan ke sekolah Rian menelpon Erica.
"Kring kring kring" Suara handphone berdering.
"Halo"
"Halo Erica," ucap Rian.
"Iya Pak Rian, ada apa menelponku?" tanya Erica.
"Apa sekarang kau sedang menuju ke sekolahmu?"
"Iya Pak Rian," jawab Erica.
"Apa masih ada orang yang mengikutimu Erica?" tanya Rian penasaran.
Erica kemudian melihat ke belakang mobilnya, dan melihat sebuah mobil hitam yang sedang mengikutinya saat itu.
"Benar kata Maya, jika aku masih di ikuti oleh orang suruhan bos besar itu," ucap Erica di dalam hati.
"Apa kau melihatnya?" tanya Rian.
"Iya Pak Rian, ada mobil hitam yang sangat mencurigakan sedang mengikutiku saat ini," jawab Erica.
"Apa saat ini kau sedang bersama Maya?" tanya Rian.
Erica menatap Pak Darmin yang sedang menyetir mobilnya, dia tak ingin menyebutkan nama Maya di dekat Pak Darmin.
"Dia tidak ada, sekarang dia sedang mengunjungi seseorang yang akan membantu kita," jawab Erica.
"Apa ada orang lain di dekatmu?" tanya Rian.
"Iya, aku sedang di antar oleh supirku ke sekolah," jawab Erica.
"Baiklah aku mengerti jika kau tidak bisa berbicara banyak sekarang, dengarkan ucapanku saja," ucap Rian.
"Baiklah," ucap Erica.
"Selama kau masih di ikuti oleh orang itu, lebih baik kita tidak bertemu satu sama lain untuk sementara waktu ini, agar dia tidak mengetahui rencana kita, cukup hanya dengan berhubungan melalui telpon saja, hari ini Bu Vira sudah mulai melakukan penyelidikan mencari informasi tentang wanita yang bernama Dian itu, jika aku mendapatkan informasi penting, aku akan segera menghubungimu," ucap Rian.
"Baiklah kalau begitu," ucap Erica.
"Kau dan Maya juga harus tetap berhati hati, karena musuh kita bukan orang biasa," ucap Rian.
"Tentu Pak Rian," jawab Erica.
Lalu Erica menutup telpon dari Rian, Erica merasa agak lega saat Rian mengatakan jika telah memulai melakukan penyelidikan mencari informasi tentang wanita yang bernama Dian itu.